LEMA FEB-UH Bahas Isu SDGs dari Perspektif Ekonomi dan Bisnis

Unhas, immajfeuh.org – Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH) menggelar focus group discussion (FGD) pada Jumat lalu (10/3). Bertujuan untuk menindaklanjuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan lembaga kemahasiswaan (LEMA FEB-UH) sebelumnya, FGD ini kembali mengangkat isu lingkungan sebagai tema utama, yaitu “Perspective of Economics and Business to Support SDGs 2030”.

Sebelum memulai FGD, ketua masing-masing himpunan memaparkan gambaran umum subtema. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi (HIMAJIE) Dwiki Argawinata menjelaskan tentang Green Economics, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Akuntansi (IMA) Juliana Ham membahas tentang Green Accounting, dan Green Management dibahas oleh Irawati selaku Chief Executive Officer Ikatan Mahasiswa Manajemen (IMMAJ). Peserta yang hadir di Aula FIS B FEB-UH merupakan perwakilan lingkup keluarga mahasiswa (KEMA FEB-UH).

Perspektif ilmu ekonomi menyebutkan bahwa isu lingkungan kini dapat diterapkan pada teori Gross Domestic Product (GDP) yaitu Green GDP yang merupakan hasil dari pengurangan GDP dengan biaya-biaya penanggulangan kerusakan lingkungan. Sedangkan manajemen memandang bahwa paradigma bisnis yang dulunya fokus pada keuntungan kini sudah bergeser ke faktor-faktor eksternal termasuk lingkungan. Green Acconting juga menyebutkan bahwa fokus akuntansi yang awalnya single bottom line atau fokus hanya pada finansial (profit), kini menjadi triple bottom line atau fokus pada tiga hal yaitu profit, people, dan planet.

Setelah diskusi selama kurang lebih dua jam, akhirnya peserta menyetujui beberapa kesepakatan sebagai hasil resolusi, salah satunya yaitu memberikan pendidikan dan pelatihan terkait isu lingkungan sejak usia dini.

Peserta juga sepakat untuk mengadakan forum-forum lain agar resolusi yang sudah disepakati dapat terus ditindaklanjuti. (RAW)

Incoming search terms:

  • immajfeuh org

Implementation of Six Sigma in Service Industry

Oleh : Farhanah Ramdhani Sumardi

Dunia industri yang semakin pesat berubah, telah memunculkan konsekuensi secara langsung pada peningkatan persaingan antar perusahaan. Sementara masyarakat konsumen mulai beralih menjadi masyarakat yang semakin kritis sehingga menimbulkan semakin tingginya tuntutan untuk mendapatkan produk atau jasa yang berkualitas.

Schnaars (1991) menyatakan, bahwa pada dasarnya tujuan dari sebuah bisnis adalah menciptakan para pelanggan yang puas. Komitmen akan kualitas jasa yang berorientasi pada pelanggan merupakan salah satu faktor utama dalam menunjang keberhasilan suatu bisnis, terutama pada industri jasa. Hal ini disebabkan kualitas jasa sangat tergantung dari siapa dan bagaimana jasa tersebut diberikan. Karena keberhasilan dari suatu industri jasa sangat tergantung dari penilaian konsumen, maka merupakan hal yang sangat penting untuk memperhatikan kepuasan dari konsumen.

Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengendalikan kualitas serta untuk meningkatkan kualitas pelayanan jasa adalah Six Sigma. Six Sigma adalah suatu alat manajemen yang terfokus terhadap pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara keseluruhan. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya. Six sigma juga disebut sistem komprehensivemaksudnya adalah strategi, disiplin ilmu, dan alat untuk mencapai dan mendukung efektifitas bisnis. Six Sigma disebut sebagai strategi karena terfokus pada peningkatan kepuasan pelanggan, disebut disiplin ilmu karena mengikuti model formal,yaitu DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) dan alat karena digunakan bersamaan dengan yang lainnya, seperti Diagram Pareto (Pareto Chart) dan histogram. Kesuksesan peningkatan kualitas dan kinerja bisnis, tergantung dari kemampuan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah. Kemampuan ini adalah hal fundamental dalam filosofi six sigma.

