Aktualisasi Pappaseng To Riolo Sipa 3 (Sipakatau, Sipakalebbi & Sipakainge) di Pasar Tradisional Sulawesi Selatan

Oleh : Sandi

Tema dari essay ini adalah memperkenalkan potensi budaya yang terdapat di daerah Sulawesi Selatan untuk menciptakan ekonomi maslahat. Ekonomi maslahat itu sendiri merupakan yang berbau prinsip ekonomi syariah. Artinya dengan menerapkan prinsip ekonomi syariah maka kehidupan berekonomi masyarakat dapat merasakan kesejahteraan dan manfaatnya. Kemudian dipersempit lagi dalam sub tema yaitu pemanfaatan budaya lokal.

Dalam budaya Makassar mempunyai sebuah nilai–nilai luhur yang dapat dileburkan dalam aktivitas muamalah. Muamalah adalah lebih mengarah pada interaksi dan hubungan social. Muamalah ada banyak. Misalnya ekonomi, politik, social, keamanan dan lain sebagainya. Muamalah dalam hal ini berhubungan dengan interaksi manusia di bidang ekonomi.

Adapun budaya yang dimaksud yaitu pappaseng to riolo sipa 3. Yang dimaksud yaitu sipakatau, sipakalebbi dan sipakainge. Pappaseng to riolo ini hanya ada di Sulawesi selatan. Dalam pasar tradisional terdapat banyak masalah yang krusial. Menurut Anshar Manrulu selaku aktivis Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra),”besarnya jumlah rakyat Sulawesi-Selatan menggantungkan hidupnya dari pasar tradisional tidak berbanding lurus dengan perhatian pemerintah pada kondisi pasar tradisional, utamanya dalam hal keamanan, sekitar 75 % tindak kejahatan terjadi di pasar tradisional di berbagai daerah Sulawesi Selatan”. Maka dapat dinilai bahwa dalam aktivitas masyarakat di pasar tradisional masih kurangnya penerapan nilai-nilai budaya yang baik dan sesuai dengan prinsip-prinsip dan falsafah kehidupan masyarakat utamanya orang bugis Makassar.

Konsep falsafah dari sipa 3 ini yaitu sipakatau dengan kata “tau”, yang berarti manusia. Manusia dalam hal ini harus dapat memperlakukan manusia lain selayaknya manusia, terutama dalam praktik ekonomi di pasar tradisional. Misalnya tidak melakukan praktek curang “membodoh – bodohi” orang lain karena melihat pihak lain adalah manusia. Sipakalebbi yang berarti mulia, dalam hal penerapan manusia harus menghargai manusia lain. Jika di pasar tradisional, maka manusia harus menghargai dan sesuai dengan proporsi untuk menawar. Sipakainge berasal dari kata “inge” yang berarti ingat. Kita harus dapat saling mengingatkan dalam hal kebaikan. Misalnya ada harga barang yang terlupa, pihak penjual dan pembeli dapat saling mengingatkan. Aktualiasasi pappaseng to riolo ini mudah diterapkan karena dalam pasar tradisional ikatan emosional lebih mudah terjalin.

Implementasi sipa 3 ini memiliki tiga asas yaitu mappasilasae (memanfestasikan adat), Mappasisaue (mencegah pelanggaran adat), Mappasenrupae (menerapkan konsep adat ini secara terus menerus). Konsep falsafah hidup inilah yang menjiwai dan menjadi pegangan oleh pelaku-pelaku ekonomi di pasar tradisional untuk senantiasa hidup dalam kedamaian dan sejahtera tanpa ada tindakan kriminalitas atau penurunan nilai-nilai budaya yang ada di Sulawesi Selatan.Sehingga untuk memecahkan
masalah di pasar tradisional di Sulawesi selatan yaitu bagaimana agar falsafah hidup bugis ini dapat diterapkan.

