Konstruksi Nilai dalam Organisasi

Konsep nilai sekarang ini tidak hanya menjadi topik pembahasan para filsuf, khususnya mereka yang mendalami filsafat nilai (aksiologi). Lewat kajian perilaku keorganisasian dan kepemimpinan, para teoritisi, peneliti dan praktisi manajemen bisnis juga menaruh perhatian terhadap konsep ini. para teoritisi dan peneliti berkepentingan dengan pengidentifikasian dan penanaman nilai-nilai yang relevan dengan peningkatan efektivitas organisasi dan kepemimpinan. Memang, salah satu metafor organisasi adalah “organisasi sebagai budaya” (Morgan, 1986) dan salah satu peran pemimpin adalah “arsitek sosial” (Daft, 1999). Dunia bisnis juga sudah tidak asing lagi dengan perumusan nilai-nilai bersama yang menyertai visi, misi, dan tujuan mereka. Sebuah iklan produk penyegar stamina telah mempopulerkan kalimat “orang pintar minum merek X”; iklan dari produk penantangnya berbunyi “orang bijak minum merek Y”. Disini dua nilai, yaitu kepintaran dan kebijakan menjadi gula-gula pemanis untuk menjual produk yang sejatinya tidak berkaitan dengan kepintaran ataupun kebijakan.
Beberapa definisi telah disusun para penulis untuk menguraikan makna nilai: “The enduring beliefs that have worth, merit, and importance for the organization (Daft, 1999: 193)”,  ataupun “Basic convictions that a specific mode of conduct or end-state of existence is personally or socially preferable to an opposite or converse mode of conduct or end state of existence” (Robbins, 2003:64). Peranannya merupakan “Represents an individual’s standards or ideal about what a person, object, event, or activity ought to be” (Sekaran, 1989:44). Menurutnya, nilai-nilai yang dipegang seseorang akan mempengaruhi pandangan (perception) dan sikapnya (attitude) terhadap sesuatu; akankah ia suka/tidak suka atau puas/tidak puas.
Risieri Frondizi dalam Pengantar Filsafat Nilai (2001) menyatakan bahwa terdapat beberapa ciri dari nilai, yaitu merupakan suatu kualitas tidak/bukan nyata, serta memiliki polaritas dan hirarki. Karenanya orang dapat membangun suatu sistem nilai yang merupakan peringkat intensitas dari nilai-nilai seseorang individu (Robbins, 64). Sistem nilai ini pulalah yang menjadi dasar seseorang melakukan strategi pembingkaian moral (moral framing), yang memberikan sandaran justifikasi baginya untuk melakukan atau tidak melakukan suatu tindakan.
Milton Rokeach mengklasifikasikan nilai-nilai menjadi nilai instrumental dan nilai ideal. Nilai instrumental merupakan jembatan untuk mencapai nilai ideal. Ketika seseorang menganut nilai hidup nyaman, ia akan menjadikan kerja keras dan ambisis sebagai nilai instrumental. Seseorang yang menjadikan kebijakan sebagai nilai tertinggi, mungkin akan mengidealkan nilai pengendalian diri dan kerendahan hati. Para periset pemasaran biasanya menggunakan pendekatan gugus (cohort) dalam pengklasifikasian nilai. Misalnya, mereka menjadikan gugus Nexter untuk merujuk kepada kelas konsumen yang memiliki sekumpulan nilai berikut: percaya diri, keberhasilan keuangan, mengandalkan diri sendiri namun berorientasi tim, loyal kepada diri dan hubungan dengan orang lain.
Pada saat ini, terdapat kecenderungan pada para perekrut dari perusahaan-perusahaan besar untuk lebih melihat kepada attitude daripada aptitude. Juga kepada person-organizational fit, selain dari person-job fit. Pertanyaannya: sebagai manusia bebas, bagaimana kita mesti menyikapi upaya internalisasi dan institusionalisasi nilai-nilai tertentu itu.

Hendragunawan, SE., M.Si., M.Phil