IMMAJ FEB UNHAS Gelar Bedah Pemikiran Tokoh

Unhas, immajfeuh.org – Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH UNHAS) menyelenggarakan Diskusi Terbuka terkait Bedah Pemikiran Tokoh “Paulo Freire: Pendidikan Pembebasan, dari Brazil untuk Dunia”, pada Senin, 19 September 2016 di Lapangan FEB-UH. Kegiatan ini diikuti oleh Keluarga Mahasiswa FEB-UH dan hadir Kanda Syamsuddin Muh. Bahar sebagai fasilitator.

Dalam diskusi yang berlangsung selama kurang lebih 90 menit tersebut, disebutkn bahwa pemikiran Paulo Freire berawal dari adanya keprihatinan terhadap berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan sehingga kondisi inilah yang membawa Freire untuk membela kaum tertindas lewat program pendidikan melek huruf. Freire menegaskan bahwa tindakan pertama yang dilakukan oleh pendidikan agar tidak terjadi penindasan, ketidakadilan dan kesejahteraan secara umum, adalah menyadarkan para peserta didiknya agar memahami kenyataan sebagai satu kesatuan yang utuh (memahami hakikat dirinya dan realitas dunianya). Salah satu metode yang ditawarkan oleh Paulo Freire adalah metode “Pendidikan hadap Masalah”, dimana pendidikan seharusnya bisa membangun kesadaran peserta didik.
Berikut ini rangkuman hasil tanya jawab dalam bedah pemikiran tokoh tersebut.

Tanya : Dimana letak kesalahan pembelajaran dengan metode bank (subjek objek)? Padahal masih begitu banyaknya yang menggunakan metode tersebut ?
Jawab : Masih terjadi ketidaksesuaian antara metode yang digagas oleh Paulo Freire dengan kenyataan yang ada. Dimana pemberin materi dan penerima materi masih terkesan satu arah. Sedangkan yang digagas oleh Freire sendiri adalah pendidikan kritis.

Tanya : Bagaimana sebenarnya paradigma kritis itu ? apakah sebatas menanamkan paham kepada mahasiswa/siswa bahwa orang yang kritis adalah orang yang tidak langsung menerima informasi, melainkan yang mempertanyakan lagi hal – hal tertentu
Jawab : Jangan kita terlalu sempit memaknai metode “kritis” itu sendiri bahwa orang yang kritis adalah orang yang selalu mempertanyakan sutau hal tertentu. Tetapi kritis itu kesadaran yang terbagi menjadi tiga, yaitu kesadaran magis, kemudian kesadaran naïf dan ketiga yaitu kesadaran tertinggi dalam arkeologi yang dimiliki manusia menurut Paulo Freire adalah kesadaran kritis.

Tanya : Sebenarnya metode pendidikan kritis sudah diterapkan melalui system SCL (Student center Learning), tapi pada kenyataannya belum sepenuhnya terealisasi. Bagaimana dengan hal tersebut ?
Jawab : Freire menegaskan bahwa pendidikan kritis bukan hanya tindakan mengalihkan
informasi (pengetahuan) dari guru pada siswa, akan tetapi berisi tentang tindakan pemberian pemahaman (makna)pada peserta didik mengenai informasi yang disampaikan. Pendidikan hadap masalah atau pendidikan kritis ini oleh Paulo Freire memang ditujukan untuk kaum tertindas tetapi tidak menempatkan kaum tertindas sebagai kaum yang berhadapan secara besebrangan dengan orang – orang yang menindas. Hal lain yang menjadi penghambat terealisasinya pendidikan kritis adalah ketika orang yang berkomunikasi, misalnya dalam proses diskusi, dimana lawan bicara tidak memahami betul topic yang sedang dibicarakan. Dan dalam proses pengkaderan di fakultas pun masih terjadi hal seperti itu.

Tanya : Sejauh ini sudah banyak diskusi mengenai metode pendidikan yang masih belum sesuai. Apa solusi untuk hal ini ? bagaimana sebenarnya pendidikan yang kritis itu ?
Jawab : Memang betul bahwa sudah banyak forum diskusi mengenai metode pendidikan. Yang seharusnya dan yang diharapkan adalah terealisasinya metode pendidikan kritis seperi yang di sampaikan oleh tokoh Paulo Freire. Namun pada kenyataannya, pola subjek objek dimana siswa dianggap sebagai bejana – bejana kosong yang akan diisi oleh guru. Sejauh ini, belum ada solusi konkrit untuk hal ini, namun bisa kita lihat salah satu contoh disebuah sekolah yang terletak di provinsi Jawa Barat. Dimana tidak menggunakan system seperti pada umumnya yang mengikuti kurikulum yang disepakati. Melainkan membahas hal tertentu dari berbagai sudut pandang. Dengan harapan bahwa siswa akan semakin kritis dalam memaknai berbagai persoalan.

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • StumbleUpon
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Yahoo! Buzz
  • Twitter
  • Google Bookmarks
Posted in Info Terkini (IMMAJ), Pojok Diskusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *