Rumah Baruku, Rumah Biruku

by Desy Purnama

Ingat bagaimana aku
Saat pertama kali menginjak bangku perkuliahan
Menjadi mahasiswa baru
Yang masih berwajah lugu
Perempuannya pemalu
Laki-laki dengan ciri khasnya berambut botak
Saat itu pula kaki kecilku membawaku kesini
Kerumah biru ini
Hati kecilku mengatakan disinilah rumahku
Saat tanganku membuka pintu
Aku melihat sekumpulan orang disitu
Sebuah keluarga yang saling membantu
Dimana senior dan junior saling membantu

Walau bukan istana
Berkilau emas dan permata
Rumah ini hanyalah sebuah rumah sederhana
Yang memberi arti keluarga
Yang menghadirkan cinta
Upaya mewujudkan tanggung jawab berlembaga

Dirumah ini penuh perdamaian dan kebenaran
Tidak ada keangkuhan
Dalam menyonsong pencerahan zaman
Karena itu aku enggan berdiri
Apalagi pergi dari tempat ini
Segalanya kutemukan disini
Dirumah ini
Rumahku yang baru
Rumahku yang biru…

“For all those time you stood by me, for all the truth that you made me see…..”, nyanyian merdu Celine
Dion memenuhi seisi kamar.

“Kaaaaaak, matiin alaramnya. Berisik tauuu.” seru Dini sambil menutupi wajahnya dengan si
“Brithney”, boneka Teddy Bear cokelat kesayangannya. Suara alaram itu membuatnya tak dapat
melanjutkan mimpi indahnya bersama pangeran bermobil putih impiannya. Sayangnya, Lia, sang kakak
pemilik hand phone seperti tidak menghiraukan dan memilih tetap berada di alam mimpi.

“Kak, alaramnya udah bunyi sejak tadi loh, kalo kakak telat ke kampus aku nggak tanggung yah,”
kata Dini sambil mengguncang-guncang tubuh Lia hingga membuat cewek bertubuh mungil itu tersentak
kaget.

“Aduuh, pelan-pelan aja kali banguninnya, aku kan nggak budek. Emang sekarang jam berapa
sih?” sambil memperbaiki rambutnya yang saat itu lebih mirip bulu singa.

“Liat aja sendiri, masih ngantuk nih,” ucap Dini sambil mencoba kembali tidur.

Lia dan Dini adalah adik kakak yang cukup akrab. Lia adalah tipe cewek penakut dan manja,
sangat bertolak belakang dengan Dini yang berani dan cenderung lebih mandiri dari sang kakak. Karena
pembawaannya yang penakut, Lia dengan setengah memohon agar Dini bersedia berbagi kamar
dengannya. Dia sangat takut untuk tidur sendirian dikamarnya yang berada di kamar paling depan dan
langsung berhadapan dengan pohon mangga yang berada di halaman rumah. Memikirkannya saja cukup
membuat bulu kuduknya merinding.

“Aaaaaa, kamu kok bangunin sejak tadi sih? Bisa telat aku,” teriak Lia setengah histeris sambil
berlari menyambar handuknya yang berada di belakang pintu kamar lalu masuk ke kamar mandi dan
segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.

•••

Lia adalah mahasiswi semester pertama di fakultas ekonomi. Ini adalah minggu pertama baginya
duduk di bangku perkuliahan. Tentu saja ini sangat membuatnya bahagia sekaligus merasa bangga
karena dapat lulus di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di kotanya dan merupakan mimpinya
semasa SMA.

Dengan langkah yang terburu-buru, Lia melangkah menuju kelasnya hari ini. Hari ini ada kelas
Matematika Dasar, pelajaran yang sangat disukainya dan berharap masih bisa mendapatkan kursi yang
berada di bagian depan.

Persaan kecewa menyelubunginya. Yah, karena terlambat, dia tidak menemukan tempat yang
sesuai dengan keinginannya dan yang tersisa hanya ada satu kursi yang berada di deretan paling
belakang.

