Menelisik makna Kebebasan

Kamu disana
Mendapatkan segalanya
Apa yang kamu inginkan
Kamu bilang kamu bebas
Bebas mendapatkan segala yang kamu inginkan
Namun tetap saja
Kakimu dalam belitan rantai besi itu

Lalu ketemui lagi orang yang berbeda
Bebas berlarian
Ditengah pulau terpencil itu
Melakukan segala yang dia inginkan
Dia bilang dia bebas
Bebas dari segala aturan dan kungkungan
Namun tetap saja
Dia sendirian
Dia kesepian
Tak bisa kemana-mana
Selain pulau itu

Dan
Aku menemui satu orang lainnya lagi
Yang katanya dibebaskan memilih apa pun yang dia pilih
Namun nyatanya tidak begitu
Pilihannya dikekang
Dan dia disalahkan atas apa yang dipilihnya itu
Lalu, itukah yang dikatakan mereka bebas?

Ayolah
Jangan bergurau
Bagaimana mungkin kau mengatakan kita benar-benar bebas
Sementara kita semua berada dalam kungkungan aturan dan sistem yang terpampang nyata

Ayolah
Jangan bergurau
Bagaimana mungkin kau mengatakan kita benar-benar bebas
Sementara selalu ada syarat dan ketentuan atas tindakan yang kita lakukan

Ayolah
Jangan bergurau
Bagaimana mungkin kau mengatakan kita benar-benar bebas
Sementara selalu ada konsekuensi dan penghakiman dari kesalahan dan tindakan yang kau lakukan sesukamu

Lalu bebaskah bebas itu?
Masih pantaskah ia disebut bebas ketika iya terbatas dan membatasi?
Jika ya,
Tolong pahamkan apa bebas yang sebagaimana bebas itu.

By : Ellisa Aprillia

Menekan Inflasi, Menjegal Deflasi

Beberapa bulan yang lalu masih segar di ingatan di beberapa daerah mengenai inflasi harga cabai merah yang begitu tinggi. Disinyalir, buruknya keadaan di beberapa tempat yang menanam komoditas cabai mengalami gagal panen akibat cuaca buruk(seperti kurangnya intensitas hujan dan debu vulkanik gunung meletus) maupun akibat serakahnya permainan para cukong dan distributor. Tingginya harga cabai membuat banyak petani kemudian tertarik menanam komoditas cabai untuk memenuhi ekspektasi pasar serta mencari peruntungan. Beberapa bulan kemudian, pasar pun kebanjiran komoditi cabai merah. Tapi, sayang, dibanjirinya pasar dengan komoditas cabai berujung pada deflasi, turun besar-besarannya harga cabai karena kelebihan stok.

 

Overproduksi Berujung Deflasi

            Sebenarnya, turunnya harga cabai adalah kabar baik tersendiri bagi konsumen. Penulis ulangi, kabar baik tersendiri bagi konsumen. Namun, berbanding terbalik bagi petani itu sendiri. Jatuhnya harga komoditas yang dijualnya bisa jadi berarti dua hal; jatuhnya harga komoditas yang digarapnya boleh jadi akibat ditemukannya variabel produksi atau ditemukannya cara maupun teknologi untuk menggarap teknologi tersebut secara efisien sehingga dapat memproduksi lantas menjual komoditas tersebut dengan harga murah.

Kemungkinan kedua adalah harga komoditas jatuh akibat melimpahnya stok komoditas tersebut di pasar karena berlebihnya produksi yang ada. Berlebihnya stok tersebut baik akibat impor maupun banyaknya produsen yang memproduksi. Jatuhnya harga komoditas kali ini sayangnya akibat faktor kedua yang baru saja kita sebut. Jatuhnya harga komoditas cabai(bahkan belakangan daging ayam) sayangnya tidak diiringi dengan turunnya biaya produksi cabai. Walhasil, turunnya harga cabai akibat melimpahnya stok di pasaran merugikan petani. Padahal, untuk menciptakan perdagangan yang sehat lagi menguntungkan bagi kedua pihak, perdagangan tidak hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya. Namun menguntungkan kedua pihak guna menjaga keberlangsungan supply and demand di pasar.

