Revana

Oleh : Aqilah

Revana, gadis yang tumbuh dengan keadaan yang tak seindah dengan gadis seumurannya. Kulit sawo matang, kacamata, gaya culun dan pendek. Tak jarang orang mencibir kondisi fisiknya. Tapi Revana menganggapnya sebagai perhatian mereka terhadap kondisinya. Revana kini beranjak ke jenjang perkuliahan. Ia lulus di sebuah Universitas yang ternama di kotanya. Cibiran itu lebih parah ketika kakak senior memperlakukannya seperti sampah. Memerintah dan mengolok-oloknya. Temannya pun merasa ngga’ level dekat dengannya. Meskipun perlakuan itu kadang membuat butiran air matanya tumpah seketika, Revana memilih diam, tak mampu melawan. Hari-hari begitu menyesakkan baginya, tapi kehadirannya di kampus ini bukanlah hal yang mudah ia dapatkan. Ia tak juga mendapatkan beasiswa, padahal nilai IPK di atas standar. Untuk membiayai uang SPP-nya, Ia pun harus kerja jadi pembantu administrasi di sebuah sekolah SMA negeri. Revana menatap kerumunan orang yang sedang senda-gurau, dengan fasilitas mewah dan body yang indah. Revana terduduk di salah satu sudut kampus. Menatap iri pemandangan itu. “Ah! Revana, kamu sudah kuliah di kampus ini saja udah syukur” bujuknya dalam hati. Revana pun kembali melirik tumpukan berkas tugas yang harus Ia selesaikan.

 

***

Di suatu siang yang mendung, angin dingin mulai terasa. Berhembus dengan kencang menyambar tubuh Revana. Menerbangkan dedauan yang gugur serta sampah-sampah yang terletak begitu saja di jalan. Alin. Salah seorang teman Revana. Berjalan bergegas. Entah hendak ke mana dengan mengenggam tumpukan kertas. Angin tak peduli, begitu kencang ia menyambar Alin, hingga Alin tak kuasa menahan tumpukan kertas itu dari genggamannya. Ia pun mulai panik, hujan satu demi satu jatuh membasahi, pelan tapi pasti. Revana segera berlari ke arah kertas yang masih menari-nari terbawa angin. Segera ia berusaha untuk menggapainya. Satu, dua, tiga kertas pun mulai terkumpul.

Dan beberapa detik kemudian, kartas yang berterbangan itu sempurna Revana gapai. Mengenggamnya erat. Dan menuju ke dalam gedung kampus dan  segera merapikan tumpukan kertas itu kemudian memberikannya pada Alin dengan senyum. Alin yang masih terpaku tak menyangka akan sikap Revana yang membantunya. Ia mengambil kertas dari Revana dengan canggung sebab beberapa kali memperoloknya, mengejeknya dengan kata hitam dan pendek. Dan kini malah Revanalah yang membantunya, bukan sahabat-sahabatnya. Alin melirik sahabatnya dengan kecewa. Mereka hanya terdiam dan enggan berusaha membantunya. Hanya menatapnya sebagai tontonan bukan sebagai sahabat yang sangat butuh pertolongan. Revana pun segera berbalik, dan berlalu begitu saja.

 

***

Di sebuah jalan besar, ia menatap sekeliling. Menikmati indahnya perjalanan di trotoar, melihat taman kota, tampak beberapa anak sedang bermain sepeda. Melihat beberapa bus kota yang berlalu lalang begitu juga dengan motor dan mobil pribadi. Melihat banyak warung yang berjejer, mengundang rasa lapar. “Andai saja aku punya uang sedikit untuk makan.” keluh Revana sambil menghembuskan nafas. “Tapi kalau aku makan, nanti akan telat sampai ke sekolah. Untung aku ngga’ punya uang.” hiburnya beberapa detik kemudian. Beberapa menit kemudian, sekitar kurang dari setengah jam, akhirnya Revana tiba di sekolah yang tak lain tempat kerjanya. “Rev, tolong kamu salin ini, dan segera bawa ke ruangan saya!” pinta pak Amar, kepala sekolah SMA tersebut. “Iya pak.“ ucap Revana, yang segera bergegas menuju monitor komputer di sudut ruangan. Ada sekitar dua jam Revana menyelesaikan tugas dari pak Amar. Ia pun segera beranjak keluar dan melintas dua lapangan menaiki beberapa anak tangga dan akhirnya tiba ke ruangan pak Amar. Pak Amar pun tersenyum menerimanya dan memberikan uang dua puluh ribu pada Revana. “Kamu pasti belum makan, jadi ambil ini dan pergi cari makan di luar.” “Makasih banyak, Pak. Maaf sudah merepotkan.” ucap Revana, tak lupa pamit dan menutup rapat pintu ruangan setelah ia beranjak ke luar ruangan.