IMMAJ FEB UNHAS Gelar Bedah Pemikiran Tokoh

Unhas, immajfeuh.org – Ikatan Mahasiswa Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin (IMMAJ FEB-UH UNHAS) menyelenggarakan Diskusi Terbuka terkait Bedah Pemikiran Tokoh “Paulo Freire: Pendidikan Pembebasan, dari Brazil untuk Dunia”, pada Senin, 19 September 2016 di Lapangan FEB-UH. Kegiatan ini diikuti oleh Keluarga Mahasiswa FEB-UH dan hadir Kanda Syamsuddin Muh. Bahar sebagai fasilitator.

Dalam diskusi yang berlangsung selama kurang lebih 90 menit tersebut, disebutkn bahwa pemikiran Paulo Freire berawal dari adanya keprihatinan terhadap berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan sehingga kondisi inilah yang membawa Freire untuk membela kaum tertindas lewat program pendidikan melek huruf. Freire menegaskan bahwa tindakan pertama yang dilakukan oleh pendidikan agar tidak terjadi penindasan, ketidakadilan dan kesejahteraan secara umum, adalah menyadarkan para peserta didiknya agar memahami kenyataan sebagai satu kesatuan yang utuh (memahami hakikat dirinya dan realitas dunianya). Salah satu metode yang ditawarkan oleh Paulo Freire adalah metode “Pendidikan hadap Masalah”, dimana pendidikan seharusnya bisa membangun kesadaran peserta didik.
Berikut ini rangkuman hasil tanya jawab dalam bedah pemikiran tokoh tersebut.

Tanya : Dimana letak kesalahan pembelajaran dengan metode bank (subjek objek)? Padahal masih begitu banyaknya yang menggunakan metode tersebut ?
Jawab : Masih terjadi ketidaksesuaian antara metode yang digagas oleh Paulo Freire dengan kenyataan yang ada. Dimana pemberin materi dan penerima materi masih terkesan satu arah. Sedangkan yang digagas oleh Freire sendiri adalah pendidikan kritis.

Tanya : Bagaimana sebenarnya paradigma kritis itu ? apakah sebatas menanamkan paham kepada mahasiswa/siswa bahwa orang yang kritis adalah orang yang tidak langsung menerima informasi, melainkan yang mempertanyakan lagi hal – hal tertentu
Jawab : Jangan kita terlalu sempit memaknai metode “kritis” itu sendiri bahwa orang yang kritis adalah orang yang selalu mempertanyakan sutau hal tertentu. Tetapi kritis itu kesadaran yang terbagi menjadi tiga, yaitu kesadaran magis, kemudian kesadaran naïf dan ketiga yaitu kesadaran tertinggi dalam arkeologi yang dimiliki manusia menurut Paulo Freire adalah kesadaran kritis.

Tanya : Sebenarnya metode pendidikan kritis sudah diterapkan melalui system SCL (Student center Learning), tapi pada kenyataannya belum sepenuhnya terealisasi. Bagaimana dengan hal tersebut ?
Jawab : Freire menegaskan bahwa pendidikan kritis bukan hanya tindakan mengalihkan
informasi (pengetahuan) dari guru pada siswa, akan tetapi berisi tentang tindakan pemberian pemahaman (makna)pada peserta didik mengenai informasi yang disampaikan. Pendidikan hadap masalah atau pendidikan kritis ini oleh Paulo Freire memang ditujukan untuk kaum tertindas tetapi tidak menempatkan kaum tertindas sebagai kaum yang berhadapan secara besebrangan dengan orang – orang yang menindas. Hal lain yang menjadi penghambat terealisasinya pendidikan kritis adalah ketika orang yang berkomunikasi, misalnya dalam proses diskusi, dimana lawan bicara tidak memahami betul topic yang sedang dibicarakan. Dan dalam proses pengkaderan di fakultas pun masih terjadi hal seperti itu.

Tanya : Sejauh ini sudah banyak diskusi mengenai metode pendidikan yang masih belum sesuai. Apa solusi untuk hal ini ? bagaimana sebenarnya pendidikan yang kritis itu ?
Jawab : Memang betul bahwa sudah banyak forum diskusi mengenai metode pendidikan. Yang seharusnya dan yang diharapkan adalah terealisasinya metode pendidikan kritis seperi yang di sampaikan oleh tokoh Paulo Freire. Namun pada kenyataannya, pola subjek objek dimana siswa dianggap sebagai bejana – bejana kosong yang akan diisi oleh guru. Sejauh ini, belum ada solusi konkrit untuk hal ini, namun bisa kita lihat salah satu contoh disebuah sekolah yang terletak di provinsi Jawa Barat. Dimana tidak menggunakan system seperti pada umumnya yang mengikuti kurikulum yang disepakati. Melainkan membahas hal tertentu dari berbagai sudut pandang. Dengan harapan bahwa siswa akan semakin kritis dalam memaknai berbagai persoalan.

Inovasi, Pertumbuhan, Ukuran dan Nilai Perusahaan Farmasi di Indonesia

Oleh : Dr. Mursalim Nohong SE., Ms

Inovasi bagi perusahaan tidak sekedar proses untuk menghasilkan produk baru. Inovasi menjadi satu dengan perkembangan perusahaan. Inovasi diartikan sebagai suatu mekanisme atau cara untuk mengubah nilai dan kepuasan yang diperoleh konsumen dari sumbernya (Drucker, 1985) . Pada industri farmasi terdapat tiga alternatif inovasi yang dapat dilakukan yaitu; 1).Inovasi produk, 2).Inovasi layanan, dan 3).Inovasi model bisnis (Sundbo, 1997; Moore, 2004; Treacy, 2013). Maka dari itu dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana hubungan dan pengaruh antara inovasi, pertumbuhan, ukuran dan nilai perusahaan farmasi di Indonesia.

Tujuan utama dari setiap perusahaan adalah untuk memaksimalkan kekayaan pemegang saham dengan memaksimalkan keuntungan. Sebuah perusahaan harus berhati-hati dalam membuat keputusan dikaitkan dengan dampak yang akan dihadapi oleh para pemegang saham. Sebagai perusahaan publik, setiap kegiatan perusahaan akan diawasi oleh pasar dan mewakili harga saham. Oleh karena itu, tujuan utama dari sebuah perusahaan harus memaksimalkan kekayaan pemilik atau ekuivalen untuk memaksimalkan harga saham. Untuk mencapai tujuan tersebut, perusahaan perlu untuk memaksimalkan nilai (Rafindaand Noveria, 2014). Maksimalisasi nilai perusahaan dapat ditingkatkan melalui kegiatan-kegiatan inovasi.

Berdasarkan hasil penelitian dari Bapak Dr. Mursalim Nohong SE., Msi dengan sampel perusahaan farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2011-2014 dengan menganalisis data dengan pendekatan kuantitatif yang dibagi menjadi analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Dari hasil penelitian tersebut memberi informasi bahwa inovasi berpengaruh terhadap ukuran perusahaan, inovasi berpengaruh terhadap pertumbuhan perusahaan, inovasi berpengaruh terhadap nilai perusahaan, pertumbuhan perusahaan berpengaruh terhadap ukuran perusahaan, pertumbuhan perusahaan tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan, ukuran perusahaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Selanjutnya setelah membahas mengenai isi jurnal dan mengetahui bagaimana hubungan dan pengaruh antara inovasi, pertumbuhan, ukuran dan nilai perusahaan farmasi di Indonesia, bapak Dr. Mursalim Nohong SE., Msi membagikan tips untuk memulai membuat jurnal ataupun jenis tulisan lainnya. Beliau menjelaskan bahwa untuk menentukan tema atau mencari ide tulisan harus jelas untuk individual atau organisasi agar pembahasannya konsisten dan terfokus, selanjutnya adalah penggunaan nilai spesifik dan variabelnya harus jelas. Selain itu dalam membuat sebuah tulisan ataupun penelitian harus tetap memperhatikan bagaimana penelitian sebelumnya yang telah dilakukan sebagai bahan referensi.
Setelah fasilitator memberikan tips bagaimana menulis yang baik, dilakukan sesi diskusi dengan peserta kajian literasi. Saudara Hasan (Akuntansi 2014) mempertanyakan tentang bagaimana jika dalam mencari data untuk sebuah penelitian terdapat banyak data yang disajikan namun kita hanya ingin mengolah beberapa data saja dari banyaknya data yang disajikan. Hal ini tentu saja biasa terjadi dan dialami oleh hampir setiap peneliti. Maka dari itu, dalam aturan statistika bahwa dalam sebuah penelitian harus menyajikan data yang benar-benar lengkap atau paling kurang menghilangkan 5% dari total data yang didapatkan (dalam artian data 5% ini tidak dianggap penting) karena data yang tidak lengkap akan menyebabkan kekacauan dalam hasil penelitian.

Incoming search terms:

  • Faktor inovasi dalam farmasi

Strategy of Downsizing Process and its Effects on Survivors and Organization

Oleh :Shinta Dewi Tikson. SE., Mmgt.

Lingkungan bisnis yang tidak stabil menjadikan setiap organisasi bisnis harus mampu beradaptasi dan merancang organisasinya untuk mengikuti zaman. Hal ini perlu dilakukan untuk berada dalam lingkungan bisnis agar tetap dinamis. Dalam mempertahankan lingkungan bisnis yang dinamis diperlukan perubahan signifikan untuk mendapatkan keunggulan kompetitif. Salah satu perubahan yang dilakukan oleh organisasi adalah downsizing atau perampingan. Perampingan ini dilakukan berdasarkan berbagai alasan seperti meningkatkan keunggulan kompetitif dengan pengurangan biaya, meningkatkan kinerja karyawan dalam bekerja untuk memenuhi dan memberikan kepuasan kepada pelanggan, atau dengan meningkatkan keuntungan atau profit dari organisasi dengan peningkatan produktivitas dan profotabilitas.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh ibu Shinta Dewi Tikson. SE., MMgt menjelaskan bahwa pelaksanaan perampingan untuk organisasi memiliki dampak negatif yang relatif besar dibandingh dari dampak postifinya. Dampak dari perampingan itu mengarah pada moral karyawan, penurunan kinerja karyawan, dan komitmen sehingga berdampak pada organisasi yang sulit untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Perampingan berdampak pada perubahan bentuk dan struktur organisasi. Perubahan ini berdampak pada sulitnya untuk memprediksikan efektivitas perusahaan karena sifat individual karyawan yang beragam dan sangat berpengaruh selama proses tersebut. Hal inilah yang harus diperhatikan seorang manajer dalam melakukan perampingan dengan harus mempertimbangkan efek jangka panjang pada organisasi agar tujuan dari organisasi dapat tercapai. Untuk itu seorang manajer sebelum melakukan perampingan, harus mempelajari tentang manajemen strategi sumber daya manusia yang didalamnya dijelaskan tentang bagaimana melakukan pendidikan ataupun pelatihan sekaligus evaluasi untuk mningkatkan produktivitas karyawan yang menjadi korban perampingan.

Dalam kajian literasi kali ini, fasilitator juga memberi tips untuk bagaimana melakukan library research dan bagaimana memulai research itu sendiri. Beliau menjelaskan bahwa untuk memulai library research harus memperhatikan tiga poin utama, yaitu :
1. Selecting the Topic. Cara untuk memilih topik sebaiknya dilakukan untuk memilih topik yang sedang hangat diperbincangkan ataupun topik yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-harri. Sebagai contoh bahwa utnuk memilih topik “Strategy of Downsizing Process and its Effects on Survivor and Organization” ini terinspirasi dari Perusahaan Bosowa Maros yang mengalami krisis keuangan sehingga melakukan perampingan pada tahun 2006-2007.
2. Analyzing the Topic. Dalam hal menganalisis topik ini diperlukan fakta-fakta ataupun keterangan yang berkaitan dengan topik yang telah ditetapkan sebelumnya. Selain itu diperlukan pula argumen kontradiktif dari fakta atau informasi yang telah dikumpulkan.
3. Planning. Pada tahap ini yang harus dilakukan adalah dengan memperkaya diri dengan bahan bacaan yang berkaitan dengan topik untuk memulai formulating ideas. Bahan bacaan ataupun referensi yang ini harus diorganisir dengan baik untuk memudahkan penulis.

Setelah menemukan topik yang sesuai yang akan diteliti, selanjutnya beliau menjelaskan tips untuk memulai menulis hasil penelitian yang telah dilakukan dalam tiga bagian, yaitu :
1. Introduction. Pada bagian ini penulis perlu menjelaskan bagaimana ekspektasinya terhadap topik yang diangkat dengan secara konsisten menjelaskannnya secara rinci disertai fakta dan bukti maupun penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Dalam bagian ini penulis juga perlu menghadirkan dan menampilakn isu yang akan didiskusikan, dalam hal ini biasa kita kenal dengan rumusan masalah.
2. Body Paragraph. Pada bagian body paragraph berisikan main idea serta kajian pustaka yang perlu dicantumkan sumbernya. Body paraghraph harus sejalan dengan apa yang ada pada bagian introduction sebelumnya, tidak boleh mengkontradiksi ide.
3. Conclusion. Pada tahap akhir adalah pembuatan kesimpulan. Pada bagian ini sangat tidak disarankan untuk hanya menyalin dari apa yang ada pada body paragraph. Penulis harus mengambil esensi dari semua pembahasannya menulis ulang setiap bahasan yang penting sebagai kesimpulan.

Knowledge Management dan Inovasi

Oleh : Dr. Wahda., SE, M.Pd, M.Si

Memasuki era inovasi saat ini yang disebabkan dengan perkembangan teknologi dan informasi yang berubah secara cepat sehingga sulit diramalkan, menuntut setiap organisasi harus adaptif terhadap lingkungan dan melakukan inovasi secara berkelanjutan agar dapat bertahan.

Menurut Josep Schumpeter, Inovasi adalah komersialisasi dari hasil kombinasi dari bahan dan komponen baru, proses baru, pasar baru, dan bentuk organisasi baru. Inovasi dapat pula diartikan sebagai proses dimana orgnaisasi menggunakan kemampuan dan sumber daya untuk mengembangkan barang dan jasa baru atau mengembangkan produksi dan sistem operasi baru sehingga mendapat respon yang lebih baik dan dibutuhkan konsumen.

Hal yang paling penting dan menjadi ujung tombak proses inovasi adalah pengetahuan. Pengetahuan merupakan dasar inovasi. Sebagaimana dikaitkan bahwa dalam proses pencarian pengetahuan yang baru akan menciptakan sesuatu yang baru yang disebut inovasi. Pengetahuan adalah campuran dari unsur-unsur pengalaman, nilai, informasi yang kontekstual dan wawasan yang luas yang dapat menciptakan sebuah kerangka berpikir untuk mengevaluasi dan membentuk sebuah pengalaman dan informasi baru.

Takeuchi Hirotaka dan Ikujiro Nonaka (2004) membedakan dua tipe pengetahuan menjadi Tacit Knowledge dan Explicit knowledge. Tacit Knowledge memiliki sifat sangat personal yang dipengaruhi oelh ppengalaman kerja, intuisi serta kepercayaan diri dan juga ditopang oleh nilai-nilai yang melekat pada individu, serta kepercayaan diri dan juga ditopang oleh nilai-nilai yang melekat pada individu maupun kelompok. Explicit knowledge memiliki sifat sangat rasional, metodologis, dan bertujuan membentuk model mental tertentu, sebagaimana halnya ilmu pengetahuan yang dikenal dengan epistomologi dunia barat yang positivistik dan empiris.

Dinamika interaksi antara tacit dan explicit dibedakan menjadi empat kelompok interaksi. Dari cara berpikir tacit ke cara berpikir tacit disebut sebagai proses konversi berpikir sosialisasi. Dari cara berpikir tacit ke cara berpikir explicit disebut sebagai proses konversi berpikir eksternalisasi. Dari cara berpikir explicit ke cara berpikir tacit disebut sebagai konversi berpikir internalisasi. Kemudian dari cara berpikir explicit ke cara berpikir explicit disebut proses konversi berpikir kombinasi.

Dari empat model konversi pengetahuan ini ditransformasikan ke dalam suatu pengetahuan spiral yang mengembangkan lima fase proses organizational knowledge creation yaitu sharing tacit knowledge, creating concepts, justifying concepts, building an archetype, dan cross-leveling
knowledge..

Local Politics and Business in Indonesia: A Non-market Strategy Approach

Suasana Kajian Literasi Rutin bersama Abdullah Sanusi, SE.,MBA.,PhD, Jumat (26/8)

Suasana Kajian Literasi Rutin bersama Abdullah Sanusi, SE.,MBA.,PhD, Jumat (26/8)

Oleh : Abdullah Sanusi, SE.,MBA.,PhD

Untuk menjalankan suatu bisnis dibutuhkan strategi. Strategi yang dapat dipilih adalah market strategy yang terdiri dari Industrial Organization dan Resource-Based View ataupun non-market strategi yang terdiri Corporate Political Strategy dan Corporate Sosial Strategy. Market Strategy ataupun Non-market Strategy, keduanya sangat penting untuk kelangsungan bisnis. Bapak Abdullah Sanusi dalam penelitiannya, membahas bagaimana implementasi dan motif dari pelaku bisnis dalam menerapkan Non-market Strategy di Indonesia sebagai negara berkembang yang memiliki banyak perusahaan kecil. Wilayah cakupan dalam penelitian ini adalah Sulawesi Selatan yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :

Mengapa Non-market Strategy penting diterapkan?

Ciri-ciri dari Non-market Strategy adalah High Regulated Industry, costumer dominan adalah pemerintah serta pemiliknya berafiliasi dengan politik. Perusahaan menerapkan Non-Market Strategy karena dengan High Regulate Industry yang semakin tinggi maka akan semakin besar pula keuntungan yang diperoleh. Tujuan utama perusahaan menerapkan Non-market Strategy adalah untuk mempertahankan pasar yang ada dan untuk mencari peluang lain melalui kebijakan politik.

Bagaimana implementasi Non-market Strategy di negara berkembang seperti Indonesia?

Negara berkembang sangat rentan dengan penerapan Non-market Strategy karena rendahnya kualitas lembaga atau institusi yang mendukung pasar seta rendahnya penegakan hukum.

Apa saja dampak Non-market Strategy terhadap kinerja keuangan perusahaan?

Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan di Indonesia sebagai negara berkembang sangat sulit dilakukan dibanding dengan mengukur kinerja keuangan di negara maju. Hal ini karena kinerja keuangan di negara maju lebih mudah diidentifikasi dibanding di negara berkembang. Padahal Non-market Strategy sudah jelas sangat berimplikasi pada kinerja keuangan.

Apa saja yang perlu diperhatikan dalam penerapan Non-Market Strategy?

Dalam penerapan Non-market Strategy harus memperhatikan tiga hal utama yaitu ketidakpastian dan lingkungan yang tidak stabil seperti Perda yang selalu berganti-ganti, strategi politik yang menjadi proteksi formal untuk suatu perusahaan dan pemilu yang dimanfaatkan sebagai pasar politik, serta yang terakhir adalah strategy sosial dimana Philantrhtopy adalah sosial strategi yang utama.