Carl Frederick Gauss (1777-1885) adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep kurva normal dalam bidang statistik. Konsep ini kemudian dikembangkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1920 yang menjelaskan bahwa 3 sigma dari nilai rata-rata (mean) mengindikasikan perlunya perbaikan dalam sebuah proses.

Pada akhir tahun 1970, Dr. Mikel Harry, seorang insinyur senior pada Motorola’s Government Electronics Group (GEG) memulai percobaan untuk melakukan problem solving dengan menggunakan analisa statistik. Dengan menggunakan cara tersebut, GEG mulai menunjukkan peningkatan yang dramatis: produk didesain dan diproduksi lebih cepat dengan biaya yang lebih murah. Metode tersebut kemudian ia tuliskan dalam sebuah makalah berjudulThe Strategic Vision for Accelerating Six Sigma Within Motorola Dr. Mikel Harry kemudian dibantu oleh Richard Schroeder, mantan exekutive Motorola, menyusun suatu konsep perubahan manajemen (change management) yang didasarkan pada data. Hasil dari kerja sama tersebut adalah sebuah alat pengukuran kualitas yang sederhana dan kemudian menjadi filosofi kemajuan bisnis, yang dikenal dengan nama Six Sigma.

Banyak usaha telah dirumuskan para pakar manajemen kualitas untuk mendefinisikan kualitas jasa atau pelayanan, agar supaya dapat didesain, dikendalikan, dan dikelola sebagaimana halnya dengan kualitas barang. Secara konseptual Lean Six Sigma dapat diterapkan baik pada barang maupun jasa, karena yang ditekankan dalam penerapan Lean Six Sigma adalah perbaikan sistem kualitas melalui menghilangkan setiap pemborosan (waste) yang ada dalam proses agar meningkatkan nilai tambah dan memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dengan demikian yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sistem kualitas dalam proses peningkatan pelayanan adalah pada pengembangan sistem kualitas yang terdiri dari: desain dan perencanaan sistem kualitas, pengendalian sistem kualitas, dan peningkatan sistem kualitas. (YA)

Environmental Management

Oleh : Irawati Ismail

Seiring dengan perkembangan zaman saat ini, kebutuhan manusia juga semakin berkembang. Hal ini disebabkan oleh keingintahuan manusia yang semakin maju. Oleh karena, itu ilmu pengetahuan pun semakin hari semakin dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri.

Hal ini menyebabkan manusia bertindak semaunya meskipun sudah ada peraturan-peraturan atau hukum yang disahkan oleh pemerintah dalam pengendalian proses produksi kebutuhan manusia terutama kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Hal ini akan menyebabkan SDA semakin lama semakin berkurang jika tidak ada pengendaliannya dalam proses pemenuhan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, sebagai pemerintah yang bijak harus mengoptimalkan peraturan mengenai lingkungan yang biasa disebut dengan manajemen lingkungan.

Manajemen lingkungan adalah suatu kerangka kerja yang dapat diintegrasikan ke dalam proses-proses bisnis yang ada untuk mengenal, mengukur, mengelola dan mengontrol dampak-dampak lingkungan secara efektif, dan oleh karenanya merupakan risiko-risiko lingkungan. Pada intinya manajemen adalah sekumpulan aktifitas yang disengaja (merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan) yang terkait dengan tujuan tertentu. Lingkungan menurut definisi umum yaitu segala sesuatu disekitar subyek manusia yang terkait dengan  aktifitasnya. Elemen lingkungan adalah hal-hal yang terkait dengan: tanah, udara, air, sumberdaya alam,  flora, fauna, manusia, dan hubungan antar faktor-faktor tersebut. Titik sentral isu lingkungan adalah  manusia. Jadi manajemen lingkungan bisa diartikansekumpulan aktifitas merencanakanmengorganisasikan, dan menggerakkan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan kebijakan lingkungan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan cakupannya, terdapat pendapat yang membagi manajemen lingkungan dalam dua macam yaitu:

  1. Lingkungan internal yaitu di dalam lingkungan pabrik / lokasi fasilitas produksi. Yaitu yang termasuk didalamnya kondisi lingkungan kerja, dampak yang diterima oleh karyawan dalam lingkungan kerjanya, fasilitas kesehatan, APD, asuransi pegawai, dll;
  2. lingkungan eksternal yaitu lingkungan di luar lokasi pabrik / fasilitas produksi. Yaitu segala hal yang dapat menimbulkan dampak pada lingkungan disekitarnya, termasuk masyarakat di sekitar lokasi pabrik, dan pihak yang mewakilinya (Pemerintah, pelanggan, investor/pemilik). Aktifitas yang terkait yaitu komunikasi dan hubungan dengan masyarakat, usaha-usaha penanganan pembuangan limbah ke saluran umum, perhatian pada keseimbangan ekologis dan ekosistem di sekitar pabrik, dll.

Seiring dengan perkembangan ilmu manajemen, dikembangkanlah Total Quality Environmental Management (TQEM) yang merupakan pengembangan dari Total Quality Management. Namun dalam hal ini lebih dikhususkan untuk mulai memperhatikan dampak lingkungan dalam penjaminan ataupun pemenuhan mutu. Filosofi dan perangkat TQEM memberikan perusahaan metoda sistematis bagi perbaikan berkelanjutan dalam kinerja lingkungan. Aplikasi TQEM untuk memecahkan masalah kualitas produk dan limbah ditunjukkan dengan contoh perusahaan Flynt Fabrics, di North Carolina, seperti kasusnya dibawah ini. TQEM pertama kali dikemukakan oleh GEMI di tahun 1992 dengan peluncuran buku mengenai penggabungan prinsip TQM yang dikemukaan oleh Dr. Edward Deming, dengan tujuan manajemen lingkungan. GEMI percaya pada penerapan TQEM karena menekankan pada perbaikan terus-menerus dari aktivitas lingkungan perusahaan. (YA)

FGD & Konferensi IMSCo 2017 Hasilkan Resolusi dalam Blue Print

Unhas, immajfeuh.org – Di hari dan tempat yang sama dengan kompetisi paper (10/2), peserta mengikuti focus group discussion yang membahas tentang permasalahan-permasalahan pembangunan dan lingkungan di Indonesia saat ini. FGD dilaksanakan secara paralel, dengan pembagian 4 (empat) kasus berbeda sesuai dengan pembagian subtema, yaitu konsumsi dan produksi berkelanjutan, perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana, pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem laut, serta pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem darat.

Kasus-kasus yang diangkat dalam Indonesia Management Student Conference (IMSCo) 2017 Ikatan Mahasiswa Manajemen FEB-UH ini diantaranya problematika listrik di Indonesia, perubahan iklim, illegal fishing, dan kebakaran hutan. Peserta dipandu oleh seorang moderator dan berdiskusi selama kurang-lebih 2 (dua) jam. FGD ini menghasilkan resolusi dan rekomendasi yang akan dipaparkan pada konferensi nasional keesokan harinya.

Adapun rekomendasi yang diusulkan oleh tiap subtema diantaranya persuasi pemerintah dalam   pembuatan kebijakan mengombinasikan hybrid energy system dan pembangkit listrik tenaga uap batu bara berdasarkan tupoksi atau kebutuhan listrik dari setiap daerah, melaksanakan program peduli lingkungan dengan subsidi ekologi di setiap regional yang berbeda, adanya kebijakan pemerintah yang    bersifat restorasi  untuk mendukung pembangunan berkelanjutan (aturan transportasi pribadi, urban farming, kebakaran hutan, dan lain-lain), pengambilan kebijakan secara bottom-up, pendataan kapal-kapal yang sudah resmi, penetapan harga hasil laut yang minimum untuk menyejahterakan nelayan, pengadaan satelit untuk mendeteksi titik api, dan pembuatan kanal atau sistem penampungan air di dalam hutan.

Rekomendasi-rekomendasi tersebut dibahas secara komprehensif, dari segi efisiensi maupun efektifitas. Kemudian, dalam konferensi nasional (11/2) dilakukan penandatanganan cetak biru hasil rekomendasi oleh tiap ketua tim yang mengikuti IMSCo 2017. Cetak biru ini nantinya akan disampaikan kepada pihak-pihak pemangku kepentingan terkait, baik kepada pemerintah daerah, non-government organization maupun pihak universitas.

Ketua panitia IMSCo 2017 Achmad Fatri berharap keseluruhan kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa dan semua stakeholders terkait untuk bersama-sama melakukan perubahan agar tujuan pembangunan berkelanjutan dapat terlaksana. (RAW)

Perguruan Tinggi se-Indonesia Ramaikan Kompetisi Paper IMSCo 2017

Peserta perwakilan Universitas Indonesia sedang mempresentasikan papernya di hadapan dewan juri, Jumat (10/2).

Unhas, immajfeuh.org – Kompetisi paper merupakan salah satu rangkaian kegiatan Indonesia Management Student Conference (IMSCo) 2017 yang dilaksanakan oleh Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH).

Kegiatan ini berlangsung sejak Desember 2016, dimulai dengan seleksi abstrak yang diikuti oleh 132 tim dari perguruan tinggi se-Indonesia. Mengangkat tema “Environmental Management sebagai Strategi Indonesia dalam Menghadapi Sustainable Development Goals (SDGs) 2030”, dan terbagi menjadi 4 (empat) subtema yaitu konsumsi dan produksi berkelanjutan, perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana, pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem laut, serta pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem darat.

Setelah seleksi abstrak, 28 tim terpilih mengikuti tahap selanjutnya yaitu pengumpulan full paper pada 8-30 Januari 2017. 28 tim tersebut merupakan total dari 7 (tujuh) tim perwakilan 4 subtema, berasal dari beragam perguruan tinggi diantaranya Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Jember, Universitas Mulawarman, Universitas Jambi, Universitas Sumatera Utara, Universitas Bangka Belitung, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, dan Universitas Hasanuddin.

Presentasi paper dilaksanakan pada 10 Februari 2017 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, dengan melibatkan doses-dosen Unhas dari berbagai latar belakang pendidikan dan jurusan sebagai tim penilai. Berlangsung secara paralel di 4 ruangan yang berbeda, dengan pembagian waktu 10 (sepuluh) menit presentasi dan 10 menit tanya-jawab untuk masing-masing tim.

Setelah melewati keseluruhan tahap dari seleksi abstrak hingga konferensi nasional, Ghazally Imam, Aditya Hadid Riyadi dan Retno Khoirunnisa dari IPB terpilih menjadi best team dalam kegiatan ini. Selain itu, berturut-turut sebagai best paper tiap subtema berasal dari Universitas Jember, ITS, UI, dan IPB. Sedangkan untuk kategori best speaker tiap subtema berhasil diraih oleh Fitrawan Mufly Haskari, Ayunda Fitri U.M, Aditya Hadid Riyadi, dan M. Iskandar.

Pemenang masing-masing mendapatkan hadiah berupa sertifikat penghargaan dan uang tunai sebesar Rp 3.000.000,00 kategori best paper, Rp. 2000.000,00 kategori best team, dan Rp 1.000.000,00 kategori best speaker. (RAW)

IMMAJ FEB-UH Usung Tema SDGs dalam Seminar Nasional

Penyerahan plakat kepada Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu'mang pada seminar nasional, Kamis (9/2).

Unhas, immajfeuh.org – Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH) menyelenggarakan seminar nasional pada Kamis lalu, (9/2) di Auditorium Prof. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Unhas.

Mengusung tema “Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030”, seminar nasional ini menghadirkan pemangku-pemangku kepentingan terkait diantaranya Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu’mang, Ketua Dewan Penasihat Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Ugan Gandar, Senior Program Officer SDGs International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Hamong Santono, dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas Dr. Muhammad Idrus Taba. SE., M.Si.

SDGs merupakan suatu kesepakatan antar negara-negara di dunia untuk memajukan proses pembangunan berkelanjutan. Seperti yang dijelaskan oleh Hamong Santono bahwa SDGs merupakan kebijakan pembangunan yang sifatnya lebih komprehensif, karena hal ini melibatkan seluruh stakeholders dalam suatu negara, sehingga dapat lebih inklusif.

“Selain itu, SDGs juga dapat memperluas sumber pendanaan, karena melibatkan kerjasama dengan pihak swasta,” jelasnya. Di lain pihak, Ugan Gandar selaku perwakilan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menyebutkan ketersediaan energi saat ini sangatlah terbatas, sehingga tantangan SDGs yang harus dilewati salah satunya adalah bagaimana menciptakan renewable energy untuk ketahanan energi di masa akan datang. Dari perspektif ilmu manajemen, Idrus Taba menambahkan bahwa salah satu yang mempengaruhi ketimpangan dalam kebijakan ekonomi, yaitu kekuatan kelompok bisnis dan sektor marjinal (petani, nelayan, buruh, sektor informal, dan lain-lain) yang masih berat sebelah.

Lebih spesifik, Agus Arifin Nu’mang menjelaskan kondisi Sulsel dari segi sosial, ekonomi, dan pendidikan yang saat ini dalam proses pengembangan dan pemerataan, mendorong fungsi strategis Sulsel sebagai tonggak penghubung Indonesia Timur untuk turut andil dalam mewujudkan SDGs 2030.

Seminar nasional ini berlangsung pukul 09.00-13.00 WITA dan sebanyak kurang-lebih 400 peserta hadir, terdiri dari civitas akademika Unhas, juga mahasiswa(i) dari perguruan-perguruan tinggi se-Indonesia. (RAW)

Peduli Pembangunan Berkelanjutan, IMMAJ FEB-UH Gelar Konferensi Mahasiswa Tingkat Nasional

Unhas, immajfeuh.org – Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang pembangunan berkelanjutan, Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH) menggelar konferensi mahasiswa tingkat nasional, Indonesia Management Student Conference (IMSCo) 2017, dengan tema “Environmental Management  Sebagai  Strategi  Indonesia  Dalam  Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) 2030”.

IMSCo 2017 ini terdiri dari beberapa item kegiatan yaitu kompetisi paper, seminar nasional, focus group discussion, konferensi nasional, gathering night, dan field trip, yang berlangsung pada 9-12 Februari mendatang.

Kompetisi paper diikuti oleh 132 tim dari perguruan tinggi se-Indonesia pada tahap seleksi abstrak, dan terpilih 28 tim dalam empat subtema berbeda, yang akan mempresentasikan papernya di hadapan dewan juri. Selain itu, peserta kompetisi akan mengikuti rangkaian FGD dan konferensi nasional yang membahas mengenai permasalahan-permasalahan pembangunan di Indonesia saat ini. Hasil dari pemikiran dan ide kreatif berdasarkan prinsip-prinsip manajemen ini nantinya akan disampaikan langsung kepada pihak-pihak terkait.

IMSCo 2017 juga menghadirkan pihak pemangku kepentingan dalam seminar nasional yang mengusung tema “Indonesia dalam Menghadapi Tantangan SDGs 2030”. Hadir sebagai pembicara yaitu Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu’mang, Ketua Dewan Penasihat Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), Ugan Gandar, Senior Program Officer SDGs International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Hamong Santono, dan Dosen FEB Unhas, Dr. Muhammad Idrus Taba, SE., M.Si.

Di akhir rangkaian kegiatan, peserta akan mengikuti sosialisasi tentang proses dan aktivitas kerja support green production PT. Pertamina di Pertamina Terminal BBM Makassar, dilanjutkan dengan gerakan menanam bibit pohon sebagai salah satu bentuk fisik support lingkungan di Desa Binaan Pertamina Makassar.

Pemenang kompetisi IMSCo 2017 akan diumumkan pada gathering night, dengan kategori  best paper tiap subtema, best speaker tiap subtema, dan satu best team. (RAW)

Further Information :

Sandi Salere      0899-1595-577

Risky Ameliya  0818-0648-4546

Website           : imsco.weebly.com

Email               : official.imsco@gmail.com

Customer Perpetuation as Main Variable for Corporate Strategy in Banking Industry

Oleh :Dian Anggraece Sigit Parawansa

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia namun total pasar bank syariah hanya sekitar 5%. Hal ini berbeda jauh dengan perkembangan pangsa pasar bank syariah di negara-negara muslim bahkan di negara Eropa seperti di Inggris. Mengapa demikian?

Customer relationship marketing atau konsep pemasaran relasional merupakan suatu cara pemasaran yang menjaga pelanggan agar tetap loyal pada perusahaan. Hal ini dianggap sebagai cara yang jauh lebih murah dari pada menarik pelanggan baru. Pelanggan yang loyal merupakan aset yang sangat berharga bagi perusahaan sebab pelanggan yang loyal selau memberikan citra yang baik bagi perusahaan dengan promosi lewat mulut ke mulut (berdasarkan pengalaman).

Pelanggan yang loyal tercipta jika pelanggan tersebut puas akan produk atau jasa yang diberikan, produk dan jasa ini harus memiliki kualitas yang baik sehingga terjadi trust (kepercayaan) yang menghasilkan kepuasan pelanggan yang kemudian menciptakan pelanggan yang loyal. Pelanggan loyal akan datang untuk menikmati ulang barang dan jasa yang ditawarkan sekaligus dapat menambah jumlah pelanggan baru. Kualitas layanan diukur dengan menggunakan lima dimensi yang mana dimensi itu dibagi menjadi dua (2) yaitu dimensi terlihat (fisik, peralatan, fasilitas kantor, peralatan komunikasi) dan dimensi tidak terlihat (keandalan, respon, empati, dan jaminan).

Keandalan merujuk pada kinerja yang dapat dijanjikan dan dapat dipercaya. Respon merujuk pada kecepatan pelayanan dan penyediaan barang yang sesuai dengan keinginan konsumen empati merujuk pada cara memahami apa yang diinginkan pelanggan jaminan yang merujuk pada semua terjamin mulai dari produk, maupun para pekerjanya. Berdasarkan kajian teori ini maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
– Pelanggan yang loyal syariah merupakan hasil dari kualitas pelayanan bank kepada pelanggannya. Perusahaan maupun bank syariah dapat menggunakan kepercayaan (trust) dan kepuasan untuk menghasilkan pelanggan yang loyal.
– Bank Islam atau bank syariah harus selalu memperbaiki kualitas pelayanan dan member perhatian pada kontak personal dan lperhatian lebih pada aspek emosional pelanggan. Kualitas layanan yang lebih baik akan menghasilkan kepercayaan pelanggan, kepuasan, dan komitmen untuk menggunakan bank syariah dan membuat pelanggan lebih loyal kepada bank syariah. (YA/RAW)

IMMAJ FEB-UH Goes to Indonesia Stock Exchange (IDX) Makassar

Peserta Goes To IDX Makassar berfoto bersama dengan pihak IDX Makassar dan MNC Securities (24/11)

Peserta Goes To IDX Makassar berfoto bersama dengan pihak IDX Makassar dan MNC Securities (24/11)

Unhas, immajfeuh.org – Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH) mengadakan Study Visit ke Bursa Efek Indonesia cabang Makassar yang bertempat di Jalan Dr. Sam Ratulangi No. 124 Makassar, Kamis lalu (24/11). Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja Departemen Management Development yang bertujuan untuk memperluas pengetahuan dan pemahaman terhadap ilmu yang telah didapatkan di bangku perkuliahan sehingga menjadi sarana untuk melihat implementasi dari teori ekonomi, khususnya disiplin ilmu manajemen.

Berlangsung selama kurang lebih tiga setengah jam, mulai pukul 10:00 hingga 13:30 WITA dan terbagi atas dua sesi acara. Sesi pertama dibawakan oleh Achmad Irfan Ibrahim selaku Supervisor Representative Office Makassar, menjelaskan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia secara komprehensif termasuk tentang bagaimana pasar modal di Indonesia. Kemudian Yoko Musajaya selaku Marketing Officer MNC Securities Makassar menjelaskan tentang bagaimana proses transaksi pasar modal dalam MNC Securities. Total peserta yang hadir sebanyak 22 orang.

Bursa Efek Indonesia merupakan perusahaan swasta nirlaba yang diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan jumlah pegawai 350 orang tersebar di seluruh Indonesia. Selain Bursa Efek Indonesia terdapat dua lembaga yang menentukan arah perkembangan pasar modal di Indonesia yaitu KPEI (Kliring Penjamin Efek Indonesia) dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Dimana, KPEI bertugas sebagai lembaga penjamin dana efek Indonesias sedangkan KSEI sebagai gudang pasar modal ataupun saham dalam elektronik maupun cetak.

Salah satu perusahaan yang terdaftar memiliki efek di Bursa Efek Indonesia adalah MNC Securities. MNC Securities secara formal merupakan pemegang saham mayoritas perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa keuangan MNC Capital dari anak perusahaan MNC Corporation. Yoko Musajaya memberikan simulasi bagaimana bertransaksi di pasar modal melalui layanan online trading dengan nama MNC Trade yang dapat diunduh melalui PlayStore dan AppStore. Saat penjelasan sesi dua ini terlihat antusias dari peserta untuk bertransaksi di pasar modal.

Sebagai penutupun dalam kegiatan Study Visit, Chief Executive Officer IMMAJ FEB-UH Irawati Ismail dan Chief Marketing Officer IMMAJ FEB-UH Ahmad Ali Abubakar menyerahkan plakat kepada pihak IDX Makassar yang diwakili oleh Ahmad Irfan Ibrahim dan Yoko Musajaya selaku perwakilan MNC Securities. (YA/RAW)

Nairu di Indonesia : Suatu Evaluasi Alternatif Kinerja Makroekonomi

Oleh : Amanus Khalifah Fil’Ardy Yunus

NAIRU merupakan perdebatan antara Neo Keynesian dengan aliran monetaris, Keynesian lebih berfokus pada bagaimana mengurangi pengangguran dengan penambahan kebijakan pemerintah yang menggerakkan agregat demand, sedangkan monetaris bertentangan dengan Keynesian yang di mana beranggapan bahwa jika pemerintah menambah agregat demand, tentunya tidak akan efektif karena meskipun penambahan agregat demand menambah output tetapi akan terjadi inflasi. Di satu sisi pengangguran turun karena adanya penambahan output tetapi di sisi lain akan terjadi inflasi, sehingga di sinilah peran NAIRU di mana dia mencoba untuk mengakomodir kedua permasalahan ini dengan cara mengorbankan salah satu variabel tersebut. NAIRU adalah singkatan dari Non-Accelarating Inflation Rate of unemployement artinya tingkat pengangguran yang menstabilkan inflasi, dalam artian stabil dimana tidak ada perubahan atau tingkat inflasi pada tahun sekarang dengan tahun dengan tahun yang akan daatang sama dengan nol. Pengagguran dan inflasi memiliki hubungan yang negatif atau dalam hal ini saling tarik menarik artinya jika pengangguran turun maka akan terjadi inflasi begitupun sebaliknya.

Dari penjelasan di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa semua variabel yang berhubungan negatif membutuhkan toleransi karena ketika variabel yang satu dinaikkan maka variabel yang satu akan turun. Sebagai contoh pertumbuhan ekonomi dengan pengangguran bisa kita buatkan toleransi menjadi “tingkat pengangguran yang membuat pertumbuhan ekonomi stabil” hal itu berhubungan negatif ketika pertumbuhan ekonomi naik maka pengangguran turun.

Dalam diskusi ini juga menjelaskan bagaimana teknik penulisan yang baik, yaitu sebagai barikut :
– Dalam menulis sebuah karya ilmiah yang harus dipertimbangkan adalah “kerangka berfikir” karena apapun unsur dalam penulisan karya ilmiah kuncinya ada pada kerangka berfikir. Pendahuluan, tinjauan kajian literatur semua disusun berdasarkan kerangka berfikir. Kajian literatur yang bagus ketika dia mengacu kepada kerangka berfikir. Banyak yang beranggapan bahwa karena pendahuluan merupakan hal yang pertama muncul dalam suatu penelitian sehingga pendahuluanlah yang terlebih dahulu disusun padahal seharusnya kerangka berfikirlah yang terlebih dahulu diperhatikan.
– Regresi adalah analisis tersulit dalam statistik tapi untuk orang ekonomi regresi model termudah digunakan. Jadi jika kita memutuskan untuk mengambil model regresi berarti kita sudah mengambil analisis tertinggi di statistik dan termudah di ekonomi dan tentunya kan banyak manfaat yang didapatkan.
– Dalam menulis karya ilmiah kita harus kreatif di dua bidang yaitu teknis dan keilmuan. Contoh yaitu variable dependen lebih dari satu, banyak analisis yang dicantumkan baik langsung maupun tidak langsung dan sebagainya.
– Dalam pembuatan literatur atau penelitian tidak perlu dicantumkan definisi kecuali definisi tersebut adalah definisi yang masih diperdebatkan. Seperti halnya penelitian penelitian tentang inflasi, tingkat pertumbuhan ekonomi dan masalah-masalah umum lainnya. Begitupun dalam pembuatan sub bab harus di perhatikan seperti pembuatan judul yang lebih kreatif dan menarik. Tentunya hal ini dapat diperoleh apabila kerangka berfikir seseorang baik. (YA/RAW)