Pemasaran Diri di Panggung Politik : Sudah baikkah ????

Makassar adalah kota baliho, itulah kata Fatin Shidqia (Juara X-Factor 1) dalam sebuah surat kabar lokal saat berkunjung ke kota Makassar. Memang begitu adanya. Di mana-mana di kota Makassar dan sejumlah kabupaten di Sulawesi Selatan terpampang sejumlah kertas personifikasi diri yang menampilkan wajah-wajah yang ingin duduk di kursi-kursi penguasa dan pembuat kebijakan.

Pemandangan yang kita lihat sehari-hari di jalanan adalah sejumlah kertas besar maupun kecil yang dipaku di pohon, diikat pada bambu-bambu, dibentangkan di antara tiang listrik, dan masih banyak cara lainnya.

Tidakkah kita sadari bahwa wajah-wajah ini memperkenalkan diri mereka dengan besar-besaran kepada masyarakat. Tampang-tampang meniru malaikat yang bersedia mengabulkan permintaan para peminatnya. Slogan-slogan yang eye catching serta menusuk ke pikiran tiap orang-orang yang melihatnya sehingga sulit untuk menghilangkan bayang-bayang baliho yang kita kenali karena seringnya kita lihat. Ratusan macam identitas mencoba mereka sodorkan kepada masyarakat sebagai pesan bahwa ustaz lah yang paling alim, politisi lah yang paling pintar, atau kah tokoh-tokoh dengan kesan memantaskan diri mewakili rakyat.

Toh sebenarnya bukan hal yang salah, mereka mencoba memarketingkan diri agar dapat merasuki pikiran pemilih. Mencoba untuk menyampaikan pesan “Pilihlah aku, akan kupenuhi harapanmu”. Terlepas entah dari apakah motif sebenarnya. Uang, kebanggaan, kekuasaan, pengakuan, alangkah baik bila memang niatnya adalah menjadi “abdi masyarakat” atau “wakil rakyat”. Terlepas dari segala motif, yang mereka lakukan adalah memasarkan diri mereka.

Namun apakah cara mereka sudah baik. Jika mereka memakai metode marketing. Sekarang sudah bukan jamannya Old Marketing, yang terkini adalah New Wave Marketing. Orientasi kepada kepentingan diri sendiri sudah jauh tertinggal di belakang, masyarakat menuntut produk yang berkualitas, pemasaran yang manusiawi, bertanggung jawab serta Go Green.

 Hermawan kartajaya menuturkan ciri khas terbaru dari New Wave Marketing adalah Marketing 3.0. marketing yang lebih bertanggung jawab terhadap hak-hak konsumen dan hak-hak alam untuk tidak dicederai dalam proses mencapai tujuan. Bukankah cara seperti ini lebih berefek jangka panjang terhadap keamanan dan ketentraman kehidupan manusia, dan tidak mencemari produk atau calon pejabat yang bersangkutan.

Yang kita lihat di sekitar kita begitu kejamnya mereka memaku pohon, berbekas kertas di pinggir jalan yang membuat tidak sedap mata yang melihatnya. Belum lagi slogan yang abstrak dan tidak jelas dan sedikit berkedok tipu. Apakah juga saat mereke mencapai kursi kekuasaan, janji mereka dapat mereka tunaikan? Ekspektasi masyarakat dapat mereka penuhi? Ibarat pergi ke pusat perbelanjaan membeli susu dalam kemasan bagus, ternyata isinya sudah basi dan kadaluwarsa.

Alangkah baiknya setiap calon pejabat dalam memasarkan diri melakukan blusukan, kegiatan amal, menghadiri acara cultural yang diselenggarakan rakyat. Bukankah lebih menyentuh dan meyakinkan hati masyarakat serta hemat tempat dan sumber daya yang memiliki efek limbah.

Lalu siapa yang bilang dimensi ilmu berjauhan dengan dimensi agama dan moral. Toh, kebutuhan akan ilmu membutuhkan peran keteraturan dan menuntut penggunanya untuk memanfaatkannya secara baik, mulia, dan bijaksana……..

 

Oleh : Divisi Keilmuan Ikatan Mahasiswa Manajemen (IMMAJ) periode 2013-2014 Adam Maulana