 

***

Revana jalan ke arah luar sekolah. Tetap memperhatikan sekelilingnya. Melihat pohon mangga yang mulai berbuah, melihat bendera kokoh berkibar, bangunan yang tinggi, lapangan yang luas, dan kendaraan siswa yang terparkir rapi di dalam sekolah. “Tertibnya sekolah ini, alangkah beruntungnya mereka dapat bersekolah di sekolah ini.” ujar Revana kagum. Sebelum menggapai pagar sekolah, mata Revana tertarik melihat seorang siswi yang tertunduk di sana. Revana pun mulai mendekatinya. Siswi itu kaget dan spontan berteriak, “Tolong!”. Tapi karena masih di tengah pelajaran, jadi tak ada orang yang mendengarnya. “Tenanglah, aku tidak akan nyakiti Kamu kok!” ujar Revana berusaha menyekinkan. “Kamu siapa?” ujar siswi itu berjedah 5 menit kemudian. “Aku Revana, aku pegawai pembantu di sekolah ini.” ucap Reana memperkenalkan. “Tapi kok aku baru liat Kamu?” tanya siswi itu ragu. “Oh, itu karena kadang aku kerja setelah pembelajaran sekolah telah usai. Dan aku lebih sering mengerjakan tumpukan tugas di ruangan. Jadi mungkin jarang terliat.” ujar Revana dengan nada bersahabat dengan sebutir senyum. “Aku Indah, Kak.” akhirnya siswi itu mulai merasa santai pada Revana. “Kamu kenapa di sini? Ini bukan waktunya istirahat, kan?” tanya Revana agak ragu. “Nilai ulangan Fisikaku jelek lagi. Pasti aku dimarahi ibu kalau pulang.” “Mau kakak ajarin? Memangnya materi apa?” “Listrik Statis, Kak.” “Oh, yah sudah. Ayo kita ke ruangan administrasi. Nanti aku ajar Kamu.” ajak Revana. Mereka pun beranjak ke ruangan yang agak jauh dari pagar sekolah. Revana banyak menceritakan hal-hal yang lucu yang membuat Indah tertawa. Beberapa jam mereka habiskan untuk belajar. Hingga bel pulang berbunyi.  “Yah, kok cepat banget waktu pulang sih? Padahal biasanya di kelas terasa lama.” keluh Indah “Hahaha, ya sudah, kamu harus kembali ke kelas. Besok jangan cemaskan ulangan fisika lagi. Kamu udah ngerti kan?”  “Makasih ya, Kak Re… Pa…” “Namaku Revana.” “Oh iya, maaf, Kak Revana.” Balasnya sambil terkekeh.

 

***

Beberapa hari kemudian, suasana di sekolah tersebut, Revana sedang melintas di tengah lapangan. mendapati Indah dan teman-temannya yang sedang bermain basket. Revana pun memanggil namanya sambil melambaikan salam, hendak menyapa. Namun Indah malah tak senyum sedikitpun..

“Dah, kayaknya dia kenal kamu deh.” ucap salah satu teman Indah. “Ah! masa sih? Mungkin salah orang kali. Indah kan ngga’ level berteman dengan orang dekil kayak gitu. Iya kan, Dah?” cerocos satu teman Indah yang lain. “I… i… iya, ngga mungkin aku mau berteman sama orang kayak gitu. Culun, lusuh, dan dekil.” ucap Indah jutek. Revana yang mendengarnya bagaikan petir yang menyambar hatinya. Perih. Dengan pahit Ia berlalu dari lapangan. “Sabar Revana. Indah benar kok. Indah pasti malu punya teman kayak saya. Dia artis di sekolah ini. Turun pamorlah kalau berteman dengan saya. Revana, Revana, jangan mimpi di siang bolong.” ujar Revana dalam hati sambil tertawa kecut. sejak itu, Revana juga jadi olok-olokan siswa sekolah. Sejak itu, banyak orang yang penasaran melihat wajah Revana. Tak jarang pula Revana dijahili. dikurung di WC, sengaja diberi lem di kursinya. Tiba di suatu siang yang terik, Revana hendak melintasi beberapa siswa yang melakukan percobaan fotosintesis menggunakan air, dan dengan sengaja melemparkan seember air ke arah Revana. Sempurna! Revana basah. Ia pun segera berlari. Sedangakan kumpulan siswa itu menertawakannya. Air mata Revana seketika keluar bercampur dengan giuran air yang sejak tadi membasahi tubuhnya. Pak Amar yang menyadari masalah ini segera mengumpulkan Siswa yang tak lain teman Indah di lapangan. Indah termasuk di antaranya. “Ada apa di sekolah ini? Ada masalah apa sehingga kalian tega memperlakukan orang yang lebih tua dari kalian seperti sampah?” ucap Pak Amar dengan suara lantang. “Apa kelebihan kalian sehingga kalian berhak memperlakukan pegawai sehina itu?” ucap Pak Amar lagi-lagi dengan suara lantang. “Kalian tidak tahu, karena Revanalah, Sekolah ini banyak terbantu. Guru-guru kalian juga terbantu karena kehadiran Revana. Harusnya kalian bersyukur, karena Revana juga membantu menyelesaikan masalah ujian kalian yang di bawah standar. Apa salah Revana? Pernahkah Revana buat masalah dengan kalian?”  “Pernah, Pak.” ujar salah seorang siswa.  “Masalah apa?” pak Amar mulai mengerutkan kening. “Dia tiba-tiba menyapa Indah, bikin malu-malu kan, Pak?” ujar salah satu teman Indah. Indah masih mematung. Entah apa yang harus Ia lakukan. Toh, Ia pun merasa bersalah dengan Revana. Indah pun segera berlari, berpisah dari sekumpulan siswa yang sedang tadi berdiri di lapangan. Berlari menuju kelas. Menggambil jaket dan segera mencari Revana. Mula-mula berlari ke kantor administrasi tapi tak nampak keberadaaannya disana. Berlari lagi menuju beberapa WC yang ada di sekolah, tapi tak ada juga. Indah mulai panik. Ia takut ka Revana udah pulang dan tidak akan kembali ke sekolah ini setelah beberapa kejadian yang tak mengenakkan terjadi.  Hingga akhirnya Ia berhenti di bawah Mushalla. karena kebetulan letak mushollah di sekolah itu berada pada lantai dua. Indah pun tiba-tiba teringat kata-kata dari ka Revana sewaktu ka Revana mendapatinya sedih di dekat pagar keluar sekolah. “kalau kamu sedih, ingat Tuhan kamu, pasti Tuhan kamu akan menghibur kamu. Karena kakak beragama Islam, jadi kalau kakak sedih, kakak sering sholat. Indah segera menaiki anak tangga. Ia yakin Revana ada di sana. Pada anak tangga terakhir, Ia pun melihat sosok wanita yang tengah berdoa di balik mukenahnya. Indah perlahan mendekati ke arah Revana. Sebelum Indah sempat menyentuh Revana, Revana lebih dulu berbalik dan heran mendapati Indah yang berusaha mengusap air matanya. “Indah? Loh, kok kamu menangis? Kamu dapat nilai jelek lagi, ya?” ucap Revana sambil mendekati Indah. Indah langsung memeluk Revana. Tak kuasa, air matanya semakin deras keluar. “Maafkan Indah, Kak.“ ucap Indah di sela tangisnya. Beberapa menit kemudian, isak tangis Indah mulai reda. “Maafkan Indah ya, Kak.” “Kakak yang salah, seharusnya kakak ngga’ menyapamu waktu itu. Kakak paham posisimu kok.” “Bukan begitu, Kak. Iya, Indah salah, Indah malu kalau teman Indah tahu, Indah mengenal kakak, maafkan Indah.” ujar Indah lagi-lagi isak tangisnya tak tertahan. Revana memeluk erat tubuh Indah. sejenak terdiam, entah mengapa, Indah maupun Revana merasakan ada kehangatan dalam pelukan itu. Sebuah kedamaian.

 

***

Revana berjalan tergesa-gesa ke ruang kelas. Melirik jam tangan berwarna merah marun yang menunjukkan 11.03. “Tuhan, andaikan aku bisa terbang.” keluh Revana yang masih berjalan tergesa-gesa setengah berlari karena keteledorannya. Kuliah terjadwal pada jam 10.30. Setiba di depan kelas, perasaan ragu meliputi Revana. Perlahan ia meraih gagang pintu. Berusaha membuka pintu, melihat sedikit di balik pintu. Melihat ke arah meja dosen. Terlihat dosen yang sedang menulis di papan tulis, sementara slide materi masih aktif. Dengan hati-hati, Revana pun masuk dengan mengendap-endap. Menggapai sebuah kursi dan langsung terduduk ledah. Di sampingnya ada Alin yang sejak tadi duduk nyaman di kursinya. Memandangi Revana yang menarik nafas lega. Tampak Revana sangat kelelahan.  “Nih, ambil saja, anggap ini balas budi yang kemarin.” ujar Alin ketus sambil menyodorkan sebotol air mineral yang sejak tadi terletak di atas mejanya. Revana pun tersenyum dan tak lupa memberi ucapan terima kasih dan segera meneguk air tersebut. “Lin, kenapa kamu ngasih air kamu ke cewek dekil ini?” tanya Fifi yang tepat berada di sebelah Alin. Revana pun tertunduk mendengarnya. Sedangkan Alin tak merespon sedikitpun. Lebih asyik mencatat tulisan yang ada di papan.

 

***

“Alin!” ujar Revana setengah memanggil. Alin yang memang sedang sendiri berjalan di koridor kelas langsung berbalik menatap Revana. “Itu tadi cuma ungkapan terima kasih aku waktu yang kemarin.” Ujar Alin lagi-lagi cuek dan berlalu menjauh meninggalkan Revana. Meskipun begitu, Revana yakin Alin tidaklah sejahat dan secuek itu.  “Mungkin posisi Indah sama halnya dengan Alin. Setidaknya dia sudah menolongku saja, itu udah cukup membuktikan bahwa dia itu baik.” ujar Revana tetap menatapi langkah Alin yang beberapa detik kemudian hilang dari pandangannya.

 

***

Suasana malam, terlihat langit yang gelap dengan bulan yang tampak jauh dan cahayanya mulai redup. Namun, terdapat beribu-ribu kelipan bintang yang berbaik hati menyumbangkan cahayanya untuk menerangi malam ini. Tidak buruk, pemandangannya tetap indah. Revana terduduk di salah satu sisi taman kota, menghela nafas dan memandang ke arah langit. “Tak ada yang lebih menyenangkan dibanding menatapi langit beribu bintang dan rembulan yang senantiasa bercahaya dalam kegelapan malam.” ujar Revana dengan tersenyum. Lebih dari dua jam Revana terduduk di taman kota, Ia pun mulai beranjak pulang. Berjalan sepanjang trotoar, di bawah lampu jalan, tak jarang silau karena lampu mobil ataupun lampu motor yang kebetulan mengarah padanya. Lama Revana berjalan, Ia pun terhenti di sebuah rumah besar berwarna krem dan pagar yang kokoh berdiri. Terlihat ada sebuah pertengkaran kecil dibalik pagar. Terdengar teriakan tinggi dari rumah tersebut. Revana sontak kaget, Ia pun mempercepat langkahnya. Tak ingin ikut campur atau sekadar menonton pertengkaran dari rumah tersebut. Tiba-tiba, sebuah mobil berwarna merah sudah berada di sampingnya. Dari dalam mobil, salah satu kacanya terbuka. Terlihat sosok wanita, berambut tergerai panjang dan memakai baju kaos pink yang tak asing baginya. “Alin?” ujar Revana penuh tanda tanya. “ masuk!” pinta Alin tegas. “Ta..ta..t..pi” ujar Revana patah-patah. “Tidak usah banyak tanya. Masuk!” ucap Alin dengan nada jutek. Revana pun tak kuasa, Ia pun meraih ganggang pintu mobil dan segera masuk. Alin pun segera tanjap gas setelah kaki kiri Revana berpijak di mobil Alin. Revana terkejut sebab belum sempat memperbaiki duduknya. Alin segera tancap gas. Sepanjang jalan, suasana hening. Alin menatap kosong jalanan. Sedangkan Revana masih terdiam dalam kebingungan enggan bertanya. Hingga Alin berhenti di sebuah rumah sederhana tanpa pagar, di salah satu sisinya terlihat anyunan tua. Alin pun segera beranjak menuju anyunan itu, dan Revana hanya bisa mengikuti ragu dibalakangnya. Mereka pun terduduk dan lagi-lagi dalam suasana hening. “Lihat ke atas deh” ujar Revana merusaha untuk memecahkan keheningan. Alin pun memandang ke langit tanpa tahu maksud Revana. “Lihatlah betapa indahnya pemandangan malam ini, ya walaupun bulannya sedikit redup. Tapi masih ada bintang yang bekerja ekstra untuk membuat malam ini tampak indah. Lihatlah, betapa indannya pemandangan langit. Menatapnya dengan lekat-lekat akan membuatmu sedikit tenang.” lanjut Revana menjelaskan. Alin pun mengikuti saran Revana. Kembali hening. Revana berbalik menatap Alin dan tampak Alin tetap lekat memandang langit. Ia pun kembali memandang langit dan berharap kedamaian yang ia rasakan saat ini sama dengan apa yang dirasakan Alin. “Aku iri sama kamu, Rev” ujar Alin tiba-tiba memecahkan keheningan tapi masih memandangi langit. Revana sontak kaget. Memalingkan wajahnya ke arah Alin.

“Kenapa kamu iri?” tanya Revana pelan dan ragu. “Ya, setidaknya kamu bisa cuek dengan keadaan kamu, sekalipun kamu dimaki, dicela, tapi kamu selalu bersikap seolah-olah itu tak pernah terjadi. kamu selalu merasa cukup dengan hidupmu. Bahkan tak pernah dendam. Sedang Aku? Orang tuaku selalu saja bertengkar kayak tadi.” “Hah?  Jadi itu tadi rumahmu?” ujar Revana di sela-sela kata Alin. Alin terdiam melihat Revana dan mengangguk pelan. “Itulah kehidupanku. Sejak kecil, orang tuaku sibuk sekalipun bergelimangan harta. Apa dengan harta semua orang bisa bahagia? Dan ternyata kamu telah menjawabnya. Apakah kamu tahu aku tak pernah sedikitpun bahagia? Sejak kecil aku memang tenar di antara temanku hanya karena ayahku donatur terbesar disekolah itu dan di kampus ini. Hanya karena aku model jadi banyak yang naksir dan sahabat aku tak lebih menganggapku sebagai bank berjalan. Lihatlah, betapa menyedihkannya hidupku.” lanjut Alin bercerita. “Kamu jauh lebih beruntung.” “Tunggu..” ucap Revana di tengah penjelasannya, seperti mengingat sesuatu. Ia pun segera membuka ranselnya. Mencari-cari sebuah benda yang ada di tasnya. Alin menunggu dengan heran. “Ah, ini dia.” ujarnya senang ketika benda yang sejak tadi ia cari-cari ia gapai. Alin mulai menyipitkan matanya. “Cermin?” tanya Alin ragu. “Untuk apa?” tanya Alin lagi. “Coba deh kamu bercermin dan bandingkan dengan aku.” ujar Revana sambil menyodorkan cermin itu ke Alin. Alin pun masih belum mengerti apa maksud dari Revana. “Lihatlah, kau sempurna kawan, kau tidak pake kacamata butut kayak aku, kamu cantik. Kulit kamu bersih. Punya kemewahan. Sedangkan aku, lihatlah diriku yang serba kekurangan.” ujar Revana berdiri pas di depan Alin. Memutar badannya dan tersenyum kepada Alin. “Itu hanya keberuntungan fisik, Revana. Sedangkan hatiku, jauh lebih terpuruk dari kamu.”  “Hati itu bisa diperbaiki Alin, belum tentu aku lebih baik dari seorang pelacur. Sedangkan fisik? itu adalah anugrah yang tak bisa diubah. Kamu tinggal memperbaiki hati dan sikap kamu mulai saat ini. Pasti suatu hari kelak kamu akan menjadi wanita hebat. Dan pada hari itu, kamu tak perlu mengingat aku. Aku cukup melihat kamu bahagia dalam jarak yang jauh saja aku udah sangat bahagia.” “Loh? Kenapa?” tanya Alin heran. “Karena buat aku, kamu bahagia saja itu udah cukup. Aku senang melihat orang lain bahagia. Bagilah kebahagiaanmu kepada orang di sekitarmu. Orang tua kamu, teman-teman kamu, tapi aku sangat sedih jika aku bukan jadi orang yang pertama buat kamu untuk meluapkan kesedihan kamu.” Spontan Alin berdiri dan memeluk erat Revana dengan tangis yang sejak tadi pecah. Ada ketenangan yang Alin rasakan dalam pelukan tersebut yang selama ini ia tak rasakan.