Pada, beberapa tempat bahkan, beredarnya kabar mengenai jatuhnya harga komoditas cabai membuat petani cabai enggan memetik cabai yang siap panen. Hal tersebut diakibatkan lebih mahalnya biaya petik cabai dibanding harga cabai yang dijual di pasaran. Walhasil, kerugian harus ditanggung oleh petani.

 

Asimetrical Information—Informasi Asimetris

            Hal ini menjadi titik fokus dan perhatian oleh Stiglitz dalam melihat masalah utama dalam perekonomian. Terutama pada saat itu ketika perekonomian Amerika yang menjadi titik perhatian Beliau ambruk akibat informasi yang disampaikan ke pasar tersedia secara asimetris, tidak berimbang.

Akses informasi yang tidak berimbang—bahkan cenderung manipulatif—membuat para investor tidak sedikit yang tertipu mengenai keadaan pasar sebenarnya. Hal tersebut akibat tidak tahunya investor mengenai keadaan yang sebenarnya terhadap pasar, bahkan informasi mengenai keadaan pasar bahkan dimanipulasi oleh para akuntan yang tidak sedikit bekerja sama dengan perusahaan yang berlaku curang.

Penulis hendak menyampaikan bahwa betapa pentingnya informasi yang tersedia bagi investor di Indonesia. Agar tidak terjadi misdireksi investasi yang berujung pada meruginya investor yang menanamkan sahamnya tadi. Tak terkecuali bagi petani. Sebenarnya, gagalnya investasi yang ditanamkan oleh investor bukan dan tidak hanya berakibat pada kerugian investor. Namun juga merugikan masyarakat banyak akibat menguapnya investasi pada sektor yang lebih produktif ketimbang dimana ia menginvestasikan uangnya yang gagal tadi.

Petani yang menanamkan saham—uangnya—guna mencari peruntungan hanya mengandalkan infromasi alih-alih dari akuntan maupun broker, mereka hanya mengandalkan saran dari televisi maupun kabar burung—yang tak jarang dipelintir oleh distributor. Pewarta televisi yang memberitakan tingginya harga cabai membuat tidak sedikitnya petani yang terprovokasi tergiur mencari peruntungan. Tak heran sebenarnya, aksi cari untung massal yang memprovokasi petani sebenarnya juga merupakan akibat sedikitnya keuntungan yang didapat dari hasil bertani—data terakhir dalam rantai perdagangan keuntungan kebanyakan diambil oleh pedagang. Walhasil, akibat tidak adanya koordinasi yang sektoral dan terintegratif, masing-masing petani memberanikan diri menanam cabai. Yang pada musim panen kemudian pasar dibanjiri komoditas cabai yang berujung pada deflasi komoditas tersebut.

Peran Pemerintah

Di sinilah peran penting pemerintah bagi pasar. Agar tidak terjadi crash, dibutuhkan peran mutlak pemerintah dalam mengkoordinir berbagai kepentingan agar tidak terjadi aksi saling sikut dalam upaya memperkaya diri. Pemerintah, nilai Stiglitz, memiliki peran untuk menengahi antara produsen dan konsumen.

Ketidakmampuan petani dalam membaca situasi pasar ke depannya sebenarnya mutlak memerlukan koordinasi pemerintah. Peran dimana pemerintah sudah lama absen padahal pemerintah memiliki peran yang sangat vital di sini.

Menjaga stabilitas harga mutlak diperlukan agar kedua belah pihak saling diuntungkan. Petani membutuhkan arahan pemerintah mengenai sektor apa yang menguntungkan untuk digarap bagi petani. Di satu sisi, hal ini akan menguntungkan konsumen yang keinginan dan kebutuhannya agar tetap terjaga dengan harga yang tetap terjangkau.

Peran pemerintah selalu menjadi sentra dalam kehidupan bernegara. Bukan dengan melihat petani menjerit lantas baru mengambil langkah yang kuratif, alih-alif preventif. Langkah pemerintah harus selalu emansipatoris, dalam artian tidak berat sebelah. Kebijakan ekonomi harus dilihat, ditimbang dan dieksekusi dengan akal sehat yang fundamental bagi kehidupan bernegara guna menjaga kepentingan masyarakat menyeluruh. Bukan hanya dengan cara suntik impor ketika stok kosong melompong sebagai langkah mencegah inflasi, melainkan menjadi pengoordinir demi keutuhan kesejahteraan rakyat merata, melakukan tindak ekonomi yang lebih fundamen bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Zdavir, Andi Muhammad. Lahir di Ujungpandang(kini Makassar) 5 Juli 1993. Penulis adalah mahasiswa aktif semester V jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Hasanuddin. Beliau turut aktif di HmI Komisariat Ekonomi Cabang Makassar Timur sebagai Sekretaris Umum dan Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi.

 

“AKTUALISASI PAPPASENG TO RIOLO SIPA3(SIPAKATAU,SIPAKALEBBI DAN SIPAKAINGE) DI PASAR TRADISIONAL SULAWESI SELATAN”

Secara umum kita ketahui bersama bahwa pasar merupakan  tempat bertemunya penjual dan pembeli dalam melakukan jual beli dengan adanya interaksi setiap transaksi yang terjadi. Pasar adalah salah satu dari berbagai sistem, institusi, prosedur, hubungan sosial dan infrastruktur dimana usaha menjual barang, jasa dan tenaga kerja untuk orang-orang dengan imbalan uang. Barang dan jasa yang dijual menggunakan alat pembayaran  yang sah seperti uang.Tak terkecuali dengan adanya pasar tradisional yang menjadi tempat aktivitas kehidupan masyarakat setempat dalam bermuamalah.
Dimana pasar tradisional ini ditandai adanya transaksi penjual dengan  pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian, barang elektronik, jasa dan lain-lain. Pasar seperti ini masih banyak ditemukan di Indonesia termasuk didaerah Sulawesi Selatan dan umumnya terletak dekat kawasan perumahan agar memudahkan pembeli untuk mencapai pasar. Ini membuktikan bahwa pasar tradisional merupakan tempat yang sangat menyatu dengan kehidupan masyarakat sekitar .
Masyarakat Sulawesi Selatan lebih tertarik dan menyukai belanja di Pasar tradisional dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan laiinya  dikarenakan pasar tradisional masih ada unsur kekeluargaan didalamnya,maka dari itu mayoritas masyarakat utamanya masyarakat  yang tinggal didaerah-daerah pelosok Sulawesi Selatan berbelanja di pasar tradisional. Aktivitas pasar tradisional sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat ,terlihat bahwa berbagai kejadian-kejadian yang terjadi di pasar tradisional seperti tindak kriminalitas dan berbagai tindak kejahatan lainnya yang dimana kejadian tersebut memiliki efek nyata dalam aktivitas jual beli di pasar tradisional,mengingat bahwa di pasar tradisional masih kurangnya jaminan keamanan dalam berbelanja.
Menurut Anshar Manrulu selaku aktivis Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra),”besarnya jumlah rakyat Sulawesi-Selatan menggantungkan hidupnya dari pasar tradisional  tidak berbanding lurus dengan perhatian pemerintah pada kondisi pasar tradisional,utamanya dalam hal keamanan,sekitar 75 % tindak kejahatan terjadi di pasar tradisional di berbagai daerah Sulawesi Selatan”. Maka dapat dinilai bahwa dalam aktivitas masyarakat di pasar tradisional masih kurangnya penerapan nilai-nilai budaya yang baik dan sesuai  dengan prinsip-prinsip dan falsafah  kehidupan masyarakat utamanya orang bugis Makassar.
Penerapan nilai-nilai budaya luhur itu, sangat berpengaruh besar terhadap kelangsungan aktivitas masyarakat khususnya dalam kehidupan bermuamalah di pasar tradisional,pemahaman akan penerapan nilai-nilai budaya itu sendiri memiliki konsep dasar yang menjadi substansi khusus yang harus dipahami dan diaktualisasikan .Maka itu penulis akan membahas mengenai Aktualisasi Pappaseng To Riolo Sipa3 (Sipakatau,Sipakakebbi dan Sipakainge) di Pasar Tradisional Sulawesi Selatan  sebagai salah satu  prinsip dasar personal serta  pegangan sosial(kehidupan berekonomi) dari konsep falsafah orang bugis yang menjadi akkatenningeng(pegangan).  Serta yang diketahui bersama bahwa masyarakat Sulawesi Selatan mayoritas bersuku bugis dan sangat kental akan nilai-nilai moral serta budaya luhur yang baik diterapkan di kehidupan masyarakat dalam melakukan proses jual beli di pasar tradisional.