“Sial banget sih aku hari ini,” keluhya dalam hati. Sambil berjalan gontai, dia pun menuju ke satu
kursi yang masih kosong itu.

Masih dengan perasaan campur aduk antara kecewa dan jengkel, Lia mengeluarkan bolpoin dan
mencoret-coret kertas yang ada di hadapannya dengan asal-asalan. Akan tetapi kegiatan itu terhenti
ketika ia merasa dirinya tengah diperhatikan oleh seseorang.

Deg, jantungnya serasa hampir copot. Dia melihat sepasang sepatu Cater Pillar cokelat tepat
berada di depan kursi yang berada di sebelahnya. Sepertinya orang ini pemilik kursi sebelah, pikir Lia.
Tapi bukan itu yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Setelah melihat sepatu menyeramkan
itu, ia mulai melirik keatas. Celana jeans biru gombrang dan baju kaos yang digunakan memperkuat rasa
penasaran gadis ini. Sepertinya dia bukan mahasiswa yang seangkatan denganku, pikirnya lagi.

Kejadian berikutnya yang membuatnya yakin kalau orang ini bukanlah mahasiswa baru seperti
dirinya. Cowok pemilik bangku sebelah ini memiliki rambut gondrong yang di ikat menyerupai rambut
para pendekar silat yang ada di film-film mandarin yang biasa mama tonton di tv. Oh my God! Dia
sosok yang menyeramkan. Matanya yang bulat menatap Lia, membuat cewek ini ketakutan dan merasa
seperti akan diterkam oleh serigala yang kelaparan.

Sepanjang kelas mata kuliah itu, Lia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Dia tidak merasa
rileks dengan posisinya saat itu yang diapit dua lelaki yang tak dikenal dan tampak tidak bersahabat. Dia
yang pada dasarnya cerewet tiba-tiba berubah jadi pendiam, tidak tahu harus bercerita dengan siapa.
Hal yang menakjubkan berada di akhir kelas.

Dengan tatapan yang masih menghadap ke depan, cowok gondrong sebelah bangkunya ini
menyodorkan hand phone dan meminta Lia untuk membaca tulisan di layarnya.

Dek, minggu depan aku minta tolong disimpankan kursi yah. Nama kamu siapa?

Nggak salah nih? Dia nanya namaku? Aku lagi mimpi kali yah? Tanya Lia dalam hati lalu
mencoba mencubit punggung tangannya. “aaawwwh”,

“Ini nyata dek,” kata cowok itu sambil menahan senyum melihat tingkah Lia yang rada konyol

itu.

Dengan wajah yang memanas akibat menyadari tingkahnya tadi. Setelah mengetikkan namanya
lalu ia menyerahkan kembali hand phone tersebut kepada pemiliknya dan segera kabur meninggalkan
kelas karena malu.

Lia

“Gadis yang aneh,” kata cowok itu sambil memperhatikan Lia berlari meninggalkan kelas. Tanpa
sadar, ternyata nama itu telah mendapatkan satu ruang di sudut hatinya yang telah lama tak terisi.

•••

Itulah awal pertemuan mereka yang selanjutnya membuat Lia menunggu kapan mereka bisa
bertemu kembali, mengapa waktu jadi terasa lama? Dia ingin segera memulai kelas Matematika Dasar
dan mengenal sosok penghuni bangku sebelah lebih dalam lagi.

Dengan hati yang berbunga-bunga, Lia pun menyempatkan diri untuk singgah kerumah Tari,
sahabatnya, semenjak ia SMA dulu untuk menceritakan kisah pertemuannya dikelas tadi. Seperti biasa,
Tari mendengarkan dengan seksama sambil sesekali tersenyum simpul.

“Perasaan belum seminggu yang lalu kamu cerita tentang cowok yang kamu temui di tempat
bimbingan, sekarang udah cerita cowok lain lagi. Gimana sih kamu? Dasar ababil,” kata tari sambil
merebut camilan yang sejak tadi di monopoli oleh Lia dalam pangkuannya.

“Yeee, kok diambil sih?” sembur Lia sambil memasang tampang memelas agar camilannya dapat
dikembalikan.

“Gini yah Li, aku gak larang kamu suka ama seseorang tapi jangan hampir semua cowok yang
kamu temui langsung kamu anggap suka dong. Kamu harus bisa bedain mana suka yang beneran suka,
dengan suka liat aja, cuma sekedar kagum doang,” ceramah Tari panjang lebar.

“Beda Tari, kali ini aku rasain sesuatu yang beda. Selama ini aku gak pernah rasain deg-degan
gini kalo deket ama cowok. Suka emang sering tapi aku yakin kali ini beda dari yang kemarin-kemarin,”
ungkap Lia mantap.

“Kalau kamu yakin ama perasaan kamu, aku ikut bahagia aja deh. Tapi ingat, sebelum
perasaanmu terlalu dalam untuk dia, pastikan bahwa dia memang pantas untuk mendapatkannya,”
katanya Tari sambil tersenyum tulus.

“Makasiiih Tari, kamu emang yang paling ngertiin aku.” Sambil tersenyum sumringah dan
memeluk sahabatnya erat.

“By the way, namanya siapa sih? Kamu udah kenalan kan?” tanya Tari.

“Astagaaaa, aku lupa nanya. Siapa yh namanya? Nggak tau, hehe. Kita panggil dia serigala aja
deh, mukanya kan seram kayak serigala,” jawabnya sambil tersenyum mengingat wajah cowok itu.

“Terserah kamu aja deh mau ngasih dia nama apa, asalkan orangnya nggak tau aja. Kalau sampai
ketahuan bisa panjang urusannya.”

“Tenang aja, nggak bakalan ketahuan. Mukanya emang seram tapi kayaknya dia baik deh.”

“Domba berbulu serigala dong? Hahahahaha,” ledek Tari.

“Yeeeee, malah ngejek. Awas yah kamu, aku acak rambutmu,” kata Lia sambil berlari mengejar

Tari.

“Jangan dong Li, ampuuun, baru selesai dicream bath nih.” Kata Tari memelas.

“Nggak ada ampun, sini kamu,”

Dan hari itu berakhir dengan rambut Tari yang awalnya teratur menjadi hancur seperti sarang
burung, Lia tertawa senang melihat sahabatnya berusaha membuat rambutnya kembali seperti semula.

•••

Sesuai dengan permintaan cowok itu, Lia menyimpankan kursi tepat di sebelahnya. Sepertinya
dia tidak datang, sudah terlambat 15 menit dosen berada didalam ruangan tapi batang hidungnya tak
juga muncul. “Mungkin dia terjebak hujan deras di perjalanan ke kampus,” batin Lia dengan kecewa.

“Mukanya kok ditekuk gitu dek?” tiba-tiba cowok itu telah berada di kursi sebelah.

Karena kaget, Lia mengangkat wajahnya dan bertatapan dengan wajah cowok di sebelahnya. Ini
pertama kali Lia menatap wajahnya dengan begitu dekat, itu hidung yang sempurna, pikir Lia.

“Kenapa dek? Suka yah sama hidungku?” sambil memegang hidungnya dan tersenyum nakal
karena mengetahui jalan pikiran Lia.

Aduuuuh, kok dia bisa tau sih? Tau darimana yah? Emang jelas banget? Atau dia bisa baca
pikiran? Atau……. Idiiih, ngeri deh. Disaat Lia sibuk dengan pikirannya sendiri, cowok itu kembali
mengeluarkan hand phone dan bertanya,

“Bisa minta nomormu nggak?”

“Ha???” ucap Lia setengah berteriak,

“Nomor hand phonemu , kamu punya hand phonekan?”, ulang cowok itu

“Ah? Eh ia, ada,” jawab Lia sambil terbata-bata, masih belum percaya pada apa yang cowok ini
katakan barusan lalu menyebutkan nomor ponselnya. “Emangnya buat apa?”