***

kehidupan akan terasa ringan kalau kita senantiasa bersyukur dengan setiap keadaan kita.

bukanlah orang dikatakan berhasil karena mendapatkan banyak gelar prestasi, ataupun bergelimang kekayaan. melainkan orang yang bisa bermanfaat bagi sekelilingnya.

 

 

THE END

Incoming search terms:

  • Nada revana

Sepatu Kulit

Oleh : Gusty

Hari ini cuaca begitu cerah, daun-daun bergerak tertiup oleh angin. Disepanjang trotoar kulihat beberapa orang yang sedang berjalan sambil sesekali bercanda dengan teman, atau pun keluarga mereka. Di seberang jalan terdapat taman yang begitu indah, tidaklah mengherankan jika banyak orang yang menghabiskan sisa harinya untuk duduk-duduk sambil menikmati suguhan alam yang begitu indah. Rumputnya yang hijau membuat pikiran menjadi tenang. Tapi tidak semua pengunjung taman hari ini datang bersama teman atau keluarga mereka, ada juga yang hanya duduk sendirian di bangku panjang yang terletak di bawah pohon, entah lagi menunggu seseorang atau memang dia datang untuk menyendiri. Entahlah, yang penting suasana sore hari itu tampak begitu ramai.

Langit yang tadinya cerah, tiba-tiba murung, awan hitam mulai terlihat. Sesekali petir menyambar. Anak-anak yang tadinya asyik bermain, berlari kesana kemari mulai ketakutan, mereka berlari mencari orang tua mereka masing-masing. Hujan pun mulai turun, lama kelamaan menjadi semakin deras. Para pengunjung mulai berlari meninggalkan tempat mereka untuk mencari tempat berlindung. Di antara sekian banyak pengunjung, terdapat seorang perempuan menggendong seorang anak kecil yang umurnya kira-kira 7 tahun. Mereka memilih untuk berteduh di depan sebuah toko sepatu yang tidak jauh dari taman.

Anak kecil itu sesekali mencengkram pakaian ibunya saat petir menyambar, aku tahu dia sangat ketakutan. Ibu itu mendekap putrinya untuk menghilangkan rasa takutnya. Anak itu kemudian memandang ke arah toko. Tidak berapa lama, mereka sudah berdiri di depan rak tempatku dipajang bersama dengan puluhan pasang sepatu lainnya. Ku lihat mata kecilnya mulai menjajaki semua isi rak, aku sangat yakin dia akan memilihku, siapa sih yang tidak tertarik dengan sepatu sepertiku. Aku terbuat dari kulit asli, warnaku yang merah cerah dan di ujungnya terdapat tiga butir permata yang semakin melengkapi penampilanku. Dengan bangga ku lirik sepasang sepatu plastic yang ada di sampingku. Aku sudah tidak sabar untuk mengucapkan selamat tinggal padanya.

Tapi ternyata, di luar dugaanku anak itu lebih memilih sepatu plastic yang ada disampingku itu. Aku tidak percaya dengan semua ini. Apa sih kelebihannya dia dibanding diriku, ia hanyalah sepasang sepatu plastic murahan? Sepanjang hari itu kuhabiskan waktuku dengan mengumpat dan menyalahkan Tuhan.

Setengah bulan telah berlalu, aku masih setia ditempatku. Teman yang ada di samping kanan kiriku sudah berganti beberapa kali. Bukan karena mereka dipindahkan ke rak yang lain, melainkan mereka sudah laku terjual. Setiap hari ku hibur diriku, “Aku yakin besok aku sudah tidak lagi disini, aku akan dibawa pulang oleh seorang anak kecil”. Kataku membesarkan hati.