Konsep Falsafah Sipa3 (Sipakatau,Sipakalebbi dan Sipakainge) Di Masyarakat Bugis.
Dewasa ini bangsa Indonesia khususnya Sulawesi Selatan berada dalam era globalisasi yang penuh dengan arus informasi yang begitu cepat merambah keberbagai lapisan masyarakat sehingga budaya dari luar dapat merubah dan menggeser pola pikir dan cara pandang masyarakat dalam bertindak utamanya dalam proses transaksi di pasar-pasar tradisional,berbagai aspirasi dan kepentingan antara pelaku-pelaku ekonomi pasar yang tersalurkan tidak sesuai dengan norma dan nilai  luhur masyarakat bugis.
Kearifan lokal dapat menjelama  menjadi pokok pegangan hidup, seperti kata Sipakatau sebagai salah satu unsur  budaya yang sangat prinsipil dalam kehidupan masyarakat Sulawesi Selatan. Kata Sipakatau ini mengandung esensi nilai luhur yang universal ,namun kurang teraktualisasi secara baik dalam kegiatan bermuamalah ,ditelusuri secara mendalam dapat ditemukan bahwa hakikat ini inti kebudayaan Bugis Makassar itu sebenarnya adalah bertitik sentral pada CC.(Wikipedia.com). Maka seluruh perbedaan derajat sosial tercairkan ,turunan bangsawan dan rakyat biasa dan sebagainya .Yang dinilai atas diri seseorang adalah kepribadian  yang dilandasi sifat budaya manusiawinya.
Selain konsep kata Sipakatau ,terdapat pula nilai budaya yang memberikan pedoman hidup bermuamalah yaitu kata Sipakalebbi.Sipakalebbi memiliki arti saling memuliakan posisi dan fungsi masing-masing dalam struktur kemasyarakatan dan pemerintahan,senantiasa berprilaku baik yang sesuai dengan adat dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Dari konsep  “lebbi’ “ yang berarti mulia,maka ada makna terdalam kontekstualnya.
Konsep inilah yang memandang manusia sebagai mahluk yang senang dipuji dan diperlakukan dengan baik, diperlakukan dengan selayaknya. karena itu orang  bugis tidak akan memperlakukan manusia lain dengan seadanya, tetapi ia cenderung memandang manusia lain dengan penuh martabat, hingga siapapun yang berada dalam kondisi tersebut akan senang dan bersemangat. sifat sipakalebbi  akan  meciptakan keselarasan dan keharmonisan bersosial ekonomi. Dalam konteks ini inklusif ,membentuk pola pikir dan mengatur pola tingkah laku berniaga di pasar tradisional.
Nilai luhur yang terkandung dalam falsafah orang bugis selanjutnya yaitu konsep kata Sipakainge yang melengkapi prisip dan eksistensi pappaseng to riolo (pesan orang dulu) dalam memberikan pencerminan kehidupan masyarakat zaman dulu.  Dari konsep kata “inge” yang berarti  ingat,sehingga kata Sipakainge memberikan arti saling mengingatkan satu sama lain,menghargai nasehat,pendapat orang lain,menerima saran dan kritikan positif dan siapapun atas dasar bahwa manusia tidak luput kesalahan.
Peninjauan dari segi konsep dan pemaknaan ,maka hal yang patut dilakukan adalah aktualisasi  dalam penerapan nyata di kehidupan bersosial ekonomi. Dengan paham  akan  nilai sosial kultural  yang  menjadi falsafah orang-orang bugis zaman dulu.

Upaya  Aktualisasi Nyata dari Pemaknaan Konsep Sipa3 (Sipakatau,Sipakalebbi,dan Sipakainge) di Pasar Tradisional Sulawesi-Selatan
Kehidupan di pasar tradisional memiliki berbagai macam akan tipe-tipe pelaku ekonomi yang saling mempengaruhi sehingga adanya penanaman dan pemahaman nilai budaya luhur yang menjadi falsafah hidup bermasyarakat yaitu nilai Sipakatau,Sipakalebbi dan Sipakainge.Disini terletak aspek kesadaran atau pikiran yang memberikan  batas-batas rasional dari pappaseng to riolo itu ,dengan konsisten dan percaya dengan teguh bahwa nilai-nilai budaya tersebut mampu menyeleraskan kegiatan muamalahmasyarakat.            Pengamalan secara aplikasi-implementatif pappaseng to riolo sebagai falsafah hidup orang Bugis, memiliki 4 (empat) asas sekaligus pilar yakni: (1) Asas mappasilasae, yakni memanifestasikan ade’ bagi keserasian hidup dalam bersikap dan bertingkah laku memperlakukan diri-nya dalam pangaderrang; (2) Mappasisaue,yakni diwujudkan sebagai manifestasi ade’ untuk menimpahkan deraan pada tiap pelanggaran ade’ yang dinyatakan dalam bicara. Azas ini menyatakan pedoman legalitas dan represi yang dijalankan dengan konsekuen; (3) Mappasenrupae, yakni mengamal-kan ade’ bagi kontinuitas pola-pola terdahulu yang dinyatakan dalam rapang; (C Hal ini dinyatakan dalam wari untuk setiap variasi perilakunya manusia Bugis(Punagi ,1989:23). Aktualisasi nilai-nilai luhur yang terkandung dalam falsafah hidup orang Bugis tersebut, dihubungkan dengan etos kerja dalam berekonomi yang menjadi hal pokok kehidupan bermasyarakat.
Pappaseng sebagai salah satu bentuk pernyataan yang mengandung nilai etis dan moral, baik sebagai sistem sosial, maupun sebagai sistem budaya dalam  kelompok masyarakat Bugis yang  terkandung ide yang besar buah pikiran yang luhur, pengalaman jiwa yang berharga, dan pertimbangan-pertimbangan yang luhur tentang sifat-sifat yang baik dan buruk,yaitu termuat dalam  pappaseng to riolo  sipa3(sipakatau,sipakalebbi dan sipakainge) .Mengenai nilai-nilai budaya yang termuat ,pada dasarnya telah  dikenal oleh masyarakat pada umunya,yang bahkan  dalam implementasinya,menjadi spirit dan roh dalam menentukan pola pikir dan menstimulasi tindakan manusia,termasuk dalam memberi  motivasi usaha bermuamalah  yang sesuai dengan penerapan nilai budaya dan nilai agama.
Konsep falsafah hidup inilah  yang menjiwai dan menjadi pegangan oleh  pelaku-pelaku ekonomi di pasar tradisional  untuk senantiasa hidup dalam kedamaian dan sejahtera tanpa ada tindakan kriminalitas atau penurunan nilai-nilai budaya yang ada di Sulawesi Selatan.

Oleh: Sandi Salere

Incoming search terms:

  • etos kerja dalam berekonomi
  • makalah sipakatau sipakalebbi sipakainge
  • penerapan budaya sipakatau sipakalebbi sipakainge dalam kehidupan bermasyarakat
  • penjelasan budaya sipakatau sipakalebbi