Jeritan Indonesiaku

Oleh : Mifta

Hamparan alam luas terbentang

Tersebar dari sabang sampai merauke

Terbentang indah bertahtakan khatulistiwa

Hijau, tentram, dan damai

Indonesiaku

 

Kemarin hari begitu cerah

Kini langit tak lagi berbintang

Jerit tangis saudaraku

Jeritan bangsaku

Kian terngiang karena ulahmu

 

Senyummu adalah bumerang

Berjabat pertanda perang segera

Memaafkan pertanda keangkuhamu

Kini genderang perang semakin membara

Kau bukan sahabat Indonesiaku

 

Tapal batas bangsaku terus kau alihkan

Saudaraku terus kau aniaya

Para pembajak budaya bangsaku

Kian henti kau renggut

Seluruh aset negaraku

 

Musuh dalam selimut

Tak hentinya kau rebut kebuadaayn milik kami

Belum puas kau tebar benih kepedihan pada saudaraku?

Salah apa mereka?

Adakah hati kecilmu menerima ulasan kepedihan mereka?

 

Wahai pembajak yang tak punya malu

Hentikan semua perlakuanmu

Sebelum tunas bangsaku berkobar

Kembalikan aset Indonesiaku

Sebelum kau menjerit

Dengarkan jeritan bangsaku

Pertemuan

Oleh: Basra

“Hai, sering ke sini ya?” sapa gadis yang bahkan namanya tidak aku ketahui itu.

“Eh.. iya, tahu darimana?” jawabku sedikit gugup.

“Aku juga sering ke taman ini, dan aku selalu melihatmu duduk di bangku ini sendirian.”

“Ah, itu karena disinilah satu-satunya tempat yang bisa membuatku tenang.”

“Tenang? Justru menurutku bangku ini adalah tempat terburuk di taman ini. Tidak ada pemandangan yang menarik di sini. Cobalah sesekali duduk di bangku yang tepat menghadap danau di bagian utara taman ini. Di sana adalah tempat favoritku.”

“Mungkin lain kali, aku masih ingin menikmati pemandangan di sini.”

“Oke, baiklah kalau begitu. Sampai jumpa, aku ada janji dengan sepupuku yang baru datang dari luar negeri . Aku tidak ingin membuatnya menunggu.”

“Oke sampai jumpa.”

 

Kira-kira begitulah percakapan singkatku dengan seseorang gadis yang bahkan aku tidak tahu namanya. Mungkin bagi orang-orang bangku taman yang aku duduki sekarang adalah tempat terburuk di taman ini. Iya memang benar, yang bisa dinikmati dari sini hanyalah bunga yang mulai layu, bahkan beberapa diantaranya sudah mati. Tapi dulu disinilah tempat aku sering menghabiskan waktu bersama orang yang aku cintai. Setiap minggu pagi kami sering ke sini, aku membawa buku gambar serta beberapa alat tulis, dan dia membawa bekal roti buatannya sendiri untuk kami makan dan sebuah alat penyiram bunga. Iya benar, alat penyiram bunga. Dia sangat suka sekali dengan bunga. Setiap kami datang ke sini pasti dia selalu menyempatkan diri untuk menyiram bunga-bunga disini, dan ketika dia sedang sibuk menyiram bunga, diam-diam aku mengabadikan momen indah tersebut ke dalam sebuah gambar. Dia sungguh cantik dengan perpaduan baju kaos dan rok yang juga berwarna putih ditambah rambut sebahunya yang dikuncir. Tapi sayangnya suatu hari dia tidak kunjung datang ke taman ini. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengunjungi rumahnya. Tapi ternyata rumahnya sudah tidak berpenghuni, bahkan tetangganya tidak tahu mereka sekeluarga pergi ke mana. Karena itulah setiap hari aku datang ke taman ini di tempat dimana kami biasa menghabiskan waktu, untuk menunggunya kembali. Yang pasti aku tahu, suatu saat jika dia telah kembali pasti bunga-bunga disini akan mekar lagi.

 

***

 

“Hai, apa kabar sepupuku yang cantik? Lama tidak bertemu.” Sapa seorang gadis yang saya tidak begitu yakin dia itu sepupuku.

“Hai, i’m fine.” Jawabku kaku.

“Wah, baguslah. Tahu tidak? Sebelum kesini tadi aku bertemu pria aneh di taman.”

“Oh ya? Aneh kenapa?”

“Karena dia setiap aku pergi ke sana dia pasti selalu duduk di tempat yang sama.”

“Loh? Apanya yang aneh.”

“Masalahnya di situ tidak ada pemandangan yang bagus. Yang ada hanya bunga-bunga yang layu.”

“Wah, aneh juga laki-laki itu.”

“Kalau mau besok aku ajak kamu ke taman buat refreshing, sekalian nanti aku tunjukkan laki-laki yang aku bilang tadi.”

 

Kira-kira begitulah percakapanku dengan orang yang katanya kedua orang tuaku adalah sepupuku. Bukannya aku tidak tahu, tetapi memang aku tidak ingat. Hal ini karena kecelakaan yang ku alami kurang lebih setahun yang lalu. Sewaktu aku hendak pulang ke rumah, aku mengalami kecelakaan yang tragis, orang tua ku bilang kalau aku cukup beruntung karena aku selamat sementara barang bawaanku seperti handphone dan bekal makananku habis dilindas mobil. tetapi karena luka ku yang cukup parah dokter menyarankan agar aku berobat ke luar negeri, dan malam harinya orang tua ku langsung membawaku ke singapura. Sampai saat ini yang bisa membuatku tenang adalah gambar seorang perempuan dengan baju dan rok putih yang sedang menyiram bunga. Entah kenapa setiap melihat gambar itu perasaanku seperti dihangatkan. Katanya ibu ku sih gambar itu adalah salah satu barangku yang paling berharga, jadi dia membawanya ke singapura waktu itu. Ah, aku tidak sabar untuk ke taman besok, dan kira-kira laki-laki yang diceritakan sepupuku itu seperti apa ya?