LEMA FEB-UH Bahas Isu SDGs dari Perspektif Ekonomi dan Bisnis

Unhas, immajfeuh.org – Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH) menggelar focus group discussion (FGD) pada Jumat lalu (10/3). Bertujuan untuk menindaklanjuti kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan lembaga kemahasiswaan (LEMA FEB-UH) sebelumnya, FGD ini kembali mengangkat isu lingkungan sebagai tema utama, yaitu “Perspective of Economics and Business to Support SDGs 2030”.

Sebelum memulai FGD, ketua masing-masing himpunan memaparkan gambaran umum subtema. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi (HIMAJIE) Dwiki Argawinata menjelaskan tentang Green Economics, Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Akuntansi (IMA) Juliana Ham membahas tentang Green Accounting, dan Green Management dibahas oleh Irawati selaku Chief Executive Officer Ikatan Mahasiswa Manajemen (IMMAJ). Peserta yang hadir di Aula FIS B FEB-UH merupakan perwakilan lingkup keluarga mahasiswa (KEMA FEB-UH).

Perspektif ilmu ekonomi menyebutkan bahwa isu lingkungan kini dapat diterapkan pada teori Gross Domestic Product (GDP) yaitu Green GDP yang merupakan hasil dari pengurangan GDP dengan biaya-biaya penanggulangan kerusakan lingkungan. Sedangkan manajemen memandang bahwa paradigma bisnis yang dulunya fokus pada keuntungan kini sudah bergeser ke faktor-faktor eksternal termasuk lingkungan. Green Acconting juga menyebutkan bahwa fokus akuntansi yang awalnya single bottom line atau fokus hanya pada finansial (profit), kini menjadi triple bottom line atau fokus pada tiga hal yaitu profit, people, dan planet.

Setelah diskusi selama kurang lebih dua jam, akhirnya peserta menyetujui beberapa kesepakatan sebagai hasil resolusi, salah satunya yaitu memberikan pendidikan dan pelatihan terkait isu lingkungan sejak usia dini.

Peserta juga sepakat untuk mengadakan forum-forum lain agar resolusi yang sudah disepakati dapat terus ditindaklanjuti. (RAW)

Incoming search terms:

  • immajfeuh org

Implementation of Six Sigma in Service Industry

Oleh : Farhanah Ramdhani Sumardi

Dunia industri yang semakin pesat berubah, telah memunculkan konsekuensi secara langsung pada peningkatan persaingan antar perusahaan. Sementara masyarakat konsumen mulai beralih menjadi masyarakat yang semakin kritis sehingga menimbulkan semakin tingginya tuntutan untuk mendapatkan produk atau jasa yang berkualitas.

Schnaars (1991) menyatakan, bahwa pada dasarnya tujuan dari sebuah bisnis adalah menciptakan para pelanggan yang puas. Komitmen akan kualitas jasa yang berorientasi pada pelanggan merupakan salah satu faktor utama dalam menunjang keberhasilan suatu bisnis, terutama pada industri jasa. Hal ini disebabkan kualitas jasa sangat tergantung dari siapa dan bagaimana jasa tersebut diberikan. Karena keberhasilan dari suatu industri jasa sangat tergantung dari penilaian konsumen, maka merupakan hal yang sangat penting untuk memperhatikan kepuasan dari konsumen.

Salah satu alat yang dapat digunakan untuk mengendalikan kualitas serta untuk meningkatkan kualitas pelayanan jasa adalah Six Sigma. Six Sigma adalah suatu alat manajemen yang terfokus terhadap pengendalian kualitas dengan mendalami sistem produksi perusahaan secara keseluruhan. Memiliki tujuan untuk, menghilangkan cacat produksi, memangkas waktu pembuatan produk, dan mehilangkan biaya. Six sigma juga disebut sistem komprehensivemaksudnya adalah strategi, disiplin ilmu, dan alat untuk mencapai dan mendukung efektifitas bisnis. Six Sigma disebut sebagai strategi karena terfokus pada peningkatan kepuasan pelanggan, disebut disiplin ilmu karena mengikuti model formal,yaitu DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) dan alat karena digunakan bersamaan dengan yang lainnya, seperti Diagram Pareto (Pareto Chart) dan histogram. Kesuksesan peningkatan kualitas dan kinerja bisnis, tergantung dari kemampuan untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah. Kemampuan ini adalah hal fundamental dalam filosofi six sigma.

Carl Frederick Gauss (1777-1885) adalah orang yang pertama kali memperkenalkan konsep kurva normal dalam bidang statistik. Konsep ini kemudian dikembangkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1920 yang menjelaskan bahwa 3 sigma dari nilai rata-rata (mean) mengindikasikan perlunya perbaikan dalam sebuah proses.

Pada akhir tahun 1970, Dr. Mikel Harry, seorang insinyur senior pada Motorola’s Government Electronics Group (GEG) memulai percobaan untuk melakukan problem solving dengan menggunakan analisa statistik. Dengan menggunakan cara tersebut, GEG mulai menunjukkan peningkatan yang dramatis: produk didesain dan diproduksi lebih cepat dengan biaya yang lebih murah. Metode tersebut kemudian ia tuliskan dalam sebuah makalah berjudulThe Strategic Vision for Accelerating Six Sigma Within Motorola Dr. Mikel Harry kemudian dibantu oleh Richard Schroeder, mantan exekutive Motorola, menyusun suatu konsep perubahan manajemen (change management) yang didasarkan pada data. Hasil dari kerja sama tersebut adalah sebuah alat pengukuran kualitas yang sederhana dan kemudian menjadi filosofi kemajuan bisnis, yang dikenal dengan nama Six Sigma.

Banyak usaha telah dirumuskan para pakar manajemen kualitas untuk mendefinisikan kualitas jasa atau pelayanan, agar supaya dapat didesain, dikendalikan, dan dikelola sebagaimana halnya dengan kualitas barang. Secara konseptual Lean Six Sigma dapat diterapkan baik pada barang maupun jasa, karena yang ditekankan dalam penerapan Lean Six Sigma adalah perbaikan sistem kualitas melalui menghilangkan setiap pemborosan (waste) yang ada dalam proses agar meningkatkan nilai tambah dan memberikan kepuasan kepada pelanggan. Dengan demikian yang perlu diperhatikan dalam pengembangan sistem kualitas dalam proses peningkatan pelayanan adalah pada pengembangan sistem kualitas yang terdiri dari: desain dan perencanaan sistem kualitas, pengendalian sistem kualitas, dan peningkatan sistem kualitas. (YA)

Environmental Management

Oleh : Irawati Ismail

Seiring dengan perkembangan zaman saat ini, kebutuhan manusia juga semakin berkembang. Hal ini disebabkan oleh keingintahuan manusia yang semakin maju. Oleh karena, itu ilmu pengetahuan pun semakin hari semakin dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri.

Hal ini menyebabkan manusia bertindak semaunya meskipun sudah ada peraturan-peraturan atau hukum yang disahkan oleh pemerintah dalam pengendalian proses produksi kebutuhan manusia terutama kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Hal ini akan menyebabkan SDA semakin lama semakin berkurang jika tidak ada pengendaliannya dalam proses pemenuhan kebutuhan manusia. Oleh karena itu, sebagai pemerintah yang bijak harus mengoptimalkan peraturan mengenai lingkungan yang biasa disebut dengan manajemen lingkungan.

Manajemen lingkungan adalah suatu kerangka kerja yang dapat diintegrasikan ke dalam proses-proses bisnis yang ada untuk mengenal, mengukur, mengelola dan mengontrol dampak-dampak lingkungan secara efektif, dan oleh karenanya merupakan risiko-risiko lingkungan. Pada intinya manajemen adalah sekumpulan aktifitas yang disengaja (merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan) yang terkait dengan tujuan tertentu. Lingkungan menurut definisi umum yaitu segala sesuatu disekitar subyek manusia yang terkait dengan  aktifitasnya. Elemen lingkungan adalah hal-hal yang terkait dengan: tanah, udara, air, sumberdaya alam,  flora, fauna, manusia, dan hubungan antar faktor-faktor tersebut. Titik sentral isu lingkungan adalah  manusia. Jadi manajemen lingkungan bisa diartikansekumpulan aktifitas merencanakanmengorganisasikan, dan menggerakkan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan kebijakan lingkungan yang telah ditetapkan.

Berdasarkan cakupannya, terdapat pendapat yang membagi manajemen lingkungan dalam dua macam yaitu:

  1. Lingkungan internal yaitu di dalam lingkungan pabrik / lokasi fasilitas produksi. Yaitu yang termasuk didalamnya kondisi lingkungan kerja, dampak yang diterima oleh karyawan dalam lingkungan kerjanya, fasilitas kesehatan, APD, asuransi pegawai, dll;
  2. lingkungan eksternal yaitu lingkungan di luar lokasi pabrik / fasilitas produksi. Yaitu segala hal yang dapat menimbulkan dampak pada lingkungan disekitarnya, termasuk masyarakat di sekitar lokasi pabrik, dan pihak yang mewakilinya (Pemerintah, pelanggan, investor/pemilik). Aktifitas yang terkait yaitu komunikasi dan hubungan dengan masyarakat, usaha-usaha penanganan pembuangan limbah ke saluran umum, perhatian pada keseimbangan ekologis dan ekosistem di sekitar pabrik, dll.

Seiring dengan perkembangan ilmu manajemen, dikembangkanlah Total Quality Environmental Management (TQEM) yang merupakan pengembangan dari Total Quality Management. Namun dalam hal ini lebih dikhususkan untuk mulai memperhatikan dampak lingkungan dalam penjaminan ataupun pemenuhan mutu. Filosofi dan perangkat TQEM memberikan perusahaan metoda sistematis bagi perbaikan berkelanjutan dalam kinerja lingkungan. Aplikasi TQEM untuk memecahkan masalah kualitas produk dan limbah ditunjukkan dengan contoh perusahaan Flynt Fabrics, di North Carolina, seperti kasusnya dibawah ini. TQEM pertama kali dikemukakan oleh GEMI di tahun 1992 dengan peluncuran buku mengenai penggabungan prinsip TQM yang dikemukaan oleh Dr. Edward Deming, dengan tujuan manajemen lingkungan. GEMI percaya pada penerapan TQEM karena menekankan pada perbaikan terus-menerus dari aktivitas lingkungan perusahaan. (YA)

FGD & Konferensi IMSCo 2017 Hasilkan Resolusi dalam Blue Print

Unhas, immajfeuh.org – Di hari dan tempat yang sama dengan kompetisi paper (10/2), peserta mengikuti focus group discussion yang membahas tentang permasalahan-permasalahan pembangunan dan lingkungan di Indonesia saat ini. FGD dilaksanakan secara paralel, dengan pembagian 4 (empat) kasus berbeda sesuai dengan pembagian subtema, yaitu konsumsi dan produksi berkelanjutan, perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana, pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem laut, serta pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem darat.

Kasus-kasus yang diangkat dalam Indonesia Management Student Conference (IMSCo) 2017 Ikatan Mahasiswa Manajemen FEB-UH ini diantaranya problematika listrik di Indonesia, perubahan iklim, illegal fishing, dan kebakaran hutan. Peserta dipandu oleh seorang moderator dan berdiskusi selama kurang-lebih 2 (dua) jam. FGD ini menghasilkan resolusi dan rekomendasi yang akan dipaparkan pada konferensi nasional keesokan harinya.

Adapun rekomendasi yang diusulkan oleh tiap subtema diantaranya persuasi pemerintah dalam   pembuatan kebijakan mengombinasikan hybrid energy system dan pembangkit listrik tenaga uap batu bara berdasarkan tupoksi atau kebutuhan listrik dari setiap daerah, melaksanakan program peduli lingkungan dengan subsidi ekologi di setiap regional yang berbeda, adanya kebijakan pemerintah yang    bersifat restorasi  untuk mendukung pembangunan berkelanjutan (aturan transportasi pribadi, urban farming, kebakaran hutan, dan lain-lain), pengambilan kebijakan secara bottom-up, pendataan kapal-kapal yang sudah resmi, penetapan harga hasil laut yang minimum untuk menyejahterakan nelayan, pengadaan satelit untuk mendeteksi titik api, dan pembuatan kanal atau sistem penampungan air di dalam hutan.

Rekomendasi-rekomendasi tersebut dibahas secara komprehensif, dari segi efisiensi maupun efektifitas. Kemudian, dalam konferensi nasional (11/2) dilakukan penandatanganan cetak biru hasil rekomendasi oleh tiap ketua tim yang mengikuti IMSCo 2017. Cetak biru ini nantinya akan disampaikan kepada pihak-pihak pemangku kepentingan terkait, baik kepada pemerintah daerah, non-government organization maupun pihak universitas.

Ketua panitia IMSCo 2017 Achmad Fatri berharap keseluruhan kegiatan ini dapat mendorong mahasiswa dan semua stakeholders terkait untuk bersama-sama melakukan perubahan agar tujuan pembangunan berkelanjutan dapat terlaksana. (RAW)

Perguruan Tinggi se-Indonesia Ramaikan Kompetisi Paper IMSCo 2017

Peserta perwakilan Universitas Indonesia sedang mempresentasikan papernya di hadapan dewan juri, Jumat (10/2).

Unhas, immajfeuh.org – Kompetisi paper merupakan salah satu rangkaian kegiatan Indonesia Management Student Conference (IMSCo) 2017 yang dilaksanakan oleh Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH).

Kegiatan ini berlangsung sejak Desember 2016, dimulai dengan seleksi abstrak yang diikuti oleh 132 tim dari perguruan tinggi se-Indonesia. Mengangkat tema “Environmental Management sebagai Strategi Indonesia dalam Menghadapi Sustainable Development Goals (SDGs) 2030”, dan terbagi menjadi 4 (empat) subtema yaitu konsumsi dan produksi berkelanjutan, perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana, pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem laut, serta pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan ekosistem darat.

Setelah seleksi abstrak, 28 tim terpilih mengikuti tahap selanjutnya yaitu pengumpulan full paper pada 8-30 Januari 2017. 28 tim tersebut merupakan total dari 7 (tujuh) tim perwakilan 4 subtema, berasal dari beragam perguruan tinggi diantaranya Institut Pertanian Bogor, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Jember, Universitas Mulawarman, Universitas Jambi, Universitas Sumatera Utara, Universitas Bangka Belitung, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Negeri Malang, Universitas Diponegoro, Universitas Padjajaran, dan Universitas Hasanuddin.

Presentasi paper dilaksanakan pada 10 Februari 2017 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, dengan melibatkan doses-dosen Unhas dari berbagai latar belakang pendidikan dan jurusan sebagai tim penilai. Berlangsung secara paralel di 4 ruangan yang berbeda, dengan pembagian waktu 10 (sepuluh) menit presentasi dan 10 menit tanya-jawab untuk masing-masing tim.

Setelah melewati keseluruhan tahap dari seleksi abstrak hingga konferensi nasional, Ghazally Imam, Aditya Hadid Riyadi dan Retno Khoirunnisa dari IPB terpilih menjadi best team dalam kegiatan ini. Selain itu, berturut-turut sebagai best paper tiap subtema berasal dari Universitas Jember, ITS, UI, dan IPB. Sedangkan untuk kategori best speaker tiap subtema berhasil diraih oleh Fitrawan Mufly Haskari, Ayunda Fitri U.M, Aditya Hadid Riyadi, dan M. Iskandar.

Pemenang masing-masing mendapatkan hadiah berupa sertifikat penghargaan dan uang tunai sebesar Rp 3.000.000,00 kategori best paper, Rp. 2000.000,00 kategori best team, dan Rp 1.000.000,00 kategori best speaker. (RAW)

IMMAJ FEB-UH Usung Tema SDGs dalam Seminar Nasional

Penyerahan plakat kepada Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu'mang pada seminar nasional, Kamis (9/2).

Unhas, immajfeuh.org – Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH) menyelenggarakan seminar nasional pada Kamis lalu, (9/2) di Auditorium Prof. A. Amiruddin Fakultas Kedokteran Unhas.

Mengusung tema “Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030”, seminar nasional ini menghadirkan pemangku-pemangku kepentingan terkait diantaranya Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Agus Arifin Nu’mang, Ketua Dewan Penasihat Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Ugan Gandar, Senior Program Officer SDGs International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Hamong Santono, dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas Dr. Muhammad Idrus Taba. SE., M.Si.

SDGs merupakan suatu kesepakatan antar negara-negara di dunia untuk memajukan proses pembangunan berkelanjutan. Seperti yang dijelaskan oleh Hamong Santono bahwa SDGs merupakan kebijakan pembangunan yang sifatnya lebih komprehensif, karena hal ini melibatkan seluruh stakeholders dalam suatu negara, sehingga dapat lebih inklusif.

“Selain itu, SDGs juga dapat memperluas sumber pendanaan, karena melibatkan kerjasama dengan pihak swasta,” jelasnya. Di lain pihak, Ugan Gandar selaku perwakilan Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menyebutkan ketersediaan energi saat ini sangatlah terbatas, sehingga tantangan SDGs yang harus dilewati salah satunya adalah bagaimana menciptakan renewable energy untuk ketahanan energi di masa akan datang. Dari perspektif ilmu manajemen, Idrus Taba menambahkan bahwa salah satu yang mempengaruhi ketimpangan dalam kebijakan ekonomi, yaitu kekuatan kelompok bisnis dan sektor marjinal (petani, nelayan, buruh, sektor informal, dan lain-lain) yang masih berat sebelah.

Lebih spesifik, Agus Arifin Nu’mang menjelaskan kondisi Sulsel dari segi sosial, ekonomi, dan pendidikan yang saat ini dalam proses pengembangan dan pemerataan, mendorong fungsi strategis Sulsel sebagai tonggak penghubung Indonesia Timur untuk turut andil dalam mewujudkan SDGs 2030.

Seminar nasional ini berlangsung pukul 09.00-13.00 WITA dan sebanyak kurang-lebih 400 peserta hadir, terdiri dari civitas akademika Unhas, juga mahasiswa(i) dari perguruan-perguruan tinggi se-Indonesia. (RAW)

Peduli Pembangunan Berkelanjutan, IMMAJ FEB-UH Gelar Konferensi Mahasiswa Tingkat Nasional

Unhas, immajfeuh.org – Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran tentang pembangunan berkelanjutan, Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH) menggelar konferensi mahasiswa tingkat nasional, Indonesia Management Student Conference (IMSCo) 2017, dengan tema “Environmental Management  Sebagai  Strategi  Indonesia  Dalam  Mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) 2030”.

IMSCo 2017 ini terdiri dari beberapa item kegiatan yaitu kompetisi paper, seminar nasional, focus group discussion, konferensi nasional, gathering night, dan field trip, yang berlangsung pada 9-12 Februari mendatang.

Kompetisi paper diikuti oleh 132 tim dari perguruan tinggi se-Indonesia pada tahap seleksi abstrak, dan terpilih 28 tim dalam empat subtema berbeda, yang akan mempresentasikan papernya di hadapan dewan juri. Selain itu, peserta kompetisi akan mengikuti rangkaian FGD dan konferensi nasional yang membahas mengenai permasalahan-permasalahan pembangunan di Indonesia saat ini. Hasil dari pemikiran dan ide kreatif berdasarkan prinsip-prinsip manajemen ini nantinya akan disampaikan langsung kepada pihak-pihak terkait.

IMSCo 2017 juga menghadirkan pihak pemangku kepentingan dalam seminar nasional yang mengusung tema “Indonesia dalam Menghadapi Tantangan SDGs 2030”. Hadir sebagai pembicara yaitu Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Agus Arifin Nu’mang, Ketua Dewan Penasihat Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB), Ugan Gandar, Senior Program Officer SDGs International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), Hamong Santono, dan Dosen FEB Unhas, Dr. Muhammad Idrus Taba, SE., M.Si.

Di akhir rangkaian kegiatan, peserta akan mengikuti sosialisasi tentang proses dan aktivitas kerja support green production PT. Pertamina di Pertamina Terminal BBM Makassar, dilanjutkan dengan gerakan menanam bibit pohon sebagai salah satu bentuk fisik support lingkungan di Desa Binaan Pertamina Makassar.

Pemenang kompetisi IMSCo 2017 akan diumumkan pada gathering night, dengan kategori  best paper tiap subtema, best speaker tiap subtema, dan satu best team. (RAW)

Further Information :

Sandi Salere      0899-1595-577

Risky Ameliya  0818-0648-4546

Website           : imsco.weebly.com

Email               : official.imsco@gmail.com

JapaneseMent (Sebuah Persepsi Manajemen Ala Japan)

Oleh : Irawati (A211 13 016) Finance Management Student, Faculty of Economics And Business

Jepang adalah negara dengan perekonomian terbesar ke-3 di dunia setelah AS dan Republik Rakyat Tiongkok dalam keseimbangan dan kemampuan berbelanja. Adapun industri utama yang menjadi andalan Jepang adalah sektor perbankan, asuransi, bisnis eceran, transportasi, telekomunikasi dan kontruksi. Selain  itu, Jepang memiliki industri yang berteknologi tinggi dibidang otomotif, elektronik, mesin perkakas, baja dan logam non besi, perkapalan, industri kimia, textil dan pengelolaan makanan lainnya. Jepang merupakan salah satu negara penganut sistem ekonomi Laissez Faire. Namun, setelah Shinzo Abe menjabat kembali pada Desember 2012 yang merupakan kali keduanya menjabat sebagai perdana menteri, Shinzo Abe mengeluarkan kebijakan untuk memberikan kelonggaran kepada kebijakan moneter, kebijakan fiskal dan restrukturasi. Kebijakan tersebut sering di sebut AbeNomics. Jepang sebagai negara maju yang berfokus pada sektor industri dan jasa, memiliki relasi yang erat dengan Amerika Serikat, sehingga jika perekonomian USA goyah maka kestabilan perekonomian Jepang juga ikut terganggu. Karena Jepang merupakan negara yang amat sangat menjaga hubungan baik dengan negara-negara yang bisa berpotensi untuk negara dan bangsanya. Dibalik kebehasilan Jepang untuk menjadi negara yang sustainable baik dari segi pertumbuhan ataupun pembangunan bukan terjadi begitu saja. Namun, dipengaruhi oleh banyak faktor mulai dari culture, policy, hingga behavioral masyarakat Jepang.

Culture management

Budaya adalah sistem (dari pola-pola tingkah laku yang ditunjukkan secara sosial) yang bekerja menghubungkan komunitas manusia dengan lingkungan ekologi mereka. Jika budaya dipandang sebagai sistem tingkah laku yang khas dari suatu penduduk, satu penyumbang dan penyelaras kondisi-kondisi badaniah manusia. Budaya adalah cara yang bentuk-bentuknya tidak langsung berada dibawah kontrol genetic yang bekerja untuk menyesuaikan individu-individu dan kelompok dalam komuniti ekologi mereka. (Binford 11. Hlm 323)

Konsep budaya turun jadi pola tingkah laku yang terikat kepada kelompok-kelompok tertentu yang menjadi customsadat istiadat” atau way of lifecara kehidupan” manusia (Harris 41, hlm. 16).

Berbicara mengenai konsep Japanese Culture yang digunakan sebagai cara hidup masyarakat Jepang bisa terlihat sangat dipegang teguh oleh masyarakat Jepang. Berbeda dengan Indonesia yang saat ini kebudayaan sudah mulai tergerus, Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya karena terdiri dari banyak suku. Namun, hari ini bisa terlihat bagaimana Indonesia society sudah mulai meninggalkan kebudayaan. Kebudayaan Jepang yang menjadi hal mendasar dalam kesuksesan, kami melihat begitu masyarakat Jepang memegang teguh budaya, seperti budaya antri, budaya menghargai orang yang lebih tua, budaya pendidikan, budaya saling menghargai, dan budaya menghargai waktu. Jepang sangat tertib dalam segala hal sehingga bisa memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap perilaku masyarakat. Menurut Samuel P. Hubtingtong, budaya adalah kesatuan entitas sebagai suatu kelompok yang mempunyai kesamaan unsur agama, bahasa, sejarah, cara pandang, kebiasaan dan sistem.

Culture Management merupakan istilah yang saya gunakan untuk mengambarkan bagaimana Jepang mengelola budaya untuk terus cocok untuk semua kondisi, sehingga apabila zaman terus berkembang sehingga budaya tetap mampu di pertahankan. Dalam teori management operational terdapat teori perbaikan mutu yang disebut KAIZEN

5S dan KAIZEN

Perusahaan Jepang menanamkan nilai serta paradigma umum. Budaya perusahaan Jepang dikatakan sebagai suatu generalisasi dari eksistensi dan nilai sebagai perusahaan Jepang, dengan menambahkan pola hidup masyarakat Jepang, filosofi, etika, sudut pandang bisnis kedalam pondasi dasar budaya Jepang. Seiring dengan perubahan kondisi sosial dan iklim bisnis, pergeseran nilai ditambah dengan perkembangan era globalisasi, maka perusahaan Jepang dan budaya perusahaan itu sendiri terus mengalami perubahan. Menurut teori budaya organisasi, dalam pengelolaan perusahaan, budaya organiasasi memiliki peran yang sangat penting. Manajemen perusahaan sangat di pengaruhi oleh budaya. Beberapa perusahaan Jepang sangat memegang teguh konsep yang disebut 5S dan kaizen. Selain di perusahaan konsep 5S juga menjadi pegangan masyarakat Jepang.

Secara harfiah kaizen berasal dari kata Kai dan Zen yang memiliki arti perubahan dan kebaikan. Jadi menurut Maasaki Keizen adalah perbaikan yang berkesinambungan. Konsep Kaizen sangat penting untuk menjelaskan perbedaan antara pandangan Jepang dan pandangan barat terhadap manajemen. Perbedaan yang paling penting adalah kaizen Jepang yang berorientasi pada proses.

Sedangkan barat berorientasi tentang pembaharuan yang berorientasi pada hasil (Maasaki Imai, 1992). Jepang merupakan suatu negara yang sangat memperhatikan proses dalam melakukan segala sesuatu. Baik itu kegiatan produksi maupun konsumsi, kegiatan individu maupun sosial. Kunjungan yang saya lakukan pada  bulan November kesalah satu perusahaan produksi mobil dijepang dengan slogan from Hiroshima to the World, yakni Mazda corp.

Mazda merupakan salah satu perusahaan yang menerapkan model kaizen. Study visit yang kami lakukan ke Mazda memberikan banyak pembelajaran mengenai kualitas produk yang dihasilkan dari proses yang berkualitas, Mazda adalah salah satu perusahaan yang berproduksi alat transportasi mobil terbesar di Jepang. Kunjungan itu memberikan pembelajaran yang sangat berharga mengenai manajemen operasional. Dimana pada proses produksi yang menjadikan kualitas proses sebagai landsan utama dalam produksi.

Selain  kualitas dari produk Mazda yang didukung dengan konsep kaizen, Mazda juga memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang ramah lingkungan dengan memproduksi mobil ramah lingkungan yakni mobil hidro. Proses produksi dari Mazda yang berorientsi pada proses menjalankan manajemen operasional dengan sangat baik, terlihat dari sistem pengendalian manajemen, time management, dan pengendalian manajemen dalam melakukan proses produksi. Selain  itu posisi sentral produksi Mazda terletak pada posisi yang strategis dikarenakan strategi tempat yang digunakan dekat dengan pelabuhan sehingga sangat memudahkan dalam mengangkut barang hasil produksi ataupun bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi. Sehingga, strategi ini dapat meminimalisir biaya untuk menghasilkan kualitas yang bagus.

Filsafat Kaizen menganggap bahwa cara hidup kita- baik cara kerja, kehidupan sosial, dan kehidupan rumahtangga, perlu disempurnakan setiap saat. Setiap kegiatan selalu dicoba untuk dibuat lebih baik lagi, diproses menuju kesempurnaan. Salah satu implementasi Kaizen yaitu penerapan 5S. Five S merupakan singkatan dari 5 istilah dalam baahsa Jepang yang diawali dengan hurup S yakni : Seiri (整理), Seiton (整頓), Seiso ( 清掃 ), Seiketsu (清潔),Shitsuke (仕付)

Konsep Seiri (整理),

Dalam konsep manajemen perusahaan, konsep seiri yaitu disiplin di tempat kerja dengan cara melakukan pemisahan berbagai alat dan komponen ditempat masing-masing. Sehingga untuk mencarinya nanti bila diperlukan akan lebih mudah. Dari arti kata seiri atrtinya ringkas. Kerena Jepang merupakan negara yang sangat menghargai waktu maka segala sesuatu harus dilakukan secara efektif dan efisien. Sehingga, konsep seiri sangat berpengaruh di negara ini. Konsep seiri ini bukan hanya diterapkan pada proses produksi tapi segala aspek kehidupan sosial ekonomi di Jepang.

Konsep Seiton (整頓)

Konsep yang berfokus pada pengelolaan dan penyusunan barang dengan rapi agar mempermudah penggunaannya. Secara harfiah seiton berarti menyusun benda dengan cara menarik dan rapi. Selain dalam konsep manajemen perusahaan, konsep seiton juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari pada saat masyarakat Jepang melakukan proses sosial. Sebagai contoh pada transportasi publik, selama disana kami tidak pernah menemukan masyarakat jepang berlomba masuk kedalam kereta api, atau dalam hal ini masyarakat jepang selalu membudayakan perilaku antri dimanapun dia berada. Menurut penulis, ini merupakan turunan dari konsep seiton. Selain perilaku masyarakat Jepang yang tertib dan teratur, konsep seiton juga diterapkan pada tata letak kota yang begitu tertata rapi, rumah penduduk yang tertata rapi, gedung-gedung yang tertata rapi, sangat indah dilihat. Dari situ bisa dilihat betapa konsistennya masyarakat Jepang. Jika dibandingkan dengan Indonesia, tata letak kota di Indonesia masih jauh dari  keteraturan, masih banyak pemukiman masyarakat yang tidak pada tempatnya contoh di pinggiran laut, diatas kanal dan masih banyak lagi ketidakteraturan lainnya. Selain dari tata letak kota, perilaku masyarakat Indonesia juga masih sembraut, sebagai contoh kongkrit besarnya tingkat kemacetan di Indonesia salah satu penyebabnya adalah tidak tertibnya masyarakat Indonesia dalam menggunakan jalan.

Konsep Seiso ( 清掃 ),

Konsep seiso ini berfokus pada kebersihan, masyarakat Jepang sangat mengiinternalisasikan konsep seiso kedalam setiap diri masing-masing sehingga jika kita berjalan di area publik rasanya sangat malu jika harus membuang sampah sembarangan. Seiso setara dengan aktifitas pembersihan berskala besar yang dilakukan setiap tahun di setiap rumah tangga Jepang. Selama beberapa minggu di Jepang tak sedikit pun penulis melihat fenomena yang hampir sama dengan Indonesia. Saya tidak pernah melihat tumpukan sampah sedikit pun. Konsep pemisahan sampah basa, plastik, botol dan sampah kering sangat efektif dikarenakan konsistensi dan aturan yang sangat ketat. Konsep pemisahan sampah daur ulang dan sampah non-daur ulang  juga sudah diterapkan di Indonesia namun belum ada aturan yang mengikat sehingga masyarakat Indonesia masih belum bisa konsisten dalam penerapannya.

Konsep Seiketsu (清潔),

Seiketsu yaitu usaha yang terus-menerus untuk mempertahankan 3S tersebut diatas yakni Seiri, Seiton dan Seiso. Pada prinsipnya konsep ini selalu berusaha agar lingkungan tetap terpelihara sehingga menciptakan kenyamanan baik public space ataupun private space.

Konsep Shitsuke (仕付),

Konsep ini digunakan untuk memotivasi masyarakat atau secara khusus memotivasi pekerja agar terus-menerus melakukan dan ikut serta dalam kegiatan perawatan dan akitivitas perbaikan serta membuat pekerja terbiasa menatati aturan (rajin).

Kelima konsep diatas merupakan bagian dari konsep Keizen (perbaikan berkelanjutan) namun, lebih fokus pada sikap atau perilaku (behavioral) masyarakat Jepang. Karena Jepang mampu menguasi dunia hingga pernah suatu kondisi hampir setara dengan negara adidaya karena masyarakat Jepang memegang teguh budaya, dan perbaikan perilaku masyarakat.

Konsumerisme dan Produksivisme

Produksivisme adalah suatu paham yang menjadikan seseorang memiliki semangat produksi yang tinggi. Proses produksi yang menjadi penghasilan terbesar dari semua segara maju. Setelah revolusi industri terjadi negara-negara yang hari ini disebut sebgaai negara maju berfokus kepada peningkatan total produksi di negara tersebut. Jepang merupakan salah satu negara maju dari 40 total negara maju di  dunia. Jepang merupakan salah satu negara yang bisa menjadi referensi untuk melakukan proses produksi, karena selain Jepang ingin menguasai pangsa pasar dengan meningkatkan kuantitas produksi,  juga tetap memperhatikan kualitas dari produk-produk yang dihasilkan seperti yangpenulis jelaskan sebelumya, dimana Jepang tetap menggunakan konsep keizen dalam melakukan proses produksi.

Produk yang dihasilkan Jepang saat ini bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal melainkan dengan tujuan untuk meningkatkan ekspor sehingga perekonomian Jepang dapat unggul. Namun, selain didukung oleh kualitas sumberdaya manusia yang berkompeten, teknologi yang memadai, proses produksi itu juga didukung oleh perilaku masyarakat Jepang yang cenderung sederhana. Atau dalam hal ini perilaku konsumen Jepang bisa dikategorikan sederhana dan menghindari yang namanya konsumerisme.

Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang secara berlebihan. Perilaku konsumsi seperti ini cenderung terdapat pada negara berkembang. Karena pemasukan terbesar dari negara berkembang adalah dari jumlah pengeluaran atau konsumsi. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perilaku konsumtif, sehingga menjadi ladang subur untuk produsen-produsen baik dalam negeri maupun luar negeri. Jepang merupakan salah satu negara yang menjadikan Indonesia sebagai objek atau ladang subur untuk meningkatkan negaranya. Karena Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa baik dari sumberdaya alam, jumlah sumber daya manusia yang melimpah dan letak yang strategis.

Perilaku konsumsi di Jepang dapat dilihat dari penggunaan fasilitas publik yang lebih dominan, sebagai contoh penggunaan transportasi publik itu menandakan penggunaan transportasi privasi sangat kurang. Karena penggunaan kendaraan pribadi di Jepang kurang, maka ini menjadi salah satu kunci ketertiban jalan dan dapat menghindari macet lalu lintas. Terdapat beberapa jenis transportasi umum yang marak digunakan di Jepang yakni kereta api, Bus, taksi, sinkansen dan trap. Negara yang memiliki perilaku konsumen yang bagus akan menghindari konsumerisme, dan mengutamakan kerja untuk produksi.

The Atomic Bombings Management

Hiroshima merupakan salah satu tempat yang menarik untuk menjadi destinasi para tuis. Tempat ini menjadi salah satu tempat bersejarah dunia dimana peristiwa pengeboman terjadi tepatnya pada perang dunia ke II. Serangan Bom itu bersamaan di dua kota besar di Jepang yakni Hiroshima dan Nagasaki, pengeboman ini dilakukan oleh Amerika Serikat atas perintah presiden USA Harry S. Truman. Tepatnya pada tanggal 16 Agustus 1945, sehari sebelum hari bersejarah Republik Indonesia. Dimana momentum pengeboman ini menjadi momentum yang dimanfaatkan RI untuk memproklamirkan kemerdekaan RI. Peristiwa ini membuat Jepang khususya Hiroshima berduka dan hancur lebur, yang merenggut korban sekitar 140.000 juta jiwa.

Manajemen yang digunakan oleh Jepang untuk mengembangkan kembali Jepang dari keterpurukan akibat bom Hiroshima dan Nagasaki sangat efektif dan efisen. Tanpa menunggu waktu yang begitu lama, Jepang bisa kembali menunjukan taringnya. Setelah mengalami kekalahan dalam perang dunia II , 5 tahun kemudian Jepang membuka lembaran baru. Tepatnya tahun 1950, Jepang mengalami pertumbukan ekonomi yang pesat, dan menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua didunia. Dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 10% per tahun selama empat dekade. Salah satu perusahaan yang berperang penting pada pertumbuhan ekonomi Jepang adalah munculnya Mazda Corp. dengan tagline “Hiroshima For the World”. Sejarah ini di abadikan dalam monument Atomic Bombings yang menjadi saksi sejarah peristiwa 16 agustus 1945.

Salah satu value added yang membedakan Jepang dengan negara lain adalah kedisiplinan masyarakat dalam menggunakan waktu, kehandalan Jepang dalam mengelola waktu dibuktikan dengan ontimenya semua yang dijadikan sebuah prediksi. Sehingga, menurut penulis, manajemen ala Jepang patut menjadi percontohan untuk diimplementasikan khususnya di Indonesia.

Incoming search terms:

  • faktor kota nagasaki dan hiroshima menjadi kota andalan jepang

Customer Perpetuation as Main Variable for Corporate Strategy in Banking Industry

Oleh :Dian Anggraece Sigit Parawansa

Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia namun total pasar bank syariah hanya sekitar 5%. Hal ini berbeda jauh dengan perkembangan pangsa pasar bank syariah di negara-negara muslim bahkan di negara Eropa seperti di Inggris. Mengapa demikian?

Customer relationship marketing atau konsep pemasaran relasional merupakan suatu cara pemasaran yang menjaga pelanggan agar tetap loyal pada perusahaan. Hal ini dianggap sebagai cara yang jauh lebih murah dari pada menarik pelanggan baru. Pelanggan yang loyal merupakan aset yang sangat berharga bagi perusahaan sebab pelanggan yang loyal selau memberikan citra yang baik bagi perusahaan dengan promosi lewat mulut ke mulut (berdasarkan pengalaman).

Pelanggan yang loyal tercipta jika pelanggan tersebut puas akan produk atau jasa yang diberikan, produk dan jasa ini harus memiliki kualitas yang baik sehingga terjadi trust (kepercayaan) yang menghasilkan kepuasan pelanggan yang kemudian menciptakan pelanggan yang loyal. Pelanggan loyal akan datang untuk menikmati ulang barang dan jasa yang ditawarkan sekaligus dapat menambah jumlah pelanggan baru. Kualitas layanan diukur dengan menggunakan lima dimensi yang mana dimensi itu dibagi menjadi dua (2) yaitu dimensi terlihat (fisik, peralatan, fasilitas kantor, peralatan komunikasi) dan dimensi tidak terlihat (keandalan, respon, empati, dan jaminan).

Keandalan merujuk pada kinerja yang dapat dijanjikan dan dapat dipercaya. Respon merujuk pada kecepatan pelayanan dan penyediaan barang yang sesuai dengan keinginan konsumen empati merujuk pada cara memahami apa yang diinginkan pelanggan jaminan yang merujuk pada semua terjamin mulai dari produk, maupun para pekerjanya. Berdasarkan kajian teori ini maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
– Pelanggan yang loyal syariah merupakan hasil dari kualitas pelayanan bank kepada pelanggannya. Perusahaan maupun bank syariah dapat menggunakan kepercayaan (trust) dan kepuasan untuk menghasilkan pelanggan yang loyal.
– Bank Islam atau bank syariah harus selalu memperbaiki kualitas pelayanan dan member perhatian pada kontak personal dan lperhatian lebih pada aspek emosional pelanggan. Kualitas layanan yang lebih baik akan menghasilkan kepercayaan pelanggan, kepuasan, dan komitmen untuk menggunakan bank syariah dan membuat pelanggan lebih loyal kepada bank syariah. (YA/RAW)

IMMAJ FEB-UH Goes to Indonesia Stock Exchange (IDX) Makassar

Peserta Goes To IDX Makassar berfoto bersama dengan pihak IDX Makassar dan MNC Securities (24/11)

Peserta Goes To IDX Makassar berfoto bersama dengan pihak IDX Makassar dan MNC Securities (24/11)

Unhas, immajfeuh.org – Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH) mengadakan Study Visit ke Bursa Efek Indonesia cabang Makassar yang bertempat di Jalan Dr. Sam Ratulangi No. 124 Makassar, Kamis lalu (24/11). Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja Departemen Management Development yang bertujuan untuk memperluas pengetahuan dan pemahaman terhadap ilmu yang telah didapatkan di bangku perkuliahan sehingga menjadi sarana untuk melihat implementasi dari teori ekonomi, khususnya disiplin ilmu manajemen.

Berlangsung selama kurang lebih tiga setengah jam, mulai pukul 10:00 hingga 13:30 WITA dan terbagi atas dua sesi acara. Sesi pertama dibawakan oleh Achmad Irfan Ibrahim selaku Supervisor Representative Office Makassar, menjelaskan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia secara komprehensif termasuk tentang bagaimana pasar modal di Indonesia. Kemudian Yoko Musajaya selaku Marketing Officer MNC Securities Makassar menjelaskan tentang bagaimana proses transaksi pasar modal dalam MNC Securities. Total peserta yang hadir sebanyak 22 orang.

Bursa Efek Indonesia merupakan perusahaan swasta nirlaba yang diawasi langsung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan jumlah pegawai 350 orang tersebar di seluruh Indonesia. Selain Bursa Efek Indonesia terdapat dua lembaga yang menentukan arah perkembangan pasar modal di Indonesia yaitu KPEI (Kliring Penjamin Efek Indonesia) dan KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Dimana, KPEI bertugas sebagai lembaga penjamin dana efek Indonesias sedangkan KSEI sebagai gudang pasar modal ataupun saham dalam elektronik maupun cetak.

Salah satu perusahaan yang terdaftar memiliki efek di Bursa Efek Indonesia adalah MNC Securities. MNC Securities secara formal merupakan pemegang saham mayoritas perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa keuangan MNC Capital dari anak perusahaan MNC Corporation. Yoko Musajaya memberikan simulasi bagaimana bertransaksi di pasar modal melalui layanan online trading dengan nama MNC Trade yang dapat diunduh melalui PlayStore dan AppStore. Saat penjelasan sesi dua ini terlihat antusias dari peserta untuk bertransaksi di pasar modal.

Sebagai penutupun dalam kegiatan Study Visit, Chief Executive Officer IMMAJ FEB-UH Irawati Ismail dan Chief Marketing Officer IMMAJ FEB-UH Ahmad Ali Abubakar menyerahkan plakat kepada pihak IDX Makassar yang diwakili oleh Ahmad Irfan Ibrahim dan Yoko Musajaya selaku perwakilan MNC Securities. (YA/RAW)