Kenaikan Harga Rokok : Untuk Kemanusiaan atau Agenda Penghancuran Komoditi Tembakau Indonesia

Oleh : Nands Nugraha

Menyoal tentang rokok, ada hal penting yang harus dipahami terlebih dahulu terkait pemaknaan kita tentang rokok, pembagiannya secara sederhana bisa kita kategorikan sebagai kretek dan non-kretek atau lebih dikenal sebagai rokok putih. Rokok kretek adalah rokok yang menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkeh dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek. Dari cengkeh yang tersulut oleh bara api, sedangkan rokok putih adalah jenis rokok yang diartikan sebagai rokok tanpa campuran cengkeh seperti pada rokok kretek. Jadi jelas bisa kita ketahui bahwa kretek bukan sekedar rokok biasa. Kretek sudah menjadi begitu melekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya ditambah dengan kolaborasi tembakau sebagai bahan utamanya dengan salah satu unsur rempah indigenous nusantara yang dahulu sempat nilainya setara dengan emas.

Perkembangan kretek di Indonesia sudah dimulai sejak berabad-abad lalu ketika tembakau pertama kali ditanam di Indonesia pada abad ke XVII, dibawa oleh bangsa portugis untuk ditanam di Indonesia dan kemudian ditanam secara besar-besaran di Jawa, Sumatera, Bali dan Lombok oleh Belanda. Kebiasaan merokok diperkirakan diperkenalkan oleh armada laut Belanda yang mendarat di Banten kemudian mendirikan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dan mulai diikuti oleh pribumi pada waktu itu, tembakau agaknya memang tengah menjadi objek yang menarik perhatian dunia. Pada dua dasawarsa awal abad XVII ini, di Eropa dan Asia beredar sejumlah tulisan maupun opini yang mengungkapkan manfaat tanaman tembakau bagi kesehatan, seperti yang terjadi tahun 1605 di Jepang, di mana tembakau digunakan untuk kepentingan pengobatan. Belanda mulai mencium tembakau sebagai komoditas perdagangan yang menjanjikan pada akhir abad XVI. Pembudidayaan tembakau di Nusantara oleh Belanda dapat diasumsikan sebagai upaya mereka untuk turut ‘mengambil potongan kue’ dalam ingar-bingar pasar tembakau dunia waktu itu.

Perkembanagan tembakau menjadi lebih pesat lagi ketika Belanda yang mengalami defisit keuangan akibat Perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah sampai Jawa Timur, dan Perang Paderi di Sumatera Barat menguras kas pemerintah habis-habisan Untuk menutup kerugian, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru, Johannes van den Bosch lantas memperkenalkan kebijakan pertanahan cultuurstelsel, yang kemudian menyebabkan penanaman tembakau yang lebih masif lagi.

Perkembangan kretek sendiri di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kisah Roro Mendut melalui Erotisme Roro Mendut ketika berjualan rokok lintingannya, dengan lem dari jilatan lidahnya, pada masa itu rokokk dibungkus menggunakan kulit luar jagung yang dikeringkan dan seiring berkembangnya zaman saat ini berganti menjadi kertas khusus yang digunakan. Pada masa awal kebiasaan mengkonsumsi tembakau atau merokok yang perkenalkan oleh Belanda dan kemudian diikuti di lingkungan kerajaan hingga akhirnya menjadi budaya masyarakat kebanyakan yang mengakar kuat pada abad ke XIX.

Kini berdasarkan data dari berbagai sumber jumlah perokok di Indonesia yang berjumlah sekitar 90.000.000 jiwa dari kurang lebih 255.000.000 jiwa penduduk Indonesia atau sekitar 35% dari total penduduk Indonesia yang menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga tertinggi di dunia setelah cina dan India. Dengan persentase sekitar 66% pria diatas 15 tahun yang merokok. Dengan prevelansi peningkatan perokok tiap tahunnya juga yang terus meningkat. Dengan peningkatan 3 kali lipat untuk perokok usia dini Karena ini pula Indonesia disebut sebagai Baby Smoker Country.

Berdasarkan paparan data diatas bukan berarti pemerintah tidak melakukan upaya-upaya pencegahan, seperti yang umumnya kita lihat semisal dengan pencantuman peringatan-peringatan tentang bahaya merokok di bungkus rokok seperti merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung dan seterusya, bahkan tulisan seperti itupun kini sudah diubah dengan menunjukkan gambar-gambar mengerikan yang katanya akibat dari rokok serta tulisan yang lebih frontal “merokok membunuhmu”. Walaupun dengan upaya tersebut juga tidak dapt membendung hasrat orang untuk terus mengkonsumsi rokok.

Bukan hanya upaya-upaya seperti diatas yang telah dilakukan pemerintah tetapi masih banyak kebijakan lain yang dilakukan mulai dari sosialisasi langsung bahaya merokok penetapan area bebas asap rokok dan lain sebagainya upaya-upaya yang dilakukan pemerintah. Sampai pada penetapan cukai dari produk hasil tembakau.

Cukai merupakan pungutan Negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyi sifat atau karakteriistik yag ditetapkan dalam undang-undang no. 39 tahun 2007, dengan ketentuan barang yang terkena kebijakan cukai yaitu barang yang mempunyau sifat atau karakter yang pertama, konsumsinya perlu dkendalikan, kedua peredarannya perlu diawasi, kemudia pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan Negara demi keadilan dan keseimbangan.

Hasil kebijakan terakhir, tarif cukai hasil tembakau 2016 diterbitkan setelah penetapan target penerimaan APBN 2016 dari sektor cukai HT ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan DPR RI sebesar Rp 139,82 triliun. Kebijakan tarif cukai HT mempertimbangkan berbagai aspek antara lain kesehatan, tenaga kerja, dan penerimaan negara. Akhir-akhir ini isu kenaikan tarif cukai hasil tembakau kembali beredar luas dan viral yang disebabkan oleh hasil riset dari salah seorang dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia Prof Hasbullah Thabrany yang menyebutkan 72,3 persen perokok sepakat harga rokok Rp 50 ribu per bungkus atau lebih akan membuat perokok berhenti merokok.

Terlepas dari data dan hasil riset yang ada mari kita kembali menelisik dan membuka lembaran-lembaran sejarah.berawal dari bagaimana luar biasanya minyak kelapa mandar yang pada tahun 1998 nilai produksi industri minyak Mandar mencapai Rp.4.96 milyar. Pengembangan industri ini semakin berjaya setelah didirikannya Koperasi Usaha Bersama (KUB) sebagai pengoordiinir pemasaran. Seperti halnya KUB Melati yang berada di Majene yang telah berhasil memasarkan merek Mayang Kelapa, yang berhasil menembus pasar nasional hingga sampai ke ibu kota. Tapi sayang perang anti-kelapa yang dilancarkan negara penghasil minyak nabati lain. Salah satu yang paling getol memerangi kelapa adalah Amerika Serikat, produsen minyak goreng kedelai nomor wahid dunia. Salah satu cara yang paling sering mereka gunakan adalah meminjam tangan rezim kesehatan untuk menyatakan minyak kelapa berbahaya untuk kesehatan. Di tahun 1980-an, American Soy Association melancarkan kampanye tentang bahaya kolesterol yang terkandung dalam minyak kelapa sebagai strategi untuk melindungi produk mereka. Mereka bahkan meminta pemerintahnya memasang label peringatan dalam setiap produk yang mengandung minyak kelapa.

Jangan lupakan juga bagaimana luar biasanya industri gula Indonesia Setelah menjadi penghasil gula terbesar nomor dua di bawah Kuba tahun 1930-an, sulit rasanya membayangkan bahwa kini Indonesia berbalik menjadi negara pengimpor gula terbesar. perubahan paling fundamental pada industri gula terjadi setelah International Monetary Fund (IMF) berhasil mendesak pemerintah Indonesia untuk meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy (MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Yang salah satu isinya mewajibkan pemerintah membebaskan tata niaga pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Yang erujung ke penghapusan bea masuk untuk gula impor. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy . Gula impor pun membanjir. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan Pabrik Gula jebol. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara pabrik gula satu per satu bertumbangan

Lain gula, lain pula dengan garam meski dengan cerita yang nyaris sama. Negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia pernah berjaya dengan produksi garam. Lahan tambak garam yang luas, didukung dengan bergairahnya sentra garam nasional di banyak tempat menjadi cerita di balik kejayaan ini. Masyarakat yang hidup pada pertengahan tahun 1990-an bisa menjadi saksi bagaimana Indonesia mencapai swasembada garam konsumsi. Predikat pengekspor garam pun disandang. Namun keadaan berbalik sejak Akzo Nobel memprakarsai kampanye besarbesaran penggunaan garam beryodium di Indonesia. Sentra garam nasional berguguran. Lahan tambak garam terbengkalai. Produksi nasional turun drastis. Ribuan petambak kehilangan mata pencaharian. Sebaliknya, impor garam membanjir, sampai kini.

Selain kopra, gula, dan garam, masih banyak komoditas Nusantara lain yang mengalami nasib serupa. Satu per satu menunjukkan modus yang kurang lebih sama. Ada motif-motif “mulia”. Ada kepentingan bisnis korporasi multinasional/transnasional. Ada kepentingan dagang negara-negara maju. Ada dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Ada keterlibatan otoritas pemerintah dalam negeri. Perdagangan internasional yang digembar-gemborkan sebagai jalan menuju kesejahteraan, pada praktiknya justru menjadi modus operandi neokolonialisme. Menjadi paradoks memang, bahwa “bagian dunia yang alamnya kaya sungguh miskin, dan bagian dunia yang tak begitu kaya alamnya menikmati standar hidup tertinggi”.

Dari pembelajaran sejarah yang sudah terjadi terlihat jelas ada pola-pola yang sama yang bisa saja akan terjadi juga dengan komoditi tembakau Indonesia yang kini masih Berjaya,terlepas dari perdebatan mengenai perdebatan tentang dampak rokok terhadap kesehatan, seolah ada upaya pelemahan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mempunyai agenda besar penghancuran komoditi unggulan Indonesia. Ingatlah ketika korporasi korporasi telah berselingkuh dengan birokrasi birokrasi kotor maka rakyatlah yang akan merasakan penderitaan terberatnya.

Referensi :
DM,Abhisam, dkk, 2012.Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek. Jakarta: Penerbit Kata-kata
http://www.kompasiana.com/agungpribadi/rokok-kretek-ironi-dan-manfaatnya_5518c03d81331149709de0f3
http://www.tarif.depkeu.go.id/Bidang/?bid=cukai
http://www.kemenkeu.go.id/SP/kebijakan-tarif-cukai-hasil-tembakau-tahun-2016

LEMA & Kebijakan Kampus

bbm-politik-karikatur-copyLembaga kemahasiswaan tidak terlepas dari kebijakan kampus yang diterapkan. Kebijakan kampus yang berlaku akan mempengaruhi gerak dari lembaga kemahasiswaan. Jika di telaah lebih jauh, kebijakan kampus saat ini lebih mengarah kepada ideologi pasar yang bertumpu pada nilai-nilai materialistik-pragmatis. Ideologi yang tak lain dan tak bukan akan menghasilkan budaya pragmatis dikalangan mahasiswa saat ini, budaya yang akan mengarahkan mahasiswa yang kuliah hanya untuk mencari kerja. Menjadikan ‘mencari kerja’ sebagai tujuan utama masuknya mereka ke dunia kampus. Kampus menjadi industri penghasil tenaga kerja. Implikasinya kemudian, kegiatan-kegiatan yang menganggu perkuliahan dianggap sebagai kegiatan yang tidak perlu dilakukan , seperti ikut pengkaderan, gabung dilembaga kemahasiswaan, membaca buku selain buku perkuliahan, duduk dan ikut berdikusi dalam setiap kajian serta kegiatan-kegiatan yang tidak masuk dalam kurikulum pendidikan kampus. Kegiatan-kegiatan seperti ini dianggap kegiatan yang akan mengganggu kuliah yang akan memperlambat mereka kemudian untuk cepat lulus dan mencari kerja.

Kebijakan kampus yang paling banyak dibicarakan mengenai PTN-BH. Sistem neolib yang dianut menghilangkan peran pemerintah. Keuangan ditanggung oleh universitas dan dikelola universitas sendiri sehingga seperti mencari keuntungan. Kurikulum memang masih dipegang oleh pemerinah. Hanya masalah keuangannya yang ditanggung oleh universitas. PTN-BH membuat universitas hilang dari tujuannya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan yang dilembagakan kita berbicara tentang sistem. Siapa yang mendominasi maka akan memegang pendidikan itu. Bagaimana yang mendominasi dapat membuat aturan di kampus. Seharusnya dalam sistem ada pembagian peran. Jika ada lembaga pendidikan maka tugasnya mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak double job dengan mencari dana sendiri untuk pembangunan universitas. Ini adalah implikasi dari globalisasi yang mengikuti neolib berdampak pada pendidikan di negara kita. Lalu bagaimana kita menhadapi ini? Wacana sudah banyak, namau pergerakan tidak membuahkan hasil sama sekali. Pergerakan memang cukup sulit karena kapitalisme menyerang dari sistem dan paradigma kita, misalnya paradigma untuk lulus cepat. Sarana mereka melalui media dan pendidikan, dan kita bukan bagian dari yang mendominasi dengan jumllah massa yang kecil. Untuk melakukan pergerakan, sekali lagi kita harus mengkaji setiap kebijakan kampus dari berbagai sisi bagaimana manfaat dan kerugiannya. Bukan berarti kita bergerak hari ini, maka perubahan akan terjadi hari ini. Diskusi yang sering dilakukan bisa menjadi bentuk pergerakan kita. Karena mereka sudah menyerang bahkan dari paradigma kita, salah satu pergerakan bisa dengan ideologi tandinga. Dan yang paling penting adalah proses penyadaran dari diri kita terlebih dahulu. Pengkajian setiap kebijakan kampus pun harus menggali hingga ke akar masalahnya, karena selama ini pola-pola pergerkan hanya lebih kepada gejala. Harus dilihat landasan filosofis, sosioogis, dan yuridisnya.

Geliat Pasar Dunia Maya: Samudra Berkah dan Bahaya

“Geliat Pasar Dunia Maya: Samudra Berkah dan Bahaya”

Dalam konteks bisnis, internet membawa dampak transpormasional yang menciptakan paradigma baru dalam berbisnis, berupa digital marketing atau internet marketing (cyber marketing, electronic marketing). Istilah internetisasi mengacu pada proses sebuah perusahaan terlibat dalam aktivitas-aktivitas bisnis secara elektronik (e-commerce atau e-bisnis), khususnya dengan memanfaatkan internet sebagai media, pasar, maupun infrastruktur penunjang. Kebutuhan akan tenaga yang berbasis teknologi informasi masih terus meningkat; hal ini bisa terlihat dengan banyaknya jenis pekerjaan yang memerlukan kemampuan di bidang teknologi informasi di berbagai bidang; juga jumlah SDM berkemampuan di bidang teknologi informasi masih sedikit, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Dengan teknologi informasi yang terkoneksi dengan jaringan internet global memberikan peluang dalam pemasaran produk atau jasa, dengan jaringan internet dan fitur web yang menarik merupakan salah satu alat promosi yang baik dan lebih murah terutama dalam bisnis jasa.

Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap kemajuan di bidang pemasaran di suatu lembaga dan perusahaan. Kualitas suatu produk tidak akan kelihatan, bila konsumen belum pernah mendengar & tidak yakin bahwa produk tersebut baik dan berguna maka mereka tidak akan mau membelinya. Bagi produsen, teknologi mempengaruhi bagaimana produk mereka bisa sampai kepada masyarakat sedangkan bagi konsumen teknologi mempengaruhi bagaimana mendapatkan informasi tentang kebutuhan mereka. Oleh sebab itu, perkembangan teknologi sangat berpengaruh besar dalam kegiatan pemasaran suatu produk.

Seperti yang kita lihat sekarang di indonesia khususnya Makasaar banyak terjadi bisnis secara online, Hal ini terjadi karena teknologi berpengaruh besar dalam kegiatan pemasaran suatu bisnis, penjual tidak perlu lagi bartatap muka langsung dangan pembeli karena semuanya dapat dilakukan via online.
Dampak dari teknologi di bidang pemasaran dapat berupa dampak positif atau yang membawa kemajuan, tetapi juga dapat berupa dampak negatif atau yang membuat kemunduran.

Dampak Positif
• Tidak membutuhkan modal usaha yang terlalu besar.
• Menjangkau pasar yang lebih luas dibandingkan toko offline.
• Biaya operasional yang cenderung lebih murah dibandingkan pemasaran lainnya
• Waktu kerja pemasaran online yang tidak terbatas
• Mudahnya pelayanan yang diberikan kepada para konsumen
• Akan membuat industri lebih mudah bereskspresi
• Secara tidak langsung dapat mengedukasi konsumen.

Dampak Negatif Bagi Konsumen
• Penipuan
• Tidak sesuai dengan harapan
• Keterlambatan pengiriman
• Kesulitan transaksi
• Pelayanan buruk

Bagi Produsen
• Kehilangan segi finansial secara langsung karena kecurangan.
• Pencurian informasi rahasia yang berharga.
• Kehilangan kesempatan bisnis karena gangguan pelayanan.
• Penggunaan akses ke sumber oleh pihak yang tidak berhak.
• Kehilangan kepercayaan dari para konsumen.
• Kerugian yang tidak terduga.

Dari dampak positif dan negatif yang dapat terjadi dalam pemasaran, dapat menjadi senjata untuk kita agar dapat mengoptimalkan keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dengan adanya sistem informasi yang dapat memudahkan untuk melakukan promosi penjualan tanpa terbatas pada ruang dan waktu. Namun yang senantiasa dijadikan pertimbangan bahwa adanya kemudahan ini cenderung mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang diluar etika atau norma sebagai seorang produsen diharapkan tidak hanya berorientasi untuk mengejar laba yang maksimal tetapi mampu menyelaraskan antara keuntungan yang diperoleh dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam dunia bisnis agar tidak menyebabkan kerugian bagi orang lain. Sedangkan Bagi para konsumen diharapkan untuk lebih berhati-hati dan rasional dalam memilih barang atau jasa yang akan dibeli melalui media online karena salah satu penyebab maraknya terjadi penipuan dalam e-bisnis karena ketidak telitian konsumen dalam melakukan proses jual-beli. Jadi dari hasil diskusi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa perkembangan teknologi pemasaran bukanlah hal yang harus kita hindari atau binasakan tetapi adanya perkembangan teknologgi dalam pemasaran seharusnya menjadi batu loncatan dalam mengembangkan perekonomian Indonesia namun tetap berada pada koridor etika dan nila-nilai kemanusian.

Human Resources for AEC: Manajemen Diri Menghadapi Persaingan Global

“Human Resources for AEC: Manajemen Diri Menghadapi Persaingan Global”

Keberadaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai 1 Januari 2016 nanti akan menjadikan arus lalu lintas orang, barang dan jasa, investasi, dan modal bebas di kawasan Asia Tenggara. Pertanyaannya kemudian bagi Indonesia, terwujudnya MEA itu merupakan berkah atau justru musibah?. Salah satu isu yang mengemuka terkait dengan implementasi MEA adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia menghadapi persaingan yang semakin ketat.Tentu Indonesia sedang menghadapi persoalaan yang sangat rumit disatu sisi MEA dapat menjadi peluang besar bagi Indonesia. Dengan jumlah penduduk terbanyak di ASEAN yaitu 43% dari populasi ASEAN dan angkatan kerja kita mencapai 125,3 juta orang pada tahun 2014, bertambah sebanyak 5,2 juta dibanding angkatan kerja Agustus 2013 sebanyak 120,2 juta orang atau bertambah sebanyak 1,7 juta orang dibanding Februari 2013 tentu MEA menjadi kesempatan yang sangat besar bagi SDM Indonesia karena akan tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan keahlian yang beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi ke luar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih mudah bahkan kemungkinannya tanpa ada hambatan tertentu.

Sebaliknya, situasi seperti ini juga memunculkan tantangan ketenagakerjaan bagi Indonesia. Dilihat dari berbagai sisi Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. Hal ini dapat dilihat darisalahsatu parameter penting dalam penilaian kualitas SDM suatu Negara adalah nilai indeks pembangunan manusia. Indeks pembangunan manusia (IPM) di Indonesia masih tergolong rendah (0,61) dibandingkan IPM negara-negara lain di Asia Tenggara. Indonesai menempati peringkatke-6 dari 10 negara ASEAN masih kalah dibandingkan dengan Singapura (0,866), Brunei Darsussalam (0,838) dan Malaysia (0,761). Indonesia pun masih tertinggal oleh negara Thailand dan Filipina dalam hal pembangunan kualitas SDM. Di samping itu, bahkan nilai IPM Indonesia masih berada di bawah nilai IPM rata-rata dunia yang berada pada nilai 0,68.

Produktifitas masih juga menjadi kendala bagi tenaga kerja di Indonesia. Pekerja Indonesia dibandingkan dengan produktivitas pekerja Amerika Serikat hanya mencapai 36 %. Artinya, jam kerja yang dihabiskan pekerja Indonesia hanya 36% di atas pekerja Amerika. Sementara pekerja Kamboja mencapai 46%, Malaysia mencapai 43%, Thailand 37% dan Singapura 36%. Pekerja Indonesia hanya lebih produktif dibandingkan Filipian 30% dan Vietnam 13% .Asian Productivity Organization (APO) mencatat, dari setiap 1.000 tenaga kerja Indonesia pada tahun 2012, hanya ada sekitar 4,3% tenaga kerja yang terampil. Jumlah itu kalah jauh dibandingkan dengan Filipina yang mencapai 8,3%, Malaysia 32,6%, dan Singapura 34,7% .Dalam indeks daya saing global yang menunjukan produktivitas dari mulai sumberdaya alam hingga sumber daya manusia pun indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya. Indonesia berada di urutan ke-5 di ASEAN (50 dunia) pada laporan Global Competitivenes Index 2011-2012 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum.

Dalam soal liberalisasi ekonomi dan perdagangan, pemerintah kita memang sering mengeluarkan kebijakan yang saling bertolak belakang. Tak meng-herankan kalau praktiknya di lapangan menjadi kurang memotivasi untuk membangun keunggulan daya saing. Bangsa ini dikenal sangat agresif dalam melakukan liberalisasi pasar, namun belakangan sering terhenyak karena ternyata belum sepenuhnya siap dan dipersiapkan untuk bersaing. Dalam industri perbankan, sebagai contoh, dengan mudah ditemukan cabang-cabang bank asing di pusat-pusat kota. Tapi, cobalah temukan cari cabang bank dari Indonesia yang bisa menembus negara-negara tetangga. Dijamin tidak akan ada. Konon Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku gelisah dan gugup menghadapi era MEA. Persisnya, ia merasa Indonesia belum siap menghadapi MEA. Salah satu penyebabnya adalah mahalnya biaya logistik yang masih mencapai 16% dari total biaya produksi.Padahal, di negara-negara lain biasanya biaya logistik hanya mencapai 4-10% dari total biaya. Mahalnya biaya logistik itulah yang menyebabkan produk-produk Indonesia bisa kalah bersaing dengan produk dari negara-negara tetangga. Sudah diketahui bahwa penyebab tingginya biaya logistik di negeri ini, yakni pungli, korupsi, dan tindakan premanims yang dibiarkan begitu saja. Selain itu, kondisi infrastruktur dan manajemen juga yang buruk.

Di sisi lain dunia pendidikan terutama perguruan tinggi sering kali menjadi “tersangka utama” atas rendahnya kualitas lulusan yang dihasilkan. Perguruan tinggi saat ini dipandang belum mampu menghasilkan output yang mampu bersaing dengan tenaga ahli dari negara lain.Angka partisipasi pendidikan masyarakat Indonesia juga masih tergolong rendah yaitu baru 18% dari total populasi penduduk Indonesia. Artinya, sebanyak 82% dari total penduduk Indonesia tidak mendapatkan pendidikan. Kemudian, jika dilihat dari angka partisipasi murni masyarakat Indonesia dalam pendidikan, di dapat kanangka partisipasi murni pada tahun 2012 untuk pendidikan SD adalah 92,49%, SMP 70,84%, danSMA 51,46% dari jumlah penduduk usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan. Dari data tersebut terlihat bahwa tingkat pendidikan masih sangat rendah oleh karena itu kegiatan-kegiatan pengembangan soft skill harus ditingkatkan untuk membekali masyarkat Indonesia yang ikut dalam pendidikan formal maupun yang tidak berpartisipasi dalam pendidikan formal. Pendidkan pada hakikatnya bukan untuk melahirkan persaingan antara setiap individu untuk tampil sebagai pemenang dan berdiri sendiri digaris depan tetapi pendidikan yang diharapkan dapat mengasah keterampilan setiap indivudi untuk dapat bekerja sama menyerang pesaing-pesaing yang siap memnggempur tembok Indonessia.

HDI Indonesia masih di bawah rata-rata, produktifitas pekerja masih tertinggal dari beberapa negara tetangga, kualintitas dan kualitan pendidkan yang masih dibawah garis standar dan kualitas sumber daya manusia secara komulatif-komparatif mungkin masih kurang baik. Namun pertandingan besar telah terjadwal dan harus tetap dijalankan. Tantangannya adalah bagaimana caranya dengan waktu yang ada kita dapat optimal menyongsong MEA.

Menyalahkan pemerintah saja atas ketidak-cekatannya mempersiapkan MEA secara komprehensif mungkin dapat dimaklumi namun bukanlah sikap golongan orang-orang kesatria yang terus berjuang bersama pemerintah untuk mempersiapkan diri. Indonesia merupakan 40 persen pasar ASEAN. Porsi kue yang sangat besar yang tidak mungkin para penikmat kue untuk tidak menjulurkan tanganya, berebut untuk mendapatakan bagian. Bonus demografi yang akan kita dapatkan menjadi sebuah momentum untuk dapat meningkatkan kesejahteraan disatu sisi, namun juga menjadi ancaman bilamana banyaknya working age population yang kita miliki harus menjadi babu di negeri sendiri, jangankan ingin ‘menjajah’ dinegeri orang lain.

Ada Apa Dengan Pembangunan Kampus Hari ini?

Beberapa bulan setelah memasuki tahun ajaran 2014-2015, ada yang berbeda dari setiap sudut di kampus merah. Jika kita menelisik lebih dalam dan lebih jauh, terjadinya restrukturisasi pada tatanan birokrasi di kampus merah, mulai dari tingkat rektorat hinga dekanat di fakultas. Restrukturusisai pada tatanan birokrasi kampus tersebut berdampak pula pada pembangunan infrastruktur yang ada di kampus.

Memasuki kawasan kampus, tak jarang akan kita temui lahan-lahan garapan para kontraktor dalam menata dan mempercantik kampus. Setiap fakultas berbenah, mempercantik dirinya dengan berbagai jenis pembangunan fisik yang menyejukkan mata. Setiap fakultas memperelok diri, dengan perbaikan dan pembngunan yang hampir serentak dilakukan.

Di fakultas ekonomi terjadi pembanguanan lahan parkir untuk mahasiswa, WC yang telah ada sebelumnya di perindah dan kemudian pembangunan ruang-ruang Lembaga Mahasiswa (himpunan). Himpunan di fakultas ekonomi  dipericantik dengan hadirnya “pintu kaca”, hal ini kemudian manambah kesan ekslusifan pada “rumah” lembaga mahasiswa tersebut. Ruang LEMA yang sebelumnyat ak teratur kini mulai terlihat rapi dan bersih. Disisi lain pembangunan tersebut terkesan seperti pembatasan yang ingin dilakukan pihak birokrasi terhadap LEMA. Hadirnya pintu dengan ornament “kaca nya” di analogikan sebagai poembatasan yang akan membatasi ruang-ruang gerak LEMA. Dan lema hanya akan bergerak diwilayah “pintu kaca” tersebut. Sangat jauh dengan apa yang menjadi tujuan dari LEMA itu sendiri.

Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)  pembangunan yang dilakukan pihak fakultas juga merambah rumah LEMA. Himpunan LEMA yang semula berada didekat ruang perkuliahan, dipindahkan ke bangunan yang justru semakin jauh dari mahasiswa, dengan ruangan yang lebih kecil dari sebelumnya. Hal tersebut membuat mahasiswa yang aktiv di LEMA bereaksi keras. Pasalnya keputusan yang dilakukan adalah keputusan sepihak dari pihak pimpinan fakultas, dan letak runag lema yang semakin jauh dari mahasisa akan berdampak pada proses pengkaderan yang akan dilakukan LEMA. Yang kemudian sangat ditakutakan para aktivis sospol adalah intervensi yang dilakukan pihak fakultas terhadap lema bukan hanya akan merecokki infrastrukturnya, namun akan merambah hingga suprastruktur dari lema itu sendiri.

Tak berbeda dengan yang terjadi di FISIP, pembangunan fisik yang dilkukan pihak fakultas Kehutanan juga menyentuh ranah-ranah kebebeasan LEMA. Keputusan birokrasi fakultas yang memindahkan himpunana mahasiswa ke wilayah yang juah dari fakultas (ke kampung kera-kera), mulai memunculkan pertnyaan pertanyaan dalam benak mahasiswa. Apa sebenaranya yang diinginkan pihak kampus? Apa tuuan dari keputusan pembnguanan yang dilkukan pihak kampus? Apakah memang LEMA ingin dijauhkan dari mahasiswa? Ada Apa Dengan Pembangunan Kampus Hari Ini?

Melihat kondisi-kondisis yang terjadi saat ini, adalah sebuah gambaran yang menjelaskan bahwa pola-pola pengkaderan hingga pergerakan yang dilakukan LEMA mampu dibaca oleh pihak Birokrasi kampus. Hadirnya kemudian setiap keputusan yang adalah buah dari telaah pola-pola pergerakan yang telah berlangsung lama dikampus. Birokrasi terus mengamati dan mencari solusi agar terjadi penyeragaman cita-cita anatara LEMA dan Birokrasi tersebut.

Lebih dari itu pula, pembangunan yang terjadi tidak hanya pada tataran fisik saja. Pembnguana nonfisisk juga di lakukan pihak birokrasi lewat  pembangunan karakter yang dijewantahkan dalam program BCSS. Program wajib bagi setiap mahasiswa ini semula berama BSS, dan sejak 2 tahun terakhir telah bertransformasi nama menjadi BCSS dengan masa pelaksanaan yang juga semakin diperpanjang dari semula yang hanya dilakukan selama 2 hari kini menjadi 4 hari .

Pembngunan karakter penting untuk dilakukan, namun yang disayangkan Lema adalah pembangunan karakter yang selama ini menjadi cita-cita lema justru di patok dan diambil alih oleh pihak birokrasi dengan memeperpanjang waktu pelaksanaan BCSS, dan menghambat prosesi pengkaderan yangs seharusnya telah dilakukan oleh LEMA. Jika memang tujuan dari birokrasi adalah membangun karakter mahasiswa, maka libatkan pula lema didalamnya. Karena selama ini LEMA ada untuk membangun karakter mahasiswa dengan membagi nilai-nilai idealis yang semestinya dianut oleh setiap mahasiswa.

Dalam aktulisasinya, terjadi pembenturan kepentingan antara lema dan Birokrasi. Terjadi perbedaan cita-cita antara LEMA dan Birokrasi. Ketimpangan kepentingan ini terlihat dari tujuan darn cita-cita kedua pihak. Indicator majunya sebuah birokrasi adalah persetasi (prestisius), sementara indikator majuanya sebuah LEMA adalah kaderisasinya. Pihak Birokrasi lebih menekankan pembangunan karakter pada apa yang dibutuhkan pasar saat ini, sangat jauh berbeda dengan LEMA yang menjunjung nila-nilai kebenaran dalam proses kaderisassinya.

 

Hal ini memeunculkan pertnyaan dalam benak lema, Apakah memang lema ingin dijauhkan atau menng cita-cita pembanguna karakter lema berbeda dengan yang dicita-citakan birokrasi? Ada apa dengan pemabngunan kampushari ini?

Kebebasan mahasisa adalah bersuara, namuan saat suara tersebut tidak memiliki pengaruh maka pergerakanalah yang harus dilakukan. LEMA dan Birokrasi akan terus bertentangan dalam hal kepentingan. Hal ini akan menjadi cambuk untuk lema sendiri. Ketika pola-pola pergerakannya telah dibaca oleh pihak birokrasi, adalah sebuah fakta bahwa pola yang selama ini di lakukan LEMA monoton sehingga mudah bagi pihak birokrasi untuk mengambil alih peranan dan eksistensi lema itu sendiri, Kreativitas LEMA kemudian dipertnyakan. Bagaiman kemudian lema menanggapi setiap pertentangan tersebut. Mahasiswa tek perlu naïf bahwa mereka tidak membutuhkan fasilitas yang memadai, namun mahasiswa juga tak boleh hanyut dan ternggelam dengan kenikmatan yang disediakn. Memanfaatkan fasilitas yang hadir sebagai acuan untuk lebih produktif dalam bekerja adalah hal positif yang dapat dilakukan

BCSS, perbaikan ruang LEMA dan banhkan keputusan pemindahan markas LEMA adalah sebuah hal positif dalam pembngunan. Namun hal itu kemudian menjadi pertanyaan ketika “ada udang dibalik batu”.  Idealis mahasiswa tida dapat dibeli dengan fasilitas yang diberikan pihak birokrasi.  Jangan tidur  dan jangan larut didalamnya, kevakuman hanya milki mereka yang tak berpikir. Jika Socrates mengatakan aku berpikir maka aku ada, maka bangaimana dengan mereka yang disebut tak “berpikir”.

Penerapan prinsip-prinsip dasar manajemen operasi sebagai pendekatan stratejik dalam pencapaian tujuan Lembaga Kemahasiswaan

Konsep manajemen operasi merupakan kegiatan yang kompleks, tidak saja mencakup pelaksanaan fungsi manajemen dalam mengkoordinasi berbagai kegiatan dalam mencapai tujuan operasi, tetapi juga mencakup kegiatan teknis untuk menghsilkan suatu produk yang memenuhi spesifikasi yang didinginkan, dengan proses produksi yang efisien dan efektif serta dengan mengantisipasi perkembangan teknologi dan kebutuhan konsumen di masa mendatang.

Kegiatan dalam manajemen operasi adalah menyangkut penggunaan sumber daya seefektif dan seefisien mungkin demi tercapainya tujuan. Kegiatan manajemen operasional mencakup aspek-aspek: Pelaksanaan proses dengan menggunakan metode yang tepat, aspek penunjang lain untuk pencapaian tujuan, perencanaan sebagai dasar untuk langkah dan strategi yang ingin ditempuh, serta pengendalian untuk memastikan bahwa semua berjalan sesuai rencana.

Lembaga kemahasiswaan adalah salah satu dari sekian banyak contoh organisasi nirlaba. Sebagai sebuah organisasi yang seyogyanya bersanding dengan birokrasi kampus dalam pengembangan potensi kemahasiswaan di dalam maupun luar aspek akademik, pasti memiliki criteria organisasi yang tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Lembaga mahasiswa punya cita-cita, tujuan, visi-misi yang ingin dicapai, serta sesuatu yang ingin diberikan pada konsumen (mahasiswa) untuk mempertahankan eksistensinya.Perbedaan lembaga mahasiswa dengan organisasi lainnya adalah aspek sumber daya dan ruang lingkupnya.

Dalam mencapai tujuannya dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dan menganalisis lingkungan sekitar, dibutuhkan sebuah pendekatan atau strategi. Meskipun bukan sebuah organisasi yang mengejar profit dan menjual barang, namun sebagai sebuah lembaga tetap memiliki tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai. Seyogyanya karena lembaga mahasiswa dipenuhi insan intelektual, maka dalam menjlankan roda organisasi diperlukan sebuah pendekatan keilmuan. Terlebih lagi lembaga mahasiswa bergerak dalam lingkup akademis.

Pendekatan operasional adalah pendekatan yang mesti dipelajari, dikembangkan, serta coba diterapkan pada lembaga mahasiswa. Karena di dalam pendekatan operasional berisi tentang cara untuk penetapan visi-misi yang menuju pada pencapaian tujuan organisasi, penggunaan metode yang tepat untuk mencapai tujuan, serta aspek-aspek lain yang perlu diketahui dalam menjalankan orgnisasi. Oleh karena itu, lembaga mahasiswa diharapka dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar operasional untuk menjalankan roda organisasi agar tujuannya dapat dicapai.

Proses pencapaian tujuan lembaga kemahasiswaan membutuhkan kerja sama antara semua stakeholder. Peran masing-masing stakeholder menjadi tiang dalam menopang pelaksanaan kegiatan lembaga kemahasiswaan. Mahasiswa sebagai salah satu unsur dari lembaga kemahasiswaan diharapkan untuk meningkatkan kapasitas keilmuan yang mereka miliki khususnya yang menjadi focusannya. Peningkatan kapasitas keilmuan yang dimiliki harus diiringi dengan kepekaan, kesadaran,  dan kepedulian terhadap perubahan lingkungan sosial. Selain itu, kecepatan, ketepatan dan konsistensi setiap kader dalam lembaga kemahasiswaan menjadi tolak ukur dalam mencapai tujuan lembaga kemahasiswaan sebagai lembaga pengkaderan yang memiliki strong point dalam penanggulangan krisis kader, krisis intelektual, dan krisis etika dan sikap mental. Profesionalitas dari setiap kader dalam lembaga kemahasiswaan menjadi jembatan untuk melewati tantangan-tantangan yang saat ini dihadapi lembaga kemahasiswaan.

Incoming search terms:

  • bagaimana cara menerapkan prinsip manaje en

Kontroversi isu Kenaikan BBM, Efek Terhadap Pasar dan Antisipasi Pelaku Usaha dalam pengendalian biaya.

Kontroversi isu Kenaikan BBM, Efek Terhadap Pasar dan Antisipasi Pelaku Usaha dalam pengendalian biaya.

 

Keputusan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak atau BBM adalah berita yang sangat kontroversial? Bagaimana tidak banyak pro-kontra yang menyertai kenaikan BBM ini. Banyak ahli berpendapat bahwa biaya BBM perlu dinaikkan, agar APBN tidak membengkak. Namun di satu sisi kenaikan harga BBM dapat menyebabkan inflasi dikarenakan sangat berpengaruh terhadap harga sembako.

Isu kenaikan BBM adalah isu yang sangat sensitif karena menyangkut nasib setiap segmen masyarakat yang ada di Indonesia. Dalam perspektif kesejahteraan, kenaikan BBM disebut bagus untuk memberantas kemiskinan. Hitung-hitungannya jika BBM naik sekitar Rp2ribu/Liter, maka akan diperoleh surplus APBN sebesar Rp 90 trilyun. Pada ujungnya dapat dialokasikan sebagai BLT atau pengunaan lainnya. Berbeda lagi kalau kita menuju pada perspektif rumah tangga konsumsi dan produksi. Harga yang tinggi merupakan mimpi buruk bagi konsumen maupun produsen.

Naiknya harga BBM di indonesia diawali oleh naiknya harga minyak dunia. yang membuat pemerintah tidak dapat menjual BBM kepada masayarakat dengan harga yang sama dengan harga sebelumnya, karena hal itu dapat menyebabkan pengeluaran APBN untuk subsidi minyak menjadi lebih tinggi. Maka pemerintah mengambil langkah untuk menaikkan harga BBM. Dan untuk mengimbangi masalah melonjaknya harga BBM setiap tahunnya, pemerintah mengeluarkan kebijakan subsidi BBM. Kebijakan subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak) bertujuan mengatasi kelebihan beban APBN. Sebab jika tidak, APBN dipastikan akan mengalami penurunan yang berdampak langsung pada mandeknya pembangunan nasional.

Setelah sekian lama kebijakan subsidi BBM dijalankan , timbul berbagai kontravensi untuk segera menghentikan kebijakan subsidi bbm, karena setelah di lihat-lihat ternyata kebijakan subsidi ini tidak berjalan efektif dan jauh dari tujuan semula. Karena selama ini pemerintah terus memberi subsidi untuk BBM yang dikeluarkan dari APBN. Subsidi bbm yang melambung tinggi dan terus menekan APBN menyebabkan perekonomian indonesia semakin parah.

Kenaikan BBM sangat dirasakan oleh sektor usaha mikro dan kecil atau yang biasa disebut dengan UMKM. Sejak adanya kebijakan soal kenaikan harga BBM sampai saat ini belum ada bantuan terhadap UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah). Padahal UMKM menyerap sekitar 98 persen tenaga kerja.

Pengaruh yang sangat kasat mata akibat dampak kenaikan BBM terhadap usaha mikro, kecil adalah kenaikan biaya produksi, karena bahan bakunya juga naik harganya, hal ini jelas sangat memukul sektor ini. Transportasi itu di hulu, sedangkan UMKM itu di hilir sehingga terkena dampak kenaikan harga yang berlipat-lipat. Belum lagi untuk pemenuhan hidup sehari-hari. Belum lagi untuk pemenuhan hidup sehari-hari.

Belum lagi biaya produksi yang juga tentu akan naik, karena bahan bakunya juga naik harganya. Transportasi itu di hulu, sedangkan UMKM itu di hilir sehingga terkena dampak kenaikan harga yang berlipat-lipat.

Oleh sebab itu dia berharap adanya bantuan dari pemerintah terhadap UMKM misalnya bantuan permodalan atau minimal kemudahan persyaratan untuk mendapatkan modal dari bank pemerintah maupun swasta.

BBM dan biaya adaalh 2 hal yang tak bisa dipisahkan. Diakrenakan BBM tergolong energi, dan memegang peranan penting sebagai variabel Cost. Maka jika BBM akan naik, maka praktis bagi para pelaku usaha kecil perlu melakukan pengendalian biaya. Apakah yang harus dilakukan pelaku usaha dalam mengantisipasi kenaikan BBM ini.

Bagi perusahaan, maka hal yang harus dilakukan adalah pengendalian biaya. Efisiensi perusahaan hanya bisa dilakukan dengan efektivitas kegiatan perusahaan. Mau tidak mau perlu dilakukan revolusi teknologi. Dengan pemanfaatan teknologi yang muktahir. Diyakini akan memangkas biaya jangka panjang. Saat pertama memang perlu banyak biaya, namun efek jangka panjangnya sangat baik dan berpengaruh kepada kegiatan perekeonomian secara makro.

Namun pemerintah juga perlu bergerak. Banyak PR yang harus diselesaikan. Mulai dari penanganan mafia migas, konversi alternatif sumber energi, pembaharuan kontrak terhadap korporat asing, dll. Karena masalah BBM adalah masalah yang masif dan terstruktur, maka perlu peran mulai dari bawah ke atas. Tentunya kedisiplinan dan transparansi menjadi pedoman utama.

Incoming search terms:

  • berita kontravensi
  • kontroversi kenaikan bbm

ASEAN Economic Community (AEC)

By fheby Queeny

Saat ini, pemerintah terus menggalakkan ekspor non migas sebab ekspor migas terus mengalami penurunan sejak thn 90-an. Komoditi unggulan masih didominasi oleh produk primer seperti hasil pertambangan & pertanian. sementara produk manufaktur masih bersifat low tech Peningkatan ekspor non migas dimaksudkan guna peningkatan penerimaan devisa negara, penyerapan tenaga kerja maupun penerimaan pajak. Menurut catatan World Economic Forum tahun 2004, posisi daya saing Indonesia masih berada pada urutan ke-69 dari 104 negara yang diteliti Dibanding dengan beberapa negara pesaing di ASEAN, posisi ini relatif buruk. Malaysia tahun 2004 berada pada urutan 31 sedangkan Thailand posisi ke-34.

Keterpurukan daya saing tersebut disebabkan oleh 3 faktor pd tataran makro dan 2 faktor pada tataran mikro atau tataran bisnis menurut WEF. Faktor makro: tidak kondusifnya kndisi ekonomi makro, buruknya kualitas kelembagaan publik dalam menjalankn fungsinya sebagai fasilitator & pusat pelayanan serta lemahnya kebijakan pengembangan teknologi dalam memfasilitasi kebutuhan peningkatan produktivitas. Faktor mikro: rendahnya efisiensi usaha pada tingkat operasionalisasi perusahaan; dan lemahnya iklim persaingan usaha. Lebih detailnya, faktor lemahnya daya saing Indonesia juga disebabkan oleh ketenagakerjaan dan ketidakstabilan harga. Dengan berbagai permasalahn tsb, menjadi kendala dan ancaman bagi Indonesia dalam menghadapi ASEAN Economic Community pada tahun 2015 nanti. Kendala tersebut, bila tidak diatasi sesegera mungkin maka dalam persaingan pemasaran produk, produk lokal akan kalah bersaing dengan produk impor baik dari segi kualitas maupun dari segi harga, yang akan berdampak pada terdegradasinya income dunia usaha domestik bahkan dunia usaha akan bangkrut bila hal tersebut terjadi maka pengangguran dan kemiskinan akan semakin tinggi serta menurunnya daya beli masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi Negara Indonesia pun akan mengalami kemerosotan.

Dalam mengantisipasi kemungkinan buruk tersebut, diperlukan adanya strategi. salah satunya ialah dngan pengembangan sumber daya manusia. SDM Indonesia harus memiliki keahlian di atas SDM asing, karena jika tidak bangsa ini tidak akan mampu bersaing dengan negara lain. Peningkatan SDM sangat berpengaruh terhadap peningkatan nilai jual produk, maupun nilai jual tenaga kerja. Sebelumnya, AEC dapat digambarkan dengan bursa tenaga kerja yang memasuki era pasar bebas (AFTA). Artinya, tenaga kerja Indonesia bisa mencari pekerjaan di negara ASEAN dan sebaliknya, tenaga kerja dari ASEAN bebas bekerja di Indonesia. Pasar bebas yang dimksudkan ialah dengan diturunkan dan dihapuskannya tarif impor ekspor secara signifikan oleh pemerintah. Ini akan diberlakukan sesuai dengan kesepakatan internasional pada tahun 2015 mendatang.

Mungkin tidak sedikit dari yang menyimak hal ini yang baru saja mengenal istilah ASEAN Economic Community ini. AEC ini Indonesia terlalu lamban merespon kerjasama intrnasional seperti AEC dan bekerja menjelang deadline. seperti yg dikatakan Edy Suandi Hamid. Berlakunya AEC pada 1 Januari 2015 mendatang menandakan bahwa kita hanya memiliki kurang dari setahun dalam menyambutnya. Waktu tersebut sangatlah singkat untuk mempersiapkan sesuatu yang besar. Terlebih negara kita sedang dalam panasnya perekonomian. Jadi, peningkatan kualitas SDM Indonesia sangat diperlukan guna bersaing dalam negara sendiri.

Marketing Militansi

By Corbeau

Di dunia marketing, kini hadir satu konsep baru yakni Marketing Militasni. Bukan Militansi yang sebagian besar banyak kaitkan dengan dunia militer, pertempuran fisik/ verbal melainkan lebih mengarah pada semangat yang membangun. Yang jika diaplikasikan dalam dunia marketing akan memberik kekuatan besar.

Pemasaran adalah sebuah ujung tombak dari sukses perusahaan, di dalamnya  memiliki banyak peran Strategis pada pengelolaan serta pengembangan profit yang di capai atau omzet yang dikelola. Hal ini tentunya menjadi point yang banyak diperhatian dengan serius dari setiap perusahaan, ini tentunya juga berefek pada bagaimana perusahaan senantiasa mengupayakan  pengembangan sumber daya marketingnya agar tetap menjadi seorang Marketing yang handal dan bermental pemenang.

Apalagi jika kita melihat perkembangan industry dewasa ini yang semakin masuk ke tahap full employment dan dunia telah masuk ke era pasar yang tidak lagi oligopolies sebab kemajuan teknologi memungkinkan semua Negara di dunia untuk mampu berinovasi di setiap produksi barangya, sehingga era perfect  competitive market telah mampu masuk kesemua sector Produksi.. Dari kondisi ini, jika kita bicara tentang survive dan persaingan maka pemenang adalah lagi lagi dari perusahaan perusahaan yang hasil produksi barangnya mampu diserap oleh pasar dengan cepat.

Olehnya itu focus pengembangan dan pelatihan seorang pemasar menjadi point yang cukup banyak diperhatikan di era sekarang ini, kondisi ini pun dapat terbaca dengan banyak bermunculannya, perusahaan perusahaan penyedia jasa pemasaran baik yang langsung terjun pada dunia penjualan maupun bergerak pada wlayah konsultan. Sebab ilmu tentang bagaimana memasarkan barang itu sendiri juga terus mengalami perubahan, dalam artian metode yang di terapkan pun tidak stagnan pada metode lama, karena strategi pemasaran yang langsung berkaitan dengan penjualan memiliki korelasi yang positif dengan perilaku konsumen, sedangkan kita tahu perilaku konsumen dari masa kemasa mengalami banyak dinamisasi seiring dengan perubahan sosiologis masyarakat itu sendiri. Olehnya jika kita melihat begitu banyak strategi pemasaran yang muncul belakangan ini, menjadi hal yang wajib untuk terus di ketahui bagi setiap perusahaan yang tetap ingin menjaga kualita para marketingnya untuk tetap menjadi pemasar yang handal.

Pada prinispnya, konsep marketing militansi berbicara tentang kesungguhan, dorongan lebih untuk melakukan apa yang lebih baik lagi, dan keikhlasan dalam bekerja.