“Supaya bisa smsan sama dosen. Yaah supaya bisa berhubungan sama kamu lah dek, gimana
sih,” ucap cowok itu samil menyimpan nomor yang telah Lia berikan tadi.

Tidak lama setelah itu, ponsel Lia berbunyi. Ada sms baru dari nomor yang tidak di kenal. “Itu
nomorku, di save yah,” kata sang cowok.

Aku Bima, salam kenal J

The end

Serigala Berbulu Domba

by Fadhilah Maulidya

“For all those time you stood by me, for all the truth that you made me see…..”, nyanyian merdu Celine
Dion memenuhi seisi kamar.

“Kaaaaaak, matiin alaramnya. Berisik tauuu.” seru Dini sambil menutupi wajahnya dengan si
“Brithney”, boneka Teddy Bear cokelat kesayangannya. Suara alaram itu membuatnya tak dapat
melanjutkan mimpi indahnya bersama pangeran bermobil putih impiannya. Sayangnya, Lia, sang kakak
pemilik hand phone seperti tidak menghiraukan dan memilih tetap berada di alam mimpi.

“Kak, alaramnya udah bunyi sejak tadi loh, kalo kakak telat ke kampus aku nggak tanggung yah,”
kata Dini sambil mengguncang-guncang tubuh Lia hingga membuat cewek bertubuh mungil itu tersentak
kaget.

“Aduuh, pelan-pelan aja kali banguninnya, aku kan nggak budek. Emang sekarang jam berapa
sih?” sambil memperbaiki rambutnya yang saat itu lebih mirip bulu singa.

“Liat aja sendiri, masih ngantuk nih,” ucap Dini sambil mencoba kembali tidur.

Lia dan Dini adalah adik kakak yang cukup akrab. Lia adalah tipe cewek penakut dan manja,
sangat bertolak belakang dengan Dini yang berani dan cenderung lebih mandiri dari sang kakak. Karena
pembawaannya yang penakut, Lia dengan setengah memohon agar Dini bersedia berbagi kamar
dengannya. Dia sangat takut untuk tidur sendirian dikamarnya yang berada di kamar paling depan dan
langsung berhadapan dengan pohon mangga yang berada di halaman rumah. Memikirkannya saja cukup
membuat bulu kuduknya merinding.

“Aaaaaa, kamu kok bangunin sejak tadi sih? Bisa telat aku,” teriak Lia setengah histeris sambil
berlari menyambar handuknya yang berada di belakang pintu kamar lalu masuk ke kamar mandi dan
segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.

•••

Lia adalah mahasiswi semester pertama di fakultas ekonomi. Ini adalah minggu pertama baginya
duduk di bangku perkuliahan. Tentu saja ini sangat membuatnya bahagia sekaligus merasa bangga
karena dapat lulus di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di kotanya dan merupakan mimpinya
semasa SMA.

Dengan langkah yang terburu-buru, Lia melangkah menuju kelasnya hari ini. Hari ini ada kelas
Matematika Dasar, pelajaran yang sangat disukainya dan berharap masih bisa mendapatkan kursi yang
berada di bagian depan.

Persaan kecewa menyelubunginya. Yah, karena terlambat, dia tidak menemukan tempat yang
sesuai dengan keinginannya dan yang tersisa hanya ada satu kursi yang berada di deretan paling
belakang.

“Sial banget sih aku hari ini,” keluhya dalam hati. Sambil berjalan gontai, dia pun menuju ke satu
kursi yang masih kosong itu.

Masih dengan perasaan campur aduk antara kecewa dan jengkel, Lia mengeluarkan bolpoin dan
mencoret-coret kertas yang ada di hadapannya dengan asal-asalan. Akan tetapi kegiatan itu terhenti
ketika ia merasa dirinya tengah diperhatikan oleh seseorang.

Deg, jantungnya serasa hampir copot. Dia melihat sepasang sepatu Cater Pillar cokelat tepat
berada di depan kursi yang berada di sebelahnya. Sepertinya orang ini pemilik kursi sebelah, pikir Lia.
Tapi bukan itu yang membuat jantungnya berdetak tidak karuan. Setelah melihat sepatu menyeramkan
itu, ia mulai melirik keatas. Celana jeans biru gombrang dan baju kaos yang digunakan memperkuat rasa
penasaran gadis ini. Sepertinya dia bukan mahasiswa yang seangkatan denganku, pikirnya lagi.

Kejadian berikutnya yang membuatnya yakin kalau orang ini bukanlah mahasiswa baru seperti
dirinya. Cowok pemilik bangku sebelah ini memiliki rambut gondrong yang di ikat menyerupai rambut
para pendekar silat yang ada di film-film mandarin yang biasa mama tonton di tv. Oh my God! Dia
sosok yang menyeramkan. Matanya yang bulat menatap Lia, membuat cewek ini ketakutan dan merasa
seperti akan diterkam oleh serigala yang kelaparan.

Sepanjang kelas mata kuliah itu, Lia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Dia tidak merasa
rileks dengan posisinya saat itu yang diapit dua lelaki yang tak dikenal dan tampak tidak bersahabat. Dia
yang pada dasarnya cerewet tiba-tiba berubah jadi pendiam, tidak tahu harus bercerita dengan siapa.
Hal yang menakjubkan berada di akhir kelas.

Dengan tatapan yang masih menghadap ke depan, cowok gondrong sebelah bangkunya ini
menyodorkan hand phone dan meminta Lia untuk membaca tulisan di layarnya.

Dek, minggu depan aku minta tolong disimpankan kursi yah. Nama kamu siapa?

Nggak salah nih? Dia nanya namaku? Aku lagi mimpi kali yah? Tanya Lia dalam hati lalu
mencoba mencubit punggung tangannya. “aaawwwh”,

“Ini nyata dek,” kata cowok itu sambil menahan senyum melihat tingkah Lia yang rada konyol

itu.

Dengan wajah yang memanas akibat menyadari tingkahnya tadi. Setelah mengetikkan namanya
lalu ia menyerahkan kembali hand phone tersebut kepada pemiliknya dan segera kabur meninggalkan
kelas karena malu.

Lia

“Gadis yang aneh,” kata cowok itu sambil memperhatikan Lia berlari meninggalkan kelas. Tanpa
sadar, ternyata nama itu telah mendapatkan satu ruang di sudut hatinya yang telah lama tak terisi.

•••

Itulah awal pertemuan mereka yang selanjutnya membuat Lia menunggu kapan mereka bisa
bertemu kembali, mengapa waktu jadi terasa lama? Dia ingin segera memulai kelas Matematika Dasar
dan mengenal sosok penghuni bangku sebelah lebih dalam lagi.

Dengan hati yang berbunga-bunga, Lia pun menyempatkan diri untuk singgah kerumah Tari,
sahabatnya, semenjak ia SMA dulu untuk menceritakan kisah pertemuannya dikelas tadi. Seperti biasa,
Tari mendengarkan dengan seksama sambil sesekali tersenyum simpul.

“Perasaan belum seminggu yang lalu kamu cerita tentang cowok yang kamu temui di tempat
bimbingan, sekarang udah cerita cowok lain lagi. Gimana sih kamu? Dasar ababil,” kata tari sambil
merebut camilan yang sejak tadi di monopoli oleh Lia dalam pangkuannya.

“Yeee, kok diambil sih?” sembur Lia sambil memasang tampang memelas agar camilannya dapat
dikembalikan.

“Gini yah Li, aku gak larang kamu suka ama seseorang tapi jangan hampir semua cowok yang
kamu temui langsung kamu anggap suka dong. Kamu harus bisa bedain mana suka yang beneran suka,
dengan suka liat aja, cuma sekedar kagum doang,” ceramah Tari panjang lebar.

“Beda Tari, kali ini aku rasain sesuatu yang beda. Selama ini aku gak pernah rasain deg-degan
gini kalo deket ama cowok. Suka emang sering tapi aku yakin kali ini beda dari yang kemarin-kemarin,”
ungkap Lia mantap.

“Kalau kamu yakin ama perasaan kamu, aku ikut bahagia aja deh. Tapi ingat, sebelum
perasaanmu terlalu dalam untuk dia, pastikan bahwa dia memang pantas untuk mendapatkannya,”
katanya Tari sambil tersenyum tulus.

“Makasiiih Tari, kamu emang yang paling ngertiin aku.” Sambil tersenyum sumringah dan
memeluk sahabatnya erat.

“By the way, namanya siapa sih? Kamu udah kenalan kan?” tanya Tari.

“Astagaaaa, aku lupa nanya. Siapa yh namanya? Nggak tau, hehe. Kita panggil dia serigala aja
deh, mukanya kan seram kayak serigala,” jawabnya sambil tersenyum mengingat wajah cowok itu.

“Terserah kamu aja deh mau ngasih dia nama apa, asalkan orangnya nggak tau aja. Kalau sampai
ketahuan bisa panjang urusannya.”

“Tenang aja, nggak bakalan ketahuan. Mukanya emang seram tapi kayaknya dia baik deh.”

“Domba berbulu serigala dong? Hahahahaha,” ledek Tari.

“Yeeeee, malah ngejek. Awas yah kamu, aku acak rambutmu,” kata Lia sambil berlari mengejar

Tari.

“Jangan dong Li, ampuuun, baru selesai dicream bath nih.” Kata Tari memelas.

“Nggak ada ampun, sini kamu,”

Dan hari itu berakhir dengan rambut Tari yang awalnya teratur menjadi hancur seperti sarang
burung, Lia tertawa senang melihat sahabatnya berusaha membuat rambutnya kembali seperti semula.

•••

Sesuai dengan permintaan cowok itu, Lia menyimpankan kursi tepat di sebelahnya. Sepertinya
dia tidak datang, sudah terlambat 15 menit dosen berada didalam ruangan tapi batang hidungnya tak
juga muncul. “Mungkin dia terjebak hujan deras di perjalanan ke kampus,” batin Lia dengan kecewa.

“Mukanya kok ditekuk gitu dek?” tiba-tiba cowok itu telah berada di kursi sebelah.

Karena kaget, Lia mengangkat wajahnya dan bertatapan dengan wajah cowok di sebelahnya. Ini
pertama kali Lia menatap wajahnya dengan begitu dekat, itu hidung yang sempurna, pikir Lia.

“Kenapa dek? Suka yah sama hidungku?” sambil memegang hidungnya dan tersenyum nakal
karena mengetahui jalan pikiran Lia.

Aduuuuh, kok dia bisa tau sih? Tau darimana yah? Emang jelas banget? Atau dia bisa baca
pikiran? Atau……. Idiiih, ngeri deh. Disaat Lia sibuk dengan pikirannya sendiri, cowok itu kembali
mengeluarkan hand phone dan bertanya,

“Bisa minta nomormu nggak?”

“Ha???” ucap Lia setengah berteriak,

“Nomor hand phonemu , kamu punya hand phonekan?”, ulang cowok itu

“Ah? Eh ia, ada,” jawab Lia sambil terbata-bata, masih belum percaya pada apa yang cowok ini
katakan barusan lalu menyebutkan nomor ponselnya. “Emangnya buat apa?”

“Supaya bisa smsan sama dosen. Yaah supaya bisa berhubungan sama kamu lah dek, gimana
sih,” ucap cowok itu samil menyimpan nomor yang telah Lia berikan tadi.

Tidak lama setelah itu, ponsel Lia berbunyi. Ada sms baru dari nomor yang tidak di kenal. “Itu
nomorku, di save yah,” kata sang cowok.

Aku Bima, salam kenal J

The end