Satu setengah halaman selamat datang

By Anwar

Selamat datang saudaraku. Kami menyambutmu dengan tangan terbuka, dengan sesungging senyum. Terimah kasih untuk kalian yang telah memilih, meski kadang beberapa orang menyebut kalian orang terpilih, tapi sungguh kalian lah yang memilih. Sekarang rumah itu telah menjadi milikmu juga. Dulu kami menjamu dan menyambutmu sebagai tamu, sekarang kau adalah bagian dari kami.

Dulu saya juga pernah melalui proses seperti yang kalian jalani. Jujur saja,dulu saya bangga bisa menjadi bagian keluarga IMMAJ. Saya bahagia punya keluarga baru, meski bisa dikatakan ada faktor psikologis yang berbeda diantara kita. Yang menurut saya mempengaruhi perasaan kebanggaan, kebahagiaan yang saya rasakan. Sebagai seorang yang berasal dari kampung, berada di lingkungan baru tentu butuh asosiasi yang mengikat kita agar tidak merasa terasing. Dan itu saya temukan di IMMAJ.

Saudaraku, memang kita bukan berasal dari rahim yang sama. Beda DNA tentu saja, tapi kita disatukan dalam sebuah ruang yang sama. Melalui pilihan yang sama. Kita keluarga sekarang, predikat yang sangat intim. Tapi saudaraku, saya berharap kita punya pandangan yang sama tentang makna keluarga. Saya harap kita memaknai kata keluarga yangkita pakai, ditambah lagi pesan tentang keluarga yang beberapa kali kalian dengar dari saudara-saudara tua kita “jika kita keluarga apapun bisa kita lakukan bersama, tidak ada yang tidak mungkin” ditambah lagi ketika sebuah kalimat yang banyak membuat kita terlarut, melahirkan sense yang sangat dalam. Saya yakin kalian merasakan hal yang sama dengan saya ketika mendengar kata itu.Pengamatan sederhana saja, banyak diantara kalian yang mengucapkan kata-kata itu saat terakhir kita berada dalam proses yang kalian lalui sebagai syarat menjadi keluarga. Kata yang berupa mantra, kata yang meniupkan roh-roh spirit“berjalan, berkarya, dan tumbuh bersama”.

Keluarga, semoga cara pandang kita tentang keluarga tidak sama dengan cara pandang tentang keluarga di era dulu, dimana kita dipimpin oleh sebuah rezim yang mengharuskan orang patuh,meski sebenarnya hati kecil menolak. Tapi semua orang tidak berani berkata, dan diam adalah hal yang paling berharga. Diam adalah emas, salaka mette’e, ulawengmekko’e ( berbicara adalah perak, diam adalah emas) sebuah pepatah bugis menuliskan seperti itu. Di era itu, tanpa memandang konteks, kata tadi menjadi dogma yang bila seseorang melanggarnya bisa mendatangkan kutukan, kutukan bernama “hilang” “di amankan” “di tertibkan”. Jadilah masyarakat kita sebagai masyarakat “toleran”, toleran terhadap pelanggaran, kejahatan, masyarakat yang penuh kepura-puraan, pura-pura tidak melihat saja, karena kalau sampai mata melihat, lidah akan berucap. Sedangkan kita tahu, di era itu “mulutmu harimaumu, lidah tidak bertulang, tapi dapat meremukkan tulang.

Berbuat baiklah kepada keluarga,maka kau akan bahagia dan mendapat keberkahan. Segala kebenaran adalah berada di keluarga. Bukan itu yang kami maknai sebagai saudara yang lebih tua dari kalian. Kami tidak mau label keluarga membuat kita bisa melakukan apa saja,semau kita. Bukan itu. Kita tidak perlu mengingatkan akan nilai-nilaikemanusiaan yang dibawa yang menjadi dasar kekeluargaan kita. Biarkan saja saudara kita menginjak nilai-nilai kemanusiaan, bagaimanapun juga dia keluarga kita. Jelas bukan itu juga makna keluarga yang kami pahami.

Keluarga ini dibangun atas dasar yang kuat. Menjaga nilai-nilai kemanusiaan, kebaikan. Karena kita keluarga mari kita bersama memperjuangkan nilai yang kita pahami bersama, yang kita sadari bersama. karena kita keluarga mari kita saling mengingatkan akan kebenaran,kebaikan. Karena kita keluarga semoga kita mau terbuka dan bahagia ketika dikritik. Karena kita keluarga, bukankah kita harus berkata jujur satu sama lain.Itulah keluarga yang kami maknai. Tidak ada artinya kita dikenal sebagai keluarga yang solid, keluarga yang besar, jika pondasi yang menopang keluarga kita, kita hancurkan. Meski sebenarnya kebersamaan juga menjadi salah satu tanda kekeluargaan. Tapi bukankah kita keluarga ideologis, itulah yang mengikat kita.

Saya bahagia ketika kalian masukdalam lingkaran keluarga ini. Saya juga berharap banyak hal yang bisa kita lakukan bersama, banyak hal yang mesti kita pertahankan bersama, tapi saudaraku, tampaknya lebih banyak yang harus kita lawan. Semoga kita bukan pengikut dogma yang meletakkan sesuatu tanpa memperhatikan konteks yang tepat.

Takutkah kau melawan saudaraku ?kenapa ? kalau apa yang kita perjuangkan tidak jelas bagimu, ceritalah. Diam hanya menjadi emas jika berada di tempat yang tepat. Tidak di semua tempat saudaraku. Jangan takut “lepaskan segala belenggu demi menyongsong pencerahanzaman”

Karena sungguh itu didasari karena kita menghendaki kebaikan bersama. meski kadang kebaikan yang kita maknai masih minoritas, tapi itu bukan pertanda kalau kebaikan kita salah.Kebenaran suatu ideology bukan ditandai ketika dia berkuasa, bukankah begitu saudaraku?

Selamat datang saudaraku, kami saudaramu yang lebih tua bukanlah sumber kebenaran, ingatkan kami jika salah. Kami bahagia  di kritik,

Berjalan, berkarya, dan tumbuh bersama

Lepaskan segala belenggu,menyongsong pencerahan zaman

11:54

By Anwar

“semua muslim adalah saudara dalam islam, dan semua non muslim adalah saudara-saudara kita dalam kemanusiaan”

Agama yang apabila berada dalam sebuah ruang pendiskusian tentu saja menjadi wacana yang akan selalu hangat untuk di bahas sampai kapanpun. Kehangatannya bahkan kadang mengalami peningkatan suhu menjadi wacana yang panas, sensitive, dan jika pembahasan itu tidak dibarengi kepala yang dingin wacana itu bisa berujung pada sebuah bentrokan. Bukan bermaksud untuk memprovokasi, ini hanya sebuah bentuk gambaran jujur tentang apa yang kerap kita temukan di Negara kita Indonesia. Walaupun angka konflik horizontal yang mencakup konflik agama di Indonesia menurun dari tahun 2012 ke 2013 yaitu dari 128 kasus menjadi 85 kasus sesuai data KEMENDAGRI (Kementrian Dalam Negeri), hal itu bukan hal yang patut dianggap sebagai keberhasilan besar. Kita belum bicara tentang besaran konflik, korban yang ditimbulkan.ternyata Bhineka tunggal ika belum menjadi diktum yang ampuh menertibkan keadaan.

Agama yang secara harfiah berarti “tidak kacau” yang bila coba ditafsirkan berarti sesuatu yang damai, sesuatu yang tertib malah kerapkali menjadi kendaraan bagi beberapa orang yang katanya pembela agama untuk melakukan peperangan, penghancuran, penyerangan terhadap penganut agama lain. Bahkan tidak jarang juga yang menjadi sasaran adalah saudara seagama yang karena beda aliran, akhirnya menjadi sasaran penyerangan. Di Negara Indonesia yang majemuk, potensi untuk kejadian tersebut tergolong besar, realitas yang terjadi memang demikian, konflik semakin mudah kita temukan.

Perbedaan adalah kemutlakan yang ada di muka bumi. Bukankah Tuhan lah yang menjadikan kita berbeda-beda, tujuannya agar kita saling mengenal dan saling mengasihi. Agama hadir diharapkan untuk membawa rahmat bagi  alam semesta. Ada yang menganggap bahwa fanatisme menjadi pemicu konflik antar agama. Seorang yang meyakini agama berarti meyakini adanya Tuhan, tentu saja hal itu harus disertai dengan sikap yang menjadi manifestasi keyakinan kita. Kita memang harus fanatik dan ekslusif dalam beragama. Fanatik dalam hal ini adalah sebuah cinta yang penuh terhadap apa yang diyakini. Setiap penganut agama harus meyakini bahwa jalan yang diyakininya adalah benar. ketika kita sudah meyakini bahwa agama kita adalah agama yang benar dan satu-satunya jalan menuju Tuhan, maka pada saat itu, kita dituntut untuk bersikap eksklusif. Kita tidak boleh lagi mencampuradukkan keyakinan dan ajaran agama yang kita yakini dengan ajaran-ajaran lainnya.

Agama atau keyakinan punya dua ruang yang harus di perhatikan untuk mewujudkan ketertiban, kedamaian sesuai dengan arti harfiah agama. Agama punya ruang pribadi dan ruang publik. Ruang pribadi agama yaitu pandangan yang menganggap bahwa jalan yang dipilih adalah benar, makanya kita harus menjalankan perintah agama dengan utuh, ibadah kepada tuhan dan kepada sesama manusia. Agama dalam ruang publik harus hadir sebagai keyakinan yang disertai pengakuan terhadap keberagaman. Perbedaan itu mutlak, makanya agama harus menunjukkan bentuk tolerannya. Kita harus meyakini bahwa semua agama hadir untuk menciptakan perdamaian, mewujudkan keteraturan dan mengajarkan cinta kasih.

perbedaan adalah keniscayaan, tapi bukan berarti kita tidak boleh membahas perbedaan dalam sebuah dialog, dan kita tidak boleh memaksakan kehendak kita pada orang lain, lakum dinukum waliyadiin (untukku agamaku dan untukmu agamamu). Jika kita duduk bersama dan berbicara, kita akan memahami satu sama lain. Hal itulah yang sebenarnya diharapkan terjadi ketimbang tindakan-tindakan saling menyalahkan, mengkafirkan, tanpa pernah melalui proses dialog, serta tidak membiarkan kita berada pada posisi yang tidak berlandaskan perasaan fanatik tanpa dilandasi pengetahuan yang kuat. Iman, ilmu, amal harus selalu bersanding bersama.

daripada kita mempermasalahkan perbedaan, sebenarnya ada masalah yang kerapkali tidak diperhatikan. Karena agama hadir sebagai rahmat. Beberapa literatur mengatakan Tuhan tidak perlu dibela, sudah seharusnya agama hadir untuk manusia. Bukan agama untuk Tuhan. Agama harus jadi spirit perlawanan tatkala kita berada dalam rezim yang zalim, menginjak-injak kemanusiaan. dalam kisah para nabi, nabi selalu bertentangan dan berhadapan dengan system yang zalim. Mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan. Para nabi mengajarkan kesalehan sosial sekaligus structural.

“Jika kau berbuat baik orang tidak akan bertanya, apa agamanmu” (Gus Dur)

“Tuhan dalam keanekaragaman kami, ajar kami untuk saling mengenal dan saling mengasihi”

Kereta Tujuan

By Fheby Queeny

Jam telah berdetak untuk ke sekian kalinya, menunjuk ke angka lima. Wanita dengan baju yang semakin usang itu kian melesu, wajahnya semakin mengerut, tetapi masih tersimpan banyak harapan ketika menatap kedua matanya yang bulat dan berwarna cokelat gelap. Ia mulai sesekali memegangi perutnya yang datar dan berlapisi kain berwarna merah muda dengan corak tulip itu. Yang tersisa hanya secubit roti yang dibelinya tadi pagi dan beberapa tetes air mineral botol di tangannya.

