Kehidupan kampus dari kacamata ‘Fakta Sosial’

Teman – teman di lembaga kemahasiswaan  pasti tidak asing lagi dengan sebutan pengkaderan dan pastinya lebih tidak asing lagi dengan sebutan pengkaderan non formal dan pengkaderan formal, yang dimana pasti agenda ini dilaksanakan tiap tahunnya. Pada bagian awal dari tulisan ini saya akan lebih membahas dari segi pengkaderan formal. Bagi sebagian teman mungkin menganggap hal ini (red:pengkaderan formal) sebagai kunci dari keberlanjutan lembaga kemahasiswaan dan mungkin juga bagi sebagian orang lagi menganggap hal ini tidak lebih sebagai acara seremonial belaka, dimana mereka bisa menunjukkan eksistensi mereka di depan mahasiswa baru entah bagaimana cara yang mereka inginkan sendiri. Mengapa saya menyebut menunjukkan eksistensi mereka di depan mahasiswa baru, karena memang agenda pengkaderan formal ini diadakan untuk menyambut mahasiswa baru dan juga sebagai metode perekrutan bagi mahasiswa baru untuk berproses dalam lembaga kemahasiswaan.

Bagi teman –  teman yang merupakan bagian dari golongan pertama, tentu saja selalu mengharapkan bahwa output dari pengkaderan formal ini diharapkan dapat memahami nilai – nilai yang baik dan bersifat universal, seperti nilai kemanusiaan dan intelektual. Maka dengan harapan yang seperti itu tentu saja teman – teman selalu berusaha melakukan atau mengisi pengkaderan tersebut dengan nilai – nilai tesebut dan tentu saja nilai tersebut disampaikan dengan cara yang berbanding lurus dengan nilainya. Mungkin hal ini berbeda bagi kalangan orang yang masih menganggap bahwa tidak bisa menunjukkan betapa perihnya penindasan yang dirasakan oleh orang – orang diluar sana, kalau mahasiswa baru itu tidak mengalami penindasan terlebih dahulu dan kekerasanpun menjadi pilihan yang paling tepat.

Paragraph di atas mungkin sudah bisa membuat teman – teman sedikit mengerti tentang pengkaderan yang dilakukan di lembaga kemahasiswaan. Selanjutnya kita akan membahas mengenai fakta sosial itu sendiri.

Di kajian ilmu sosial sendiri ada satu nama yang cukup tenar, yaitu Thomas Kunt yang terkenal dengan teori paradigmanya. Thomas kunt menyatakan bahwa selalu terjadi revolusi paradigma. Thomas kunt menjelaskan bahwa dalam paradigm pertama terjadi yang namanya normal science yang dimana kehidupan berjalan dengan baik – baik saja. Setelah kehiduan berjalan dengan normal, muncullah keanehan – keanehan atau keganjilan – keganjilan yang terjadi di tengah masyarakat yang Thomas kunt sebut dengan anomaly dan terjadilah masa krisis lalu lahirlah sebuah revolusi yang akhirnya melahirkan paradigma baru.

Dan datanglah seseorang yang bernama George Ritzer yang membantah teori Thomas kunt di atas, ritzer menyebutkan bahwa sesungguhnya revolusi paradigma itu tidak ada, karena setelah terjadinya revolusi tidak bisa menyebabkan hilangnya paradigma pertama, tapi paradigma itu tetap ada meskipun paradigma barupun telah lahir. Selanjutnya ritzer mengatakan bahwa sebenarnya ada tiga paradigma yang selalu mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, yaitu paradigma fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial. Dimana secara umum paradigma fakta sosial merupakan sesuatu yang berada di luar individu dan bersifat memaksa. Fakta sosial sendiri terdiri dari dua jenis yang pertama dikenal dengan fakta sosial yang sifatnya material (institusi) dan yang kedua dikenal dengan sifatnya yang non material seperti norma – norma. Definisi sosial membahas kehidupan individu yang dimana individu itu sifatnya bebas dan kreatif, sedangkan perilaku sosial berbicara tentang perilaku masyarakat yang tak pernah lepas dari reward dan punishment.

Fakta sosial dikenalkan pertama kali oleh seseorang yang bernama Emile Durkheim yang mencoba menentang Aguste Comte yang mengalisis kehidupan sosial dengan menggunanakan filsafat dan juga menentang pemikiran Herbert Spencer dengan teori perilaku sosialnya dengan menggunakan psikologi untuk menganilisis kehidupan sosial. Durkheim mengatakan bahwa sebetulnya yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam bermasyarakat sebenarnya fakta sosial yang sekali lagi mempunyai sifat memaksa dan berada di luar individu. Fakta sosial inilah yang membentuk sebuah solidaritas dalam masyarakat dan individu harus mengikuti fakta sosial tersebut agar bisa bergabung dengan solidaritas yang ada. Karena menurut Durkheim ketika seseorang tidak bisa menemukan ataupun masuk ke dalam solidaritas, maka yang terjadi adalah individu akan mengalami fenomena suicide atau bunuh diri.

Mungkin teman – teman bertanya – Tanya, sebenarnya kaitan fakta sosial dengan kehidupan lembaga kemahasiswaan itu apa. Baiklah, saya akan mencoba menjelaskan kaitannya. Yang saya ketahui bahwa selalu ada upaya yang dilakukan oleh orang – orang yang berada dalam lembaga kemahasiswaan untuk membuat mahasiswa baru agar mengikuti prosesi dari awal sampai akhir dan akhirnya menyandang gelar Keluarga Mahasiswa (KEMA). Dan tentu saja hal ini tidak mudah dilaksanakan, karena tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar mahasiswa baru mungkin belum mengetahui arti dari kegiatan pengkaderan formal itu. Dan fenomena ini sangatlah tergambar jelas dalam setiap jenjang prosesi, yang dimana kuantitas peserta yang mengikutinya itu selalu saja berkurang. Maka anggapan saya di atas terbukti, bahwa sebagian mahasiswa baru belum mengetahui arti dari sebuah prosesi pengkaderan dan akhirnya menganggap bahwa pengkaderan ini hanya sebuah kegiatan yang menguras waktu dan tenaga. Dan salah satu langkah yang diambil oleh orang – orang yang menganggap pentingnya sebuah pengkaderan ialah merakayasa sebuah sistem yang bisa membuat mahasiswa baru mengikuti prosesi pengkaderan ini dan tentu saja dengan sistem yang sedikit memaksa tentunya, karena bisa saja fenomena kurangnya kuantitas peserta tetap terjadi ketika tidak ada sistem yang sedikit memaksa. Pertanyaannya kemudian bukankah sistem ini dalam sebutan Durkheim disebut dengan fakta sosial ? ya, memang sangat betul. Tapi tentu saja sistem yang sifatnya sedikit memaksa ini pastilah mempunyai tujuan yang baik bagi mahasiswa baru dan singkatnya inti dari tujuan ini adalah ‘ikuti semua prosesi dan kamu akan mendapatkan manfaatnya’. Setelah mengikuti semua prosesi dan menyandang gelar KEMA apakah sampai disitu sistem yang sifatnya memaksa dibentuk ? tentu saja tidak.

Di kehidupan mahasiswa jargon ‘membaca, menulis dan berdiskusi’ adalah hal yang tidak asing lagi. Memang jargon tersebut seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk menunjang kehidupannya selama di kampus. Tapi apakah semua kepala mahasiswa di isi dengan jargon itu ? jawabannya tentu saja tidak. Hal ini terbukti dengan sendirinya di kampus, dimana mahasiswa masih sibuk dengan kehidupan gemerlapnya ataupun mengurusi urusan kecantikan dan ketampanannya. Maka orang – orang yang menganggap membaca, menulis dan berdiskusi itu penting sekali lagi merakayasa sebuah fakta sosial yang diharapkan memaksa mahasiswa untuk melakukannya. Ketika seorang KEMA dipaksa oleh KEMA lainnya untuk membaca buku dan membedahnya di depan orang banyak, ini merupakan bukti dari fakta sosial tersebut. Dan adakalanya pula dilakukan dengan cara membuat sebuah diskusi dan pembicaranya merupakan orang – orang yang dipilih dengan bersifat ‘kandang paksa’, bukankah ini sifatnya memaksa ?. Saya sendiri menjadi salah satu orang yang memberlakukan fakta sosial tersebut. Mungkin fakta sosial yang saya sebutkan di atas merupakan salah satunya dari fakta sosial yang berlaku di kampus.

Tapi apakah fakta sosial itu berhasil membuat kehidupan di kampus selalu diisi dengan membaca, menulis dan berdiskusi ? pastilah tidak, ternyata yang dikatan Herbert Spencer betul, bahwa ada aktor yang bersifat bebas. Tapi bagaimana dengan orang – orang yang tidak mengikuti fakta sosial itu, disinilah fenomena suicide yang disebutkan oleh Durkheim berlaku. Di kampus, tergambar jelas golongan orang yang tidak memilih untuk menghindari fakta sosial yang telah dibentuk. Hal tersebut dapat terlihat dari keterlibatan golongan tersebut dalam berbagai kegiatan lembaga kemahasiswaan yang sifatnya membaca, menulis dan berdiskusi. Ketika mereka memilih untuk tidak mengikuti fakta sosial yang terbentuk maka dengan sendirinya mereka tidak bisa masuk ke dalam solidaritas yang terbentuk dengan adanya fakta sosial tersebut. Maka jangan heran orang – orang di luar solidaritas tersebut menyebut dirinya sebagai golongan yang dikucilkan dan bahkan orang yang pernah berkata bahwa orang – orang yang tidak membaca, menulis, ataupun berdiskusi dianggap sebagai kasta terendah dalam lembaga kemahasiswaan. Dan terjadilah sebuah pengalienasian diri yang dilakukan oleh orang – orang tersebut. Sedikit baik mungkin ketika dia hanya mengalienasikan dirinya tapi tidak mencemooh solidaritas yang tidak bisa dimasukinya, bagaimana ketika dia justru berbalik dan membenci bahkan melawan solidaritas yang dimana dirinya tidak diterima ? tentu saja ini merupakan suatu hal yang sulit.

Saya sendiri beranggapan bahwa fakta sosial yang dibentuk oleh kawan – kawan di lembaga kemahasiswaan, seperti yang saya sebutkan diatas, pastilah bertujuan baik. Karena memang hal itu menunjang kehidupan saya di kampus sampai saat ini. Tapi entahlah bagaimana dengan teman – teman yang memilih untuk tidak mengikuti fakta sosial tersebut, mungkin saja solidaritas yang mereka temukan dan solidaritas dimana dirinya diterima, mereka anggap menunjang kehidupannya di kampus.

Mungkin ini sedikit penjelasan saya mengenai memandang kehidupan kampus dengan kacamata fakta sosial. Ketika tulisan ini dianggap sangat kurang, harap maklum karena inilah saya, yang masih mencoba melakukan kegiatan menulis ini dengan paksaan fakta sosial yang ada agar saya tidak terlempar dari solidaritas. Hhe, bagi saya ketika sebuah proses yang baik dilakukan, pastilah hasilnya akan berbanding lurus. Dan cara untuk melakukan proses yang baik, tentu saja harus dimulai dengan merubah pola pikir ke arah yang baik pula..

Incoming search terms:

  • teori kunt pada bunyi
  • fakta sosil di lingkungan kampus
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
Posted in Wacana Umum and tagged , , .

One Comment

  1. alienasi kemudian suicide,,,, kalo dari sudut pandang saya, ada kondisi dimana hal tersebut tidak berlaku atau terjadi, contohnya saja di kampus, orang-orang di luar LEMA kemudian membentuk asosiasi atau apalah namanya yang menurut saya merupakan bentuk “perlawanan” untuk mempertahankan “kediriannya”,, toh itu bukan menjadi suatu masalah jika ada toleransi di dalamnya, tapi sedikit bercak menunjukkan ada kerenggangan hubungan antara LEMA dengan “asosiasi” tersebut. kerapkali ada nada-nada sumbang dari mereka terhadap Lembaga Kemahasiswaan. sebuah fenomena yang layak kita perhatikan dan perbincangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *