Total Quality Management dan Strategi Kepemimpinan

1475930833696

Oleh Dr. Muhammad Idrus Taba. SE., Msi

Masa sekarang adalah saat yang sungguh menantang untuk melibatkan manajemen total kualitas ke dalam lingkungan kerja. Semua orang benar-benar tertuju kepada masalah-masalah seputar manajemen ketersediaan sumber daya, manajemen alih teknologi, manajemen operasional, dan tentu saja manajemen kualitas total. Pada saat sekarang, terdapat adanya kesempatan, seperti juga yang pernah terjadi pada beberapa masa dalam sejarah manusia, untuk memperoleh keuntungan bagi pemimpin manajerial yang mampu untuk mengenali dengan baik kebutuhan-kebutuhan yang sedang berkembang, untuk kemudian menterjemahkannya menjadi kesempatan yang berarti guna meningkatkan kualitas dalam pengaturan organisasi (Crosby, 1984, hal. 6 – 9). Melihat situasi tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa kepemimpinan maanjerial berperan sangat penting dalam pengembangan kualitas lingkungan kerja perusahaan.

Kepemimpinan manajerial yang berhasil dalam sebuah perusahaan yang ingin mencapai kualitas tertentu, sangatlah bergantung kepada masing-masing situasi perusahaan, tetapi berdasar atas empat strategi kunci : perhatian atas visi, menimbulkan arti penting dengan berkomunikasi, membangkitkan kepercayaan melalui pemposisian diri, dan menumbuhkan percaya diri melalui sikap menghargai. Kegembiraan dan keberhasilan dalam memenuhi tanggung jawab kepemimpinan bukanlah merupakan titik akhir, tetapi hanya merupakan pemberhentian untuk perjalanan selanjutnya bagi seseorang menuju masa depan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil dalam manajemen kualitas membutuhkan semua yang terbaik dari seorang manajer, dan juga kesadaran penuh dan berkelanjutan akan kemampuan diri sendiri atau orang lain dan juga komitmen kepada diri sendiri dan orang lain, agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Dalam penyampaian tulisannya, Dr. Muhammad Idrus Taba. SE., Msi juga sangat banyak memberikan tips menarik untuk memulai membuat tulisan. Sebagaimana hal yang pertama untuk memulai membuat sebuah tulisan adalah dengan mengetahui dulu jenis tulisan apa yang ingin dibuat serta bagaimana metodologi pencarian datanya. Terdapat dua metode dalam membuat tulisan yaitu melalui studi lapang dan studi pustaka. Studi lapang yang dilakukan dengan mempelajari teori kemudian membandingkannya dengan realitas yang terjadi di lapangan, studi pustaka yang dilakukan dengan cara membaca berbagai sumber yang terkait serta membandingkan sumber bacaan untuk kemudian dijadikan bahan dalam membuat tulisan.

Untuk memulai membuat tulisan ilmiah benar-benar harus memenuhi kaidah ilmiah yang dimana setiap argumentasi disusun berdasar logika ilmiah serta logika didukung oleh data dan fakta. Setiap pencarian data dan fakta harus berdasar teori dan konsep yang telah dikemukan oleh para ahli maupun peneliti yang menggunakan data empiris yang dikemukakan berdasar teori pula. Selanjutnya adalah untuk menentukan judul, terdapat tiga pendapat mengenai penentuan judul yaitu :
– Judul yang menggambarkan semua variabel penelitian dengan batasan tidak lebih dari 20 kata
– Judul yang hanya menggambarkan variabel inti
– Judul yang mengemukakan konsep
Penentuan judul ini ditentukan sendiri sesuai keinginan penulis untuk memberikan gambaran isi tulisannya namun yang perlu penulis perhatikan adalah menentukan judul yang menarik untuk menarik minat pembaca.

Dalam pembahasan tulisan ilmiah, penulis perlu melihat fenomena-fenomena yang akan dikaji secara mendalam sehingga menciptakan sebuah konsep yang didasari oleh variabel yang dapat diukur secara jelas sehingga menghasilkan indikator dari konsep tersebut. Untuk selanjutnya adalah melakukan kontruksi abstraksi yang diturunkan dengan menggunakan model matematika (kuantitatif) maupun melalui kekuatan narasi (kualitatif) sehingga mampu menjelaskan hasil tulisan dengan bahasa yang nyata. Namun, hal yang paling penting yang harus diperhatikan adalah seorang penulis harus menerapkan “ekonomi kata” yaitu benar-benar menggunakan kalimat yang sangat efisien sehingga mampu menarik minat pembaca.
Terakhir, beliau berpesan bahwa menulis itu ibarat belajar naik sepeda, meskipun berbagai macam buku panduan tata cara bersepeda yang kita baca, tanpa memulai belajar bersepeda, kita tidak akan bisa mampu bersepeda. Sama halnya dengan menulis, meskipun berbagai macam tips menulis yang kita pelajari, tanpa memulai menulis, kita tidak akan bisa.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
Posted in Info Terkini (IMMAJ), Pojok Diskusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *