JapaneseMent (Sebuah Persepsi Manajemen Ala Japan)

Oleh : Irawati (A211 13 016) Finance Management Student, Faculty of Economics And Business

Jepang adalah negara dengan perekonomian terbesar ke-3 di dunia setelah AS dan Republik Rakyat Tiongkok dalam keseimbangan dan kemampuan berbelanja. Adapun industri utama yang menjadi andalan Jepang adalah sektor perbankan, asuransi, bisnis eceran, transportasi, telekomunikasi dan kontruksi. Selain  itu, Jepang memiliki industri yang berteknologi tinggi dibidang otomotif, elektronik, mesin perkakas, baja dan logam non besi, perkapalan, industri kimia, textil dan pengelolaan makanan lainnya. Jepang merupakan salah satu negara penganut sistem ekonomi Laissez Faire. Namun, setelah Shinzo Abe menjabat kembali pada Desember 2012 yang merupakan kali keduanya menjabat sebagai perdana menteri, Shinzo Abe mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kelonggaran kepada kebijakan moneter, kebijakan fiskal dan restrukturasi. Kebijakan tersebut sering di sebut AbeNomics. Jepang sebagai negara maju yang berfokus pada sektor industri dan jasa, memiliki relasi yang erat dengan Amerika Serikat, sehingga jika perekonomian USA goyah maka kestabilan perekonomian Jepang juga ikut terganggu. Karena Jepang merupakan negara yang amat sangat menjaga hubungan baik dengan negara-negara yang bisa berpotensi untuk negara dan bangsanya. Dibalik kebehasilan Jepang untuk menjadi negara yang sustainable baik dari segi pertumbuhan ataupun pembangunan bukan terjadi begitu saja. Namun, dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari culture, policy, hingga behavioral masyarakat Jepang.

Culture management

Budaya adalah sistem (dari pola-pola tingkah laku yang ditunjukkan secara sosial) yang bekerja menghubungkan komunitas manusia dengan lingkungan ekologi mereka. Jika budaya dipandang sebagai sistem tingkah laku yang khas dari suatu penduduk, satu penyumbang dan penyelaras kondisi-kondisi badaniah manusia. Budaya adalah cara yang bentuk-bentuknya tidak langsung berada dibawah kontrol genetic yang bekerja untuk menyesuaikan individu-individu dan kelompok dalam komuniti ekologi mereka. (Binford 11. Hlm 323)

Konsep budaya turun jadi pola tingkah laku yang terikat kepada kelompok-kelompok tertentu yang menjadi customsadat istiadat” atau way of lifecara kehidupan” manusia (Harris 41, hlm. 16).

Berbicara mengenai konsep Japanese Culture yang digunakan sebagai cara hidup masyarakat Jepang bisa terlihat sangat dipegang teguh oleh masyarakat Jepang. Berbeda dengan Indonesia yang saat ini kebudayaan sudah mulai tergerus, Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya karena terdiri dari banyak suku. Namun, hari ini bisa terlihat bagaimana Indonesia society sudah mulai meninggalkan kebudayaan. Kebudayaan Jepang yang menjadi hal mendasar dalam kesuksesan, kami melihat begitu masyarakat Jepang memegang teguh budaya, seperti budaya antri, budaya menghargai orang yang lebih tua, budaya pendidikan, budaya saling menghargai, dan budaya menghargai waktu. Jepang sangat tertib dalam segala hal sehingga bisa memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perilaku masyarakat. Menurut Samuel P. Hubtingtong, budaya adalah kesatuan entitas sebagai suatu kelompok yang mempunyai kesamaan unsur agama, bahasa, sejarah, cara pandang, kebiasaan dan sistem.

Culture Management merupakan istilah yang saya gunakan untuk mengambarkan bagaimana Jepang mengelola budaya untuk terus cocok untuk semua kondisi, sehingga apabila zaman terus berkembang sehingga budaya tetap mampu di pertahankan. Dalam teori management operational terdapat teori perbaikan mutu yang disebut KAIZEN

5S dan KAIZEN

Perusahaan Jepang menanamkan nilai serta paradigma umum. Budaya perusahaan Jepang dikatakan sebagai suatu generalisasi dari eksistensi dan nilai sebagai perusahaan Jepang, dengan menambahkan pola hidup masyarakat Jepang, filosofi, etika, sudut pandang bisnis kedalam pondasi dasar budaya Jepang. Seiring dengan perubahan kondisi sosial dan iklim bisnis, pergeseran nilai ditambah dengan perkembangan era globalisasi, maka perusahaan Jepang dan budaya perusahaan itu sendiri terus mengalami perubahan. Menurut teori budaya organisasi, dalam pengelolaan perusahaan, budaya organiasasi memiliki peran yang sangat penting. Manajemen perusahaan sangat di pengaruhi oleh budaya. Beberapa perusahaan Jepang sangat memegang teguh konsep yang disebut 5S dan kaizen. Selain di perusahaan konsep 5S juga menjadi pegangan masyarakat Jepang.

Secara harfiah kaizen berasal dari kata Kai dan Zen yang memiliki arti perubahan dan kebaikan. Jadi menurut Maasaki Keizen adalah perbaikan yang berkesinambungan. Konsep Kaizen sangat penting untuk menjelaskan perbedaan antara pandangan Jepang dan pandangan barat terhadap manajemen. Perbedaan yang paling penting adalah kaizen Jepang yang berorientasi pada proses.

Sedangkan barat berorientasi tentang pembaharuan yang berorientasi pada hasil (Maasaki Imai, 1992). Jepang merupakan suatu negara yang sangat memperhatikan proses dalam melakukan segala sesuatu. Baik itu kegiatan produksi maupun konsumsi, kegiatan individu maupun sosial. Kunjungan yang saya lakukan pada  bulan November kesalah satu perusahaan produksi mobil dijepang dengan slogan from Hiroshima to the World, yakni Mazda corp.

Mazda merupakan salah satu perusahaan yang menerapkan model kaizen. Study visit yang kami lakukan ke Mazda memberikan banyak pembelajaran mengenai kualitas produk yang dihasilkan dari proses yang berkualitas, Mazda adalah salah satu perusahaan yang berproduksi alat transportasi mobil terbesar di Jepang. Kunjungan itu memberikan pembelajaran yang sangat berharga mengenai manajemen operasional. Dimana pada proses produksi yang menjadikan kualitas proses sebagai landsan utama dalam produksi.

Selain  kualitas dari produk Mazda yang didukung dengan konsep kaizen, Mazda juga memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang ramah lingkungan dengan memproduksi mobil ramah lingkungan yakni mobil hidro. Proses produksi dari Mazda yang berorientsi pada proses menjalankan manajemen operasional dengan sangat baik, terlihat dari sistem pengendalian manajemen, time management, dan pengendalian manajemen dalam melakukan proses produksi. Selain  itu posisi sentral produksi Mazda terletak pada posisi yang strategis dikarenakan strategi tempat yang digunakan dekat dengan pelabuhan sehingga sangat memudahkan dalam mengangkut barang hasil produksi ataupun bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi. Sehingga, strategi ini dapat meminimalisir biaya untuk menghasilkan kualitas yang bagus.

Filsafat Kaizen menganggap bahwa cara hidup kita- baik cara kerja, kehidupan sosial, dan kehidupan rumahtangga, perlu disempurnakan setiap saat. Setiap kegiatan selalu dicoba untuk dibuat lebih baik lagi, diproses menuju kesempurnaan. Salah satu implementasi Kaizen yaitu penerapan 5S. Five S merupakan singkatan dari 5 istilah dalam baahsa Jepang yang diawali dengan hurup S yakni : Seiri (整理), Seiton (整頓), Seiso ( 清掃 ), Seiketsu (清潔),Shitsuke (仕付)

Konsep Seiri (整理),

Dalam konsep manajemen perusahaan, konsep seiri yaitu disiplin di tempat kerja dengan cara melakukan pemisahan berbagai alat dan komponen ditempat masing-masing. Sehingga untuk mencarinya nanti bila diperlukan akan lebih mudah. Dari arti kata seiri atrtinya ringkas. Kerena Jepang merupakan negara yang sangat menghargai waktu maka segala sesuatu harus dilakukan secara efektif dan efisien. Sehingga, konsep seiri sangat berpengaruh di negara ini. Konsep seiri ini bukan hanya diterapkan pada proses produksi tapi segala aspek kehidupan sosial ekonomi di Jepang.

Konsep Seiton (整頓)

Konsep yang berfokus pada pengelolaan dan penyusunan barang dengan rapi agar mempermudah penggunaannya. Secara harfiah seiton berarti menyusun benda dengan cara menarik dan rapi. Selain dalam konsep manajemen perusahaan, konsep seiton juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pada saat masyarakat Jepang melakukan proses sosial. Sebagai contoh pada transportasi publik, selama disana kami tidak pernah menemukan masyarakat jepang berlomba masuk kedalam kereta api, atau dalam hal ini masyarakat jepang selalu membudayakan perilaku antri dimanapun dia berada. Menurut penulis, ini merupakan turunan dari konsep seiton. Selain perilaku masyarakat Jepang yang tertib dan teratur, konsep seiton juga diterapkan pada tata letak kota yang begitu tertata rapi, rumah penduduk yang tertata rapi, gedung-gedung yang tertata rapi, sangat indah dilihat. Dari situ bisa dilihat betapa konsistennya masyarakat Jepang. Jika dibandingkan dengan Indonesia, tata letak kota di Indonesia masih jauh dari  keteraturan, masih banyak pemukiman masyarakat yang tidak pada tempatnya contoh di pinggiran laut, diatas kanal dan masih banyak lagi ketidakteraturan lainnya. Selain dari tata letak kota, perilaku masyarakat Indonesia juga masih sembraut, sebagai contoh kongkrit besarnya tingkat kemacetan di Indonesia salah satu penyebabnya adalah tidak tertibnya masyarakat Indonesia dalam menggunakan jalan.

Konsep Seiso ( 清掃 ),

Konsep seiso ini berfokus pada kebersihan, masyarakat Jepang sangat mengiinternalisasikan konsep seiso kedalam setiap diri masing-masing sehingga jika kita berjalan di area publik rasanya sangat malu jika harus membuang sampah sembarangan. Seiso setara dengan aktifitas pembersihan berskala besar yang dilakukan setiap tahun di setiap rumah tangga Jepang. Selama beberapa minggu di Jepang tak sedikit pun penulis melihat fenomena yang hampir sama dengan Indonesia. Saya tidak pernah melihat tumpukan sampah sedikit pun. Konsep pemisahan sampah basa, plastik, botol dan sampah kering sangat efektif dikarenakan konsistensi dan aturan yang sangat ketat. Konsep pemisahan sampah daur ulang dan sampah non-daur ulang  juga sudah diterapkan di Indonesia namun belum ada aturan yang mengikat sehingga masyarakat Indonesia masih belum bisa konsisten dalam penerapannya.

Konsep Seiketsu (清潔),

Seiketsu yaitu usaha yang terus-menerus untuk mempertahankan 3S tersebut diatas yakni Seiri, Seiton dan Seiso. Pada prinsipnya konsep ini selalu berusaha agar lingkungan tetap terpelihara sehingga menciptakan kenyamanan baik public space ataupun private space.

Konsep Shitsuke (仕付),

Konsep ini digunakan untuk memotivasi masyarakat atau secara khusus memotivasi pekerja agar terus-menerus melakukan dan ikut serta dalam kegiatan perawatan dan akitivitas perbaikan serta membuat pekerja terbiasa menatati aturan (rajin).

Kelima konsep diatas merupakan bagian dari konsep Keizen (perbaikan berkelanjutan) namun, lebih fokus pada sikap atau perilaku (behavioral) masyarakat Jepang. Karena Jepang mampu menguasi dunia hingga pernah suatu kondisi hampir setara dengan negara adidaya karena masyarakat Jepang memegang teguh budaya, dan perbaikan perilaku masyarakat.

Konsumerisme dan Produksivisme

Produksivisme adalah suatu paham yang menjadikan seseorang memiliki semangat produksi yang tinggi. Proses produksi yang menjadi penghasilan terbesar dari semua segara maju. Setelah revolusi industri terjadi negara-negara yang hari ini disebut sebgaai negara maju berfokus kepada peningkatan total produksi di negara tersebut. Jepang merupakan salah satu negara maju dari 40 total negara maju di  dunia. Jepang merupakan salah satu negara yang bisa menjadi referensi untuk melakukan proses produksi, karena selain Jepang ingin menguasai pangsa pasar dengan meningkatkan kuantitas produksi,  juga tetap memperhatikan kualitas dari produk-produk yang dihasilkan seperti yangpenulis jelaskan sebelumya, dimana Jepang tetap menggunakan konsep keizen dalam melakukan proses produksi.

Produk yang dihasilkan Jepang saat ini bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal melainkan dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor sehingga perekonomian Jepang dapat unggul. Namun, selain didukung oleh kualitas sumberdaya manusia yang berkompeten, teknologi yang memadai, proses produksi itu juga didukung oleh perilaku masyarakat Jepang yang cenderung sederhana. Atau dalam hal ini perilaku konsumen Jepang bisa dikategorikan sederhana dan menghindari yang namanya konsumerisme.

Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang secara berlebihan. Perilaku konsumsi seperti ini cenderung terdapat pada negara berkembang. Karena pemasukan terbesar dari negara berkembang adalah dari jumlah pengeluaran atau konsumsi. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perilaku konsumtif, sehingga menjadi ladang subur untuk produsen-produsen baik dalam negeri maupun luar negeri. Jepang merupakan salah satu negara yang menjadikan Indonesia sebagai objek atau ladang subur untuk meningkatkan negaranya. Karena Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa baik dari sumberdaya alam, jumlah sumber daya manusia yang melimpah dan letak yang strategis.

Perilaku konsumsi di Jepang dapat dilihat dari penggunaan fasilitas publik yang lebih dominan, sebagai contoh penggunaan transportasi publik itu menandakan penggunaan transportasi privasi sangat kurang. Karena penggunaan kendaraan pribadi di Jepang kurang, maka ini menjadi salah satu kunci ketertiban jalan dan dapat menghindari macet lalu lintas. Terdapat beberapa jenis transportasi umum yang marak digunakan di Jepang yakni kereta api, Bus, taksi, sinkansen dan trap. Negara yang memiliki perilaku konsumen yang bagus akan menghindari konsumerisme, dan mengutamakan kerja untuk produksi.

The Atomic Bombings Management

Hiroshima merupakan salah satu tempat yang menarik untuk menjadi destinasi para tuis. Tempat ini menjadi salah satu tempat bersejarah dunia dimana peristiwa pengeboman terjadi tepatnya pada perang dunia ke II. Serangan Bom itu bersamaan di dua kota besar di Jepang yakni Hiroshima dan Nagasaki, pengeboman ini dilakukan oleh Amerika Serikat atas perintah presiden USA Harry S. Truman. Tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum hari bersejarah Republik Indonesia. Dimana momentum pengeboman ini menjadi momentum yang dimanfaatkan RI untuk memproklamirkan kemerdekaan RI. Peristiwa ini membuat Jepang khususya Hiroshima berduka dan hancur lebur, yang merenggut korban sekitar 140.000 juta jiwa.

Manajemen yang digunakan oleh Jepang untuk mengembangkan kembali Jepang dari keterpurukan akibat bom Hiroshima dan Nagasaki sangat efektif dan efisen. Tanpa menunggu waktu yang begitu lama, Jepang bisa kembali menunjukan taringnya. Setelah mengalami kekalahan dalam perang dunia II , 5 tahun kemudian Jepang membuka lembaran baru. Tepatnya tahun 1950, Jepang mengalami pertumbukan ekonomi yang pesat, dan menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua didunia. Dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 10% per tahun selama empat dekade. Salah satu perusahaan yang berperang penting pada pertumbuhan ekonomi Jepang adalah munculnya Mazda Corp. dengan tagline “Hiroshima For the World”. Sejarah ini di abadikan dalam monument Atomic Bombings yang menjadi saksi sejarah peristiwa 16 agustus 1945.

Salah satu value added yang membedakan Jepang dengan negara lain adalah kedisiplinan masyarakat dalam menggunakan waktu, kehandalan Jepang dalam mengelola waktu dibuktikan dengan ontimenya semua yang dijadikan sebuah prediksi. Sehingga, menurut penulis, manajemen ala Jepang patut menjadi percontohan untuk diimplementasikan khususnya di Indonesia.

Incoming search terms:

  • faktor kota nagasaki dan hiroshima menjadi kota andalan jepang

Know the Pattern, Change the Habit

Membaca buku di pagi hari ditemani secangkir kopi dan olahraga setiap akhir pekan mungkin menjadi Habit (re: kebiasaan) impian bagi setiap orang. Sebaliknya, mengigiti kuku dan merokok selepas makan bagi sebagian orang merupakan Habit ingin ditiadakan.

Habit dalam pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan berulang kali dan terjadi secara otomatis. Habit hadir untuk membantu otak kita bekerja lebih efisien. Masalahnya adalah otak kita tidak bisa membedakan Habit mana yang baik dan mana yang buruk.

Pasti tidak sedikit dari kita yang pernah mencoba membentuk Habit baru namun, beberapa hari setelahnya kita bisa mengabaikan kebiasaan baru yang ingin dibentuk.

Charles Duhigg dalam bukunya Power of Habits mengatakan bahwa, kita tidak bisa menghilangkan atau menghapus begitu saja Habit yang diinginkan, kita hanya bisa mengubahnya menjadi Habit yang baru.

Lantas, Bagaimana Habit itu terbentuk? Bagaimana cara mengubah Habit lama menjadi Habit yang baru ? Ditemani dengan secangkir kopi hangat pagi ini, mari kita telusuri.

slide11

Secara saintifik, ada 3 proses bagaimana Habit itu terbentuk yang disebut Habit Circle yaitu,

  1. Cue (re: tanda), yang merupakan tanda atau trigger (re:pemicu),
  2. Routine (re: rutinitas), hal yang otomatis kita kerjakan ketika melihat Cue. Atau lebih mudahnya Habit itu sendiri,
  3. Reward (re: ganjaran), yang merupakan alasan mengapa kita melakukan Routine.

Sederhana saja sebenarnya jika kita ingin mengubah Habit, kita hanya perlu mengubah Cue ataupun Reward. Namun, kita juga tidak bisa serta merta untuk mengubah Cue ataupun Reward.

Dengan Cue dan Reward yang sama, kita bisa mengubah Routine yang memberikan manfaat yang sama (Reward).

Hal yang perlu diketahui untuk mengubah Routine, kita perlu mengidentifikasi apa yang menjadi Cue dan Reward. Sebelum mengidentifikasi Cue, kita harus mencari tahu apa yang menjadi Reward yang benar kita inginkan.

Penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi Reward. Sebab inilah yang menjadi alasan mengapa kita melakukan Routine. Untuk mengidentifikasinya, kita perlu mempertanyakan diri kita setelah melakukan Routine, hal apa yang terpuaskan ?

Misalnya, anda ingin mengurangi kecanduan pada smartphone. Tanyakanlah, apakah anda kecanduan smartphone karena bosan, merefresh otak kembali, ataupun ingin mendapatkan informasi? Jika benar yang anda inginkan adalah mengatasi kebosanan maka, harusnya membaca buku atau jalan-jalan sebentar dapat memuaskan Reward anda.

Setelah ditemukan Reward yang anda inginkan, selanjutnya kita mencari tahu apa yang menjadi Cue nya.

Untuk mengidentifikasi Cue, ada 5 kategori dasar. Kita hanya perlu mencari tahu pola kesamaan antara 5 kagetori yang menjadi Cue dari Routine.

  1. Lokasi: dimana lokasi terjadinya pada saat Routine berlangsung.
  2. Waktu: pada pukul berapa terjadinya.
  3. Kondisi emosional: apa perasaan anda pada saat sebelum melakukan.
  4. Orang lain: siapa saja yang ada pada saat itu.
  5. Tindakan sebelumnya: apa yang anda lakukan sebelum itu.

Selalu akan memunculkan salah satu pola yang sama dari setiap Routine yang dilakukan.

Jika kita makan mie tengah malam karena lapar. Cue nya adalah tengah malam, ada mie dan Reward nya adalah ingin menghilangkan rasa lapar. Maka, untuk menyiasatinya adalah jangan bedagang atau tiadakan mie nya dan untuk tetap memenuhi Reward rasa lapar maka, siapkan energen atau makanan yang bergizi tinggi.

Jika kita ingin mengurangi kecanduan gadget. Cue nya adalah bosan, ada gadget, di rumah dan Reward nya adalah mengatasi rasa bosan. Maka, untuk menyiasatinya adalah matikan gadgetmu dan untuk tetap memenuhi Reward mengatasi rasa bosan maka, bacalah buku atau tontonlah pembicara hebat dunia di TED Talks (www.ted.com).

Buatlah perencanaan secara spesifik untuk mengubah Habit. Distract yourself from Cue. Jika ada Cue A maka sebisa mungkin cobalah untuk hindari. Katakanlah dan konsistenlah dengan mengatakan pada diri untuk segera lakukan B jika Cue A itu ada.

Penting untuk kita ketahui, meskipun proses Habit ini mudah untuk dijabarkan, bukan berarti mudah bagi kita untuk membentuk kebiasaan baru. Namun, dengan memahami Cue dan Reward yang mendorong Habit akan memudahkan kita untuk menemukan cara bagaimana mengubah Habit tersebut. Tidak ada satu rumus pasti untuk mengubah semua Habit. Ada ribuan cara. Menjadi tantangan bagi kita untuk mencari tahu caranya.

So, pertanyakanlah, apakah Habit anda hari ini meningkatkan kualitas diri Anda atau malah sebaliknya fellas ?

Psstt : Penelitian menunjukkan butuh 21 hari untuk membentuk Habit.
Oleh : Ahmad Ali Abubakar
Referensi : buku The Power of Habits oleh Charles Duhigg

Kenaikan Harga Rokok : Untuk Kemanusiaan atau Agenda Penghancuran Komoditi Tembakau Indonesia

Oleh : Nands Nugraha

Menyoal tentang rokok, ada hal penting yang harus dipahami terlebih dahulu terkait pemaknaan kita tentang rokok, pembagiannya secara sederhana bisa kita kategorikan sebagai kretek dan non-kretek atau lebih dikenal sebagai rokok putih. Rokok kretek adalah rokok yang menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkeh dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek. Dari cengkeh yang tersulut oleh bara api, sedangkan rokok putih adalah jenis rokok yang diartikan sebagai rokok tanpa campuran cengkeh seperti pada rokok kretek. Jadi jelas bisa kita ketahui bahwa kretek bukan sekedar rokok biasa. Kretek sudah menjadi begitu melekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya ditambah dengan kolaborasi tembakau sebagai bahan utamanya dengan salah satu unsur rempah indigenous nusantara yang dahulu sempat nilainya setara dengan emas.

Perkembangan kretek di Indonesia sudah dimulai sejak berabad-abad lalu ketika tembakau pertama kali ditanam di Indonesia pada abad ke XVII, dibawa oleh bangsa portugis untuk ditanam di Indonesia dan kemudian ditanam secara besar-besaran di Jawa, Sumatera, Bali dan Lombok oleh Belanda. Kebiasaan merokok diperkirakan diperkenalkan oleh armada laut Belanda yang mendarat di Banten kemudian mendirikan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dan mulai diikuti oleh pribumi pada waktu itu, tembakau agaknya memang tengah menjadi objek yang menarik perhatian dunia. Pada dua dasawarsa awal abad XVII ini, di Eropa dan Asia beredar sejumlah tulisan maupun opini yang mengungkapkan manfaat tanaman tembakau bagi kesehatan, seperti yang terjadi tahun 1605 di Jepang, di mana tembakau digunakan untuk kepentingan pengobatan. Belanda mulai mencium tembakau sebagai komoditas perdagangan yang menjanjikan pada akhir abad XVI. Pembudidayaan tembakau di Nusantara oleh Belanda dapat diasumsikan sebagai upaya mereka untuk turut ‘mengambil potongan kue’ dalam ingar-bingar pasar tembakau dunia waktu itu.

Perkembanagan tembakau menjadi lebih pesat lagi ketika Belanda yang mengalami defisit keuangan akibat Perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah sampai Jawa Timur, dan Perang Paderi di Sumatera Barat menguras kas pemerintah habis-habisan Untuk menutup kerugian, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru, Johannes van den Bosch lantas memperkenalkan kebijakan pertanahan cultuurstelsel, yang kemudian menyebabkan penanaman tembakau yang lebih masif lagi.

Perkembangan kretek sendiri di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kisah Roro Mendut melalui Erotisme Roro Mendut ketika berjualan rokok lintingannya, dengan lem dari jilatan lidahnya, pada masa itu rokokk dibungkus menggunakan kulit luar jagung yang dikeringkan dan seiring berkembangnya zaman saat ini berganti menjadi kertas khusus yang digunakan. Pada masa awal kebiasaan mengkonsumsi tembakau atau merokok yang perkenalkan oleh Belanda dan kemudian diikuti di lingkungan kerajaan hingga akhirnya menjadi budaya masyarakat kebanyakan yang mengakar kuat pada abad ke XIX.

Kini berdasarkan data dari berbagai sumber jumlah perokok di Indonesia yang berjumlah sekitar 90.000.000 jiwa dari kurang lebih 255.000.000 jiwa penduduk Indonesia atau sekitar 35% dari total penduduk Indonesia yang menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga tertinggi di dunia setelah cina dan India. Dengan persentase sekitar 66% pria diatas 15 tahun yang merokok. Dengan prevelansi peningkatan perokok tiap tahunnya juga yang terus meningkat. Dengan peningkatan 3 kali lipat untuk perokok usia dini Karena ini pula Indonesia disebut sebagai Baby Smoker Country.

Berdasarkan paparan data diatas bukan berarti pemerintah tidak melakukan upaya-upaya pencegahan, seperti yang umumnya kita lihat semisal dengan pencantuman peringatan-peringatan tentang bahaya merokok di bungkus rokok seperti merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung dan seterusya, bahkan tulisan seperti itupun kini sudah diubah dengan menunjukkan gambar-gambar mengerikan yang katanya akibat dari rokok serta tulisan yang lebih frontal “merokok membunuhmu”. Walaupun dengan upaya tersebut juga tidak dapt membendung hasrat orang untuk terus mengkonsumsi rokok.

Bukan hanya upaya-upaya seperti diatas yang telah dilakukan pemerintah tetapi masih banyak kebijakan lain yang dilakukan mulai dari sosialisasi langsung bahaya merokok penetapan area bebas asap rokok dan lain sebagainya upaya-upaya yang dilakukan pemerintah. Sampai pada penetapan cukai dari produk hasil tembakau.

Cukai merupakan pungutan Negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyi sifat atau karakteriistik yag ditetapkan dalam undang-undang no. 39 tahun 2007, dengan ketentuan barang yang terkena kebijakan cukai yaitu barang yang mempunyau sifat atau karakter yang pertama, konsumsinya perlu dkendalikan, kedua peredarannya perlu diawasi, kemudia pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan Negara demi keadilan dan keseimbangan.

Hasil kebijakan terakhir, tarif cukai hasil tembakau 2016 diterbitkan setelah penetapan target penerimaan APBN 2016 dari sektor cukai HT ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan DPR RI sebesar Rp 139,82 triliun. Kebijakan tarif cukai HT mempertimbangkan berbagai aspek antara lain kesehatan, tenaga kerja, dan penerimaan negara. Akhir-akhir ini isu kenaikan tarif cukai hasil tembakau kembali beredar luas dan viral yang disebabkan oleh hasil riset dari salah seorang dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia Prof Hasbullah Thabrany yang menyebutkan 72,3 persen perokok sepakat harga rokok Rp 50 ribu per bungkus atau lebih akan membuat perokok berhenti merokok.

Terlepas dari data dan hasil riset yang ada mari kita kembali menelisik dan membuka lembaran-lembaran sejarah.berawal dari bagaimana luar biasanya minyak kelapa mandar yang pada tahun 1998 nilai produksi industri minyak Mandar mencapai Rp.4.96 milyar. Pengembangan industri ini semakin berjaya setelah didirikannya Koperasi Usaha Bersama (KUB) sebagai pengoordiinir pemasaran. Seperti halnya KUB Melati yang berada di Majene yang telah berhasil memasarkan merek Mayang Kelapa, yang berhasil menembus pasar nasional hingga sampai ke ibu kota. Tapi sayang perang anti-kelapa yang dilancarkan negara penghasil minyak nabati lain. Salah satu yang paling getol memerangi kelapa adalah Amerika Serikat, produsen minyak goreng kedelai nomor wahid dunia. Salah satu cara yang paling sering mereka gunakan adalah meminjam tangan rezim kesehatan untuk menyatakan minyak kelapa berbahaya untuk kesehatan. Di tahun 1980-an, American Soy Association melancarkan kampanye tentang bahaya kolesterol yang terkandung dalam minyak kelapa sebagai strategi untuk melindungi produk mereka. Mereka bahkan meminta pemerintahnya memasang label peringatan dalam setiap produk yang mengandung minyak kelapa.

Jangan lupakan juga bagaimana luar biasanya industri gula Indonesia Setelah menjadi penghasil gula terbesar nomor dua di bawah Kuba tahun 1930-an, sulit rasanya membayangkan bahwa kini Indonesia berbalik menjadi negara pengimpor gula terbesar. perubahan paling fundamental pada industri gula terjadi setelah International Monetary Fund (IMF) berhasil mendesak pemerintah Indonesia untuk meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy (MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Yang salah satu isinya mewajibkan pemerintah membebaskan tata niaga pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Yang erujung ke penghapusan bea masuk untuk gula impor. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy . Gula impor pun membanjir. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan Pabrik Gula jebol. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara pabrik gula satu per satu bertumbangan

Lain gula, lain pula dengan garam meski dengan cerita yang nyaris sama. Negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia pernah berjaya dengan produksi garam. Lahan tambak garam yang luas, didukung dengan bergairahnya sentra garam nasional di banyak tempat menjadi cerita di balik kejayaan ini. Masyarakat yang hidup pada pertengahan tahun 1990-an bisa menjadi saksi bagaimana Indonesia mencapai swasembada garam konsumsi. Predikat pengekspor garam pun disandang. Namun keadaan berbalik sejak Akzo Nobel memprakarsai kampanye besarbesaran penggunaan garam beryodium di Indonesia. Sentra garam nasional berguguran. Lahan tambak garam terbengkalai. Produksi nasional turun drastis. Ribuan petambak kehilangan mata pencaharian. Sebaliknya, impor garam membanjir, sampai kini.

Selain kopra, gula, dan garam, masih banyak komoditas Nusantara lain yang mengalami nasib serupa. Satu per satu menunjukkan modus yang kurang lebih sama. Ada motif-motif “mulia”. Ada kepentingan bisnis korporasi multinasional/transnasional. Ada kepentingan dagang negara-negara maju. Ada dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Ada keterlibatan otoritas pemerintah dalam negeri. Perdagangan internasional yang digembar-gemborkan sebagai jalan menuju kesejahteraan, pada praktiknya justru menjadi modus operandi neokolonialisme. Menjadi paradoks memang, bahwa “bagian dunia yang alamnya kaya sungguh miskin, dan bagian dunia yang tak begitu kaya alamnya menikmati standar hidup tertinggi”.

Dari pembelajaran sejarah yang sudah terjadi terlihat jelas ada pola-pola yang sama yang bisa saja akan terjadi juga dengan komoditi tembakau Indonesia yang kini masih Berjaya,terlepas dari perdebatan mengenai perdebatan tentang dampak rokok terhadap kesehatan, seolah ada upaya pelemahan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mempunyai agenda besar penghancuran komoditi unggulan Indonesia. Ingatlah ketika korporasi korporasi telah berselingkuh dengan birokrasi birokrasi kotor maka rakyatlah yang akan merasakan penderitaan terberatnya.

Referensi :
DM,Abhisam, dkk, 2012.Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek. Jakarta: Penerbit Kata-kata
http://www.kompasiana.com/agungpribadi/rokok-kretek-ironi-dan-manfaatnya_5518c03d81331149709de0f3
http://www.tarif.depkeu.go.id/Bidang/?bid=cukai
http://www.kemenkeu.go.id/SP/kebijakan-tarif-cukai-hasil-tembakau-tahun-2016

Konstruksi Nilai dalam Organisasi

Konsep nilai sekarang ini tidak hanya menjadi topik pembahasan para filsuf, khususnya mereka yang mendalami filsafat nilai (aksiologi). Lewat kajian perilaku keorganisasian dan kepemimpinan, para teoritisi, peneliti dan praktisi manajemen bisnis juga menaruh perhatian terhadap konsep ini. para teoritisi dan peneliti berkepentingan dengan pengidentifikasian dan penanaman nilai-nilai yang relevan dengan peningkatan efektivitas organisasi dan kepemimpinan. Memang, salah satu metafor organisasi adalah “organisasi sebagai budaya” (Morgan, 1986) dan salah satu peran pemimpin adalah “arsitek sosial” (Daft, 1999). Dunia bisnis juga sudah tidak asing lagi dengan perumusan nilai-nilai bersama yang menyertai visi, misi, dan tujuan mereka. Sebuah iklan produk penyegar stamina telah mempopulerkan kalimat “orang pintar minum merek X”; iklan dari produk penantangnya berbunyi “orang bijak minum merek Y”. Disini dua nilai, yaitu kepintaran dan kebijakan menjadi gula-gula pemanis untuk menjual produk yang sejatinya tidak berkaitan dengan kepintaran ataupun kebijakan.
Beberapa definisi telah disusun para penulis untuk menguraikan makna nilai: “The enduring beliefs that have worth, merit, and importance for the organization (Daft, 1999: 193)”,  ataupun “Basic convictions that a specific mode of conduct or end-state of existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end state of existence” (Robbins, 2003:64). Peranannya merupakan “Represents an individual’s standards or ideal about what a person, object, event, or activity ought to be” (Sekaran, 1989:44). Menurutnya, nilai-nilai yang dipegang seseorang akan mempengaruhi pandangan (perception) dan sikapnya (attitude) terhadap sesuatu; akankah ia suka/tidak suka atau puas/tidak puas.
Risieri Frondizi dalam Pengantar Filsafat Nilai (2001) menyatakan bahwa terdapat beberapa ciri dari nilai, yaitu merupakan suatu kualitas tidak/bukan nyata, serta memiliki polaritas dan hirarki. Karenanya orang dapat membangun suatu sistem nilai yang merupakan peringkat intensitas dari nilai-nilai seseorang individu (Robbins, 64). Sistem nilai ini pulalah yang menjadi dasar seseorang melakukan strategi pembingkaian moral (moral framing), yang memberikan sandaran justifikasi baginya untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.
Milton Rokeach mengklasifikasikan nilai-nilai menjadi nilai instrumental dan nilai ideal. Nilai instrumental merupakan jembatan untuk mencapai nilai ideal. Ketika seseorang menganut nilai hidup nyaman, ia akan menjadikan kerja keras dan ambisis sebagai nilai instrumental. Seseorang yang menjadikan kebijakan sebagai nilai tertinggi, mungkin akan mengidealkan nilai pengendalian diri dan kerendahan hati. Para periset pemasaran biasanya menggunakan pendekatan gugus (cohort) dalam pengklasifikasian nilai. Misalnya, mereka menjadikan gugus Nexter untuk merujuk kepada kelas konsumen yang memiliki sekumpulan nilai berikut: percaya diri, keberhasilan keuangan, mengandalkan diri sendiri namun berorientasi tim, loyal kepada diri dan hubungan dengan orang lain.
Pada saat ini, terdapat kecenderungan pada para perekrut dari perusahaan-perusahaan besar untuk lebih melihat kepada attitude daripada aptitude. Juga kepada person-organizational fit, selain dari person-job fit. Pertanyaannya: sebagai manusia bebas, bagaimana kita mesti menyikapi upaya internalisasi dan institusionalisasi nilai-nilai tertentu itu.

Hendragunawan, SE., M.Si., M.Phil

SEBUAH DONGENG DARI KOTA DUNIA

duduklah…. kuceritakan padamu dongeng tentang kotaku,

SEBUAH DONGENG DARI KOTA DUNIA

tak ada yang pernah tahu sejak kapan orang tua itu berjalan dengan tangan menyentuh tanah seperti merangkak
2 minggu lalu, anak-anak yang sedang mencari ikan di selokan, menemukan orang tua di dekat selokan yang menghitam sedang mengais-ngais tempat sampah
memakan semua yang bisa dijangkau dengan tangannya

tak ada yang pernah tahu, kapan tepatnya orang tua yang berjalan merangkak itu mulai bertelanjang dada
seminggu yang lalu anak yang sedang menghisap lem di bawah teduh pohon asam, yang melindunginya dari terik
menjauhkannya dari polusi dan polisi, mendapati orang tua itu kencing dari atas pohon
memakan buah asam beserta kulitnya, kencing sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya

“orang bilang tanahku tanah surga
tongkat kayu jadi uang
batu jadi uang
orang bilang tanah kita tanah surga
surga yang bisa kamu dapati dimana saja
asal ada uang”

orang tua itu bernyanyi dengan nada lagu balonku

tak satupun tahu kemudian, kapan orang tua yang berjalan merangkak sambil bertelanjang dada itu mulai melepas celananya
kemaluan dan kerutan sejelas banner-banner iklan yang kau temukan di jalan

3 hari yang lalu anak kecil yang pulang dari memulung melihat orang tua sedang berenang di sungai yang amis, berenang bersama sampah, bersama sumpah-serapah, bersama hasrat seluruh warga kota

” 1 miliar digunakan untuk membeli kasur di rumah jabatan, sementara masihada anak-anak yang harus tidur beralaskan karton
makin banyak gedung yang berdiri menyapa langit, sementara banjir semakin akrab dengan kita yang bersembunyi di dalam gang-gang”

si orang tua setengah berteriak seolah sedang membaca berita
hari ini diantara jeda acara komedi, saat tawa masih tersisa di ujung tenggorokan

berita tentang orang tua yang ditemukan menjadi mayat dalam keadaan telanjang dengan busur masih menancap di kepala
mayat ditemukan di pinggir sungai dengan secarik kertas bertuliskan

“selamat tinggal kemanusiaan
saat tawa masih bisa kau temukan di belantara batu, dimana darah tak lagi berarti sebagai sebuah harga”

Anwar Nua
#IMMAJPOETRYCOMPETITION

Pulang

Nurul Wahyuni 17 Februari 2015

Diantara sakit dan pucat bibirku
Terselip keping-keping kenangan yang merasuk ke seluruh tubuh
Sebab cinta adalah candu
Mengikis kesadaran, hingga yang tersisa cuma kamu
Dari balik sofa ruang tamu, ku sembunyikan namamu
Agar kau selalu rindu untuk berkunjung.
Hening terikrar pada detak-detak waktu
kau berjalan. senyap ke arahku.
Seakan menemukan kegelisahan
Seolah menyibak keraguan
Kau baca aku hingga rindu terdalam
Lalu kita bersitatap
Rusukku menebal, menahan debar yang menggila
Langkah langkah mengayun, sedekap demi sedekap
Aku menangkap sepercik senyum mulai merona
akhirnya..
kamu pulang..
pada apa yang kusebut rumah..

#IMMAJPOETRYCOMPETITION

Estrangelo e dessa +1

Kukirimkan padamu aroma kopi yang sedang disangrai. Kubungkus dengan kabut tipis yang sedikit kuberi aroma cengkeh. Jika kau sedang sedih, hiruplah dalam, sampai kau rasakan air mata tumpah tak terbendung, sampai kau rasakan setelahnya tak ada alasan lagi untuk menangis.

Kukirimkan padamu jajaran pegunungan yang telah aku abadikan pada jajaran huruf yang kuharap bisa lebih abadi daripada sekedar gambar. Sekedar gambar yang akan menutup imajinasimu, imajinasi yang katamu membedakan kita dengan segalanya. Bayangkanlah jajaran pegunungan yang ditutupi awan yang jelas terlihat dari atas. Ya.. saya berada di atas awan, di tempat dewa-dewi mengatur nasib kita, haha… saya tidak serius mengatakannya. Tak ada dewa-dewi, hanya ada senyum pribumi yang tak juga pernah beku dalam selimut angin yang menggigilkan,

Kukirimkan padamu embun yang hinggap di bunga-bunga kol, di baju para petani, di bunga hydrangea yang tak juga bisa kita tanam di tempat kita. Terimalah saat senja mulai menguning. Saat langit seolah-olah memancar keemasan. Saya berharap gerimis datang menemanimu,seperti pada 18 april lalu saat kita sama-sama menikmati langit yang seolah terbakar,, merah keemasan.

Semua sudah terbungkus, saya menuju puncak tertinggi disini menunggu angin yang siap membawanya padamu..mungkin kau harus menunggu beberapa hari untuk menerimanya..

Alamat mu sudah jelas, namamu jelas, namamu…, saya terhenti saat akan menuliskan namamu… masih kah kau seperti saat desember lalu,

Saya ingat desember telah lama berlalu,, dan ternyata setelah itu saya tidak betul-betul lagi mengenalmu..

(saya kirim semua bersama dengan sebuah pertanyaan : bisahkah kita bertemu lagi nanti ?

 saya menunggumu di semua sudut yang pernah mempertemukan kita, di semua sudut yang saya sebut kenangan,, di semua sudut saat saya masih mengenalmu sebagai perempuan yang akan selalu mengenang hujan saat desember,,

 

 

 

 

Penerapan prinsip-prinsip dasar manajemen operasi sebagai pendekatan stratejik dalam pencapaian tujuan Lembaga Kemahasiswaan

Konsep manajemen operasi merupakan kegiatan yang kompleks, tidak saja mencakup pelaksanaan fungsi manajemen dalam mengkoordinasi berbagai kegiatan dalam mencapai tujuan operasi, tetapi juga mencakup kegiatan teknis untuk menghsilkan suatu produk yang memenuhi spesifikasi yang didinginkan, dengan proses produksi yang efisien dan efektif serta dengan mengantisipasi perkembangan teknologi dan kebutuhan konsumen di masa mendatang.

Kegiatan dalam manajemen operasi adalah menyangkut penggunaan sumber daya seefektif dan seefisien mungkin demi tercapainya tujuan. Kegiatan manajemen operasional mencakup aspek-aspek: Pelaksanaan proses dengan menggunakan metode yang tepat, aspek penunjang lain untuk pencapaian tujuan, perencanaan sebagai dasar untuk langkah dan strategi yang ingin ditempuh, serta pengendalian untuk memastikan bahwa semua berjalan sesuai rencana.

Lembaga kemahasiswaan adalah salah satu dari sekian banyak contoh organisasi nirlaba. Sebagai sebuah organisasi yang seyogyanya bersanding dengan birokrasi kampus dalam pengembangan potensi kemahasiswaan di dalam maupun luar aspek akademik, pasti memiliki criteria organisasi yang tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Lembaga mahasiswa punya cita-cita, tujuan, visi-misi yang ingin dicapai, serta sesuatu yang ingin diberikan pada konsumen (mahasiswa) untuk mempertahankan eksistensinya.Perbedaan lembaga mahasiswa dengan organisasi lainnya adalah aspek sumber daya dan ruang lingkupnya.

Dalam mencapai tujuannya dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dan menganalisis lingkungan sekitar, dibutuhkan sebuah pendekatan atau strategi. Meskipun bukan sebuah organisasi yang mengejar profit dan menjual barang, namun sebagai sebuah lembaga tetap memiliki tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai. Seyogyanya karena lembaga mahasiswa dipenuhi insan intelektual, maka dalam menjlankan roda organisasi diperlukan sebuah pendekatan keilmuan. Terlebih lagi lembaga mahasiswa bergerak dalam lingkup akademis.

Pendekatan operasional adalah pendekatan yang mesti dipelajari, dikembangkan, serta coba diterapkan pada lembaga mahasiswa. Karena di dalam pendekatan operasional berisi tentang cara untuk penetapan visi-misi yang menuju pada pencapaian tujuan organisasi, penggunaan metode yang tepat untuk mencapai tujuan, serta aspek-aspek lain yang perlu diketahui dalam menjalankan orgnisasi. Oleh karena itu, lembaga mahasiswa diharapka dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar operasional untuk menjalankan roda organisasi agar tujuannya dapat dicapai.

Proses pencapaian tujuan lembaga kemahasiswaan membutuhkan kerja sama antara semua stakeholder. Peran masing-masing stakeholder menjadi tiang dalam menopang pelaksanaan kegiatan lembaga kemahasiswaan. Mahasiswa sebagai salah satu unsur dari lembaga kemahasiswaan diharapkan untuk meningkatkan kapasitas keilmuan yang mereka miliki khususnya yang menjadi focusannya. Peningkatan kapasitas keilmuan yang dimiliki harus diiringi dengan kepekaan, kesadaran,  dan kepedulian terhadap perubahan lingkungan sosial. Selain itu, kecepatan, ketepatan dan konsistensi setiap kader dalam lembaga kemahasiswaan menjadi tolak ukur dalam mencapai tujuan lembaga kemahasiswaan sebagai lembaga pengkaderan yang memiliki strong point dalam penanggulangan krisis kader, krisis intelektual, dan krisis etika dan sikap mental. Profesionalitas dari setiap kader dalam lembaga kemahasiswaan menjadi jembatan untuk melewati tantangan-tantangan yang saat ini dihadapi lembaga kemahasiswaan.

Incoming search terms:

  • bagaimana cara menerapkan prinsip manaje en

Nasib LEMA dalam permendikbud 49 tahun 2014

Lembaga mahasiswa kembali mendapat tantangan baru, belum selesai masalah mengenai undang-undang PTN-BH, kini hadir masalah baru; permendikbud 49 tahun 2014, peraturan ini diyakini menjadi turunan dari UU PTN-BH dan di harapkan mampu mengurangi bonus demografi dan dianggap akan membatasi gerakan kemahasiswaan khususnya lembaga kemahasiswaan itu sendiri. Salah satu pasal yang paling mendapat perhatian adalah pasal 17 ayat 3 yang mengatur pembatasan masa kuliah mahasiswa S1 yang maksimal 5 tahun, ini akan mengurangi minat berlembaga Mahasiswa. Alasannya jelas, kita akan di paksa belajar dan belajar lebih agar kita tidak dipecundangi kampus ini (DO).
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah kampus ini sudah siap memberlakukan peraturan tersebut, saat di mana infrastruktur dan tenaga pengajar serta administrasi masih berfikir determinis bahwa belajar itu hanya di kuliah dan proses penilaian hanya dilihat dari tugas dan ujian, dan mengabaikan kerja-kerja di luar kelas. Bayangkan seandainya kerja pengkaderan di lembaga kemahasiswaan dimasukkan dalam penilaian mata kuliah sdm misalnya, ini tentu lebih riil di bandingkan ujian yang diadakan oleh dosen yang biasanya dari hasil contekan. Bayangkan seandainya peraturan masa kuliah ini benar di berlakukan, apa bedanya siswa dan mahasiswa kemudian jika apa yang kita kerjakan hanya belajar di kelas dan melupakan lingkungan di sekitar kita. Pendidikan saat ini mengaharap output yang dapat bersaing di luar dan menjawab masalah di realitas, dengan biaya pendidikan yang semakin mahal dan infrastruktur yang belum memadai.
UU ini hadir dari kebutuhan tenaga kerja karena bonus demografi. Hal ini hanya salah satu dari solusi pemerintah akibat ledakan penduduk dan diharapkan mampu mengurangi angka pengangguran. Yang menjadi pertanyaan apakah mampu masa studi yang katanya cukup singkat ini melahirkan orang-orang yang dapat menjawab masalah di realitas.
Yang perlu dikaji terlebih dahulu apakah masa studi bisa mempengaruhi kapasitas seseorang, ini dilihat dari sisi personal. Selanjutnya apakah hal ini dapat menghambat regenarasi kader dan transformasi nilai-nilai dilihat dari sisi lembaga mahasiswa itu sendiri. Yang perlu dilakukan adalah refleksi diri, bagaimana transformasi nilai-nilai ini dapat berjalan dengan jenjang waktu kurang dari 5 tahun.
Lembaga Mahasiswa diharapkan mampu menjawab masalah di atas. Jika benar masa studi maksimal 5 tahun, maka bagaimana LEMA mengisinya dan memaksimalkan waktu ini agar dapat menghasilkan kader-kader yang mampu menjawab masalah di realitas dan melakukan pengabdian kepada masyarakat berdasarkan apa yang didapatnya di dunia kampus. Dan jika UU ini segera diberlakukan, diharapkan ada tenggat waktu dulu untuk persiapan agar kampus-kampus dapat menyesuaikan misalnya memaksimalkan infrastruktur kampus.

MEDIA DALAM UFORIA PILPRES 2014

MEDIA DALAM UFORIA PILPRES 2014

                Dalam sebuah organisasi tentu didalamnya ada seorang pemimpin yang mengendalikan/mengontrol hal-hal yang ada didalamnya. Apabila kita kontekskan pada sebuah negara maka, ada presiden dan wakil presiden yang merupakan pemimpinnya. Tentu saja dalam menentukan “siapa” yang akan memperoleh jabatan presiden dan wakil presiden harus melewati mekanisme yang dibuat oleh negara tersebut misalnya, di indonesia sendiri presiden dan wakil presiden ditentukan oleh rakyat.

Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) yaitu suatu peristiwa yang dilakukan selama 5 (lima) tahun sekali. Tentu saja dalam proses pilres banyak terjadi peristiwa-peristiwa, seperti hal-hal yang dilakukan oleh si capres dan cawapres dalam memperkenalkan dirinya ke masyarakat untuk memperoleh simpati/suara mereka. Tentu saja, si capres dan cawapres memperkenalkan dirinya melalui “media” yang beredar di masyarakat.

Michel Foucault merupakan seorang sosiolog yang terkenal, ada sebuah istilah yang dia sering gunakan yaitu “power knowledge” dia menganggap bahwa “kebenaran mutlak” itu tidak ada, yang ada hanya kebenaran yang ditentukan oleh siapa yang “berkuasa”, jadi segala wacana yang meredar dimedia tidak terlepas dari “kepentingan penguasa” atau “unsur politik”. sehingga rakyat seharusnya dapat melihat sesuatu dibalik wacana agar para elite politik tidak mempermainkan kita walaupun dunia ini penuh dengan permainan.

Media merupakan alat untuk menyampaikan pesan dari komunikator ke komunikan, pesan yang disampaikan oleh media haruslah mendidik dan mencerdaskan bukan malahan meresahkan masyarakat. Hal ini terjadi pada fenomena pilpres 2014 kemarin dimana ada media yang menyuguhkan informasi kurang mendidik dan terderung memperbesar informasi yang seharusnya tidak perlu di lebih-lebihkan. seperti Surya Paloh dari Partai Nasdem dia merupakan pemiliki METRO TV dan dia berkualisi dengan capres dan cawapres no. 2 dan Aburizal Bakrie dari partai GOLKAR pemilik TV ONE.

Kedua Station Tv ini kalau kita perhatikan kemarin, sering menyerang salah satu calon presiden dengan menyebarkan berita yang bersifat  memprovokasi masyarakat untuk tidak memilih pesaingnya. Dari sisi ini, kita sudah bisa melihat model persaingan yang tidak sehat. Ini merupakan model politik yang tidak bagus dicontoh oleh para masyarakat indonesia.

Dari kondisi demikian, kita berharap berikutnya pemerintah mampu melaksanakan dan mengontrol Pilpres secara profesional dan para kepala negara yang telah diamanatkan oleh suara rakyat tidak mengecewakan. sehingga persentase fenomena public distrust (ketidakpercayaan publik) pada masyarakat tidak ada lagi.