Hari-hari ku lalui dengan kegundahan, tidak terasa 6 bulan sudah aku disini, tapi tidak ada seorang pun yang menyentuhku, melirik pun tidak, aku sudah tidak ingin lagi melihat pemandangan di luar sana, kututup mataku untuk sekedar menenangkan hatiku. Tiba-tiba aku merasa seperti diayun-ayunkan,” mungkin ini gempa bumi”, pikirku. Kepalaku pun mulai pusing, dan tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Entah berapa hari aku tak sadarkan diri, perlahan ku buka mataku, di depanku tampak puluhan sepatu tua yang tersusun dengan rapi, warnanya mulai memudar. Dari segi modelnya kita sudah dapat memastikan, puluhan sepatu itu sudah lama dibuat tapi tidak laku. “Kasian mereka, pasti tidak ada yang menginginkan mereka” pikirku. Tapi tunggu dulu, mengapa aku ada disini? Bukankah tempatku di rak yang paling depan? Ke mana teman-temanku?. Serentetan pertanyaan mulai memenuhi otakku. Kupandangi sekelilingku, yang kulihat hanyalah puluhan pasang sepatu yang sudah tua.

“Apakah ini berarti aku juga sama dengan kalian?? menghabiskan sisa hidup disni?”

“sepertinya begitu” jawab sepasang sepatu yang ada di sampingku

“Tidak…tidak, aku tidak ingin ada di sini, tempatku di depan” teriakku,

“aku benci manusia, mengapa mereka menciptakanku kalau ternyata hanya ungtuk dipajang selama berbulan-bulan, dan akhirnya dibawa ke tempat ini?” ucapku sambil menangis,  aku merasa Tuhan tidak adil kepadaku. Mengapa teman-temanku laku terjual sementara aku tidak, tiba-tiba kepalaku kembali pusing dan akhirnya semuanya kembali gelap.

Hari-hari berikutnya kuhabiskan dengan merenung dan menyalahkan takdirku. Aku masih belum bisa menerima keadaanku, lain halnya dengan teman-temanku, mereka terlihat santai dan yang paling penting mereka tidak pernah menyalahkan Tuhan. Setelah bosan menangis dan meratapi nasibku aku mulai merasa bahwa inilah ganjaran atas sikapku selama ini, yang selalu menyombongkan diri. Kini setiap hari aku berdoa, semoga suatu hari datang seseorang untuk  membawaku pergi dari tempat ini.

“bagaimana kalau yang itu? Bahannya masih bagus, meskipun warnanya sudah agak kusam, tapi kalau dilap pasti akan bagus kembali” kata pelayan toko itu kepada seorang ibu.

“bisa aku lihat?” pintanya

Jantungku kembali berdegup kencang seperti halnya pada saat beberapa bulan yang lalu saat seorang gadis kecil yang berdiri di depan rak tempatku dipajang. Diam-diam aku berdoa dalam hati “Tuhan, aku mohon buatlah ia tertarik padaku, tapi jika memang aku ditakdirkan untuk menghabiskan seluruh hidupku ditempat ini bersama dengan teman-temanku, aku ikhlas”. Pelayan toko itu mulai menjulurkan tangannya ke arahku.

Bukan, ternyata bukan aku, tapi sepasang sepatu hijau tua yang berada tepat di sampingku. Hatiku hancur, ku pejamkan mataku untuk menghilangkan rasa sakit, aku tidak ingin melihat betapa bahagianya si sepatu hijau itu.

“bukan yang itu, mungkin putriku lebih cocok dengan sepatu yang berwarna merah itu” ucapnya. Pelayan toko itu pun mengembalikan sepatu yang tadi dan sebagai gantinya dia  mulai memasukkanku ke dalam kotak lalu dibungkus dengan sebuah kantong plastic. “Terimakasih Tuhan” ucapku, wajahku kembali ceria, tidak ada lagi kesedihan dan air mata. Aku sudah tidak sabar lagi untuk bertemu dengan gadis kecil yang akan selalu memakaiku kemana-mana.

Di depan sebuah rumah yang cukup besar, seorang gadis kecil berlari kesana kemari mengejar kupu-kupu yang beterbangan. Sesekali ia terjatuh, tapi ia tak berhenti sampai disitu, ia kembali bangkit dan mengejar kupu-kupu  itu. Ia kemudian berlari ke arahku, tentu saja bukan karena aku, tapi itu karena perempuan yang sedang membawaku adalah ibunya.

“Ibu sudah pulang? Mana hadiah untuk Ita bu?” rengeknya manja

“ayo masuk sayang, ibu sudah membelikan sepatu baru buat kamu ” kata perempuan itu sambil menggaet tangan mungil putrinya.

Setelah masuk ke dalam rumah, aku diletakkan di atas sebuah meja kayu yang berada di ruang tamu. Perempuan itu mulai membuka bungkusanku dengan pelan. Dengan hati-hati ia mengeluarkanku dari kotak tersebut dan menyodorkan kepada putri kecilnya.

“ini hadiah yang ibu janjikan tempo hari, Ita suka kan??”

Gadis kecil itu tidak langsung mengambilku, bola matanya yang berwarna coklat menjajaki setiap mili dari bagian tubuhku, ia mengernyitkan keningnya tampak ada sesuatu yang ia pikirkan. Aku mulai deg-degan, jangan-jangan  ia tidak menyukaiku. “ah mana mungkin ia tak menyukaiku” kutepis pikiran negative yang bersemayam di otakku. Ia kemudian  mengambilku dari tangan ibunya, kembali ia memandangiku dengan begitu teliti. Dan kemudian

Plakk. .  aku terjatuh, ia membuangku ke lantai. Sungguh aku tak percaya dengan apa yang sedang aku alami. “semoga ini hanyalah mimpi” ucapku dalam hati.

“Ita tidak suka sepatu itu Bu. sepatunya jelek, warnanya juga tidak bagus. Ibu ambil di tempat sampah yah?”

Kebahagiaanku di sepanjang perjalanan tadi sirna seketika. Kata-katanya membuat hatiku teriris-iris, aku tidak menyangka ia tega melemparku ke lantai, kupandangi ia yang sedang menangis sambil berlari menuju kamarnya. Ibunya berusaha untuk membujuknya, namun semuanya sia-sia. Ia bahkan tidak mau melirikku sama sekali.

Aku tidak tahu sebegitu jeleknya kah diriku sehingga ia tidak mau memakaiku. Dalam isak tangis aku kembali menyalahkan Tuhan “Tuhan, kenapa Engkau tidak adil denganku?? kenapa Engkau membiarkan manusia untuk menciptakanku. Seandainya aku bisa memilih, aku tidak ingin diciptakan sebagai sepasang sepatu.”

Keesokan harinya, kejadian buruk kembali menimpaku. Ita tanpa sepengetahuan ibunya membuangku ke tempat sampah, ia menatapku penuh kebencian sebelum akhirnya ia menutupi tubuhku dengan sisa makanan dan dedaunan kering. Kini tempat tinggalku jauh lebih mengerikan dibanding rak khusus untuk sepatu tua yang sudah bertahun-tahun tidak laku. Aku mulai dikerumuni lalat karena sisa makanan yang sudah basi yang menempel di tubuhku.

Matahari sudah kembali keperaduannya, tempatku kini mulai gelap. aku tidak dapat lagi melihat dengan jelas, samar-samar kulihat sepasang mata yang mengintaiku dari tadi. Ia kemudian mengambilku dan memasukkanku ke dalam sebuah kantong plastic besar yang berisi dengan kaleng-kaleng bekas, botol air mineral dan berbagai jenis sampah daur ulang. Aku tidak tahu, siapakah orang itu dan dia mau membawaku kemana. Aku hanya bisa pasrah, aku sudah tidak bisa lagi memprotes Tuhan, suaraku sudah mulai serak,  air mataku pun telah kering.

Setelah tiba di sebuah rumah, ia meletakkanku bersama dengan beberapa kantong plastic yang berjejer. Ah ini bukanlah sebuah rumah, ini hanyalah sebuah kotak yang terbuat dari kardus-kardus bekas. Itulah tempat peristirahatannya bersama dengan seorang anaknya, tempat berlindung dikala malam datang, meskipun dia akan kebasahan saat hujan turun. Aku baru sadar ternyata hidupku jauh lebih beruntung dari pada mereka. Meskipun aku hanya tinggal di rak paling belakang bersama dengan puluhan sepatu lain yang tidak laku, setidaknya aku masih terlindung dari guyuran air hujan.

Perempuan tua itu terlihat begitu lelah, pakaiannya tampak kumal, kulitnya gosong terbakar terik matahari, kulitnya juga mulai keriput. Ia kemudian membangunkan anak perempuannya yang sedang berbaring dilantai beralaskan Koran.

“nak, ayo bangun. Ibu ada sesuatu untukmu”

“apa itu bu?” jawabnya sambil mengucek kedua matanya

“tadi ibu dapat di tempat sampah, kayaknya ini cocok denganmu ”

“wah ibu, ini bagus sekali, ini pas dengan kakiku” ucapnya berseri-seri

Ia kemudian berjalan kesana-kemari bagaikan seorang pragawati yang berjalan di catwalk, dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Aku bisa merasakan betapa bahagianya ibu dan anak ini, aku pun ikut bahagia, dalam hati kuucap syukur kepada Tuhan, “ternyata Engkau mempunyai rencana yang jauh lebih baik untukku”

Aku sudah tidak menyalahkan takdirku lagi. Sekarang aku merasa berada ditangan yang tepat. Mulai malam itu, aku sudah menjadi bagian dari mereka, aku selalu menemani anak itu kemanapun ia pergi. Tidak terasa lima tahun telah berlalu, aku tidak seperti yang dulu lagi, dibeberapa bagian tubuhku terdapat puluhan bekas jahitan. Ya, selama ini, jika ada bagian tubuhku yang sobek, maka perempuan tua itu akan menjahitku agar anaknya masih bisa memakaiku. Namun, sekarang umurku sudah sangat tua, meskipun dijahit berkali-kali, tetap saja tidak memberikan perubahan yang berarti. Mungkin ini sudah waktunya aku untuk beristirahat.

***

END

Semangat Kecil Kiriman Tuhan

Oleh : Basra

“Ah, masih ada 30 menit sebelum waktu istirahat selesai.” Kataku dalam hati sambil melihat jam tanganku yang menunjukkan pukul 12.30.

Aku menatap seisi  taman kanak – kanak dari atas sebuah ayunan dengan tatapan lesu sambil ditemani sekaleng susu cokelat dan dua bungkus roti keju. Teman – teman kantorku selalu saja heran mengapa aku selalu menghabiskan waktu istirahat di taman kanak-kanak. Mereka tidak tahu, kalau taman kanak-kanak adalah salah satu tempat istirahat yang paling menyenangkan. Karena, di sini aku bisa melupakan segala hal mulai dari masalah pekerjaan  di kantor  bahkan sampai masalah percintaan, ya percintaan. Di sini ini aku dapat membayangkan diriku seperti seorang anak kecil berumur 5 tahun yang hanya tahu makan, tidur, dan bermain tanpa harus bersusah payah memikirkan pekerjaan yang menumpuk dan sederet hal-hal yang memusingkan  lainnya.

“Hai.” Tiba-tiba seorang anak perempuan berumur sekitar 5 tahun mengagetkanku.

“Oh,hai adik kecil.” Sapaku ramah.

“Mengapa kamu terlihat tidak bersemangat?” tanya anak kecil itu heran.

“Aku punya pekerjaan yang menumpuk di kantor.”

“Cuma itu?”

“Ya, cuma itu.”

“tapi sepertinya kamu memiliki masalah yang lain.” Tanya anak kecil itu penuh curiga.

“Walaupun ku ceritakan kamu tidak akan mengerti adik kecil.”

“Tapi setidaknya aku bisa menjadi menjadi pendengar yang baik.” anak kecil itu tersenyum.

“Hei, anak kecil ini cukup dewasa untuk anak seumurannya” kataku dalam hati.

“Baiklah akan aku ceritakan tapi ini rahasia kita berdua ya.” Aku menyodorkan jari kelingkingku ke anak kecil itu.

“oke.” Anak kecil itu juga menyodorkan jari kelingkingnya.

“Sebenarnya aku sedang jatuh cinta dengan teman sekantorku.”

“Oh ya? Seperti apa orangnya?”

“Namanya Sinta rambutnya sebahu, kulitnya kuning langsat, dan dia memiliki bola mata yang sangat indah. Ah, persis seperti bola matamu adik kecil.”

“Tapi kenapa kenapa kamu murung? Bukannya kamu sedang jatuh cinta?”

“Itu karena aku tidak tahu apakah dia mencintaiku juga.”

“Bagaimana kau bisa tahu kalau dia mencintaimu atau tidak kalau tidak pernah kamu nyatakan?”

“Aku pernah mencobanya, tapi praktek tidak pernah semudah teorinya.”

“Kalau begitu praktekkan saja tanpa teori.”

“………”

Aku terdiam sejenak, perkataan anak itu membuatku tidak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa anak sekecil ini bisa mengerti masalah seperti ini?

“Ah, terima kasih atas saranmu adik kecil. Sekarang pikiranku mulai terbuka.”

“Itu bukan apa-apa.” Jawabnya sambil tersenyum.

“Rupanya kamu di sini! Daritadi aku dan ibu mencarimu.” Teriak seorang anak laki –laki berumur sekitar 9 tahun dari kejauhan.

“Maaf, aku harus pergi. Nanti ibu bisa memarahiku karena telah memainkan mesin waktunya tanpa izin.” Ucap anak kecil itu sambil berlari menuju anak laki – laki tersebut.

“Mesin waktu?” tanyaku heran.

Karena penasaran, diam – diam aku mengikuti anak kecil itu dari sampai ke pintu keluar. Sesampainya di sana aku melihat anak kecil tersebut menghampiri kakak dan ibunya. Dan ternyata ibu dari anak itu mirip sekali dengan Sinta. Tetapi mana mungkin ada dua orang di dunia ini yang benar – benar mirip.

“Kenapa kamu tidak memberi tahu ibu kalau kamu mau menggunakan mesin waktu?” tanya ibu dari anak itu.

“Aku takut ibu tidak akan megizinkanku.”

“Tentu saja ibu tidak akan mengizinkanmu jika mesin waktu ini digunakan untuk hal – hal yang tidak penting. Bagaimana  jika sesuatu yang buruk terjadi padamu?”

“Tapi aku hanya ingin melihat ayah waktu masih muda ibu.” Anak kecil tersebut mulai mengeluarkan air mata.

“Baiklah ibu berjanji tidak akan memarahimu. Tapi kamu juga harus berjanji tidak akan menggunakan mesin waktu tanpa seizin ibu lagi.” Kata ibu anak itu halus, sambil mengusap air mata anaknya itu.

“Baik bu!” jawab anak kecil itu sambil tersenyum.

“Ayo kita segera pulang. Ayah daritadi mencemaskanmu di rumah.”

Tiba – tiba muncul cahaya  menyelimuti tubuh mereka dan membawa mereka melesat ke langit dan kemudian hilang dari pandangan.

Setelah itu aku merapikan kemejaku dan bersiap kembali ke kantor dengan wajah penuh semangat.

“Terima kasih sudah memberi semangat hari ini Tuhan.” Kataku dalam hati