Orang-orang semakin banyak yang berlalu-lalang melintasi matanya. Tetapi ia masih tetap setia menduduki sebuah bangku kayu tua yang berwarna cokelat tua itu, hanya tertinggal ia sendiri dan seorang ibu muda dengan anaknya yang masih sekitar tujuh tahun. Hingga akhirnya masinis membunyikan klakson tanda bahwa ia telah tiba. Ibu muda dan anaknya itu pun beranjak dari bangku kayu tua itu, sehingga yang tersisa hanya dirinya. Bangku kayu tua itu seakan menjadi batas kehidupannya dengan yang lain, membuatnya hanyut dalam heningnya keramaian orang-orang yang berlalu-lalang pada saat itu. Ya, ia merasa sangat kesepian dalam keramaian itu.

Ia sesekali mendongak, memastikan bahwa sebuah kendaraan yang berjalurkan rel menuju ke tempat tujuannya telah tiba atau belum. Dan sesekali pula ia terpaksa menanamkan kembali rasa kecewanya. Kereta tujuannya tak kunjung tiba. Ia kembali menyandarkan pundaknya ke bangku kayu tua yang sekarang menjadi sahabatnya. “Apa keretanya telah pergi jauh sebelum aku di sini? Apa keretanya tak akan pernah datang lagi?” tanyanya dalam hati. Sekali lagi, rasa kecewa memenuhi segenggam ruang di hati kecilnya yang retak. Tetapi ia tetap duduk dan menunggu. Tak ada sekalipun ia berpikir untuk pulang ke rumah, ia tetap menunggu kereta itu dengan penuh harapan.

Kini hadapannya semakin sepi, orang-orang yang mengisi terminal itu semakin berkurang. Langitpun mulai menghitam, lampu jalanan mulai dinyalakan, terlihat remang-remang. Wanita itu mendongak menatap langit yang kian gelap, sesekali berharap kepada langit untuk mendatangkan kereta tujuannya. Ia akhirnya sedikit tersenyum. Ia kini tidak hanya berdua dengan bangku kayu tuanya, teman lamanya yang setia telah kembali dari peristirahataannya–langit malam yang dipenuhi bintang. Ia terus mendongak dan menatap temannya itu, mereka seakan benar-benar berkomunikasi. Sesekali ia regangkan lehernya dan kembali mendongak. Tetapi suara bell masinis tak kunjung ia dengar kembali.

Suara langkah pelan sepasang kaki mulai mengisi telinganya. Fokusnya mulai teralihkan ke suara itu, tetapi ia tetap menatap ke arah langit. Nampaknya suara itu semakin dekat dan mengarah padanya. Hingga akhirnya ia merasa seperti ada seseorang yang duduk di sampingnya, di bangku kayu tuanya. Ia pun dengan segera memalingkan wajahnya ke seseorang itu. Sungguh terkejutnya ia ketika matanya tertuju pada seseorang yang duduk di sampingnya itu. “Ada apa dengan kakek ini? Kasihan sekali.”, gumamnya dalam hati. Ya, seseorang itu adalah seorang kakek tua renta yang hanya membawa sebuah tongkat kayu.

“Apa yang kau lakukan hingga larut malam begini, wahai gadis muda yang rupawan?”

“Aku menunggu kereta tujuanku yang sedari pagi tadi belum tiba, aku rasa akan tiba sebentar lagi. Hmm, kakek sendiri sedang apa?”

“Entahlah, entah mengapa kakiku menuntunku ke tempat ini. Mungkin aku sedang teringat dengan sesuatu. Dari kejauhan aku sudah memperhatikanmu. Nampaknya kau sedikit bersedih.”

“Ya begitulah, kakek. Aku sedikit bersedih, kereta ku belum juga tiba, sedangkan aku sangat ingin pulang.”

“Mengapa tak kau tanyakan saja ke bagian informasinya?”

“Sudah aku lakukan pagi tadi, tapi mereka hanya tertawa.”

“Oh ya, memangnya ke mana tujuan kereta yang kau tunggu sedari tadi?”

“Kereta yang aku tunggu yaitu kereta dengan tujuan ke masa lalu, kakek.”

Kakek itu pun tersenyum, kemudian mengeluarkan secarik kertas yang terlipat dan diberikannya ke gadis itu. Ia kemudian berdiri dan dengan tongkatnya beranjak dari hadapan gadis itu. Gadis itu hanya terheran dan kembali menatap temannya, langit malam. Berkonsentrasi dengan pergerakan angin yang membawa awan, seakan ia sangat ingin ke sana, ke luar angkasa. Tetapi keinginannya ke sana tidak lebih besar dibanding keinginannya yang sedari tadi ia nanti-nantikan.

Ia pun tiba-tiba teringat dengan secarik kertas yang diberikan oleh kakek tua tadi. Kertas itu masih terlipat di tangan kanannya. Ia pun membukanya, dan mulai membacanya.

Tiap pagi aku kembali ke tempat di mana harapan aku tanggalkan, di mana segenggam impian aku tinggikan, dan di mana hanya ada hening yang menjadi temanku. Tiap pagi aku kembali menutup mata dan kembali ke tempat itu. Hanya dalam diamku aku berbicara, hanya dalam sepiku aku mendengar, dan hanya dalam kelamku aku melihat. Tak satupun yang ku dengarkan, setiap nasihat yang aku terima tak menggetarkan besarnya harapku. Hingga akhirnya mereka semua pergi meninggalkan ku, tersisa hanya tubuh kurus yang semakin tua ini. Sungguh sangat terlambat aku menyadari ini, yang selama ini aku hanya tenggelam dalam masa lalu ku yang indah, sedangkan dunia yang sedang ku jalani terasa keruh. Aku seakan ingin kembali ke masa lalu itu, kembali pada keindahan itu. Tetapi aku tak pernah kembali, tak akan pernah. Tuhan, mengapa aku begitu terlambat menyadari hal itu? Bukanlah masa lalu tujuan untuk mendapatkan kembali keindahan itu, tetapi bagaimana aku dapat membangun masa kini dan masa depanku agar kembali indah. Terima kasih malam, atas petunjukmu kala itu. Semoga kertas ini akan selalu mengingatkanku akan arti hidup sebenarnya.

Gadis itu pun menitikkan air matanya, hanya setitik. Ia kemudian beranjak dan meninggalkan teman barunya. Ia nampaknya telah menemukan keretanya, kereta yang baru ia sadari, kereta tujuan masa depan.

Duka Di Atas Duka

By Dwinisyaaa

Dari rimbun mendung langit sepi
Hujan turun sujud ke bumi
Bernyanyi membawa luka dan perih
Menyibak suara alam suara hati

Genangan air menyengsarakan
Melihat tragedi pilu menelan saudara saudaraku
Ketika ombak menyalak menjadi gemuruh tumpah
Ratusan jiwa terlibas nyaris tak tersisa

Batinku menjerit menangis
Kuhantarkan doa
Kuserahkan air mata
Pada kehidupan yang tragis di seberang sana
Pada bocah-bocah yang ditinggal mati
Pada ayah ibu yang sibuk mencari
Pada mereka yang dihunjam putus asa menyingkap misteri

Hangat duka dan derita
Bumi seakan diam dalam murkanya
Bergelimpangan mayat di mana-mana
Materi tak ada harganya
Harapan dan cita-cita menjadi sia-sia

Mungkin ini adalah tanda
Tamparan dari Yang Maha Kuasa
Atas kesombongan dan keangkuhan
Pada jiwa yang seringkali lalai dan lupa

Maka Ya Tuhan
Ampuni perbuatan hina kami
perbuatan hina mereka
perbuatan hina semua

Luka saudaraku adalah lukaku
Perih saudaraku adalah perihku
Kata-kata yang sangatlah sederhana
Namun bagiku di dalamnya terdapat makna
Bahwa dukaku ada di atas dukamu