Are We Ready??

By Corbeau

 

Masih teringat di benak saya waktu Juni lalu kala mengikuti Perlombaan Marketing PMDC Perbanas di Jakarta. Sungguh cerita yang sangat berkesan. Saat itu seminggu sebelum keberangkatan saya masih mencari 2 orang untuk menemani saya dalam sebuah tim debat. Kami hanya melakukan 3 hari persiapan, itu pun hanya untuk mengatur strategi kecil untuk tampil lebih baik. Dengan full biaya sendiri, kami mencoba peruntungan itu.

Serunya bukan hanya sampai di situ. Pada saat keberangkatan kami ketinggalan pesawat, yang hampir membatalkan kepesertaan kami dalam lomba. Perasaan gelisah membuat kami tak bisa tidur untuk mencari tiket keberangkatan selanjutnya, ditambah teman kami tiba-tiba tak bisa berangkat karena belakangan batal direstui orang tua. Hingga akhirnya esok pagi kami jadi berangkat, setelah mendapat tiket terkahir dan bisa meyakinkan orang tua teman saya.

Namun sayangnya, pengorbanan tidak berbuah manis. Kami kalah 2x hingga harus tersingkir di babak ke2. Namun kami menganggap hal ini wajar, karena tidak mengikuti technical meeting. Keterlambatan kami membuat kami ketinggalan beberapa informasi, dan pastinya sedikit membuat kami down. Akhirnya sisa hari di Jakarta hanya berkegiatan sebagai penonton saja.

Ada penyesalan kecil yang kami rasakan. Setelah sekian banyak kejadian dan pengorbanan, hanya inikah yang bisa kami dapat? Hal klise yang timbul dalam benak adalah kami membayar sebuah pengalaman. Kami mewakili Universitas terbaik di Makassar belum bisa jadi pemenang

Coba kita bawa ilustrasi pengalaman saya ke ranah yang lebih serius dan lebih makro. Persaingan dan kompetisi sudah jadi hukum alam yang ada sejak dulu. Dan yang paling besar terasa adalah persaingan di bidang politik dan ekonomi.

Asean Economic Community sudah hampir di depan mata. Para pelaku ekonomi lokal bukan hanya akan bertarung dengan pemain dari daerah lain, tapi dari negara lain sampai tingkat Asia. Para pemain akan bersaing untuk memenangkan pasar. SDM juga bertarung untuk meraih pekerjaan yang berkualitas.

Mari kita tanya pada diri kita  semua. Apakah kita sudah siap untuk bersaing dengan orang luar? Sebaik dan sebanyak apa bekal kita untuk menghadapinya? Apakah mental kita mampu untuk menghadapi persaingan yang lebih keras dari sebelumnya? Dan apakah pemerintah sudah cukup membantu pemain lokal untuk menjadi pesaing yang lebih matang?

Coabalah kita mengambil pelajaran dari beberapa fenomena yang terjadi. Sebagian sektor pertambangan dan alam telah dikuasai oleh perusahaan asing. Sebagian saham perusahaan BUMN diakuisisi oleh korporat luar negeri. Bagaimana bila kita memasuki era persaingan yang lebih terbuka. Apakah kita bisa terima hanya bisa jadi penonton, dan jangan sampai penonton di negeri sendiri.

STP Versi 2

By Corbeau

 

Ternyata ada acara termudah untuk menerapkan metode marketing sederhana dalam siklus ekonomi. Sangat berguna bagi produsen untuk menentukan langkah agar bisa menjual dengan sukses, serta membantu konsumen dalam keputusan pembelian. Apakah itu?

Semua orang yang bergelut di bidang marketing tahu apa itu STP. Strategi Segmentation, Targeting and Positioning. Namun versi 2 yang saya tafsirkan lebih sederhana, dan berlaku bagi produsen, penjual, maupun konsumen.

STP versi 2 itu masih berawal dari Segmentasi, yaitu kita membagi konsumen ke dalam beberapa segmen terlebih dahulu. Selanjutnya Targeting masih sama, yaitu memilih segmen tertentu yang ingin kita tuju. Pada tahap Positioning lah yang berbeda. Bukan memposisikan barang sesuai dengan segmen, namun bagaimana kita memposisikan diri kita. Agar tidak pusing, cobalah penjual memposisikan diri sebagai konsumen, begitu pun sebaliknya.

Terkadang banyak penjual bertanya mengapa kadang dagangannya tidak laku atau barang apa yang harus saya jual? Dan kadang konsumen bertanya barang apa yang baik saya beli saat ini? Setelah mereka seolah-olah berganti peran mungkin pertanyaannya akan berubah. Apa yang kurang dari barang ini (yang saya jual)? Barang apa yang paling berguna (untuk saya jual)? Bukankah lebih mudah mencari jawabannya.

Ada baiknya penjual berpura-pura jadi pembeli dan mengunjungi pesaingnya, untuk mengukur pesaing dan pasar, serta terlibat dalam riset-riset yang berhubungan dengan selera konsumen.

Siang dan Malam

By Fheby Queeny

Ia menyiramkan benih sinarnya di kala sang burung hantu mulai kembali ke peristirahatannya, memberikan indah gambaranNya.
Ia menumbuhkan jejak-jejak penuh lengkungan di wajah, berdiam dan hanyut dalam hening kenangan masa depan.

Ia kini berganti menjadi Ia,
Ia yang tak pernah akan kau lenyapkan dari segenggam ingatanmu yang rapuh itu.
Ia yang menenggelamkan Ia, mengubah terang menjadi gelap dan menumbuhkan tanaman-tanaman berkedip indah ketika kau mendongak.

Namun kini,
Risau mendera, air tak dapat kau hentikan lagi, membasahi pipimu.
Kau terjebak, terperangkap, dalam gejolak yang bermitosis di dadamu sendiri.
Rasa sesal mendera, hingga akhirnya dua helai daun yang salah satunya siap untuk menusuk jiwamu.

Namun kini saatnya,
Kau harus menemukan jawaban segala yang menemani waktu bekerja, yang menyertai planet ini berotasi dan memindahkan alam kita.
Jawaban yang, sampai saat ini kau masih mencari, tunduk dan mendongak, begitu seterusnya.

Ingatlah sayang,
Ia tak pernahlah sama, Ia berbeda, Ia yang butuh engkau untuk memutuskan.
Ia kembali datang dengan gelombang gelapnya dan senyum cerahnya ketika kau mendongak, tapi kau kembali tunduk.
Ia dan Ia, yang selalu hadir bersama hening dalam hari-hari semesta naunganmu.