Pengaruh Penerapan Good Governance dan Pengendalian Internal terhadap Kinerja Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah di Kota Makassar

Oleh : KARLINA GHAZALAH RAHMAN., SE

Menurut United Nation Development Program Good Governance adalah suatu tata kelolah pemerintahan yang baik. Indikator Good Governance sendiri secara umum ada 9 yaitu transparansi, responsive, akuntabilitas, efektifitas dan efesiensi, partisipasi, ekuity, concensus orientation, strategic vision dan rule of law. Namun sebenarnya kebanyakan pemerintaahan hanya menggunakan transparansi dan akuntabilitas.
– Transparansi yaitu bagaimana suatu anggaran itu bisa dilihat oleh masyarakat, misalnya transparansi anggaran. Dia secara terbuka dapat dilihat dan diketahui oleh masyarakat.
– Responsive artinya cepat tanggap terhadap permasalahan terkait dengan laporan anggaran atau permasalahan pemerintahan.
– Akuntanbilitas sejauh mana pengelolaan pemerintahan terutama pengelolaan keuangan itu sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku.
– Efektifitas dan efisiensi. Efektifitas berhubungan dengan pengelolaan biaya sedangkan efisiensi berhubungan dengan tujuannya.
– Partisipasi sejauh mana masyarakat dengan SKPD ( Satuan Kerja Pimpinan Daerah) bisa bersinergi didalam pembuatan anggaran.
– Equity dan Consensus berorientasi terahadap masyarakat, jadi setiap penganggaran harus sesuai dengan apa yang terjadi di masyarakat.
– Strategic vision bagaimana suatu anggaran mampu memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan.
– Rule of law terkait dimana pengelolaan anggaran harus sesuai dengan aturan yang berlaku.

Good Governance ini merupakan indikator X1 dari penelitian diatas, sedangkan pengendalian internal merupakan X2. Pengendalian internal merupakan suatu bentuk konsep yang berguna mengukur sejauh mana perusahaan telah melaksanakan tujuan dari kegiatannya dengan baik. Penendalian internal ada 5 yaitu lingkungan pengendalian, penilaian risiko, informasi dan komunikasi, kegiatan pembelajaran, dan pemantauan.
1. Lingkungan pengendalian terkait sejauh mana pimpinan instansi bisa menjaga kondisi SKPD sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai mulai dari karyawan, pelaksanaan tugas.
2. Penilaian risiko dimana mengijinkan kepada pimpinan instansi untuk menganalisis risiko yang
ada pada SKPD.
3. Informasi dan komunikasi. Berkaitan dengan sejauh mana informasi antara supervisor dan bagian bawahan lancar baik itu informasi yang terkait dengan masyarakat dan apa yang terjadi diperusahaan.
4. Pengendalian. Kegiatan pengendalian ini bukan hanya instansi saja atau pimpinan yang menjalankan guna untuk mencapai tujuan.
5. Pemantauan. Dilakukan oleh semua pihak Cuma lebih meniti beratkan kepada pimpinan instansi karena dia yang membuat kebijakan.

Ada 54 SKPD yang tersebar di Makassar dan 15 dari SKPD tersebut dianggap memiliki banyak masalah seperti kurangnya pemahaman terkait tata cara penyusunan anggaran yang baik dan benar. karena yang membuat anggaran itu bukan dari pihak akuntansi tapi kebanyakan mereka berasal dari jurusan lain seperti sastra atau teknik, adapun tindakan yang dilakukan oleeh pemerintah untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan cara melakukan tudang sipulung untuk semua SKPD dan juga melakukan training, namun itu dianggap masih kurang efektif. Permasalahan kedua yaitu ternyata di 15 SKPD ini memiliki anggaran tinggi namun realisasinya rendah, hal ini dikarenakan banyaknya pegawai yang kurang cekatan dalam mengelola anggaran tersebut juga banyaknya karyawan yang ternyata tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, banyak karyawan yang berkeluyuran meski masih dalam waktu jam kerja.

Penerapan Good Governance dan pengendalian secara umum berpengaruh positif terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah kota Makassar. Kinerja pengelolaan keuangan memiliki wilayah kerja yang cukup luas dan teliti sehingga perlu adanya Good Governance untuk melihat sejauh mana pengelolaan keuangan sesuai dengan tata kelola yang seharusnya dan adanya pengendalian internal untuk melihat sejauh mana tujuan dari SKPD dapat tercapai dan sesuai dengan SOP yang tetap sasaran.

Kenaikan Harga Rokok : Untuk Kemanusiaan atau Agenda Penghancuran Komoditi Tembakau Indonesia

Oleh : Nands Nugraha

Menyoal tentang rokok, ada hal penting yang harus dipahami terlebih dahulu terkait pemaknaan kita tentang rokok, pembagiannya secara sederhana bisa kita kategorikan sebagai kretek dan non-kretek atau lebih dikenal sebagai rokok putih. Rokok kretek adalah rokok yang menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkeh dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek. Dari cengkeh yang tersulut oleh bara api, sedangkan rokok putih adalah jenis rokok yang diartikan sebagai rokok tanpa campuran cengkeh seperti pada rokok kretek. Jadi jelas bisa kita ketahui bahwa kretek bukan sekedar rokok biasa. Kretek sudah menjadi begitu melekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia pada umumnya ditambah dengan kolaborasi tembakau sebagai bahan utamanya dengan salah satu unsur rempah indigenous nusantara yang dahulu sempat nilainya setara dengan emas.

Perkembangan kretek di Indonesia sudah dimulai sejak berabad-abad lalu ketika tembakau pertama kali ditanam di Indonesia pada abad ke XVII, dibawa oleh bangsa portugis untuk ditanam di Indonesia dan kemudian ditanam secara besar-besaran di Jawa, Sumatera, Bali dan Lombok oleh Belanda. Kebiasaan merokok diperkirakan diperkenalkan oleh armada laut Belanda yang mendarat di Banten kemudian mendirikan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) dan mulai diikuti oleh pribumi pada waktu itu, tembakau agaknya memang tengah menjadi objek yang menarik perhatian dunia. Pada dua dasawarsa awal abad XVII ini, di Eropa dan Asia beredar sejumlah tulisan maupun opini yang mengungkapkan manfaat tanaman tembakau bagi kesehatan, seperti yang terjadi tahun 1605 di Jepang, di mana tembakau digunakan untuk kepentingan pengobatan. Belanda mulai mencium tembakau sebagai komoditas perdagangan yang menjanjikan pada akhir abad XVI. Pembudidayaan tembakau di Nusantara oleh Belanda dapat diasumsikan sebagai upaya mereka untuk turut ‘mengambil potongan kue’ dalam ingar-bingar pasar tembakau dunia waktu itu.

Perkembanagan tembakau menjadi lebih pesat lagi ketika Belanda yang mengalami defisit keuangan akibat Perlawanan Pangeran Diponegoro di Jawa Tengah sampai Jawa Timur, dan Perang Paderi di Sumatera Barat menguras kas pemerintah habis-habisan Untuk menutup kerugian, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru, Johannes van den Bosch lantas memperkenalkan kebijakan pertanahan cultuurstelsel, yang kemudian menyebabkan penanaman tembakau yang lebih masif lagi.

Perkembangan kretek sendiri di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kisah Roro Mendut melalui Erotisme Roro Mendut ketika berjualan rokok lintingannya, dengan lem dari jilatan lidahnya, pada masa itu rokokk dibungkus menggunakan kulit luar jagung yang dikeringkan dan seiring berkembangnya zaman saat ini berganti menjadi kertas khusus yang digunakan. Pada masa awal kebiasaan mengkonsumsi tembakau atau merokok yang perkenalkan oleh Belanda dan kemudian diikuti di lingkungan kerajaan hingga akhirnya menjadi budaya masyarakat kebanyakan yang mengakar kuat pada abad ke XIX.

Kini berdasarkan data dari berbagai sumber jumlah perokok di Indonesia yang berjumlah sekitar 90.000.000 jiwa dari kurang lebih 255.000.000 jiwa penduduk Indonesia atau sekitar 35% dari total penduduk Indonesia yang menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga tertinggi di dunia setelah cina dan India. Dengan persentase sekitar 66% pria diatas 15 tahun yang merokok. Dengan prevelansi peningkatan perokok tiap tahunnya juga yang terus meningkat. Dengan peningkatan 3 kali lipat untuk perokok usia dini Karena ini pula Indonesia disebut sebagai Baby Smoker Country.

Berdasarkan paparan data diatas bukan berarti pemerintah tidak melakukan upaya-upaya pencegahan, seperti yang umumnya kita lihat semisal dengan pencantuman peringatan-peringatan tentang bahaya merokok di bungkus rokok seperti merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung dan seterusya, bahkan tulisan seperti itupun kini sudah diubah dengan menunjukkan gambar-gambar mengerikan yang katanya akibat dari rokok serta tulisan yang lebih frontal “merokok membunuhmu”. Walaupun dengan upaya tersebut juga tidak dapt membendung hasrat orang untuk terus mengkonsumsi rokok.

Bukan hanya upaya-upaya seperti diatas yang telah dilakukan pemerintah tetapi masih banyak kebijakan lain yang dilakukan mulai dari sosialisasi langsung bahaya merokok penetapan area bebas asap rokok dan lain sebagainya upaya-upaya yang dilakukan pemerintah. Sampai pada penetapan cukai dari produk hasil tembakau.

Cukai merupakan pungutan Negara yang dikenakan terhadap barang-barang tertentu yang mempunyi sifat atau karakteriistik yag ditetapkan dalam undang-undang no. 39 tahun 2007, dengan ketentuan barang yang terkena kebijakan cukai yaitu barang yang mempunyau sifat atau karakter yang pertama, konsumsinya perlu dkendalikan, kedua peredarannya perlu diawasi, kemudia pemakaiannya dapat menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat atau lingkungan hidup atau pemakaiannya perlu pembebanan pungutan Negara demi keadilan dan keseimbangan.

Hasil kebijakan terakhir, tarif cukai hasil tembakau 2016 diterbitkan setelah penetapan target penerimaan APBN 2016 dari sektor cukai HT ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan DPR RI sebesar Rp 139,82 triliun. Kebijakan tarif cukai HT mempertimbangkan berbagai aspek antara lain kesehatan, tenaga kerja, dan penerimaan negara. Akhir-akhir ini isu kenaikan tarif cukai hasil tembakau kembali beredar luas dan viral yang disebabkan oleh hasil riset dari salah seorang dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia Prof Hasbullah Thabrany yang menyebutkan 72,3 persen perokok sepakat harga rokok Rp 50 ribu per bungkus atau lebih akan membuat perokok berhenti merokok.

Terlepas dari data dan hasil riset yang ada mari kita kembali menelisik dan membuka lembaran-lembaran sejarah.berawal dari bagaimana luar biasanya minyak kelapa mandar yang pada tahun 1998 nilai produksi industri minyak Mandar mencapai Rp.4.96 milyar. Pengembangan industri ini semakin berjaya setelah didirikannya Koperasi Usaha Bersama (KUB) sebagai pengoordiinir pemasaran. Seperti halnya KUB Melati yang berada di Majene yang telah berhasil memasarkan merek Mayang Kelapa, yang berhasil menembus pasar nasional hingga sampai ke ibu kota. Tapi sayang perang anti-kelapa yang dilancarkan negara penghasil minyak nabati lain. Salah satu yang paling getol memerangi kelapa adalah Amerika Serikat, produsen minyak goreng kedelai nomor wahid dunia. Salah satu cara yang paling sering mereka gunakan adalah meminjam tangan rezim kesehatan untuk menyatakan minyak kelapa berbahaya untuk kesehatan. Di tahun 1980-an, American Soy Association melancarkan kampanye tentang bahaya kolesterol yang terkandung dalam minyak kelapa sebagai strategi untuk melindungi produk mereka. Mereka bahkan meminta pemerintahnya memasang label peringatan dalam setiap produk yang mengandung minyak kelapa.

Jangan lupakan juga bagaimana luar biasanya industri gula Indonesia Setelah menjadi penghasil gula terbesar nomor dua di bawah Kuba tahun 1930-an, sulit rasanya membayangkan bahwa kini Indonesia berbalik menjadi negara pengimpor gula terbesar. perubahan paling fundamental pada industri gula terjadi setelah International Monetary Fund (IMF) berhasil mendesak pemerintah Indonesia untuk meneken dokumen Memorandum of Economic and Financial Policy (MEFP). Dokumen yang populer dengan nama letter of intent itu diteken di Jakarta tanggal 15 Januari 1998. Yang salah satu isinya mewajibkan pemerintah membebaskan tata niaga pertanian, termasuk gula, mulai Januari 1998.Sejak itu, atas nama perdagangan bebas, pasar gula domestik yang semula terproteksi dibuka lebar-lebar. Yang erujung ke penghapusan bea masuk untuk gula impor. Tanpa persiapan matang, industri gula yang semula dikenal sebagai the most regulated commodity dideregulasi total dengan mengadopsi free trade policy . Gula impor pun membanjir. Dalam waktu singkat, benteng pertahanan petani tebu dan Pabrik Gula jebol. Petani tebu banyak beralih ke usaha tani lain, sementara pabrik gula satu per satu bertumbangan

Lain gula, lain pula dengan garam meski dengan cerita yang nyaris sama. Negara dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia pernah berjaya dengan produksi garam. Lahan tambak garam yang luas, didukung dengan bergairahnya sentra garam nasional di banyak tempat menjadi cerita di balik kejayaan ini. Masyarakat yang hidup pada pertengahan tahun 1990-an bisa menjadi saksi bagaimana Indonesia mencapai swasembada garam konsumsi. Predikat pengekspor garam pun disandang. Namun keadaan berbalik sejak Akzo Nobel memprakarsai kampanye besarbesaran penggunaan garam beryodium di Indonesia. Sentra garam nasional berguguran. Lahan tambak garam terbengkalai. Produksi nasional turun drastis. Ribuan petambak kehilangan mata pencaharian. Sebaliknya, impor garam membanjir, sampai kini.

Selain kopra, gula, dan garam, masih banyak komoditas Nusantara lain yang mengalami nasib serupa. Satu per satu menunjukkan modus yang kurang lebih sama. Ada motif-motif “mulia”. Ada kepentingan bisnis korporasi multinasional/transnasional. Ada kepentingan dagang negara-negara maju. Ada dukungan dari lembaga-lembaga internasional. Ada keterlibatan otoritas pemerintah dalam negeri. Perdagangan internasional yang digembar-gemborkan sebagai jalan menuju kesejahteraan, pada praktiknya justru menjadi modus operandi neokolonialisme. Menjadi paradoks memang, bahwa “bagian dunia yang alamnya kaya sungguh miskin, dan bagian dunia yang tak begitu kaya alamnya menikmati standar hidup tertinggi”.

Dari pembelajaran sejarah yang sudah terjadi terlihat jelas ada pola-pola yang sama yang bisa saja akan terjadi juga dengan komoditi tembakau Indonesia yang kini masih Berjaya,terlepas dari perdebatan mengenai perdebatan tentang dampak rokok terhadap kesehatan, seolah ada upaya pelemahan yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mempunyai agenda besar penghancuran komoditi unggulan Indonesia. Ingatlah ketika korporasi korporasi telah berselingkuh dengan birokrasi birokrasi kotor maka rakyatlah yang akan merasakan penderitaan terberatnya.

Referensi :
DM,Abhisam, dkk, 2012.Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek. Jakarta: Penerbit Kata-kata
http://www.kompasiana.com/agungpribadi/rokok-kretek-ironi-dan-manfaatnya_5518c03d81331149709de0f3
http://www.tarif.depkeu.go.id/Bidang/?bid=cukai
http://www.kemenkeu.go.id/SP/kebijakan-tarif-cukai-hasil-tembakau-tahun-2016

Total Quality Management dan Strategi Kepemimpinan

1475930833696

Oleh Dr. Muhammad Idrus Taba. SE., Msi

Masa sekarang adalah saat yang sungguh menantang untuk melibatkan manajemen total kualitas ke dalam lingkungan kerja. Semua orang benar-benar tertuju kepada masalah-masalah seputar manajemen ketersediaan sumber daya, manajemen alih teknologi, manajemen operasional, dan tentu saja manajemen kualitas total. Pada saat sekarang, terdapat adanya kesempatan, seperti juga yang pernah terjadi pada beberapa masa dalam sejarah manusia, untuk memperoleh keuntungan bagi pemimpin manajerial yang mampu untuk mengenali dengan baik kebutuhan-kebutuhan yang sedang berkembang, untuk kemudian menterjemahkannya menjadi kesempatan yang berarti guna meningkatkan kualitas dalam pengaturan organisasi (Crosby, 1984, hal. 6 – 9). Melihat situasi tersebut tidak dapat dipungkiri bahwa kepemimpinan maanjerial berperan sangat penting dalam pengembangan kualitas lingkungan kerja perusahaan.

Kepemimpinan manajerial yang berhasil dalam sebuah perusahaan yang ingin mencapai kualitas tertentu, sangatlah bergantung kepada masing-masing situasi perusahaan, tetapi berdasar atas empat strategi kunci : perhatian atas visi, menimbulkan arti penting dengan berkomunikasi, membangkitkan kepercayaan melalui pemposisian diri, dan menumbuhkan percaya diri melalui sikap menghargai. Kegembiraan dan keberhasilan dalam memenuhi tanggung jawab kepemimpinan bukanlah merupakan titik akhir, tetapi hanya merupakan pemberhentian untuk perjalanan selanjutnya bagi seseorang menuju masa depan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang berhasil dalam manajemen kualitas membutuhkan semua yang terbaik dari seorang manajer, dan juga kesadaran penuh dan berkelanjutan akan kemampuan diri sendiri atau orang lain dan juga komitmen kepada diri sendiri dan orang lain, agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

Dalam penyampaian tulisannya, Dr. Muhammad Idrus Taba. SE., Msi juga sangat banyak memberikan tips menarik untuk memulai membuat tulisan. Sebagaimana hal yang pertama untuk memulai membuat sebuah tulisan adalah dengan mengetahui dulu jenis tulisan apa yang ingin dibuat serta bagaimana metodologi pencarian datanya. Terdapat dua metode dalam membuat tulisan yaitu melalui studi lapang dan studi pustaka. Studi lapang yang dilakukan dengan mempelajari teori kemudian membandingkannya dengan realitas yang terjadi di lapangan, studi pustaka yang dilakukan dengan cara membaca berbagai sumber yang terkait serta membandingkan sumber bacaan untuk kemudian dijadikan bahan dalam membuat tulisan.

Untuk memulai membuat tulisan ilmiah benar-benar harus memenuhi kaidah ilmiah yang dimana setiap argumentasi disusun berdasar logika ilmiah serta logika didukung oleh data dan fakta. Setiap pencarian data dan fakta harus berdasar teori dan konsep yang telah dikemukan oleh para ahli maupun peneliti yang menggunakan data empiris yang dikemukakan berdasar teori pula. Selanjutnya adalah untuk menentukan judul, terdapat tiga pendapat mengenai penentuan judul yaitu :
– Judul yang menggambarkan semua variabel penelitian dengan batasan tidak lebih dari 20 kata
– Judul yang hanya menggambarkan variabel inti
– Judul yang mengemukakan konsep
Penentuan judul ini ditentukan sendiri sesuai keinginan penulis untuk memberikan gambaran isi tulisannya namun yang perlu penulis perhatikan adalah menentukan judul yang menarik untuk menarik minat pembaca.

Dalam pembahasan tulisan ilmiah, penulis perlu melihat fenomena-fenomena yang akan dikaji secara mendalam sehingga menciptakan sebuah konsep yang didasari oleh variabel yang dapat diukur secara jelas sehingga menghasilkan indikator dari konsep tersebut. Untuk selanjutnya adalah melakukan kontruksi abstraksi yang diturunkan dengan menggunakan model matematika (kuantitatif) maupun melalui kekuatan narasi (kualitatif) sehingga mampu menjelaskan hasil tulisan dengan bahasa yang nyata. Namun, hal yang paling penting yang harus diperhatikan adalah seorang penulis harus menerapkan “ekonomi kata” yaitu benar-benar menggunakan kalimat yang sangat efisien sehingga mampu menarik minat pembaca.
Terakhir, beliau berpesan bahwa menulis itu ibarat belajar naik sepeda, meskipun berbagai macam buku panduan tata cara bersepeda yang kita baca, tanpa memulai belajar bersepeda, kita tidak akan bisa mampu bersepeda. Sama halnya dengan menulis, meskipun berbagai macam tips menulis yang kita pelajari, tanpa memulai menulis, kita tidak akan bisa.