BELAJAR DI KELAS

Belajar Di Kelas
Keputusan yang ditarik ulur
Nasib yang jauh dari kata makmur
Tapi…
 
Kami, kaum-kaum yang katanya marginal ini
Masih bergerilya dibawah telunjukmu
Tunggu…  tunggu saat kami  bebas
Dan kau… hanya bisa memelas
 
Ancaman kami , maka kami makin berani
Tahan kami, maka kami makin berlari
Biar satu dua tiga nyawa kau musnahkan
Semangat kami, tak akan pernah padam
 
Kami, kaum-kaum yang sengaja dialienasi
Dari peradaban penduduk bumi
Yang katanya… sudah modern sejak dini
Kami terbiasa mengembara
Berpindahlah zona sembari
Suarakan keluhan massa
Pasar, jalanan, gedung-gedung bertingkat
Hingga lorong-lorong kecil kami masuki
Biar kecaman,larangan warga hingga teriakan
Kami tetap berdiri
Memegang nilai yang kami yakni sampai mati
 
Kami, orang-orang memoritas yang tertindas
Selalu terperangkap pada kondisi yang serba
Tidak jelas
 
Biar daging dan darah merah berhamburan
Idealisme kami tak tergoyahkan
Berteriaklah, kecam kami dengan gagah
Gerak pejuang ini
Tidak sekedar ucapan, yang hilang
Di antara udara
Gerak perjuangan ini
Akan tumbuh dan hidup
Meski hidup kami sendiri harus diakhiri
                                                                                                                                      by : Kiandra Maheswari

AKU

Aku hanya aku
Waktu dulu
Masa yang telah lalu

Detik demi detik
Hari demi hari
Waktu demi waktu
Berganti
Tak terulang
Tak kembali

Aku semakin jauh dari aku
Dari aku yang ku kenal dulu
Aku pikir aku bukan aku
Ah ingin bersua denganmu
Aku yang lalu

Aku kini bukan benar-benar aku
Aku terperangkap dalam keakuan yang di damba orang lain
Aku terperangkap dalam keakuan yang di damba dalam mimpi
Aku terperangkap dalam keakuan yang tak pernah kugapai
Hingga saat ini

Untuk waktu
Untuk pikiran
Untuk segalanya
Bantu aku untuk menjadi aku
Meski di dera waktu
Aku rela mencari aku

catsoul

Syarat Mati Tak Harus Tua

Wajahmu seperti bulan yang bercahaya di gelapnya malam

Wajahmu seperti ombak yang beriak dalam ketenangan lautan

Wajahmu seperti hutan rindang yangb melepaskan senyum dari kepenatan kota

Tapi dapatkah itu hadir kembali?

Sikapmu menginspirasi hadirnya ideku

Diammu menstimulus pergerakanku

Tindakanmu memancing perubahanku

Tapi dapatkah itu hadir kembali?

Dua garis sejajar takkan pernah ketemu

Sisi depan dan sisi belakang tak pernah bertemu

Kanan dan kiri takkan pernah bertemu

Lantas kenapa kita bertemu?

Aku disini merenungi takdir

Tuhankah yang perlu disalahkan?

Ataukah Ia memperjelas perbedaan kita

Sehingga akhirnya Ia memisahkan kita

Kepergianmu jelas membuatku marah

Kepergianmu jelas titik terburukku

Jangan salahkan kondisi kelamku

Namun aku berterima kasih

Karena kepergianmu mengajarkan

Bahwa syarat mati tak harus tua

Makassar, 27 November 2015

Seakan Melupakan Esensi

Tulisan ini dibuat untuk mengajak teman-teman untuk sama sama berpikir dan merenungkan, mencoba memahami lebih dalam, apa yang terjadi, dan bagaimana kita harus menanggapinya. Ketika membaca, kami meminta agar teman-teman mau ikut berpikir sejenak, jangan hanya membaca kemudian berlalu begitu saja.    Masalah yang cukup mendasar yang identik saat ini, atau mungkin sejak masa lalu, adalah minimnya kemampuan atau bahkan kemauan untuk memahami esensi. Esensi bila kita sederhanakan pengertiannya adalah hal yang berupa pemahaman dasar/fundamental terkait sesuatu hal, untuk memahami esensi dari sesuatu, kita harus melibatkan hati dan juga pikiran, kita harus mencari tahu lebih dalam, sehingga tidak merusak nilai dari sesuatu tersebut.  Kemudian, coba tanyakan pada diri kita, apa esensi dari berdo’a?  kemudian coba tanyakan lagi, apa esensi dari menyayangi orang tua?  bila sudah terjawab, pertanyaan terkahir, apa esensi dari kepedulian terhadap sesama?  silahkan ambil waktu kalian untuk berpikir dan merasa.    kami yakin, kita semua memiliki berbagai macam jawaban terkait esensi dari tiga pertanyaan di atas.  sekarang kita coba kaitkan antara esensi yang kita pahami, dengan fenomena yang terjadi.  bayangkan ada gambar seorang anak kecil yang mengalami penyakit yang cukup parah, kita tidak tahu seberapa kacau perasaan orangtuanya saat itu. Kemudian, ada seseorang yang menyebarluaskan foto anak tersebut, dengan menambahkan caption “1 like= 1 do’a”  atau ada gambar seorang wanita tua renta, dengan wajah sedih dan pakaian lusuh, kemudian ada seseorang yang menyebarluaskan foto tersebut dengan menambahkan caption “like =  sayang ibu, kalau tidak lewati saja”  Atau, ada sebuah bencana di suatu negara, kemudian ada korban yang mengalami luka yang cukup parah, entah bagaimana perasaan anggota keluarganya saat itu, kemudian ada seseorang yang menyebarluaskan foto korban tersebut dengan menambahkan caption: “Like jika kamu peduli”  Apakah dengan menekan tombol like, akan ada do’a yang terpanjatkan? apakah dengan menekan tombol like, akan ada kasih sayang yang ibu anda rasakan? apakah dengan menekan tombol like, akan ada korban bencana yang terbantu? Tidak, ketiga hal tersebut butuh tindakan nyata, butuh kita libatkan hati dan pikiran secara bersama.   Tetapi, masih ada begitu banyak orang yang mau mengikut instruksi dari caption tersebut, karena kenapa? karena ketidakpahaman terhadap esensi.  Dan entah kenapa ada begitu banyak orang yang memanfaatkan fenomena ini untuk berburu like, tujuannya apa? ya, benar, menambah followers, menambah eksistensi.  Apakah ada fenomena lainnya? ya tentu, banyak, sangat banyak. Ketidakpahaman terdahap esensi dari sesuatu, ternyata begitu berdampak bagi kehidupan kita. Secara tidak sadar kita menjadi sesat pikir, mengambil tindakan terhadap sesuatu yang belum kita benar pahami artinya.  Contoh skala besar dari fenomena ini dapat kita kaitkan dengan jabatan seorang pemimpin. Apa yang kita pahami esensi dari menjadi seorang pemimpin? Lalu mengapa begitu banyak mereka yang menjabat di posisi pemimpin tetapi tidak berperilaku seperti pemimpin yang seharusnya? ya, ketidakpahaman terhadap esensi seorang pemimpin.  Kemudian yang menjadi pertanyaan besar, apakah kita telah menukar esensi dengan pentingnya eksistensi?  Apakah kita telah lupa untuk berpikir sebelum bertindak?   teman-teman, hidup akan kosong bila yang kita cari hanya sekadar eksistensi, untuk mendapatkan ketenaran tidak sebercanda itu, bila masih tetap ingin bercanda, yang kau dapatkan hanyalah sesuatu yang semu