LEMA & Kebijakan Kampus

bbm-politik-karikatur-copyLembaga kemahasiswaan tidak terlepas dari kebijakan kampus yang diterapkan. Kebijakan kampus yang berlaku akan mempengaruhi gerak dari lembaga kemahasiswaan. Jika di telaah lebih jauh, kebijakan kampus saat ini lebih mengarah kepada ideologi pasar yang bertumpu pada nilai-nilai materialistik-pragmatis. Ideologi yang tak lain dan tak bukan akan menghasilkan budaya pragmatis dikalangan mahasiswa saat ini, budaya yang akan mengarahkan mahasiswa yang kuliah hanya untuk mencari kerja. Menjadikan ‘mencari kerja’ sebagai tujuan utama masuknya mereka ke dunia kampus. Kampus menjadi industri penghasil tenaga kerja. Implikasinya kemudian, kegiatan-kegiatan yang menganggu perkuliahan dianggap sebagai kegiatan yang tidak perlu dilakukan , seperti ikut pengkaderan, gabung dilembaga kemahasiswaan, membaca buku selain buku perkuliahan, duduk dan ikut berdikusi dalam setiap kajian serta kegiatan-kegiatan yang tidak masuk dalam kurikulum pendidikan kampus. Kegiatan-kegiatan seperti ini dianggap kegiatan yang akan mengganggu kuliah yang akan memperlambat mereka kemudian untuk cepat lulus dan mencari kerja.

Kebijakan kampus yang paling banyak dibicarakan mengenai PTN-BH. Sistem neolib yang dianut menghilangkan peran pemerintah. Keuangan ditanggung oleh universitas dan dikelola universitas sendiri sehingga seperti mencari keuntungan. Kurikulum memang masih dipegang oleh pemerinah. Hanya masalah keuangannya yang ditanggung oleh universitas. PTN-BH membuat universitas hilang dari tujuannya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan yang dilembagakan kita berbicara tentang sistem. Siapa yang mendominasi maka akan memegang pendidikan itu. Bagaimana yang mendominasi dapat membuat aturan di kampus. Seharusnya dalam sistem ada pembagian peran. Jika ada lembaga pendidikan maka tugasnya mencerdaskan kehidupan bangsa, tidak double job dengan mencari dana sendiri untuk pembangunan universitas. Ini adalah implikasi dari globalisasi yang mengikuti neolib berdampak pada pendidikan di negara kita. Lalu bagaimana kita menhadapi ini? Wacana sudah banyak, namau pergerakan tidak membuahkan hasil sama sekali. Pergerakan memang cukup sulit karena kapitalisme menyerang dari sistem dan paradigma kita, misalnya paradigma untuk lulus cepat. Sarana mereka melalui media dan pendidikan, dan kita bukan bagian dari yang mendominasi dengan jumllah massa yang kecil. Untuk melakukan pergerakan, sekali lagi kita harus mengkaji setiap kebijakan kampus dari berbagai sisi bagaimana manfaat dan kerugiannya. Bukan berarti kita bergerak hari ini, maka perubahan akan terjadi hari ini. Diskusi yang sering dilakukan bisa menjadi bentuk pergerakan kita. Karena mereka sudah menyerang bahkan dari paradigma kita, salah satu pergerakan bisa dengan ideologi tandinga. Dan yang paling penting adalah proses penyadaran dari diri kita terlebih dahulu. Pengkajian setiap kebijakan kampus pun harus menggali hingga ke akar masalahnya, karena selama ini pola-pola pergerkan hanya lebih kepada gejala. Harus dilihat landasan filosofis, sosioogis, dan yuridisnya.

