Cultural Values, Corruption Level and Earnings Management of Southeast Asia Countries

img20161012160431

Oleh : A. Manggala Putra (ALumni FEB-UH)

The agency cost adalah konsep ekonomi mengenai biaya pemilik (principal) baik organisasi, perseorangan atau sekelompok orang, ketika pemilik menyewa seorang agen untuk bertindak atas namanya. Cost structure adalah susunan kepemimpinan di perusahaan seperi CEO, CFO,atau komisaris,dan struktur-struktur pengawasan yang berkaitan langsung dengan pemilik saham. Earnings quality adalah kualitas pendapatan perusahaan atau capital market atau merupakan indikator terpenting untuk diketahui oleh investor. Namun bukan berarti indikator perusahaan yang baik dan harus dipilih oleh para investor dilihat dari kuantitas labanya tetapi dilihat dari segi kualitas labanya. Maka dari itu perlu adanya pembelajaran mengenai efek manajemen perusahaan terhadap manipulasi laba.

Jensen dan meckling memprediksikan bahwa investor akan mengeluarkan biaya untuk bagaimana pihak manajemen serta pemangku kepentingan terutama shareholder berjalan beringan. Namun biasanya banyak dari pihak manajemen yang membodohi para shareholder dengan cara memanipulasi laba demi kepentingan pribadinya. Kadang pihak manajemen dan pemangku kepentingan ini tidak beriringan. Namun selain dalam hal keuangan ternyanya ada faktor lain seperti budaya, tingkat korupsi yang juga mempengaruhinya. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa tingkat korupsi dan budaya berkaitan dengan agency cost. Bagaimana suatu perbedaan antara tingkat budaya dengan korupsi dalam hal ini di negara ASEAN bisa mempengaruhi manajemen laba?. Hal ini dikarena dinegara-negara ASEAN sangat bebeda dengan Negara-negara barat lainnya seperti dalam hal budaya maupun tingkat korupsinya. Sebagai contoh dinegara Inggrris dan Amerika dimana tingkat Individualisme di Negara tersebut sangat tinggi.
Menurut para ahli sebelumnya bahwa ternyata ada significant interelationship adanya hubungan antara korupsi dengan legal ineffectiveness atau bisa dibilang ada mekanisme hukum tapi tidak berjalan dengan baik. Sebagai contoh, terdapat perusahaan yang menyogok pemerintah, sehingga pemerintah tersebut melemahkan hukum lewat pelonggaran undang-undang. Hal ini menunjukkan bahwa korupsi yang mendatangkan legal ineffectiveness, tapi karena dengan adanya legal ineffectiveness korupsi tersebut makin menjadi-jadi. Adanya hubungan antara korupsi dan legal ineffectiveness tentunya akan menambah agency cost karena pihak manajemen memiliki kesempatan yang semakin besar untuk memanipulasi laba.

Selanjutnya berbicara tentang budaya, ahli sebelumnya mengembangkan ada beberapa indikator budaya seperti power distance yaitu jarak antara manajer dengan shareholders. Seperti yang terjadi di Indonesia dimana kebanyakan dari para manajer seolah-oleh sangat tunduk dengan shareholders hal ini berbeda dengan negara-negara barat dimana di negara-negara tersebut antara manajer dengan shareholders atau atasan dengan bawahan derajatnya sama. Yang kedua yaitu high individualism yaitu bagaimana mereka hanya mementingkan dirinya sendiri dan keluarga terdekat. Jika dilihat di negara-negara ASEAN perilaku individualism kurang tapi lebih kepada collectivism (kebersamaan). Uncertainty avoidence menghindari kejadian-kejadian yang tidak pasti. Seperti di negara-negara barat yang sangat tidak mentolerir adanya keterlambatan, berada di negara-negara ASEAN yang keterlambatan itu adalah hal yang biasa. Terakhir adalah longterm orientation. Jika di negara-negara ASEAN peningkatan profit yang signifikan bukan menjadi faktor utama tapi melihat bagaimana perusahaan bisa mengalami peningkatan secara berkelanjutan. Berbeda dengan negara-negara barat dimana peningkatan profit perusahaan sangat diperhatikan.


Pertanyaan dan pendapat :

Apakah manajemen laba disukai oleh para investor?

Jul :
Tidak, kerena investor maunya memperoleh invormasi yang dapat diandalkan yaitu seseuai dengan apa adanya bagaiama kinerja perusahaan secara nyata sedangkan manajemen laba tidak seseuai dengan kinerja perusahaan yang sebenarnya karena banyaknya manipulasi.

A. Manggala :
Manajemen laba disukai oleh para investor karena ketika manajemen melakukan manajemen laba bisa saja labanya akan membesar maka proyeksi keuntungan investor meningkat sehingga shareprice makin besar dan ketika share pricenya membesar maka tingkat kekayaannya ikut membesar. Meskipun share holder tahu bahwa adanya manipulasi laba didalmnya tetapi mereka membiarkan hal tersebut terjadi. Atau mamanipulasi laba dengan cara menurunkan laba agar pajak yang dibayar juga ikut turun sehingga
hal tersebut diinginkan oleh investor. (YA/RAW)

Incoming search terms:

  • corruption level values
Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
Posted in Info Terkini (IMMAJ), Info Terkini (kampus), Pojok Diskusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *