Estrangelo e dessa +1

Kukirimkan padamu aroma kopi yang sedang disangrai. Kubungkus dengan kabut tipis yang sedikit kuberi aroma cengkeh. Jika kau sedang sedih, hiruplah dalam, sampai kau rasakan air mata tumpah tak terbendung, sampai kau rasakan setelahnya tak ada alasan lagi untuk menangis.

Kukirimkan padamu jajaran pegunungan yang telah aku abadikan pada jajaran huruf yang kuharap bisa lebih abadi daripada sekedar gambar. Sekedar gambar yang akan menutup imajinasimu, imajinasi yang katamu membedakan kita dengan segalanya. Bayangkanlah jajaran pegunungan yang ditutupi awan yang jelas terlihat dari atas. Ya.. saya berada di atas awan, di tempat dewa-dewi mengatur nasib kita, haha… saya tidak serius mengatakannya. Tak ada dewa-dewi, hanya ada senyum pribumi yang tak juga pernah beku dalam selimut angin yang menggigilkan,

Kukirimkan padamu embun yang hinggap di bunga-bunga kol, di baju para petani, di bunga hydrangea yang tak juga bisa kita tanam di tempat kita. Terimalah saat senja mulai menguning. Saat langit seolah-olah memancar keemasan. Saya berharap gerimis datang menemanimu,seperti pada 18 april lalu saat kita sama-sama menikmati langit yang seolah terbakar,, merah keemasan.

Semua sudah terbungkus, saya menuju puncak tertinggi disini menunggu angin yang siap membawanya padamu..mungkin kau harus menunggu beberapa hari untuk menerimanya..

Alamat mu sudah jelas, namamu jelas, namamu…, saya terhenti saat akan menuliskan namamu… masih kah kau seperti saat desember lalu,

Saya ingat desember telah lama berlalu,, dan ternyata setelah itu saya tidak betul-betul lagi mengenalmu..

(saya kirim semua bersama dengan sebuah pertanyaan : bisahkah kita bertemu lagi nanti ?

 saya menunggumu di semua sudut yang pernah mempertemukan kita, di semua sudut yang saya sebut kenangan,, di semua sudut saat saya masih mengenalmu sebagai perempuan yang akan selalu mengenang hujan saat desember,,

 

 

 

 

Ada Apa Dengan Pembangunan Kampus Hari ini?

Beberapa bulan setelah memasuki tahun ajaran 2014-2015, ada yang berbeda dari setiap sudut di kampus merah. Jika kita menelisik lebih dalam dan lebih jauh, terjadinya restrukturisasi pada tatanan birokrasi di kampus merah, mulai dari tingkat rektorat hinga dekanat di fakultas. Restrukturusisai pada tatanan birokrasi kampus tersebut berdampak pula pada pembangunan infrastruktur yang ada di kampus.

Memasuki kawasan kampus, tak jarang akan kita temui lahan-lahan garapan para kontraktor dalam menata dan mempercantik kampus. Setiap fakultas berbenah, mempercantik dirinya dengan berbagai jenis pembangunan fisik yang menyejukkan mata. Setiap fakultas memperelok diri, dengan perbaikan dan pembngunan yang hampir serentak dilakukan.

Di fakultas ekonomi terjadi pembanguanan lahan parkir untuk mahasiswa, WC yang telah ada sebelumnya di perindah dan kemudian pembangunan ruang-ruang Lembaga Mahasiswa (himpunan). Himpunan di fakultas ekonomi  dipericantik dengan hadirnya “pintu kaca”, hal ini kemudian manambah kesan ekslusifan pada “rumah” lembaga mahasiswa tersebut. Ruang LEMA yang sebelumnyat ak teratur kini mulai terlihat rapi dan bersih. Disisi lain pembangunan tersebut terkesan seperti pembatasan yang ingin dilakukan pihak birokrasi terhadap LEMA. Hadirnya pintu dengan ornament “kaca nya” di analogikan sebagai poembatasan yang akan membatasi ruang-ruang gerak LEMA. Dan lema hanya akan bergerak diwilayah “pintu kaca” tersebut. Sangat jauh dengan apa yang menjadi tujuan dari LEMA itu sendiri.

Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)  pembangunan yang dilakukan pihak fakultas juga merambah rumah LEMA. Himpunan LEMA yang semula berada didekat ruang perkuliahan, dipindahkan ke bangunan yang justru semakin jauh dari mahasiswa, dengan ruangan yang lebih kecil dari sebelumnya. Hal tersebut membuat mahasiswa yang aktiv di LEMA bereaksi keras. Pasalnya keputusan yang dilakukan adalah keputusan sepihak dari pihak pimpinan fakultas, dan letak runag lema yang semakin jauh dari mahasisa akan berdampak pada proses pengkaderan yang akan dilakukan LEMA. Yang kemudian sangat ditakutakan para aktivis sospol adalah intervensi yang dilakukan pihak fakultas terhadap lema bukan hanya akan merecokki infrastrukturnya, namun akan merambah hingga suprastruktur dari lema itu sendiri.

Tak berbeda dengan yang terjadi di FISIP, pembangunan fisik yang dilkukan pihak fakultas Kehutanan juga menyentuh ranah-ranah kebebeasan LEMA. Keputusan birokrasi fakultas yang memindahkan himpunana mahasiswa ke wilayah yang juah dari fakultas (ke kampung kera-kera), mulai memunculkan pertnyaan pertanyaan dalam benak mahasiswa. Apa sebenaranya yang diinginkan pihak kampus? Apa tuuan dari keputusan pembnguanan yang dilkukan pihak kampus? Apakah memang LEMA ingin dijauhkan dari mahasiswa? Ada Apa Dengan Pembangunan Kampus Hari Ini?

Melihat kondisi-kondisis yang terjadi saat ini, adalah sebuah gambaran yang menjelaskan bahwa pola-pola pengkaderan hingga pergerakan yang dilakukan LEMA mampu dibaca oleh pihak Birokrasi kampus. Hadirnya kemudian setiap keputusan yang adalah buah dari telaah pola-pola pergerakan yang telah berlangsung lama dikampus. Birokrasi terus mengamati dan mencari solusi agar terjadi penyeragaman cita-cita anatara LEMA dan Birokrasi tersebut.

Lebih dari itu pula, pembangunan yang terjadi tidak hanya pada tataran fisik saja. Pembnguana nonfisisk juga di lakukan pihak birokrasi lewat  pembangunan karakter yang dijewantahkan dalam program BCSS. Program wajib bagi setiap mahasiswa ini semula berama BSS, dan sejak 2 tahun terakhir telah bertransformasi nama menjadi BCSS dengan masa pelaksanaan yang juga semakin diperpanjang dari semula yang hanya dilakukan selama 2 hari kini menjadi 4 hari .

Pembngunan karakter penting untuk dilakukan, namun yang disayangkan Lema adalah pembangunan karakter yang selama ini menjadi cita-cita lema justru di patok dan diambil alih oleh pihak birokrasi dengan memeperpanjang waktu pelaksanaan BCSS, dan menghambat prosesi pengkaderan yangs seharusnya telah dilakukan oleh LEMA. Jika memang tujuan dari birokrasi adalah membangun karakter mahasiswa, maka libatkan pula lema didalamnya. Karena selama ini LEMA ada untuk membangun karakter mahasiswa dengan membagi nilai-nilai idealis yang semestinya dianut oleh setiap mahasiswa.

Dalam aktulisasinya, terjadi pembenturan kepentingan antara lema dan Birokrasi. Terjadi perbedaan cita-cita antara LEMA dan Birokrasi. Ketimpangan kepentingan ini terlihat dari tujuan darn cita-cita kedua pihak. Indicator majunya sebuah birokrasi adalah persetasi (prestisius), sementara indikator majuanya sebuah LEMA adalah kaderisasinya. Pihak Birokrasi lebih menekankan pembangunan karakter pada apa yang dibutuhkan pasar saat ini, sangat jauh berbeda dengan LEMA yang menjunjung nila-nilai kebenaran dalam proses kaderisassinya.

 

Hal ini memeunculkan pertnyaan dalam benak lema, Apakah memang lema ingin dijauhkan atau menng cita-cita pembanguna karakter lema berbeda dengan yang dicita-citakan birokrasi? Ada apa dengan pemabngunan kampushari ini?

Kebebasan mahasisa adalah bersuara, namuan saat suara tersebut tidak memiliki pengaruh maka pergerakanalah yang harus dilakukan. LEMA dan Birokrasi akan terus bertentangan dalam hal kepentingan. Hal ini akan menjadi cambuk untuk lema sendiri. Ketika pola-pola pergerakannya telah dibaca oleh pihak birokrasi, adalah sebuah fakta bahwa pola yang selama ini di lakukan LEMA monoton sehingga mudah bagi pihak birokrasi untuk mengambil alih peranan dan eksistensi lema itu sendiri, Kreativitas LEMA kemudian dipertnyakan. Bagaiman kemudian lema menanggapi setiap pertentangan tersebut. Mahasiswa tek perlu naïf bahwa mereka tidak membutuhkan fasilitas yang memadai, namun mahasiswa juga tak boleh hanyut dan ternggelam dengan kenikmatan yang disediakn. Memanfaatkan fasilitas yang hadir sebagai acuan untuk lebih produktif dalam bekerja adalah hal positif yang dapat dilakukan

BCSS, perbaikan ruang LEMA dan banhkan keputusan pemindahan markas LEMA adalah sebuah hal positif dalam pembngunan. Namun hal itu kemudian menjadi pertanyaan ketika “ada udang dibalik batu”.  Idealis mahasiswa tida dapat dibeli dengan fasilitas yang diberikan pihak birokrasi.  Jangan tidur  dan jangan larut didalamnya, kevakuman hanya milki mereka yang tak berpikir. Jika Socrates mengatakan aku berpikir maka aku ada, maka bangaimana dengan mereka yang disebut tak “berpikir”.

Penerapan prinsip-prinsip dasar manajemen operasi sebagai pendekatan stratejik dalam pencapaian tujuan Lembaga Kemahasiswaan

Konsep manajemen operasi merupakan kegiatan yang kompleks, tidak saja mencakup pelaksanaan fungsi manajemen dalam mengkoordinasi berbagai kegiatan dalam mencapai tujuan operasi, tetapi juga mencakup kegiatan teknis untuk menghsilkan suatu produk yang memenuhi spesifikasi yang didinginkan, dengan proses produksi yang efisien dan efektif serta dengan mengantisipasi perkembangan teknologi dan kebutuhan konsumen di masa mendatang.

Kegiatan dalam manajemen operasi adalah menyangkut penggunaan sumber daya seefektif dan seefisien mungkin demi tercapainya tujuan. Kegiatan manajemen operasional mencakup aspek-aspek: Pelaksanaan proses dengan menggunakan metode yang tepat, aspek penunjang lain untuk pencapaian tujuan, perencanaan sebagai dasar untuk langkah dan strategi yang ingin ditempuh, serta pengendalian untuk memastikan bahwa semua berjalan sesuai rencana.

Lembaga kemahasiswaan adalah salah satu dari sekian banyak contoh organisasi nirlaba. Sebagai sebuah organisasi yang seyogyanya bersanding dengan birokrasi kampus dalam pengembangan potensi kemahasiswaan di dalam maupun luar aspek akademik, pasti memiliki criteria organisasi yang tidak jauh berbeda dengan yang lainnya. Lembaga mahasiswa punya cita-cita, tujuan, visi-misi yang ingin dicapai, serta sesuatu yang ingin diberikan pada konsumen (mahasiswa) untuk mempertahankan eksistensinya.Perbedaan lembaga mahasiswa dengan organisasi lainnya adalah aspek sumber daya dan ruang lingkupnya.

Dalam mencapai tujuannya dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki dan menganalisis lingkungan sekitar, dibutuhkan sebuah pendekatan atau strategi. Meskipun bukan sebuah organisasi yang mengejar profit dan menjual barang, namun sebagai sebuah lembaga tetap memiliki tujuan dan cita-cita yang ingin dicapai. Seyogyanya karena lembaga mahasiswa dipenuhi insan intelektual, maka dalam menjlankan roda organisasi diperlukan sebuah pendekatan keilmuan. Terlebih lagi lembaga mahasiswa bergerak dalam lingkup akademis.

Pendekatan operasional adalah pendekatan yang mesti dipelajari, dikembangkan, serta coba diterapkan pada lembaga mahasiswa. Karena di dalam pendekatan operasional berisi tentang cara untuk penetapan visi-misi yang menuju pada pencapaian tujuan organisasi, penggunaan metode yang tepat untuk mencapai tujuan, serta aspek-aspek lain yang perlu diketahui dalam menjalankan orgnisasi. Oleh karena itu, lembaga mahasiswa diharapka dapat menerapkan prinsip-prinsip dasar operasional untuk menjalankan roda organisasi agar tujuannya dapat dicapai.

Proses pencapaian tujuan lembaga kemahasiswaan membutuhkan kerja sama antara semua stakeholder. Peran masing-masing stakeholder menjadi tiang dalam menopang pelaksanaan kegiatan lembaga kemahasiswaan. Mahasiswa sebagai salah satu unsur dari lembaga kemahasiswaan diharapkan untuk meningkatkan kapasitas keilmuan yang mereka miliki khususnya yang menjadi focusannya. Peningkatan kapasitas keilmuan yang dimiliki harus diiringi dengan kepekaan, kesadaran,  dan kepedulian terhadap perubahan lingkungan sosial. Selain itu, kecepatan, ketepatan dan konsistensi setiap kader dalam lembaga kemahasiswaan menjadi tolak ukur dalam mencapai tujuan lembaga kemahasiswaan sebagai lembaga pengkaderan yang memiliki strong point dalam penanggulangan krisis kader, krisis intelektual, dan krisis etika dan sikap mental. Profesionalitas dari setiap kader dalam lembaga kemahasiswaan menjadi jembatan untuk melewati tantangan-tantangan yang saat ini dihadapi lembaga kemahasiswaan.

Incoming search terms:

  • bagaimana cara menerapkan prinsip manaje en