SEBUAH DONGENG DARI KOTA DUNIA

duduklah…. kuceritakan padamu dongeng tentang kotaku,

SEBUAH DONGENG DARI KOTA DUNIA

tak ada yang pernah tahu sejak kapan orang tua itu berjalan dengan tangan menyentuh tanah seperti merangkak
2 minggu lalu, anak-anak yang sedang mencari ikan di selokan, menemukan orang tua di dekat selokan yang menghitam sedang mengais-ngais tempat sampah
memakan semua yang bisa dijangkau dengan tangannya

tak ada yang pernah tahu, kapan tepatnya orang tua yang berjalan merangkak itu mulai bertelanjang dada
seminggu yang lalu anak yang sedang menghisap lem di bawah teduh pohon asam, yang melindunginya dari terik
menjauhkannya dari polusi dan polisi, mendapati orang tua itu kencing dari atas pohon
memakan buah asam beserta kulitnya, kencing sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya

“orang bilang tanahku tanah surga
tongkat kayu jadi uang
batu jadi uang
orang bilang tanah kita tanah surga
surga yang bisa kamu dapati dimana saja
asal ada uang”

orang tua itu bernyanyi dengan nada lagu balonku

tak satupun tahu kemudian, kapan orang tua yang berjalan merangkak sambil bertelanjang dada itu mulai melepas celananya
kemaluan dan kerutan sejelas banner-banner iklan yang kau temukan di jalan

3 hari yang lalu anak kecil yang pulang dari memulung melihat orang tua sedang berenang di sungai yang amis, berenang bersama sampah, bersama sumpah-serapah, bersama hasrat seluruh warga kota

” 1 miliar digunakan untuk membeli kasur di rumah jabatan, sementara masihada anak-anak yang harus tidur beralaskan karton
makin banyak gedung yang berdiri menyapa langit, sementara banjir semakin akrab dengan kita yang bersembunyi di dalam gang-gang”

si orang tua setengah berteriak seolah sedang membaca berita
hari ini diantara jeda acara komedi, saat tawa masih tersisa di ujung tenggorokan

berita tentang orang tua yang ditemukan menjadi mayat dalam keadaan telanjang dengan busur masih menancap di kepala
mayat ditemukan di pinggir sungai dengan secarik kertas bertuliskan

“selamat tinggal kemanusiaan
saat tawa masih bisa kau temukan di belantara batu, dimana darah tak lagi berarti sebagai sebuah harga”

Anwar Nua
#IMMAJPOETRYCOMPETITION

Pulang

Nurul Wahyuni 17 Februari 2015

Diantara sakit dan pucat bibirku
Terselip keping-keping kenangan yang merasuk ke seluruh tubuh
Sebab cinta adalah candu
Mengikis kesadaran, hingga yang tersisa cuma kamu
Dari balik sofa ruang tamu, ku sembunyikan namamu
Agar kau selalu rindu untuk berkunjung.
Hening terikrar pada detak-detak waktu
kau berjalan. senyap ke arahku.
Seakan menemukan kegelisahan
Seolah menyibak keraguan
Kau baca aku hingga rindu terdalam
Lalu kita bersitatap
Rusukku menebal, menahan debar yang menggila
Langkah langkah mengayun, sedekap demi sedekap
Aku menangkap sepercik senyum mulai merona
akhirnya..
kamu pulang..
pada apa yang kusebut rumah..

#IMMAJPOETRYCOMPETITION

Geliat Pasar Dunia Maya: Samudra Berkah dan Bahaya

“Geliat Pasar Dunia Maya: Samudra Berkah dan Bahaya”

Dalam konteks bisnis, internet membawa dampak transpormasional yang menciptakan paradigma baru dalam berbisnis, berupa digital marketing atau internet marketing (cyber marketing, electronic marketing). Istilah internetisasi mengacu pada proses sebuah perusahaan terlibat dalam aktivitas-aktivitas bisnis secara elektronik (e-commerce atau e-bisnis), khususnya dengan memanfaatkan internet sebagai media, pasar, maupun infrastruktur penunjang. Kebutuhan akan tenaga yang berbasis teknologi informasi masih terus meningkat; hal ini bisa terlihat dengan banyaknya jenis pekerjaan yang memerlukan kemampuan di bidang teknologi informasi di berbagai bidang; juga jumlah SDM berkemampuan di bidang teknologi informasi masih sedikit, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia. Dengan teknologi informasi yang terkoneksi dengan jaringan internet global memberikan peluang dalam pemasaran produk atau jasa, dengan jaringan internet dan fitur web yang menarik merupakan salah satu alat promosi yang baik dan lebih murah terutama dalam bisnis jasa.

Kemajuan teknologi sangat berpengaruh terhadap kemajuan di bidang pemasaran di suatu lembaga dan perusahaan. Kualitas suatu produk tidak akan kelihatan, bila konsumen belum pernah mendengar & tidak yakin bahwa produk tersebut baik dan berguna maka mereka tidak akan mau membelinya. Bagi produsen, teknologi mempengaruhi bagaimana produk mereka bisa sampai kepada masyarakat sedangkan bagi konsumen teknologi mempengaruhi bagaimana mendapatkan informasi tentang kebutuhan mereka. Oleh sebab itu, perkembangan teknologi sangat berpengaruh besar dalam kegiatan pemasaran suatu produk.

Seperti yang kita lihat sekarang di indonesia khususnya Makasaar banyak terjadi bisnis secara online, Hal ini terjadi karena teknologi berpengaruh besar dalam kegiatan pemasaran suatu bisnis, penjual tidak perlu lagi bartatap muka langsung dangan pembeli karena semuanya dapat dilakukan via online.
Dampak dari teknologi di bidang pemasaran dapat berupa dampak positif atau yang membawa kemajuan, tetapi juga dapat berupa dampak negatif atau yang membuat kemunduran.

Dampak Positif
• Tidak membutuhkan modal usaha yang terlalu besar.
• Menjangkau pasar yang lebih luas dibandingkan toko offline.
• Biaya operasional yang cenderung lebih murah dibandingkan pemasaran lainnya
• Waktu kerja pemasaran online yang tidak terbatas
• Mudahnya pelayanan yang diberikan kepada para konsumen
• Akan membuat industri lebih mudah bereskspresi
• Secara tidak langsung dapat mengedukasi konsumen.

Dampak Negatif Bagi Konsumen
• Penipuan
• Tidak sesuai dengan harapan
• Keterlambatan pengiriman
• Kesulitan transaksi
• Pelayanan buruk

Bagi Produsen
• Kehilangan segi finansial secara langsung karena kecurangan.
• Pencurian informasi rahasia yang berharga.
• Kehilangan kesempatan bisnis karena gangguan pelayanan.
• Penggunaan akses ke sumber oleh pihak yang tidak berhak.
• Kehilangan kepercayaan dari para konsumen.
• Kerugian yang tidak terduga.

Dari dampak positif dan negatif yang dapat terjadi dalam pemasaran, dapat menjadi senjata untuk kita agar dapat mengoptimalkan keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dengan adanya sistem informasi yang dapat memudahkan untuk melakukan promosi penjualan tanpa terbatas pada ruang dan waktu. Namun yang senantiasa dijadikan pertimbangan bahwa adanya kemudahan ini cenderung mendorong kita untuk melakukan hal-hal yang diluar etika atau norma sebagai seorang produsen diharapkan tidak hanya berorientasi untuk mengejar laba yang maksimal tetapi mampu menyelaraskan antara keuntungan yang diperoleh dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam dunia bisnis agar tidak menyebabkan kerugian bagi orang lain. Sedangkan Bagi para konsumen diharapkan untuk lebih berhati-hati dan rasional dalam memilih barang atau jasa yang akan dibeli melalui media online karena salah satu penyebab maraknya terjadi penipuan dalam e-bisnis karena ketidak telitian konsumen dalam melakukan proses jual-beli. Jadi dari hasil diskusi yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa perkembangan teknologi pemasaran bukanlah hal yang harus kita hindari atau binasakan tetapi adanya perkembangan teknologgi dalam pemasaran seharusnya menjadi batu loncatan dalam mengembangkan perekonomian Indonesia namun tetap berada pada koridor etika dan nila-nilai kemanusian.

Human Resources for AEC: Manajemen Diri Menghadapi Persaingan Global

“Human Resources for AEC: Manajemen Diri Menghadapi Persaingan Global”

Keberadaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) mulai 1 Januari 2016 nanti akan menjadikan arus lalu lintas orang, barang dan jasa, investasi, dan modal bebas di kawasan Asia Tenggara. Pertanyaannya kemudian bagi Indonesia, terwujudnya MEA itu merupakan berkah atau justru musibah?. Salah satu isu yang mengemuka terkait dengan implementasi MEA adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM) Indonesia menghadapi persaingan yang semakin ketat.Tentu Indonesia sedang menghadapi persoalaan yang sangat rumit disatu sisi MEA dapat menjadi peluang besar bagi Indonesia. Dengan jumlah penduduk terbanyak di ASEAN yaitu 43% dari populasi ASEAN dan angkatan kerja kita mencapai 125,3 juta orang pada tahun 2014, bertambah sebanyak 5,2 juta dibanding angkatan kerja Agustus 2013 sebanyak 120,2 juta orang atau bertambah sebanyak 1,7 juta orang dibanding Februari 2013 tentu MEA menjadi kesempatan yang sangat besar bagi SDM Indonesia karena akan tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan keahlian yang beraneka ragam. Selain itu, akses untuk pergi ke luar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih mudah bahkan kemungkinannya tanpa ada hambatan tertentu.

Sebaliknya, situasi seperti ini juga memunculkan tantangan ketenagakerjaan bagi Indonesia. Dilihat dari berbagai sisi Indonesia masih kalah bersaing dengan tenaga kerja yang berasal dari Malaysia, Singapura, dan Thailand. Hal ini dapat dilihat darisalahsatu parameter penting dalam penilaian kualitas SDM suatu Negara adalah nilai indeks pembangunan manusia. Indeks pembangunan manusia (IPM) di Indonesia masih tergolong rendah (0,61) dibandingkan IPM negara-negara lain di Asia Tenggara. Indonesai menempati peringkatke-6 dari 10 negara ASEAN masih kalah dibandingkan dengan Singapura (0,866), Brunei Darsussalam (0,838) dan Malaysia (0,761). Indonesia pun masih tertinggal oleh negara Thailand dan Filipina dalam hal pembangunan kualitas SDM. Di samping itu, bahkan nilai IPM Indonesia masih berada di bawah nilai IPM rata-rata dunia yang berada pada nilai 0,68.

Produktifitas masih juga menjadi kendala bagi tenaga kerja di Indonesia. Pekerja Indonesia dibandingkan dengan produktivitas pekerja Amerika Serikat hanya mencapai 36 %. Artinya, jam kerja yang dihabiskan pekerja Indonesia hanya 36% di atas pekerja Amerika. Sementara pekerja Kamboja mencapai 46%, Malaysia mencapai 43%, Thailand 37% dan Singapura 36%. Pekerja Indonesia hanya lebih produktif dibandingkan Filipian 30% dan Vietnam 13% .Asian Productivity Organization (APO) mencatat, dari setiap 1.000 tenaga kerja Indonesia pada tahun 2012, hanya ada sekitar 4,3% tenaga kerja yang terampil. Jumlah itu kalah jauh dibandingkan dengan Filipina yang mencapai 8,3%, Malaysia 32,6%, dan Singapura 34,7% .Dalam indeks daya saing global yang menunjukan produktivitas dari mulai sumberdaya alam hingga sumber daya manusia pun indonesia masih jauh tertinggal dari negara-negara ASEAN lainnya. Indonesia berada di urutan ke-5 di ASEAN (50 dunia) pada laporan Global Competitivenes Index 2011-2012 yang dikeluarkan oleh World Economic Forum.

Dalam soal liberalisasi ekonomi dan perdagangan, pemerintah kita memang sering mengeluarkan kebijakan yang saling bertolak belakang. Tak meng-herankan kalau praktiknya di lapangan menjadi kurang memotivasi untuk membangun keunggulan daya saing. Bangsa ini dikenal sangat agresif dalam melakukan liberalisasi pasar, namun belakangan sering terhenyak karena ternyata belum sepenuhnya siap dan dipersiapkan untuk bersaing. Dalam industri perbankan, sebagai contoh, dengan mudah ditemukan cabang-cabang bank asing di pusat-pusat kota. Tapi, cobalah temukan cari cabang bank dari Indonesia yang bisa menembus negara-negara tetangga. Dijamin tidak akan ada. Konon Menteri Perindustrian MS Hidayat mengaku gelisah dan gugup menghadapi era MEA. Persisnya, ia merasa Indonesia belum siap menghadapi MEA. Salah satu penyebabnya adalah mahalnya biaya logistik yang masih mencapai 16% dari total biaya produksi.Padahal, di negara-negara lain biasanya biaya logistik hanya mencapai 4-10% dari total biaya. Mahalnya biaya logistik itulah yang menyebabkan produk-produk Indonesia bisa kalah bersaing dengan produk dari negara-negara tetangga. Sudah diketahui bahwa penyebab tingginya biaya logistik di negeri ini, yakni pungli, korupsi, dan tindakan premanims yang dibiarkan begitu saja. Selain itu, kondisi infrastruktur dan manajemen juga yang buruk.

Di sisi lain dunia pendidikan terutama perguruan tinggi sering kali menjadi “tersangka utama” atas rendahnya kualitas lulusan yang dihasilkan. Perguruan tinggi saat ini dipandang belum mampu menghasilkan output yang mampu bersaing dengan tenaga ahli dari negara lain.Angka partisipasi pendidikan masyarakat Indonesia juga masih tergolong rendah yaitu baru 18% dari total populasi penduduk Indonesia. Artinya, sebanyak 82% dari total penduduk Indonesia tidak mendapatkan pendidikan. Kemudian, jika dilihat dari angka partisipasi murni masyarakat Indonesia dalam pendidikan, di dapat kanangka partisipasi murni pada tahun 2012 untuk pendidikan SD adalah 92,49%, SMP 70,84%, danSMA 51,46% dari jumlah penduduk usia sekolah pada jenjang pendidikan yang bersangkutan. Dari data tersebut terlihat bahwa tingkat pendidikan masih sangat rendah oleh karena itu kegiatan-kegiatan pengembangan soft skill harus ditingkatkan untuk membekali masyarkat Indonesia yang ikut dalam pendidikan formal maupun yang tidak berpartisipasi dalam pendidikan formal. Pendidkan pada hakikatnya bukan untuk melahirkan persaingan antara setiap individu untuk tampil sebagai pemenang dan berdiri sendiri digaris depan tetapi pendidikan yang diharapkan dapat mengasah keterampilan setiap indivudi untuk dapat bekerja sama menyerang pesaing-pesaing yang siap memnggempur tembok Indonessia.

HDI Indonesia masih di bawah rata-rata, produktifitas pekerja masih tertinggal dari beberapa negara tetangga, kualintitas dan kualitan pendidkan yang masih dibawah garis standar dan kualitas sumber daya manusia secara komulatif-komparatif mungkin masih kurang baik. Namun pertandingan besar telah terjadwal dan harus tetap dijalankan. Tantangannya adalah bagaimana caranya dengan waktu yang ada kita dapat optimal menyongsong MEA.

Menyalahkan pemerintah saja atas ketidak-cekatannya mempersiapkan MEA secara komprehensif mungkin dapat dimaklumi namun bukanlah sikap golongan orang-orang kesatria yang terus berjuang bersama pemerintah untuk mempersiapkan diri. Indonesia merupakan 40 persen pasar ASEAN. Porsi kue yang sangat besar yang tidak mungkin para penikmat kue untuk tidak menjulurkan tanganya, berebut untuk mendapatakan bagian. Bonus demografi yang akan kita dapatkan menjadi sebuah momentum untuk dapat meningkatkan kesejahteraan disatu sisi, namun juga menjadi ancaman bilamana banyaknya working age population yang kita miliki harus menjadi babu di negeri sendiri, jangankan ingin ‘menjajah’ dinegeri orang lain.