MOTHER LAND

by Anwar

 

Ibu Pertiwi merupakan personifikasi nasional Indonesia, sebuah perwujudan tanah air Indonesia.Sejak masa prasejarah, berbagai suku bangsa di kepulauan Nusantara sudah menghormati roh alam dan kekuatan bumi, mereka mengibaratkannya sebagai ibu yang memberikan kehidupan, sebagai dewi alam dan lingkungan hidup. Setelah diserapnya pengaruh Hindu sejak awal millenia pertama di nusantara, dia dikenal sebagai Dewi Pertiwi, dewi bumi.

Seorang anak sebagaimana seharusnya di semua budaya di belahan dunia manapun, pada agama apa pun, mengajarkan kita untuk berbuat baik pada orang tua khususnya ibu. Dia yang melahirkan, dia yang merawat, sudah semestinya diperlakukan dengan baik. Alam indonesia yang dipersonifikasikan sebagai ibu pertiwi, sosok ibu pertiwi yang sudah berusia 68 tahun, tidak lagi muda. Sebagai sosok yang tua, dia mulai tak berdaya. Tapi apa perlakuan putri-putri ibu pertiwi terhadap sang ibu pertiwi ? Ibu yang tuarenta di hisap habis-habisan, semakin lemah, semakin tak berdaya. Itukah bentuk kasih sayang ? itukah bentuk terimah kasih pada ibu yang memberi, ibu yang merawat ?

Bumi,air, udara, dan segala hal yang menguasai hajat hidup orang banyak, dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kebutuhan rakyat. Begitula hyang diatur dalam perundang-undangan negara, pasal 30 ayat 1. Negara yang kemudian hadir sebagai institusi pengatur, yang mengarahkan bagaimana seharusnya pola interaksi manusia (rakyat) dengan ibu pertiwi.Tapi apa yang kemudian terjadi, negara yang mengatur tidak cukup kuat dan tidak cukup bijak memperlakukan ibu pertiwi. Segala kekayaan di hisap, digagahi, sampai yang tersisa hanya tak tahu apa. Segalanya di eksploitasi, dan parahnya lagi ternyata yang menikmatinya bukan kita, bukan kita sebagai rakyat indonesia, bukan kita putra-putri ibu pertiwi. Melainkan mereka para pemodal, para borjuis asing yang entah apa hubungannya dengan ibu pertiwi.

Tanpa ada sentuhan manusia, tanah yang luas ini, menghasilkan hutan-hutan dengan pohon-pohon yang sangat mahal harganya. Di dalam perut indonesia terkandung mineral yang sangat mahal seperti emas, minyak, batu bara, uranium, nikel dan masih banyak lagi. 2/3 wilayah ibu pertiwi terdiri dari air, dan kaya dengan hasil laut.

Tapi putra-putri ibu pertiwi, tidak mendapat manfaat dari apa yang dimiliki ibu pertiwi. Kekayaan itu telah dirampas, ibu pertiwi dikuasai negara dan negara membiarkan siapa saja mengambil kekayaan itu, undang-undang dasar di khianati, dan akhirnya rakyat menjadi tamu di negerinya sendiri. Negeri yang datarannya penuh sumber daya, di huni rakyat yang kelaparan, rakyat yang terpaksa menjadi buruh karena tidak memiliki lahan untuk di kelola. Lahan itu hak milik pengusaha, pemodal besar asing, mereka bergelut dengan segala urusan yang berhubungan dengan bagaimana menimgkatkan hasil, menjaga kualitas, sementara rakyat masih berkutat pada masalah perut. Laut yang luas tidak cukup membuatnelayan kita menjadi nelayan yang kaya. Di hampir semua pesisir kita menemukan perkampungan nelayan yang miskin, kumuh, dengan peralatan melaut yang seadanya. Sementara di laut lepas kita melihat lalu lalang kapal penangkap ikan dengan skala besar.

Jadilah kekayaan yang sifatnya given ini pada suatu hari akan habis juga. Sudah hampir habis tapi kita sebagai pewaris, yang di dalam tanah yang kita pijak dianugerahkan kekayaan dari Tuhan, tidak mendapat apa-apa, kecuali limbah, dan bencana yang setiap saat selalu mengancam. Eksploitasi yang berlebihan telah membuat alam semesta tidak seimbang. Masalah dan bencana yang terjadi menurut pandangan eco feminis karena kita terlalu mengaktualkan sifat-sifat maskulin. bumi yang digambarkan sebagai ibu, telah dieksploitasi, dijarah dan dirusak olehsistem kapitalisme yang berkuasa dengan melanggengkan budaya patriarki dan feodalisme.

Mainstream pembangunan yang bertumpu pada kepentingan modal dengan jargon pertumbuhan ekonomi, menjadi pemicu utama dari kehancuran ekologi dan kebangkrutan yang terjadi di Indonesia. Sistem kapitalisme telah menempatkan sumber daya alam sebagai sebuah komoditi yang bisa dieksploitasi sebebas-bebasnya, tanpa pernah mempertimbangkan daya dukung alam di dalamnya. Selain potret kehancuran ekologi, sistem kapitalisme juga telah melanggengkan sebuah model penjajahan yang dinamakan oleh Hira Jhamtani sebagai eco-kolonialisme.

Dan akhirnya ibu pertiwi, semakin bersusah hati…semakin merintih… dan doanya tak lagi membantu, karena putra-putri tak lagi mencintai sang ibu…

Usia Sebatas Angka

by Rizky ameliya wati

 

“Age is just a number”. Kalimat yang selalu menggelitik untuk kembali direnungkan saat menghadapi sebuah perayaan. Perayaan tahunan atas bertambahnya sebuah angka. Angka. Ya, sebatas angka. Angka yang menyiratkan bertambahnya usia, sekaligus berkurangnya jatah usia. Sedikit sarkasme memang. Tapi mau diapa? Kita sedang bicara realita.

Inilah 17 Desember untuk ke-29 kalinya. Dua deret angka yang menyatakan usia yang tak lagi muda. Namun, belum keburu senja. Dan, tidak ada diksi “senja” untuk sesuatu yang bernapaskan pergerakan dan perubahan, bukan? Selama 17 Desember tak ditelan masehi, maka “semangat 1984” –tahun bersejarah untuk perayaan ini- tak akan pernah mati. Selayaknya perjalanan yang panjang, setiap langkah kita memiliki tujuan. Berawal dari langkah kecil, di mana ruangan biru itu gagah berdiri. Menjadi saksi bisu atas kedatangan orang yang datang dan pergi, silih berganti. Menjadi sekubik kecil di mana sebuah keluarga besar berjalan, berkarya dan tumbuh bersama. Dan ruangan biru itulah rumahnya.

Rumah, yang pada akhirnya selalu menjadi tempat untuk kembali. Namun, terkesan egoiskah kita jika “kembali”hanya untuk sebuah perayaan? Lagipula, hari ini hanyalah pergantian angka. “Hanya” jika tidak dibarengi oleh niat dan semangat baru untuk sesuatu yang lebih baik. Untuk sesuatu yang lebih matang. Untuk sesuatu yang berlandaskan perubahan. Karena, kalimat yang menyatakan bahwa usia hanyalah angka memang patut dibenarkan. Namun, alangkah baiknya, kalimat itu sedikit kita ubah. Age is just a number. Maturity is a choice. Dan, kini, hari ini, detik ini, saatnya kita memilih.

Memilih bahwa usia di penghujung 20 itu menjadikan sesuatu yang kita perjuangkan, terus berjalan, berkarya, dan tumbuh dalam kematangan. Memilih untuk terus bergerak, tanpa melupakan nilai-nilai yang kita bawa. Memilih untuk terus membangun rumah kita dengan pondasi yang sama, namun dengan semangat yang terus diisi ulang. Semoga keluarga besar ini tidak menjadikan rumah itu benar-benar menjadi “saksi bisu”. Yang melihat dan mendengar, tapi hanya membatu. Yang tahu, tapi hanya menunggu.

Maturity is a choice, and the choice is yours. Semoga kita memilih cara terbaik untuk mengawali, dan menjalani usia ini.

Jerit Hati Kaum Proletar

Jerit Hati Kaum Proletar

@dwinisyaaa

 

Berada dalam Satu langit yang sama

Bersama menikmati hangatnya sang mentari sempurna

Berangan dalam indahnya satu rembulan malam

Berpasrah pada nikmat kekayaan alam

Kita satu namun tak sama, wahai penguasa negeri

Nasibku berada ditanganmu

Dan kau seenaknya mengatur hidupku

Anak –Istriku merana karena ulahmu

Ketika jurang perbedaan menjadi ekstrim

Segalanya kau renggut dariku

Kemana iba mu? Kemana belas kasihmu? Kemana pedulimu?

Tak ku dapat bentuk keadilan dalam kerja kerasku

Yang berjuang demi sesuap nasi unutk keluargaku

Kekuasaan kini menjadi misteri

Permainan monopoli menghapuskan kesejahteraan kami

Kebahagiaan hanya buaian kata basa basi

Dalam mimipi dan imajinasi

Mengais sampah-sampah pembangunan

Sisa kebusukan limbah-limbah pengangguaran

Cemburuku terhimpit kemiskinan

Apalah daya, aku hanya orang kecil yang menunggu keajiban

Penantian akan senyum terindah

Mengawali setiap hari-hari ceria

Berharap ada yang mamapu merubah

Segala system tanpa banayak kata-kata

Pi(curi)ous

By Rarabidja

Dua bulan berlalu sejak kepulangan Rike dari Tasa, sebuah desa di selatan kota Naunga. Desa yang mayoritas masyarakatnya adalah pemeluk agama Buddha. Rike sangat menyukai keberagaman. Menyukai banyak orang dengan latar belakang keyakinan yang berbeda namun tetap merasa satu sebagai umat manusia. Satu rasa yang memiliki tugas kemanusiaan yang sama. Rike menyadari dirinya bukanlah muslim yang taat, namun ia merasa damai jika menemani orang banyak ketika menghadapkan wajahnya pada Tuhan. Lewat ibadah-ibadah yang disaksikannya, ia mampu merasakan kekasihan Tuhan.

 

Di sana, Rike tak kekurangan akan rasa ketuhanan, tak seperti temannya yang lain. Masih ada beberapa dari mereka yang tak mendapatkan feel reliji. Di sana pula ia bertemu dengan seorang laki-laki yang wajahnya sangat familiar. Namun Rike tidak tahu siapa wajah yang familiar itu. Jangan panggil ia Rike kalau ia berhenti mencari tahu. Ia akan berhenti jika benar-benar mendapatkan jawaban atau jalan buntu. Sepanjang hari Rike hanya mengingat-ingat siapa gerangan empunya wajah familiar.

 

Lelaki di desa itu bernama Awan. Rike mengetahuinya menjelang kepulangannya dari Tasa, dari Tiga, anak kecil yang ditemuinya di kereta ketika perjalanan menuju Tasa. Hingga kini Rike tak mengetahui pemilik wajah familiar. Seingatnya, wajah ini pernah dipujanya dan terasa akrab.

Rasa penasarannya meningkat. Untuk tetap membantunya mengingat wajah itu, Rike mencari alamat facebook Awan.

Ia tak menemukan pemilik akun dengan nama itu. Juga tak tahu nama lengkap Awan. Ia menaruh harapan pada mesin pencari. Akan banyak situs yang memiliki informasi Awan. Kemudian ia teringat bahwa Awan adalah mahasiswa di Universitas Naunga. Hopeless. Kemungkinan jugsa banyak manusia yang memiliki nama itu. Masih semangat, ia menambahkan kata kunci ‘Pendidikan Sejarah’, tebak-tebak iseng Rike si otak random. Nihil, tak ada jawaban dari mesin pencari.

 

Jangan kira Rike menemukan jalan buntu. Ia belum berhenti. Seminggu di sini pun, ia masih memikirkan banyak cara untuk mencari tahu bagaimana menemui Awan di dunia lain.

Ah, Rike mencoba mencari alamat facebook Awan di daftar teman Tiga. Ada nama Awan Hitam. Eureka!!! Benar, itu Awan. Tanpa banyak gerakan tambahan, ia meng-klik add friend. Selamat menunggu, “Awan Hitam accepted your friend request. Write to Awan Hitam’s Timeline”.

 

 

Sekitar sebulan yang lalu, Rike mengirimkan permintaan pertemanan pada Awan. Hingga kini, pemberitahuan penerimaan pertemanan belum juga masuk. Beberapa minggu lalu ia membuka profil Awan. Tidak ada aktivitas di berandanya, agak sedikit berdebu.

Kemarin, Rike membuka kembali. Sudah ada tiga tautan yang diterbitkan oleh Awan. Ada apa ini? Ia tidak ingin menerima permintaan pertemanan Rike? Kenapa?

Rike tak tahu ingin bertanya pada siapa. Pada Tiga? Rasa ingin tahunya dikalahkan oleh rasa malu.

Berpikir positif, Rike membatalkan permintaan itu dan mengulangnya. Ia pikir Awan mungkin tak memerhatikan pemberitahuan permintaan pertemanan yang sudah lumayan berdebu itu.

Hasilnya sama. Tiga jam yang lalu, Awan beraktivitas di facebook-nya.

Pikiran Rike jadinya negatif, “Kita bertuhan Esa kan?”, Rike menghela nafas, foto profilnya yang memakai jilbab jadi alasan tak diterimanya pertemanan. Rasanya Rike ingin menyerah, tapi tidak.

Lihat saja kenakalan anak ini. Rike berniat membobol akun facebook Awan untuk mendapat info-info yang berguna. Dari beberapa cara akhirnya ia mengetahui email login Awan dan mencoba masuk dengan password tanggal lahir Awan. Iya, berhasil. Sepertinya Awan masih newbie. Rike cekikik kemenangan. Dibukanya daftar friend requests, namanya berada di daftar kedua dari 24 daftar permintaan. Daftar itu berisi sebagian orang-orang Tasa. Rike menghilangkan pikiran negatifnya. Heran, mengapa daftar itu tak dibersihkannya. Sebelum log out, Rike mengunggah satu foto Awan yang tak sengaja ia dapatkan dari kamera salah seorang teman–dengan mengalihkan penerbitan public ke only me, hanya ia yang dapat melihat terbitan itu. Selamat kaget, Awan. Rike masih menunggu.

Bocah Bertudung Merah (?)

by Rarabidja

Sesal hari ini adalah kita tidak mampu memperjuangkan untuk tetap berada di bawah petunjuk cahaya pada kesempatan di hari kemarin.

Sepasang tubuh penggenggam, telapak dan punggung tangan. Seorang diri didekap erat kasa putih panjang. Dilekati zat paradoks, darah dan racunnya. Bocah itu baru saja berteman dengan bencana. Bencana yang direlakannya, katanya itu pengorbanan–belakangan aku baru mengetahui desas desusnya. Desas-desus yang membuatku penasaran, tapi merasa tak memiliki hak atasnya.

 

Kosmosa, tergenggam perban, menebar senyum ke bilik perpustakaan. Luka yang dibalut tebal pun rasanya ikut tersenyum. Tenang, damai, bersanding dengan kedewasaan. Alis mata yang tegas, mata sejuk dan cerah, gigi taring yang tak pada tempatnya, memberi spirit bahwa pemberontakan itu indah. Rupanya, rupa-rupanya serupa dengan rupa seseorang. Tapi sudahlah, Kosmosa terlalu indah untuk dibandingkan.

 

Dialah Tragos, yang melihat itu semua untuk pertama kali di perpustakaan. Tenang, tenang, Tragos tak seperti legenda romantisme kerajaan laiknya pangeran yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Lama, agak lama rasa biru itu hadir di merahnya Tragos. Dia cukup belaku adil pada kondisi bahwa mereka terlalu banyak ketaksamaan. Ideologi, menjadi alasan yang terperih. Dan sepertinya Kosmosa menggenggam ideloginya seerat Tragos.

 

Tanpa pernah ada sesi saling menanyakan nama. Kosmosa dan Tragos kemudian sering berbincang di perpustakaan itu. Suasanalah yang membantu mereka berkenalan nama. Akrab, dan Tragos mengagumi bocah ini, di setiap harinya. Di setiap kali ia mendengar, melihat, merasakan, dan menemani kehadirannya.

 

Luka bukanlah tubuh yang tergores, teriris dan mengeluarkan darah. Perih bukanlah sakit disebabkan irisan dan darah itu, dan perban dan ramuan bukanlah penyembuh yang baik.

Luka adalah ketika rasa biru tak mampu terungkap dan tetap terpendam dalam kemerahan.

Perih adalah memilih pergi menjauhi cahaya karena pada saat yang sama kita melihatnya, kita sadar bahwa cahaya itu tidak sedang hadir menerangi jalan kita. Sekalipun cahaya itu terasa sangat jodoh dengan mata kita, kita tidak mungkin berjalan pada jalan yang berbeda yang bukan tujuan kita.

Sesuatu yang mampu mengobati adalah ketika cahaya itu sedia memberi sedikit ruang untuk menerangi jalan kita dan kita memperjuangkan tetap berada dibawahnya.

Hari ini, 6 Juni 2013, adalah hari perdana ia tak akan ada lagi di perpustakaan. Pergi. Buku di perpustakaan tak memuaskan hasrat intelektual. Ada perpustakaan lain yang koleksi pengetahuannya lebih memenuhi kebutuhan. Sedangkan Tragos? Tak bisa apa-apa dalam kesendiriannya,700 hari dalam kesiaan, tak mampu memohon pada semesta bahwa ia tak ingin jauh dari cahaya Kosmosa. Kosmosa yang datang dan perginya dengan kepala yang sama. Kosmosa, Bocah yang baru saja mengenakan tudung berwarna merah.

Here We Are

By Rarabidja

Suatu sore, Rem, Ryuk, dan Rael berangkat ke perusahaan pertambangan PT Pertama untuk menerima surat keputusan kerjasama pelatihan bagi masyarakat pegunungan di area pertambangan.

Rem, Ryuk, dan Rael adalah tiga sekawan yang mendirikan lembaga penelitian Skakmat Institute. Kali ini,mereka ingin melakukan penelitian masyarakat yang tinggal di area pegunungan yang memiliki potensi pertambangan. Mereka memilih topic penelitian ini karena dewasa ini maraknya perusahan-perusahan yang maruk ingin menggali kekayaan alam tanpa menyayangi alam dan manusia demi dollar. Bagian Corporate Social Responsibility (CSR) PT Pertama menerima proposal permohonan dana untuk penelitian Skakmat Institute dengan syarat melaksanakan pelatihan bagi masyarakat setempat. Rem, Ryuk, dan Rael segera menyepakati persyaratan.

Tiga hari setelah penandatangan persetujuan kerjasama, Rem, Ryuk, dan Rael berangkat dengan seorang pegawai utusan PT Pertama, Mime. Dengan ikut sertanya Mime, Rael bukan perempuan seorang diri. Selama ini, dia selalu diapit para jantan yang pelan-pelan mengurangi feminitasnya. Kali ini, dia tersenyum lega.

Selama perjalanan, Rem sebagai operator music, memutar lagu-lagu sendu. Penumpang lain protes, katanya perjalanan ini harus menyenangkan, makanya mereka harus mendengar lagu-lagu yang nge-beat. Ryuk yang menyetir mengganti  playlist sambil terkekeh, “Maklum, kawan kita yang satu ini sedang dilanda kegamangan”. intro melodi-melodi gitar elektrik yang sengit mulai menjadi intro pula spirit mereka selama perjalanan. Korn, Avenged Sevenfold, senandung Muse, dan keceriaan The Beatles memang selalu berhasil menggenggam jiwa mereka bertiga. Sedangkan Mime, hanya ikutan asik menikmati.

“By the way, Rem, apakah kau memerhatikan film yang kita tonton bersama seminggu yang lalu? Tentang properti-properti yang film tersebut gunakan?”, Rael membuka obrolan. Mereka bertiga memang sangat jarang mengisi kebersamaan yang tak berbobot. Mereka selalu mengisinya dengan diskusi yang mampu meng-upgrade pengetahuan mereka.

“Apa, ya? Aku tidak begitu memerhatikan, kau tahu, aku begitu terbawa suasana. Kisahnya sangat menyedihkan”. Rem mengernyitkan dahi.

“Hahaha, kau salah bertanya, El! Sudah kubilang, Rem yang gamang begini, sedang tidak bisa diajak menganalisis dengan kepala, hatinya sedang mendominasi”, Ryuk tebahak mengejek Rem.

“Sialan! Hahaha. Symbol apa yang kau dapatkan, El?”, Rem mulai serius.

“Kau ingat, di kamar tidur Jinn ada pajangan kepala kambing yang sangat artistic dan selalu menjadi sorotan ketika Jinn sedang gamang sepertimu? Haha”.

“Iya, benar, El, juga ada diamond besar, yang ukurannya hampir memenuhi ruangan tempat ia diletakkan. Kira-kira sebesar kamarku. Juga selalu tak lepas jadi background ketika adegan berada di rumahnya”, Ryuk menambahkan.

“Ya, ya, ya… beberapa film memang banyak yang menunjukkan symbol-simbol seperti ini. Apakah organisasi freemason memang sudah memulai propagandanya? Seprtinya semakin kencang saja.”

“Tapi, menurutku, bisa saja pemajangan symbol-simbol ini tidak bersifat ideologis. Karena freemason adalah organisasi yang katanya rahasia, menguasai dunia, tentunya memiliki yang yang melimpah ruah, sehingga orang-orang di dalamnya tersemat sebagai golongan elit. Nah, agar dapat disebut golongan elit juga, yaa, just show anything of freemason symbols”. Rem menanggapi Rael melalui kaca spion.

“ Ah, bagaimana hubungan freemason, Illuminati, dan Foloa? Bukankah mereka sejenis?” Mime tiba-tiba nimbrung. Rael, Ryuk, dan Rem bertatapan dan senyum melalui kaca spion.

“Hm… setahuku tidak, ya, berbeda…”, Rael menanggapi

”Oh…soalnya yaaa…entahlah, aku juga tidak tahu betul seperti apa foloa, hanya mendengar-dengar saja kalau alirannya juga sesat, makanya aku mengasosiasikannya dengan duo sesat freemason dan Illuminati…”

“Iya, beda…malah sangat berbeda”, Rael memastikan.

“Eh, kita singgah makan siang dulu. Rael kau lapar, kan? Aku tahu, kau selalu lapar, hehe. Ayo, kita coba kuliner di daerah ini. Belum pernah coba, kan?” Ryuk, menepikan mobil.

Mereka turun dari mobil dan melemas-lemaskan otot. Memilih meja makan yang sudutnya dapat menikmati pemandangan di daerah itu. Mime mohon permisi untuk ke kamar kecil.

“Oh, ya, besok perayaan Hari Besar Sadimesare kan? Ahh..sayang sekali kita tak bisa mengikuti ritualnya. Kita ibadah masing-masing sajalah…” Rael cemberut kecewa.

“Iya, kenapa juga harus bertepatan dengan hari pelatihan? Padahal akhir pekan, bisa jadi jadwal yang tepat, Mime pun tidak harus ambil cuti kerja, kan?” Rem ikutan datar. Rem memang selalu datar.

“Sudahlah, belum rejeki, hehe. Hari Sadimesare kan banyak ritualnya, dan masih ada ritual lain yang dapat kita lakukan sendiri-sendiri. Berbuat baik ke sesama di hari Sadimesare kan juga waktu yang sangat dianjurkan”. Rael dan Rem mengangguk setuju.

“Kau tahu, tugasmu, kan, Rem? Jangan lupa amati kondisi forum pelatihan. Fokus terhadap peserta forum, apakah mereka tertarik dengan pelatihan ini dan amati juga feedback yang diberikan oleh peserta. Aku akan bekerja di belakang nantinya. El, seperti biasa, moderasi forum. Aku akan meletakkan kamera di segala sudut agar tak luput dari aktivitas forum nantinya”. Ryuk mengarahkan.

“Oke, aku juga sudah menghubungi kawan kita yang ada di sana, mereka baru saja lulus seleksi internal. Mereka akan membantu kita sebagai organizing committee.” Rael menjawab tegas sambil berkutat dengan layar telepon selulernya. Dia memang multi-tasking.

Mime kembali, tidak hanya buang air kecil, juga touch up . Penampilannya kembali rapi seperti sedia kala. Mereka memesan kuliner khas daerah. Ryuk memerintahkan untuk memesan apa saja sambil tertawa. Rael sebagai bendahara Skakmat tertawa sinis.

Akibat kekenyangan, Rem dan Rael terlelap di perjalanan. Switch driver ke Rem pun tidak bisa dilakukan saat ini. Ryutk yang  kelehan harus melanjutkan perjalanan. Mime memasang headsetnya, mendengarkan playlist lagu-lagu india. Tak ada yang bisa diajak berbincang saat ini, Rael sangat lelap, terlihat dari tak terganggunya ia oleh guncangan mobil yang membuat posisi tidurnya berubah-ubah dan kepalanya terbentur ke kaca jendela. Hanya Mime yang menyadari kelalaian Ryuk yang juga terkantuk sambil menyetir. Playlist sudah habis terputar, Ryuk memutar siaran radio, barangkali ada lagu-lagu lain yang belum didengar hari ini. Ia mengatur volume sekeras mungkin agar tak merasa kantuk sambil menyetir, Mime yang memasang headset pun dapat mendengar suara radio.

”…itu dia tadi lagu dari dewa19 yang judulnya Satu. Sebelum kita putar daftar lagu berikutnya, ada sekilas info dulu, nih, sobat”.

“Selamat siang, sekilas info. Hari ini, kamis, 13 Juni 2013, di Jadara, beberapa  organisasi keagamaan melakukan konsolidasi untuk menggagalkan ritual tahunan ajaran Foloa, hari besar Sadimesara besok di gedung agung La Bales Jadara. Mereka mengatakan bahwa ritual ajaran ini tidak boleh dilaksanakan secara umum, karena akan mengajak umat menjadi sesat, berikut reporter kami yang mewawancarai salah satu partisipan konsolidasi…”