PENATAAN atau PENGgusurAN?

Terlihat sebuah keramaian di kawasan pedagang Pintu 0 Uiversitas Hasanuddin atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Workshop” pada hari jumat tepatnya tanggal 15 juni 2012. Terlihat beberapa orang sedang merubuhkan atap dari salah satu warung makan yang berada di kawasan tersebut dan beberapa pedagang lain yang berada di tempat itu hanya diam dan berdiri melihat kejadian tersebut.

Berdasarkan keterangan dari beberapa orang yang terlibat dalam pembongkaran warung tersebut yang juga merupakan pihak dari Universitas Hasanuddin, menyatakan bahwa hal ini merupakan penataan yang dilakukan oleh pihak Unhas dan hal ini juga merupakan kesepakatan dari Forum Pedagang Kaki Lima (FPKL) yang ada disini. “Jadi, semua bangunan yang berdiri di atas saluran air akan dimundurkan, agar saluran air tersebut dapat diperbaiki dan berfungsi kembali, supaya tidak terjadi banjir” tutur salah seorang pihak Universitas Hasanuddin yang juga ikut serta melakukan pembongkaran.

Namun ketika orang – orang tersebut ingin melakukan hal yang sama kepada pedagang yang berada di samping warung makan yang telah dibongkar tadi, ternyata pedagang tersebut menolak untuk dibongkar tempatnya. “Saya sudah menghadap langsung ke pihak rektorat Unhas, katanya tidak ada pembongkaran pak, yang ada hanya pemetaan” tegas pedagang yang warungnya juga ingin dibongkar. Sempat terjadi perdebatan yang terjadi antara pedagang tersebut dengan salah seorang pihak rektorat yang ada saat itu. Salah satu  mahasiswa yang juga aktif dalam mengawal kasus pedagang “Workshop” tersebut juga menyatakan hal yang senada dengan pedagang tadi, bahwa kesepakatan yang dicapai adalah hanya dilakukan pemetaan ulang dan tidak ada kata pembongkaran untuk pedagang yang ada di workshop.

Namun berdasarkan tuturan dari pihak humas FPKL workshop bahwa sebetulnya telah ada kesepakatan lebih lanjut yang dilakukan oleh FPKL dengan pihak rektorat Unhas. Dan ternyata informasi tersebut tidak disosialisasikan kepada semua pedagang yang ada di tempat yang sering ramai oleh mahasiswa itu. Selain tidak tersampaikannya informasi tentang kesepakatan tersebut, menurut penuturan beberapa pedagang yang sempat kami tanyai, bahwa pihak FPKL yang mengatasnamakan dirinya sebagai perwakilan pedagang – pedagang dalam  kasus ini, ternyata tidak pernah sekalipun melibatkan pedagang – pedagang dalam pengambilan keputusan yang dilakukan dalam FPKL. Namun pihak FPKL hanya mengambil keputusan berdasarkan suara beberapa orang saja, misalnya RT ataupun RW setempat.

Setelah kejadian tersebut, beberapa pedagang tetap bertahan dan tidak ingin membongkar tempat dagangannya dengan alasan apapun, karena memang yang mereka sepakati dengan pihak Unhas adalah pemetaan ulang untuk penataan. Jadi apakah hal ini diartikan penataan atau pengGUSURan oleh pihak Universitas yang katanya terbaik di Indonesia Timur ini ?

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
Posted in Uncategorized.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *