JapaneseMent (Sebuah Persepsi Manajemen Ala Japan)

Oleh : Irawati (A211 13 016) Finance Management Student, Faculty of Economics And Business

Jepang adalah negara dengan perekonomian terbesar ke-3 di dunia setelah AS dan Republik Rakyat Tiongkok dalam keseimbangan dan kemampuan berbelanja. Adapun industri utama yang menjadi andalan Jepang adalah sektor perbankan, asuransi, bisnis eceran, transportasi, telekomunikasi dan kontruksi. Selain  itu, Jepang memiliki industri yang berteknologi tinggi dibidang otomotif, elektronik, mesin perkakas, baja dan logam non besi, perkapalan, industri kimia, textil dan pengelolaan makanan lainnya. Jepang merupakan salah satu negara penganut sistem ekonomi Laissez Faire. Namun, setelah Shinzo Abe menjabat kembali pada Desember 2012 yang merupakan kali keduanya menjabat sebagai perdana menteri, Shinzo Abe mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kelonggaran kepada kebijakan moneter, kebijakan fiskal dan restrukturasi. Kebijakan tersebut sering di sebut AbeNomics. Jepang sebagai negara maju yang berfokus pada sektor industri dan jasa, memiliki relasi yang erat dengan Amerika Serikat, sehingga jika perekonomian USA goyah maka kestabilan perekonomian Jepang juga ikut terganggu. Karena Jepang merupakan negara yang amat sangat menjaga hubungan baik dengan negara-negara yang bisa berpotensi untuk negara dan bangsanya. Dibalik kebehasilan Jepang untuk menjadi negara yang sustainable baik dari segi pertumbuhan ataupun pembangunan bukan terjadi begitu saja. Namun, dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari culture, policy, hingga behavioral masyarakat Jepang.

Culture management

Budaya adalah sistem (dari pola-pola tingkah laku yang ditunjukkan secara sosial) yang bekerja menghubungkan komunitas manusia dengan lingkungan ekologi mereka. Jika budaya dipandang sebagai sistem tingkah laku yang khas dari suatu penduduk, satu penyumbang dan penyelaras kondisi-kondisi badaniah manusia. Budaya adalah cara yang bentuk-bentuknya tidak langsung berada dibawah kontrol genetic yang bekerja untuk menyesuaikan individu-individu dan kelompok dalam komuniti ekologi mereka. (Binford 11. Hlm 323)

Konsep budaya turun jadi pola tingkah laku yang terikat kepada kelompok-kelompok tertentu yang menjadi customsadat istiadat” atau way of lifecara kehidupan” manusia (Harris 41, hlm. 16).

Berbicara mengenai konsep Japanese Culture yang digunakan sebagai cara hidup masyarakat Jepang bisa terlihat sangat dipegang teguh oleh masyarakat Jepang. Berbeda dengan Indonesia yang saat ini kebudayaan sudah mulai tergerus, Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya karena terdiri dari banyak suku. Namun, hari ini bisa terlihat bagaimana Indonesia society sudah mulai meninggalkan kebudayaan. Kebudayaan Jepang yang menjadi hal mendasar dalam kesuksesan, kami melihat begitu masyarakat Jepang memegang teguh budaya, seperti budaya antri, budaya menghargai orang yang lebih tua, budaya pendidikan, budaya saling menghargai, dan budaya menghargai waktu. Jepang sangat tertib dalam segala hal sehingga bisa memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perilaku masyarakat. Menurut Samuel P. Hubtingtong, budaya adalah kesatuan entitas sebagai suatu kelompok yang mempunyai kesamaan unsur agama, bahasa, sejarah, cara pandang, kebiasaan dan sistem.

Culture Management merupakan istilah yang saya gunakan untuk mengambarkan bagaimana Jepang mengelola budaya untuk terus cocok untuk semua kondisi, sehingga apabila zaman terus berkembang sehingga budaya tetap mampu di pertahankan. Dalam teori management operational terdapat teori perbaikan mutu yang disebut KAIZEN

5S dan KAIZEN

Perusahaan Jepang menanamkan nilai serta paradigma umum. Budaya perusahaan Jepang dikatakan sebagai suatu generalisasi dari eksistensi dan nilai sebagai perusahaan Jepang, dengan menambahkan pola hidup masyarakat Jepang, filosofi, etika, sudut pandang bisnis kedalam pondasi dasar budaya Jepang. Seiring dengan perubahan kondisi sosial dan iklim bisnis, pergeseran nilai ditambah dengan perkembangan era globalisasi, maka perusahaan Jepang dan budaya perusahaan itu sendiri terus mengalami perubahan. Menurut teori budaya organisasi, dalam pengelolaan perusahaan, budaya organiasasi memiliki peran yang sangat penting. Manajemen perusahaan sangat di pengaruhi oleh budaya. Beberapa perusahaan Jepang sangat memegang teguh konsep yang disebut 5S dan kaizen. Selain di perusahaan konsep 5S juga menjadi pegangan masyarakat Jepang.

Secara harfiah kaizen berasal dari kata Kai dan Zen yang memiliki arti perubahan dan kebaikan. Jadi menurut Maasaki Keizen adalah perbaikan yang berkesinambungan. Konsep Kaizen sangat penting untuk menjelaskan perbedaan antara pandangan Jepang dan pandangan barat terhadap manajemen. Perbedaan yang paling penting adalah kaizen Jepang yang berorientasi pada proses.

Sedangkan barat berorientasi tentang pembaharuan yang berorientasi pada hasil (Maasaki Imai, 1992). Jepang merupakan suatu negara yang sangat memperhatikan proses dalam melakukan segala sesuatu. Baik itu kegiatan produksi maupun konsumsi, kegiatan individu maupun sosial. Kunjungan yang saya lakukan pada  bulan November kesalah satu perusahaan produksi mobil dijepang dengan slogan from Hiroshima to the World, yakni Mazda corp.

Mazda merupakan salah satu perusahaan yang menerapkan model kaizen. Study visit yang kami lakukan ke Mazda memberikan banyak pembelajaran mengenai kualitas produk yang dihasilkan dari proses yang berkualitas, Mazda adalah salah satu perusahaan yang berproduksi alat transportasi mobil terbesar di Jepang. Kunjungan itu memberikan pembelajaran yang sangat berharga mengenai manajemen operasional. Dimana pada proses produksi yang menjadikan kualitas proses sebagai landsan utama dalam produksi.

Selain  kualitas dari produk Mazda yang didukung dengan konsep kaizen, Mazda juga memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang ramah lingkungan dengan memproduksi mobil ramah lingkungan yakni mobil hidro. Proses produksi dari Mazda yang berorientsi pada proses menjalankan manajemen operasional dengan sangat baik, terlihat dari sistem pengendalian manajemen, time management, dan pengendalian manajemen dalam melakukan proses produksi. Selain  itu posisi sentral produksi Mazda terletak pada posisi yang strategis dikarenakan strategi tempat yang digunakan dekat dengan pelabuhan sehingga sangat memudahkan dalam mengangkut barang hasil produksi ataupun bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi. Sehingga, strategi ini dapat meminimalisir biaya untuk menghasilkan kualitas yang bagus.

Filsafat Kaizen menganggap bahwa cara hidup kita- baik cara kerja, kehidupan sosial, dan kehidupan rumahtangga, perlu disempurnakan setiap saat. Setiap kegiatan selalu dicoba untuk dibuat lebih baik lagi, diproses menuju kesempurnaan. Salah satu implementasi Kaizen yaitu penerapan 5S. Five S merupakan singkatan dari 5 istilah dalam baahsa Jepang yang diawali dengan hurup S yakni : Seiri (整理), Seiton (整頓), Seiso ( 清掃 ), Seiketsu (清潔),Shitsuke (仕付)

Konsep Seiri (整理),

Dalam konsep manajemen perusahaan, konsep seiri yaitu disiplin di tempat kerja dengan cara melakukan pemisahan berbagai alat dan komponen ditempat masing-masing. Sehingga untuk mencarinya nanti bila diperlukan akan lebih mudah. Dari arti kata seiri atrtinya ringkas. Kerena Jepang merupakan negara yang sangat menghargai waktu maka segala sesuatu harus dilakukan secara efektif dan efisien. Sehingga, konsep seiri sangat berpengaruh di negara ini. Konsep seiri ini bukan hanya diterapkan pada proses produksi tapi segala aspek kehidupan sosial ekonomi di Jepang.

Konsep Seiton (整頓)

Konsep yang berfokus pada pengelolaan dan penyusunan barang dengan rapi agar mempermudah penggunaannya. Secara harfiah seiton berarti menyusun benda dengan cara menarik dan rapi. Selain dalam konsep manajemen perusahaan, konsep seiton juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pada saat masyarakat Jepang melakukan proses sosial. Sebagai contoh pada transportasi publik, selama disana kami tidak pernah menemukan masyarakat jepang berlomba masuk kedalam kereta api, atau dalam hal ini masyarakat jepang selalu membudayakan perilaku antri dimanapun dia berada. Menurut penulis, ini merupakan turunan dari konsep seiton. Selain perilaku masyarakat Jepang yang tertib dan teratur, konsep seiton juga diterapkan pada tata letak kota yang begitu tertata rapi, rumah penduduk yang tertata rapi, gedung-gedung yang tertata rapi, sangat indah dilihat. Dari situ bisa dilihat betapa konsistennya masyarakat Jepang. Jika dibandingkan dengan Indonesia, tata letak kota di Indonesia masih jauh dari  keteraturan, masih banyak pemukiman masyarakat yang tidak pada tempatnya contoh di pinggiran laut, diatas kanal dan masih banyak lagi ketidakteraturan lainnya. Selain dari tata letak kota, perilaku masyarakat Indonesia juga masih sembraut, sebagai contoh kongkrit besarnya tingkat kemacetan di Indonesia salah satu penyebabnya adalah tidak tertibnya masyarakat Indonesia dalam menggunakan jalan.

Konsep Seiso ( 清掃 ),

Konsep seiso ini berfokus pada kebersihan, masyarakat Jepang sangat mengiinternalisasikan konsep seiso kedalam setiap diri masing-masing sehingga jika kita berjalan di area publik rasanya sangat malu jika harus membuang sampah sembarangan. Seiso setara dengan aktifitas pembersihan berskala besar yang dilakukan setiap tahun di setiap rumah tangga Jepang. Selama beberapa minggu di Jepang tak sedikit pun penulis melihat fenomena yang hampir sama dengan Indonesia. Saya tidak pernah melihat tumpukan sampah sedikit pun. Konsep pemisahan sampah basa, plastik, botol dan sampah kering sangat efektif dikarenakan konsistensi dan aturan yang sangat ketat. Konsep pemisahan sampah daur ulang dan sampah non-daur ulang  juga sudah diterapkan di Indonesia namun belum ada aturan yang mengikat sehingga masyarakat Indonesia masih belum bisa konsisten dalam penerapannya.

Konsep Seiketsu (清潔),

Seiketsu yaitu usaha yang terus-menerus untuk mempertahankan 3S tersebut diatas yakni Seiri, Seiton dan Seiso. Pada prinsipnya konsep ini selalu berusaha agar lingkungan tetap terpelihara sehingga menciptakan kenyamanan baik public space ataupun private space.

Konsep Shitsuke (仕付),

Konsep ini digunakan untuk memotivasi masyarakat atau secara khusus memotivasi pekerja agar terus-menerus melakukan dan ikut serta dalam kegiatan perawatan dan akitivitas perbaikan serta membuat pekerja terbiasa menatati aturan (rajin).

Kelima konsep diatas merupakan bagian dari konsep Keizen (perbaikan berkelanjutan) namun, lebih fokus pada sikap atau perilaku (behavioral) masyarakat Jepang. Karena Jepang mampu menguasi dunia hingga pernah suatu kondisi hampir setara dengan negara adidaya karena masyarakat Jepang memegang teguh budaya, dan perbaikan perilaku masyarakat.

Konsumerisme dan Produksivisme

Produksivisme adalah suatu paham yang menjadikan seseorang memiliki semangat produksi yang tinggi. Proses produksi yang menjadi penghasilan terbesar dari semua segara maju. Setelah revolusi industri terjadi negara-negara yang hari ini disebut sebgaai negara maju berfokus kepada peningkatan total produksi di negara tersebut. Jepang merupakan salah satu negara maju dari 40 total negara maju di  dunia. Jepang merupakan salah satu negara yang bisa menjadi referensi untuk melakukan proses produksi, karena selain Jepang ingin menguasai pangsa pasar dengan meningkatkan kuantitas produksi,  juga tetap memperhatikan kualitas dari produk-produk yang dihasilkan seperti yangpenulis jelaskan sebelumya, dimana Jepang tetap menggunakan konsep keizen dalam melakukan proses produksi.

Produk yang dihasilkan Jepang saat ini bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal melainkan dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor sehingga perekonomian Jepang dapat unggul. Namun, selain didukung oleh kualitas sumberdaya manusia yang berkompeten, teknologi yang memadai, proses produksi itu juga didukung oleh perilaku masyarakat Jepang yang cenderung sederhana. Atau dalam hal ini perilaku konsumen Jepang bisa dikategorikan sederhana dan menghindari yang namanya konsumerisme.

Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang secara berlebihan. Perilaku konsumsi seperti ini cenderung terdapat pada negara berkembang. Karena pemasukan terbesar dari negara berkembang adalah dari jumlah pengeluaran atau konsumsi. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perilaku konsumtif, sehingga menjadi ladang subur untuk produsen-produsen baik dalam negeri maupun luar negeri. Jepang merupakan salah satu negara yang menjadikan Indonesia sebagai objek atau ladang subur untuk meningkatkan negaranya. Karena Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa baik dari sumberdaya alam, jumlah sumber daya manusia yang melimpah dan letak yang strategis.

Perilaku konsumsi di Jepang dapat dilihat dari penggunaan fasilitas publik yang lebih dominan, sebagai contoh penggunaan transportasi publik itu menandakan penggunaan transportasi privasi sangat kurang. Karena penggunaan kendaraan pribadi di Jepang kurang, maka ini menjadi salah satu kunci ketertiban jalan dan dapat menghindari macet lalu lintas. Terdapat beberapa jenis transportasi umum yang marak digunakan di Jepang yakni kereta api, Bus, taksi, sinkansen dan trap. Negara yang memiliki perilaku konsumen yang bagus akan menghindari konsumerisme, dan mengutamakan kerja untuk produksi.

The Atomic Bombings Management

Hiroshima merupakan salah satu tempat yang menarik untuk menjadi destinasi para tuis. Tempat ini menjadi salah satu tempat bersejarah dunia dimana peristiwa pengeboman terjadi tepatnya pada perang dunia ke II. Serangan Bom itu bersamaan di dua kota besar di Jepang yakni Hiroshima dan Nagasaki, pengeboman ini dilakukan oleh Amerika Serikat atas perintah presiden USA Harry S. Truman. Tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum hari bersejarah Republik Indonesia. Dimana momentum pengeboman ini menjadi momentum yang dimanfaatkan RI untuk memproklamirkan kemerdekaan RI. Peristiwa ini membuat Jepang khususya Hiroshima berduka dan hancur lebur, yang merenggut korban sekitar 140.000 juta jiwa.

Manajemen yang digunakan oleh Jepang untuk mengembangkan kembali Jepang dari keterpurukan akibat bom Hiroshima dan Nagasaki sangat efektif dan efisen. Tanpa menunggu waktu yang begitu lama, Jepang bisa kembali menunjukan taringnya. Setelah mengalami kekalahan dalam perang dunia II , 5 tahun kemudian Jepang membuka lembaran baru. Tepatnya tahun 1950, Jepang mengalami pertumbukan ekonomi yang pesat, dan menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua didunia. Dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 10% per tahun selama empat dekade. Salah satu perusahaan yang berperang penting pada pertumbuhan ekonomi Jepang adalah munculnya Mazda Corp. dengan tagline “Hiroshima For the World”. Sejarah ini di abadikan dalam monument Atomic Bombings yang menjadi saksi sejarah peristiwa 16 agustus 1945.

Salah satu value added yang membedakan Jepang dengan negara lain adalah kedisiplinan masyarakat dalam menggunakan waktu, kehandalan Jepang dalam mengelola waktu dibuktikan dengan ontimenya semua yang dijadikan sebuah prediksi. Sehingga, menurut penulis, manajemen ala Jepang patut menjadi percontohan untuk diimplementasikan khususnya di Indonesia.

Incoming search terms:

  • faktor kota nagasaki dan hiroshima menjadi kota andalan jepang
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
Posted in Info Terkini (IMMAJ), Pojok Sastra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *