Kampus Kita

Kiri, Kanan, Atas, atau Bawah?

[Sedang Membayangkan]

Saya sedang berjalan di koridor FE-UH.

A: “Bro, liatko berita tadi malam?, ramekin sede buruh demo di’? acecece”

B: “Iyo, di Jakarta toh? Dehh, ditutupki jalanan ka, menuntut kenaikan UMRki

bede”

A: “Aihh, sedikit mami revolusi ini ca’, ka sadarmi buruh toh, seperti yang

dibilang sama Karl Marx”

B:” Iyo di’? Ballassi SBY. Hhahaha”

Sedang makan di Lobe

A:”wehhh, nontonko Chelsea tadi malam?, pallami tawwa Torres di’?”

B:” Iyo, pallaki tawwa, semenjak Benitez latihki”

C:”ka bapaknyami latihki anu. Anak kesayangannya dulu di Liverpool toh”

B:”iyo tawwa di’. Tapi bagaimana kira-kira itu sistem pengelolaannya tim

sepakbolayya di’?. Bagaimana itu caranya memotivasi pelatih ka. Ka kalo

mau dibilang Di Matteo kassa’ tonji, tapi kenapa mandulki Torres? Kenapa

Benitezpi baru kassaki?”

C:”teori kepemimpinan apa are’ dia pake itu. Hhahaha”

A:”Pasti teori motivasinya Maslow dia terapkan. Hahaha” [sotta’]

[Kembali ke Dunia Nyata]

Cukup menarikkan percakapan di atas? Cukup merepresentasikan dunia

kampuskan?. Tapi kenapa hal tersebut tidak terjadi di fakultas tertua di Unhas ini?.

Siapa dan apakah yang salah?.

Mari kita lihat secara sederhana.

Sebagai seorang yang berkecimpung di Lembaga Kemahasiswaan (LEMA),

tentu saja saya menyadari bahwa LEMA selalu ingin bertujuan untuk menumbuhkan

budaya ilmiah dikampus. Yah sebut saja membaca, menulis, ataukah berdiskusi.

Tapi kenapa itu hanya terjadi di beberapa orang saja?. Secara singkat saya bisa

menjawab, bahwa karena lembaga kemahasiswaan saat ini tidak punya pengaruh

besar terhadap semua mahasiswa yang ada di Fakultas tertua ini. Selain itu tentu

saja tantangan yang dihadapi saat ini memang sudah sangat ‘NGERI’, lihatlah

tempat karaokean sudah menjamur di sekitar kampus, belum lagi pusat-pusat

perto[NG]k[R]o[NG]an yang juga semakin menggerogoti kepala mahasiswa yang

katanya Agent of Change ini.

Tapi apa yang harus dilakukan? Menurutku haruslah ada sebuah kekuatan

yang lebih besar yang berpikir searah dengan LEMA, seperti yang jelaskan di

atas. Yah, tak lain dan tak bukan adalah pihak birokrasi kampus. Yang perlu

diperhatikan adalah bagaimana sinergitas antara LEMA dan birokrasi kampus.

Karena bagaimanapun kedua subsistem tersebut berada di dalam sebuah sistem

yang sama dan tentu saja memiliki fungsi dan wilayah kerja masing-masing.

Dari beberapa orang yang pernah saya tanya mengenai bagaimana dosen-

dosen yang mengajar kalian di kelas, apaka dia cukup ‘memaksa’ untuk membaca

buku? Atau setidaknya ‘memaksa’ untuk belajar sebelum masuk kelas? Secara

sederhana bisa saya simpulkan, sebagian besar responden yang saya tanyai

menjawab tidak. Lalu saya menyimpulkan bahwa pantas saja kebanyakan

mahasiswa malas membaca buku ataupun belajar, karena memang dosen-dosen

yang mengajar memang belum berperan maksimal. Bukankah dia lebih memiliki

otoritas dibandingkan dengan LEMA?. Diarahkan kemana otoritas itu? Apakah

diarahkan untuk menyuruh mahasiswa membeli sebungkus atau dua bungkus

rokok? Apakah otoritasnya digunakan untuk mengisi pulsa telepon genggamnya?

(untuk mengaktifkan paket internet atau BIS mungkin), ataukah otoritasnya

digunakan untuk ‘memaksa’ mahasiswa menemaninya makan malam?. WOW.

Entahlah dikemanakan otoritas tersebut.

Melalui tulisan ini saya bukannya ingin menyalahkan birokrasi sepenuhnya

karena (menurutku) menggunakan otoritasnya ke arah yang keliru, tapi tentu

juga LEMA haruslah mengambil sebuah langkah untuk mengatasi masalah ini.

Karena saya sadari masih banyak juga orang yang berkecimpung di lembaga

kemahasiswaan yang tidak menanamkan budaya ilmiah pada dirinya sendiri

(termasuk saya tentunya). Yah, mari saling merefleksikan diri dan marilah

melontarkan sebuah pertanyaan di kepala kita “Mau diarahkan kemana kampus dan

LEMA ini? ke kirikah, kanankah, bawah atau atas” yang birokrasi dan lema haruslah

berjalan beriringan untuk menentukan arah tersebut.

Ibu dan IMMAJ

oleh: Novayanti Budiman

Setiap tanggal 22 Desember setiap tahunnya, sejak tahun 1938, rakyat Indonesia merayakan hari di mana seseorang bernama Ibu kembali diagungkan, Hari Ibu. Sejarah singkatnya sendiri dimulai dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Kongres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung Dalem Jayadipuranyang sekarang berfungsi sebagai kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional dan beralamatkan di Jl. Brigjen Katamso. Kongres dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Yg kemudian di tahun 1938 diputuskanlah tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu.

Lalu, bagaimanakah sosok Ibu yg teman-teman temui saat ini?

Masihkah sosok Ibu itu adalah yg selalu berbalut dasternya, bau ‘dapur’, dengan rambut selalu terikat, peluh yg selalu terlihat di kening berkerutnya? Ataukah mungkin sosok Ibu yg sering teman-teman temui adalah dia yg duduk di meja-meja kantor, memakai make up cukup tebal, berbalut busana necis ala business man? Bagaimana pun dia, kita tetap memanggilnya Ibu, kan? Dia yg selalu berbahasa lembut kepada anak lelakinya dan bertutur hangat kepada anak perempuannya. Dia yg selalu bisa menenangkan Ayah yg selalu tampil dengan figur kuat dan tegas. Jangan lupa juga bahwa Ibu adalah seorang manajer yg handal.

Dengan kehebatan-kehebatannya itu, Ibu kemudian di jaman sekarang ini hanya memiliki 1 hari setiap tahun untuk diingat segala jasanya. Terkadang dunia berlaku tidak adil bagi sosok-sosok yg berkontribusi besar bagi kehidupan. Untuk itu, mari kita sebagai mahasiswa, membijaki dengan tepat makna Hari Ibu itu. Jangan kita tenggelam dalam euphoria sesaat.

Hal itu juga mengingatkan kita pada perayaan hari jadi Immaj beberapa hari yg lalu. Ketika IMMAJ berganti usia dan menginjak angka 28 tahun, hampir seluruh mahasiswa(i) mengucapkan selamat dan bertutur doa untuk IMMAJ. Lalu beberapa hari setelahnya, tidak ada lagi suara-suara yg menggema membela IMMAJ di luar sana. Teman-teman yg sudah lulus sebagai mahasiswa merasa lupa akan kehadiran IMMAJ di masa dia menginjak bangku mahasiswa dulu.

IMMAJ tidak butuh kader-kader yg menganggap IMMAJ sebagai tempat persinggahan. Bagi mereka di luar lingkaran biru mungkin menganggap IMMAJ hanya sebuah ruangan pengap berukuran kecil. Tapi IMMAJ, bagi mereka yg masih peduli, adalah rumah.

Sejauh apapun kita melangkah, kita kemudian akan kembali ke rumah. Tempat di mana garis tak bertepi dan  melingkar tetap mengikat kita sebagai keluarga bagai sosok seorang Ayah. Di mana kita temui tenangnya biru laut bak seorang Ibu yg mengayomi anak-anaknya. Itu rumah.

Semuanya kembali pada kawan-kawan dalam menyikapi 22 Desember sebagai Hari Ibu dan 17 Desember sebagai Hari Jadi IMMAJ. Jangan mempermalukan diri dengan gemerlapnya euphoria sejenak semata.

Untuk IMMAJ

Ber[REFLEKSI]

 

Ohh iya, beberapa hari yang lalu sebuah acara kecil-kecilan diadakan untuk

merayakan hari ulang tahun Ikatan Mahasiswa Manajemen FE-UH. Acara saat itu

lumayan ramai dan keakraban yang terbangun terlihat cukup baik.

Tak terasa sebuah organisasi yang berawal dari klub studi ini telah memasuki

umur yang telah terbilang cukup lama, 28 tahun tepatnya. Pastinya, berbagai

macam kondisi telah dihadapi oleh organisasi ini. Ibaratnya seorang manusia,

tentu saja pada seusia ini ia sudah memikirkan seorang pasangan hidup yang

akan menemaninya sampai akhir khayatnya. Tapi organisasi ini bukanlah manusia,

organisasi ini bukanlah mahkluk hidup yang memiliki nafas, dan tentu saja ini

hanyalah sebuah organisasi.

 

Lumayan senang juga rasanya melihat berbagai macam ‘mention’ yang

mengucapkan selamat ulang tahun ke akun twitter resmi Immaj. Tapi sampai saat

ini saya masih bertanya-tanya, setelah memberi selamat dan bahkan memberi doa,

lalu apa selanjutnya? Bukankah Immaj hanyalah sebuah organisasi?. Lalu apa

selanjutnya?

Ketika dipandang secara sederhana, Immaj hanyalah sebuah organisasi yang

diwakili dengan ruangan yang kurang lebih berukuran 4x5m, atau diwakili oleh

lambang lingkaran yang didominasi oleh warna biru. Oke, cukuplah.

 

Bagi saya Immaj bukan sekedar organisasi, Immaj bukan sekedar ruangan

yang berukuran 4x5m, dan tentu saja Immaj bukanlah sesuatu yang ingin didoakan

dan tak pernah melakukan apapun untuk mewujudkan doa tersebut. Bagi saya

ketika mendoakan Immaj sama dengan mendoakan diri kita sendiri. Yah, Immaj

adalah jiwa. Immaj ada diri kita semua, mimpi-mimpi Immaj adalah mimpi kita

semua.

Immaj tidak akan pernah bergerak, ketika kita tidak menggerakkannya. Immaj

tidak akan pernah berjalan tanpa ada kita yang menjalankannya, Immaj tidak akan

pernah berkarya selama 28 tahun tanpa ada kita yang berkarya atas namanya, dan

tentu saja Immaj tidak akan pernah tumbuh sampai saat ini jika tak ada sosok kita

yang merawat dan menjaganya. Karena itulah Berjalan, Berkarya, dan Tumbuh

selalu diikuti dengan kata bersama, karena Immaj memang adalah kita semua.

Immaj adalah jiwa kita dan kita adalah nafasnya. [Mari berREFLEKSI].

Penilaian atau Tingkat Kesehatan Perbankan

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, menyebutkan bahwa bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kulitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian. Dalam Surat Edaran Bank Indonesia No. 3/30/DPNP/2001 dijelaskan mengenai pedoman perhitungan rasio keuangan yg memuat rasio-rasio untuk mengukur kinerja dan tingkat kesehatan bank yang dikenal dengan metode CAMEL.

Faktor yang pertama adalah C yaitu Capital atau permodalan, yang biasa diproyeksikan dengan rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) yaitu rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko. Rasio ini dirumuskan dengan CAR = Modal/Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) x 100%. Berdasarkan ketentuan Bank Indonesia, bank yang dinyatakan sehat, harus memiliki CAR paling sedikit sebesar 8%. Bobot untuk faktor permodalan itu sendiri dari metode CAMEL adalah sebesar 25%.

Faktor yang kedua adalah asset quality atau kualitas aset, yang merupakan penilaian jenis-jenis aktiva yang dimiliki bank, yaitu dengan cara membandingkan antara Aktiva Produktif yang Diklasifikasikan (APYD) terhadap total aktiva produktif dikali 100% APYD yaitu terdiri dari kredit Dalam Perhatian Khusus (dpk), Kredit kurang Lancar (kl), Kredit Diragukan (d), dan Kredit Macet (m). Batasan maksimum yang diberikan BI untuk KAP adalah 15,5%, dan bobot untuk KAP ini dalam metode CAMEL ini adalah sebesar 30%.

Yang ketiga adalah manajemen, yaitu untuk mengukur kemampuan manajemen bank untuk mengidentifikasi, mengukur, mengawasi, dan mengontrol risiko-resiko yang timbul melalui kebijakan-kebijakan dan strategi bisnisnya untuk mencapai target. Keberhasilan manajemen bank didasarkan pada penilaian kualitatif terhadap manajemen yang mencakup beberapa komponen. Akan tetapi pengukuran model kualitatif tersebut sulit dilakukan karena akan terkait dengan unsur kerahasian bank. Oleh karena itu, dalam penelitian entah itu skripsi atau tesis, dsb, faktor manajemen diproyeksikan dengan NPM. Dengan pertimbangan rasio ini, menunjukkan bagaimana manajemen mengelola sumber-sumber, maupun penggunaan atau alokasi dana secara efisien. NPM itu  sendiri dirumuskan dengan net income / operating income x 100%. Bobot manajemen untuk CAMEL itu sendiri ialah sebesar 25.

Faktor yang ke-4 adalah earning atau rentabilitas, yang di mana faktor ini diukur dengan dua rasio, yaitu ROA (return on asset) dan BOPO (beban operasional pendapatan operasional). ROA dihitung dengan rumus earning before tax / total asset x 100% dengan batasan minimun 1% dari BI, sedangkan BOPO dirumuskan dengan beban operasional / pendapatan operasional x 100% dengan batasan minimun berdasarkan BI adalah lebih kecil 100%. Bobot untuk faktor rentabilitas itu adalah 10%, yang dimana ROA dengan 5% dan BOPO 5%.

Juga pada saat ditagih dan dapat memenuhi semua permohonan kredit yang layak disetujui. Dalam faktor likuiditas diproyeksikan dengan rumus LDR (Loan to deposit ratio) yaitu rasio antara seluruh jumlah kredit yang diberikan dengan jumlah dana pihak ketiga dikali 100%, dengan atasan maksimum untuk LDR adalah 115% dari BI, dengan bobot sebesar 10% dari CAMEL. Dan faktor terakhir ialah likuiditas yang didasarkan atas kemauan bank dalam membayar semua utang-utang, terutama simpanan tabungan, giro, dan deposito.

Untuk penilaian tingkat kesehatan bank dengan menggunakan CAMEL sudah berubah karena ditambahkan dengan faktor sensitivitas terhadap risiko pasar, yang kemudian CAMEL berubah menjadi CAMELS. Dan berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No, 1/13/2011 tentang aturan tingkat kesehatan yang terbaru, bernama RBBR dan CAMEL pun sudah tidak digunakan lagi sebagai penilaian tingkat kesehatan bank.

Incoming search terms:

  • cara menentukan APYD

RBBR atau RGEC

Kultwit yang kali ini dibawakan oleh @immajfeuh berhubungan dengan  RBBR (Risk Based Banking Rating) atau biasa juga disebut RGEC (Risk Profil, Good Corporate Governance, Earning, dan Capital).

Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No. 13/1/PBI/2011 tentang sistem penilaian tingkat kesehatan bank maka bank wajib memelihara danatau meningkatkan tingkat kesehatan bank dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko dalam melaksanakan kegiatan usaha. Bank wajib melakukan penilaian kesehatan dengan menggunakan pendekatan risiko (risk based banking rating), baik secara individual maupun secara konsolidasi. Bank wajib melakukan penilaian sendiri (self assessment) atas tingkat kesehatan bank paling kurang setiap semester untuk posisi bulan Juni dan Desember.

Dengan adanya aturan PBI ini, yang membuat tingkat kesehatan bank diterapkan dengan menggunakan pendekatan risiko (RBBR), berarti secara otomatis, tingkat kesehatan bank dengan menggunakan analisis CAMELS sudah dicabut atau tidak dipergunakan lagi sejak awal thn 2012. Faktor2-faktor penilaian tingkat kesehatan bank meliputi: Profil Risiko (risk profil), Good Corporate Governance (GCG), Rentabilitas (earnings) dan permodalan (capital).

Untuk faktor pertama dalam RBBR adalah profil risiko yg menggambarkan eksposur risiko yg dihadapi oleh bank sebagai konsekuensi dari kinerja dan/atau strategi bisnis bank. Berdasarkan lampiran Surat Edaran Bank Indonesia No. 13/23/DPNP tgl 25 Oktober 2011, BI mengklasifikasikan risiko ke dalam 8 jenis risiko dan secara umum dibagi ke dalam 2 kategori risiko, yaitu risiko yang dapat diukur (kuantitatif) dan risiko yang sulit diukur (kualitatif). Untuk risiko yang dapat diukur terbagi 4 yaitu: risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, dan risiko operasional

Untuk faktor kedua dari RBBR adalah penilaian GCG yang didasarkan pada tiga aspek utama yaitu, governance structure, governance process, dan governance outcomes. Governance structure mencakup pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Komisaris dan Direksi serta kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite. Governance Process mencakup penerapan fungsi kepatuhan bank, penanganan benturan kepentingan, penerapan fungsi audit intern dan ekstern, penerapan manajemen risiko, termasuk sistem pengendalian intern, penyediaan dana kepada pihak terkait dan dana besar, serta rencana strategis bank. Governance outcomes mencakup transparansi kondisi keuangan dan non-keuangan, laporan pelaksanaan GCG dan pelaporan internal. Untuk faktor ketiga dan keempat dr RBBR ini yaitu earnings dan permodalan hampir sama dgn metode analisis CAMELS yang prnh djelaskan sebelumnya.

Untuk earnings atau rentabilitas yaitu kemampuan menghasilkan laba yang dinilai memadai untuk bank umum konvensional. Hal itu mencerminkan bahwa laba yang diperoleh umumnya melebihi target dan mendukung permodalan bank. Sementara untuk faktor permodalan atau capital, secara umum juga dinilai memadai. Bagi bank yang dinilai masih perlu meningkatkan modal untuk mendukung kegiatan usaha, BI antara lain meminta agar pemegang saham bank menambah modal, mencari investor baru dan/atau mengurangi proporsi pembagian dividen kepada pemegang saham.

Peringkat Komposit (PK) Tingkat Kesehatan Bank ditetapkan berdasarkan analisis secara komprehensif dan terstruktur terhadap peringkat setiap faktor, dengan memerhatikan materialitas dan signifikansi masing-masing faktor, serta mempertimbangkan kemampuan bank dalam menghadapi perubahan kondisi eksternal yg signifikan.

PK – 1 mencerminkan kondisi bank secara umum sangat sehat, sehingga dinilai sangat mampu menghadapi pengaruh negatif yg signifikan dari perubahan kondisi bisnis dan faktor eksternal lainnya. Apabila terdapat kelemahan, maka secara umum kelemahan tersebut tidak signifikan;

PK – 2 mencerminkan kondisi bank secara umum sehat sehingga mampu menghadapi pengaruh negatif yg signifikan;

PK – 3 mencerminkan kondisi bank secara umum cukup sehat sehingga dinilai cukup mampu menghadapi pengaruh negatif yg signifikan; dan

PK – 4 mencerminkan kondisi bank secara umum kurang sehat sehingga kurang mampu menghadapi pengaruh negatif yang signifikan.

 

Incoming search terms:

  • metode rgec

PENGANGGARAN PERUSAHAAN/BUDGETTING

Oleh: Staff HUMAS

Anggaran (budget) adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis meliputi seluruh kegiatan perusahaan dinyatakan dalam unit moneter. Oleh karena itu penganggaran perusahaan dikatakan sebagai salah satu fungsi manajemen,yaitu ‘planning’. Secara actual, dalam menyusun anggaran, perusahaan akan mempertimbangkan 2 hal yaitu proyeksi penjualan dan biaya yang akan dikeluarkan. Dalam proyeksi penjualan, ada 3 faktor utama yang berpengaruh yaitu: Volume produksi, harga produk, dan Revenue (pendapatan) yang dianggarkan.

  • Volume produksi adalah jumlah barang yang akan diproduksi oleh suatu perusahaan. Pertimbangan dalam menentukan volume dipengaruhi oleh:
  1. proyeksi market share, yaitu seberapa besar suatu perusahaan dapat menguasai market share yang ada di dalam suatu wilayah;
  2. proyeksi demand wilayah, yaitu perhitungan seberapa besar permintaan atas produk yang menjadi target market wilayah tersebut;
  3. proyeksi pertumbuhan demand nasional adalah seberapa besar proyeksi permintaan secara nasional atas produk yang akan ditawarkan;
  4. kondisi persaingan ditimbulkan oleh perusahaan-perusahaan lain yang saling berkompetisi untuk merebut posisi potensial dalam market atas produk yg sama; dan
  5. kemampuan distribusi adalah seberapa besar kemampuan distribusi perusahan dlm menyalurkan produk ke end user (pengguna akhir).

Dan dalam pemenuhan market demand, perusahaan harus menyeimbangkan jumlah antara volume yang akan diproduksi dan dijual agar tidak terjadi over/minim stock.

Selanjutnya, faktor yang mempengaruhi proyeksi penjualan adalah penentuan harga. Penentuan harga dalam perusahaan didasari oleh:

  1. harga pokok produksi, yaitu semua biaya yang dikeluarkan yang berkaitan dengan kegiatan produksi;
  2. kondisi persaingan hal ini sangat berpengaruh dalam strategi penentuan harga dengan mempertimbangkan harga pasar yang ada dari perusahaan-perusahaan lain;
  3. posisi di pasar, di mana mampu menjawab apakah perusahaan termasuk perusahaan yang dapat mengendalikan harga atau mengikuti harga yang telah terbentuk oleh pasar yang sudah ada;
  4. kinerja penjualan yang dilihat dari track record perusahaan; dan
  5. faktor eksternal lain seperti kenaikan harga bbm, inflasi, dan sebagainya

Unsur kedua yang menentukan seberapa besar anggaran yang akan direncanakan perusahaan adalah biaya. Biaya biaya dalam hal ini adalah keseluruhan harga yang harus dibayar oleh perusahaan dalam menjalankan kegiatan perusahaan. Beberapa diantaranya adalah biaya produksi, biaya operasional, biaya administratif, biaya sumber daya, biaya pembiayaan, dan biaya marketing, dengan penyusunan anggaran. Usaha-usaha perusahaan akan lebih banyak berhasil karena di dalamnya tercipta komitmen akan harapan tentang pendapatan dan biaya yang diproyeksikan dan ditunjang perencanaan yang matang. Pengorganisasian dan aktualisasi visioner dan pengawasan yang akurat juga akan menghasilkan perusahaan yang profitable.

Best planning, bes actualization will create great entrepreneur! From now on, let’s learn how to make a good budget planning for your own company.

Secarik Kertas dari Surga

Oleh: Yuyun Nurqalam Ismail

Seorang bapak berumur sekitar 56 tahun,mengenakan peci dan berbaju putih berdiri di depan
sekitar ratusan orang yang mengenakan baju berwarna hitam dan ada pula yang menggunakan baju
berwarna putih. Sang bapak kemudian berucap

“Barang siapa yang berbuat kebaikan di dunia maka ia akan menuai balasan kenikmatan di
akhirat. Setiap kata, tindakan dan pikiran bahakan isi hati kita telah diketahui oleh sang pencipta,
dan akan dibalasnya pula dengan kekuasaanNya”

Sang bapak hendak melanjutkan perkataaanya, namun terhenti ketika ada seorang pria
berusia sekitar 43 tahun, yang mengenakan baju berwarna hitam, mengangkat tangannya. Sang
bapak kemudian mempersilahkan pria tersebut untuk berbicara.

“Saya adalah seorang gubenur sebuah provinsi Pak, dan menjabat untuk dua periode. Selama
masa jabatan saya, saya terus melakukan inovasi-inovasi dan mengabil keputusan menyangkut
masalah masyarakat saya. Bukankah saya telah melakukan banyak kebaikan Pak? Tapi mengapa
kehidupan saya di akhirat sangat menyedihkan??”

Sang babak hendak mengajukan pertanyaan untuk pria tersebut, namun urung ketika seorang
pemuda berumur 24 tahun mengulurkan tangannya. Sang bapak pun kemudian mempersilahkannya.

“Saya adalah seorang businessman Pak, diusia saya yang masih 24 tahun, saya telah mecapai
kesuksesan hidup. Perusahaan yang saya miliki bergerak dibidang propetri. Dalam praktiknya
perusahaan saya menyediakn apartemen untuk masyarakt yang membutuhkannya. Secara tidak
langsung saya telah membantu orang-orang yang membutuhkan rumah untuk ditinggali dengan
nyaman. Bukankah hal itu adalah kebaikan Pak? Namun di akhirat saya tidak menemukan balasan
untuk kebaikan itu? dan sayapun dicabut nyawanya dalam usia yang masih sangat mudah. Dimana
balasan untuk kebaikan saya pak?

Tak mau kalah dari seorang pria dan seorang pemuda yang telah mengeluarkan resahnya,
seorang ibu dengan pakaian berwarna hitam, kemudian berbicara

“Umur saya sekitar 65 tahun Pak. Di Dunia saya berprofesi sebagai seorang dokter umum.
Profesi itu telah saya jalani selama 40 tahun, dan selama itu pula saya telah menolong ratusan
orang yang berobat dan berharap dapat disembuhkan penyakitnya oleh saya. Kepada setiap pasien
yang saya hadapi, saya sealu menyarankannya agar tidak hanya berobat, namun berdoa pun harus
dilakukan demi kesembuhannya. Bukankah telah banyak kebaikan yang saya lakukan didunia? Tapi
mengapa balasannya hingga saat ini tidak saya dapatkan?

Sang bapak kemudian duduk terdiam, keheningan mulai merasuk kedalam forum diskusi
tersebut, hingga kembali gaduh, ketika ada seorang pria tua, berumur 67 tahun bersua

Sang babak yang terdiam kemudian berkata dengan tenang.

“Sebelum menjadi motivator saya adalah seorang ekonom, saya akan menjelaskan
keresahan saudara-saudara dengan sedikit mengambil teori dalam ilmu ekonomi. Dapat saya
simpulkan bahwa, masalah yang dikemukakan ketiga teman kita diatas dapat diselesaikan jika kita

merujuk kepada pendapat Adam Smith Invisible Hand, maksud dari teori ini adalah, bahwa setiap
orang memiliki kekuatan naluri untuk mengejar kepentingan pribadinya (self interest). Misalnya
saja seorang gubernur, jabatan yang dipeolehnya bukalah semata-mata untuk menampung dan
menyelesaikan masalah masyrakatnya, namun seorang gubernur memilki self interest seperti pada
hakiktnya manusia yang ingin dikenal dan dihargai. Seorang businessman, menjual produknya
bukanlah semat-mata untuk memenuhi kebutuhan para konsumen, namun lebih mementingkan
dirinya untuk mengejar keuntungan semaksimal mungkin demi mewujudkan kesejahteraan
hidupnya. Dan seorang dokter, Waupun pekerjaannya mulia, namun seorang dokter memilki self
interest untuk memperoleh pendapatan yang tinggi atas jasa yang diberikannya, hal ini untuk
kesejahteraannya pula.

Sang pemuda kemudian bertanya?

“Merujukpada pernyataan bapak, saya menyimpulkan bahwa self intererslah penyebab dari
perbedaan hitam putih dalam forum ini. Namun bukankah setiap orang memilki self interest?

“Self interest ada dalam diri manusia, dan itu adalah sebuah kekuatan yang terkadang tak mampu
mampu dikontrol oleh manusia. Dan jalan satu-satunyan untuk mengarahkan self interest kita agar
lebih terarah yaitu memperbaiki niat dalam perbuat dan bertindak karena segala sesuatu yang
kita lakukan dinilai oleh Tuhan, terletak pada niat yang ada dalam hati kita” sang bapak kemudian
menambahkan

“Perbarui niat, perbaiki ahlak dan kuatkan iman. Semoga kita dapat berkumpul kembali di tempat ini
dengan seragam putih yang cerah” tegas sang bapak menutup forum diskusi tersebut

SELESAI

Secarik kertas yang kutemukan jatuh dalam pikiran saat mata kuliah pengantar ekonomi.
Yuyun Nurqalam Ismail

Dimensi Halal Haram Cintaku

Oleh: Yuyun Nurqalam Ismail

Terdengar alunan nada pesan dari handphoneku. Hari yang melelahkan bagiku

ketika harus bergulat dengan layar Handphone kaku ini setiap hari. Jari jemariku lancar

mengoperasikannya. Ku amati layarnya, terlihat nama heDR. Ku buka pesan singkat itu,

rangkaian kata indah kini menyapa. Perkembangan pengetahuanpun terasa berkurang

oleh hadirnya. Setiap malam hanya berangan tentang mimpi yang takkan pernah berujung

tentanganya, hingga ku berada pada titik kejenuhan itu.

Ekspresi diriku datar ketika membaca pesan singkat darinya. Kejenuhanku padanya

telah memforsir habis tenaga. waktu.dan kebebasanku saat ini. Ku biarkan hatiku tenang kali

ini, tanpa dirinya, tanpa bayang-bayang tentangnya, tanpa angan, tanpa kenangannya. Berhari-

hari kucoba menjauhinya. Perasaanku semakin kacau, bingung, bimbang. Ku kini layaknya Riya

Raynunnisa yang sedang terpasung oleh Cinta seorang Divo Anggara.

00.17 WITA, kuterbangun untuk ke 3 kalinya dalam serbuan hujan malam ini. Ku

coba untuk tertidur kembali, namun beban akan jalinan cintaku dengan Divo terus menghantui.

Karena tak kunjung mampu tidur, kuputuskan untuk browsing dilaptop yang sedari tadi terpaku

menatap kebimbanganku. Malam ini kuputuskan untuk membuka email, berharap ada seseorang

yang mampu menemaniku dan memberikan solusi atas kegalauan hatiku kini. Ribuan kotak

masuk yang sudah lama tak kubaca menyapa mataku, tak kuhiraukan itu, mataku terus berpencar

hingga terhenti pada sebuah email masuk dari rafieska_gr@ymail.com. Benakku sontak terhenti

membaca alamat email itu.

Garindra ,teman berbagi ku dimasa SMP, satu-satunya teman cowokku yang telah

kuanggap seperti kakak, karena dirinya yang mampu memahami dan mengerti keadaanku.

Bahkan dialah orang pertama yang membuatku merasakan cinta dalam hati.

Dari layar laptopku

Assalamu’alaikum…

Pa kabar Riy,,

Ganti nope y??

Kok susah banget di hubungi,,

Kirim no. barumu y……

Ada satu hal yang ingin kusampaikan lewat email ini. Ku harap kau dapat

memahaminya.

3 bulan kita berpisah, entah mengapa seluruh organku terasa ikut menghilang

pula seperti kau yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar apapun. Kau acuhkanku kini. Kau

menghilang, tanpa konfirmasiku, bahkan hanya untuk sekedar mengirimkanku pesan tentang

nomor barumu. apakah kau tak mau lagi bertemu denganku? Apakah Divo telah mengisi seluruh

waktumu, hingga tak ada waktu yang tersisa untukku.

Jika Divo mengisi seluruh hatimu, maka izinkalah aku untuk menjadi penyejuknya saja,

namun jika Divo hanya mampu mengisi sebagian hatimu, izinkanlah aku mengisi sisa hatimu itu.

Kutersiksa tanpamu. Ku galau tanpamu, kau nyawa dalam hidupku. Baru kurasakn setelah jauh

darimu, inilah cinta sejati yang tak mungkin terpungkiri lagi. Cintaku padamu.

Ku kangen Riy…..

Kuharap kau dapat memahami maksud dari kata-kataku tadi.

Jangan lupa bals ya Riy…..

Ku tunggu (setiap hari)

Dengan no.mu…

Wassalam…

Garindra Rafieska

Benakku kini terbujur pasrah didepan sebuh laptop, selama ini kucoba menjauh

darinya agar aku tak terpasung oleh rasa cinta dalam hatiku padanya, tak kusangka ternyata dia

memendam rasa yang sama untukku. Kucoba acuhkan email masuk dari Andra, walau hatikuku

ingin membalasnya, jiwaku terus mencoba untuk menahannya. Pergulatan hebat diantara

keduanyapun terjadi

hatiku : “kenapa tak membalasnya Riy, jujurlah, kau juga mencintainya”

Jiwaku : “konsistenlah terhadap keputusanmu dulu Riy, kau harus menjauhinya, toh dia

hanya akan menambah bebanmu kini. Masih ada Divo, Riy,,”

hatiku tak mau kalah : “Jika memang kau mencintainya, utarkanlah, dia menunggumu,

apakah kau tega membiarkanya menunggumu,,??”

Jiwaku: “jangan Riy. Jangan……mungkin hatimu sanggup membaginya, namun

ketahuilah aku kini lelah dengan setumpuk masalahmu, jangan ditambah lagi.”

Hatiku : “ Perasaan cinta hanya memanikan peranku sebagai hatimu, aku merasakan

itu, debaran jantung seorang Riya Raynunnisa,,,jangan kau bohongi dirimu”

Pergulatan itupun tak menemui titik ujung,, hingga pikiranpun harus ikut bermain

didalamnya

Pikiranku : “Selesaikanlah masalahmu dengan Divo terlebih dahulu, jangan egois,

hatimu menginginkannya, namun keputusanmu itu mungkin akan menyakiti seseorang,bahkan

jiwamu kan tersiksa oleh sikapmu sendiri. Perlahan kau pikirkan masalahmu, selesaikanlah yang

terdekat lebih dulu, lalu yang jauh, selesaikanlah yang datang terlebih dahulu, kemudian yang

baru, kau kan menjadi Riya Raynunnisa yang dewasa dengan penyelesaian masalahmu yang

beruntun”

Pikiranku mampu membuka cakrawala kedewasaanku, kuputuskan untuk menerima

nasehat dari pikiranku itu, kuacuhkan email dari Andra, dengan sebuah tangisan kecil dalam hati.

Keheningan malam terasa sendu di bawah guyuran hujan deras malam ini, titik air

hujan itu terasa menusuk batinku yang kini telah dingin dan membeku dengan perasaanku

sendiri. Browsing dalam dunia maya, tak mampu menghadirkan resolusi permaslahnku, malah

membuat permaslahanku semakin komplit dengan kisah cinta yang ditawarkan oleh Andra.

Dilema cintapun kini menguasaiku. Saat itu pula kuputuskan untuk shalat Tahajud. Sergapan

dinginnya air kini membasahi sebagian tubuku dikamar mandi. Terdengar nada pesan dari

handphone, ku putuskan untuk melihatnya sejenak.

Dari layar hapeku

New Message from heDR

Kau knpa??

Kucoba bertahan untukmu

Kucoba memahamimu

Kucoba tuk selalu berada di sampingmu

Tapi kau

Seakan tak inginkan itu

Kau acuhkanku

Kau menjauhiku

Kau berubah Riy,,,

Sikapmu padaku membuatku insomnia akhir-akhir ini.

Jika memang ku punya salah, maafkanlah aku

I will Always love u.

kekasihku.

Organ-organ ku kini membeku, bukan karena dinginnya air wudhu yang

membasahinya, akan tetapi pesan singkat dari Divo membekukannya. Sikapku kepadanya

beberapa hari ini mungkin menyakitinya. Aku selalu menjauhinya. Aku pun tak mengerti dengan

sikapku padanya. Entah mengapa berangsur-angsur perasaan yang dulu menggebu kepadanya

kini telah berkurang. Tak ada lagi rasa menggebu itu yang bisa membuat begitu mengaguminya.

Akupun tak mengerti dengan perasaanku kini padanya.

“apakah aku sejahat itu? hingga membuat seorang cowok yang kucintai terkatung-

katung oleh cintaku?” Batinku berucap.

Kuletakkan kembali handphone. mencoba untuk tak menghiraukan pesan darinya. Ku

implikasikan niatku, untuk shalat tahajud.

Shalat sedikit menenangkan hatiku yang terpasung oleh perasaanku sendiri. Pikiranku

mulai terbuka, mengingat tugas sekolah, tujuan hidupku, cita-citaku dan Divo. Ku rangkai

kembali perjalan cintaku denganya. Perlahan ku coba menutup mata. Mataku dapat terpejam,

namun otakku tah berhenti bekerja, hatikupun ikut didalamya. Perjalan cintaku dengan

Divo terus terbayang. Jalinan cinta 9 bulan itu kini tak mampu membuatku tersenyum saat

mengingatnya, tak mampu menggetarkan hatiku saat bertemu denganya, tak mampu membuatku

membeku ada didekatnya. Hatiku kini tak punya perasaan lagi padanya. Kisah perjalannanku

denganya kini tak punya arti lagi bagiku.

“Mengapa??”

“Arrrrrrrghhhhhhh kenapa aku harus tersiksa dengan persaanku sendiri. Aku bosan

dengannya. Aku bosan dengan perjalan cinta ini, aku jenuh dengan kisah cinta yang datar seperti

ini. Ya Allah apakah ini memang jawaban atas doaku padaMu?” batinku terus berucap.

01.19 WITA. Mataku belum bisa terpejam pulas. Begitu pula otakkaku yang tak

henti untuk memikirkan hubunganku dengan Divo. 9 bulan perjalan cinta kami hanyalah diisi

dengan hal-hal yang datar, suatu kisah yang takkan punya titik akhir dan diselimuti nafsu

didalamnya. Kucoba untuk tak mengikutkan nafsuku kali ini, hati dan pikiranku harus ikut dalam

pergulatannya. Rekaman kisah perjalanan cinta itu terekam kembali dalam benakku. Perlahan

kucoba memainkan peran hati dan pikiranku, tanpa nafsuku. Hingga ku peroleh suatu keputusan.

Suatu perjalan cinta masa remaja yang tak memiliki keuntungan. Hanyalah kebodohan

didalamnya. Kisah cinta masa Remaja tak pantas untuk dilanjutkan. Harus dihentikan. Terlalu

banyak dosa, kenistaan, kemunafikan dan kebodohan didalamnya. Kerugian yang begitu basar

yang didapat. Suatu tindakan haram yang dilakukan. Menjalin kisah cinta masa Remaja adalah

Kebodohan.

“Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Ku telah disutradarai oleh rasa cinta itu,

tindakanku, pemikiranku telah terkurung dalam perasaan cinta itu, ku tenggelam, hanyut oleh

arusnya hingga mata batinpun tak mampu melihatnya. Bahkan nilai-nilai Islam yang kujunjung

tinggi telah dimusnahkanya, Oh Tuhan,…..Betapa bayanknya keharaman yang telah kulakukan”

Pemikiran itu membuatku sadar akan tindakanku selama ini, semuanya adalah sebuah

kebodohan, tak ada nilai-nilai islam seperti yang kujunjung tinggi selama ini, hidupku hanyut

dalam derasnya arus cinta yang mengubah segalanya.

Hatikupun kini bulat ingin mengakhiri kisah cinta ini.

***

Kuterohkan 900 leherku, nampak Divo yang terbujur kaku di sudut perpustakaan itu,

setelah beradu argumen denganku. Namun hatiku tetap bulat ingin mengakhirinya. Jujur ku

tak tega melihatnya, melukainya dengan sikapku namun tak dapat kubohongi diriku sendiri

bahwa ku kini tidak mempunyai perasaan lagi padanya. Mungkin dia punya sejuta perasaan

untukku, namun cintanya tak pantas aku terima, karena cintanya telah mampu membutakaknku

selama ini. Melupakan Tuhanku, agamaku, keluargaku, teman-temanku dan mimpiku yang terus

kuperjuangkan, hilang dan menjauh oleh hadirnya.

“maafkan aku, jika kau tersiksa dengan keputusanku, akupun tersiksa dengan perasaan

cinta yang telah membodohkanku selama ini” Batinku.

***

Sepenuhnya, perasaanku kini belum dapat bebas, ada satu hal yang sejak malam tadi

membebaniku, namun berusaha mengacuhkanya, Garindra Rafieska, nama itu tiba-tiba muncul

dalam otakku. Ungkapan kata-nya dalam sebuah email semalam mampu menjelaskan bahwa

sesungguhnya dia memiliki hasrat untuk terus bersamaku, kejujuran dalam hatiku pun berbicara

“sesungguhnya akupun memiliki persaan itu Andra,,bahkan persaan ku itu telah ada

sejak SMP, namun berusaha ku tahan, dan ku acuhkan”

Kumantapkan hatiku untuk mencerna, menilai dan mengambil keputusan yang takkan

merugikanku, kuputar otak ini, sesekali tertegun dalam kediaman, mengingat wajahnya, dirinya,

tingkah lakunya, hatiku sungguh ingin bersamanya. Sekeras hatipun jiwaku tak mau kalah, tak

ada satu maslah yang mampu membuatku menolaknya hadir dalam hidupku, rasa ini memang

mengaguminya. Tiba-tiba alunan nada pesan masuk hanphone mengagetkanku,

Dari layar handphoneku

New messge from heDR (nama Divo yang belum sempat kuganti)

Seberapa kuatnya,

Kerasnya hatimu ingin meninggalkanku,

Dalam sudut kediaman ini

Kukan menunggu

Menunggumu.

Sebagai seorang cowok

Yang takkan mampu lepas dari bayang-bayang dirimu,

Kau mampu melupakannku,

Ku takkan mampu melakukan itu,

Kau mampu mengacuhkannku,

Kutakkan mampu melakuaknnya,

Kukan bertahan,

Menahan dan mampu tuk ditahan

Ditengah derasnya ombak keegoisanmu terhadapku,

Kerasanya hatimu kini.

Kan kulunakkan dengan kesabaran yang ku punya,

Hingga kau kan menerimanya kembali,

Sebuah cinta sempurna untukmu.

Riya Raynunisa

Takkan hilang, musnah dalam benakku.

Senyuman tipis nampak jelas dari raut wajahku ketika membaca pesan singkat itu.

Jika ketika bersamanya, pesan-pesan romantis Divo mampu membuatku malayang-layang

dalam duniaku sendiri, sekarang pesan itu hanyalah noda dalam hidupku, yang tak mampu

membuatku mengalami perubahan tindakan, dan pemikiran. Niatku bulat ingin mengakhirinya,

diriku tak mau jika harus memulainya kembali. Mungkin aku adalah seorang cewek yang jahat,

namun semuannya adalah sebagaian pengorbanan kecilku untuk menjadi pribadi yang lebih

baik. Pesan dari Divo tak kuhiraukan, bahkan membalasnya pun tidak. Hatiku tak ingin lebih

lama mendengar keromantisan yang mampu membuatku luluh kembali padanya. Kumainkan

kembali peran hati dan pikiranku, perlahan ku cerna hasrat yang menggebu kini untuk Garindra

Rafieska. Hasrat itu adalah sebuah permainan nafsu dalam diriku sendiri yang terlalu mudah

jatuh cinta. Nafsu itu kini menguasaiku, memainkan sebagaian fungsi dari organ-organku,

pemikiran-pemikiran mampu menahanya tak menjelma menjadi suatu tindakan naif, namun tak

memiliki ujung resolusinya. Tak ingin tenggelam dalam kisah cinta dan ku terbawa oleh arus

keharamannya. Akhirnya kubulatkan tekad mengirim email balasan untuk Andra, walaupun aku

sendiri belum mengetahui apa yang kak kukatakan padanya.

Ketikan jari jemariku

Assalamu alaikum,

Kabarku baik, setidaknya lebih baik dari malam saat membaca email masuk darimu.

Maafkanku yang baru membalas email darimu

Maafkanku ku juga yang telah menghilang darimu, sejak perpisahan di SMP itu, aku

punya alasan logis yang tak mungkin ku utarakan padamu. Maafkan aku.

Rangkaian kata dalam emailmu, sungguh indah. Dampaknya bagaikan sihir,

membukakan pintu-pintu hatiku yang tertutup, menembus relung hati, meresap masuk kedaalm

potensi yang terpendam dalam diriku, hingga mampu membuatku terpaku lama menatapnya.

Tak kusangka kau pandai merangkai kata-kata itu, ataukah itu hanyalah kutipan dari salah satu

buku yang kau baca?

Kau salah jika menilai waktuku habis untuk Divo, kau salah jika menganggap

hatiku telah terisi penuh olehnya. Kau salah besar. Hubunganku dengannya telah berakhir.

Bersamanya kutelah banyak kehilangan, bersamanya pula kutelah jauh ditinggalkan, rasa

cintanya membuatku terkubur dalam duniaku sendiri.

Kau menginginkan mengisi hatiku yang kini kosong tanpa seorang cowok,

maafkanlahku, hatiku memang kosong oleh seorang cowok, namun kini telah terisi penuh oleh

rasa cintaku pada Tuhanku, Agamaku, Keluargaku, dan temanku, kau masuk salah satu dari

teman-temanku itu.

Kupernah melakukan suatu kebodohan dalam hidupku dengan manjalin hubungan

pacaran, tak ingin ku mengulanginya, maka ku putuskan untuk menerimamu sebagai seorang

teman. Karena memilkimu lebih dari teman, adalah haram bagiku.

Jika kau bahagia dengan hidupmu kini,,,

Hidupmu yang penuh dengan fatamorgana cinta

Kebutaan,

Kemunafikan,

Kebodohan,,

Kau adalah orang yang merugi.

Tak kau sadari kau telah melakukan dosa besar,

Dosa yang dapat menyeretmu sendiri ke neraka

Dosa yang kau nikmati,

Dan dosa yang terus kau biarkan

Ku akui ku tak sesempurna itu,

Ku pun pernah melakukan dosa itu,

Perlahan ku tinggalkan, dan tak ingin mengulanginya

Hingga kudewasa kelak,

Hingga Tuhan kan menentukan orang dan waktu yang tepat untukku

Tanpa kebimbangan halal haramnya..

Kau belum menyadari itu,

kaupun belum bisa menghindari itu,

Karena kata cinta yang selalu membutakan hatimu

Karena rasa ingin yang memenuhi hasratmu.

Kini haram dan halalpun sama bagimu

Astagfirullah……

Sesungguhnya keharaman itu selalu ada,

Sesungguhnya ke halalpun itu ada

Jika kau bersabar,

Maka yang harampun kini,

Kelak kan menjadi halal untukmu.

Bersabrlah hingga waktu yang ditentukan Tuhan untukmu tepat.

Ketahuilah, iman itu setengahnya adalah kesabaran dan setengahnya lagi adalah rasa

Ku ingin menyempurnakan keimananku itu,

Jika ku telah mampu bersyukur dengan nikmat Tuhan kepadaku, kan kusempurnakan

imanku dengan kesabaran menunggu, hingga seseorang yang kucintai menjadi halal untukku.

Ku yakin kau mampu mencernanya dengan sempurna,

Maksudku takingin menyakitimu

Takingin pula mehancurkan rasa cintamu itu,

Kuhanya ingin menyelamatkanmu dari sebuah kenistaan cinta, dari sebuah dimensi

cinta yang tak jelas saat ini, halal dan haramnya.

Wassalam

Riya Raynunnisa.

Send.

Gerakkan itu terlintas cepat tak terekam jelas, tak sempat kubaca ulang email

itu, untaian kata-kata itu keluar spontan olehku. Jika Ku katakan Ku tak mencintai Andra,

maka kebohongan besarlah yang telah kulakukan, Jauh dalam lubuk hatiku, aku sungguh

mengaguminya, ingin memilikinya, ingin bersamanya, dan ingin ada dalam hidupnya. Namun

akal pikiranku mampu mencerna nafsu sesat itu dengan baik, dan mengarahkan tindakakanku

agar tak jatuh kedalam sumur keharaman.

Dalam benakku berucap

“Mengagumimu adalah suatu kehalalan, namun memilikimu kini adalah suatu

keharaman, Jika melihatmu sejenak adalah kehalalan, maka berdua denganmu adalah suatu

keharaman. Dimensi halal dan haram cintaku akan terus menjaga hatiku, mecerahkan pikiranku

hingga mampu mangarahkan tindakakku menanggapi cinta yang datang”

SELESAI

Terdengar alunan nada pesan dari handphoneku. Hari yang melelahkan bagiku

ketika harus bergulat dengan layar Handphone kaku ini setiap hari. Jari jemariku lancar

mengoperasikannya. Ku amati layarnya, terlihat nama heDR. Ku buka pesan singkat itu,

rangkaian kata indah kini menyapa. Perkembangan pengetahuanpun terasa berkurang

oleh hadirnya. Setiap malam hanya berangan tentang mimpi yang takkan pernah berujung

tentanganya, hingga ku berada pada titik kejenuhan itu.

Ekspresi diriku datar ketika membaca pesan singkat darinya. Kejenuhanku padanya

telah memforsir habis tenaga. waktu.dan kebebasanku saat ini. Ku biarkan hatiku tenang kali

ini, tanpa dirinya, tanpa bayang-bayang tentangnya, tanpa angan, tanpa kenangannya. Berhari-

hari kucoba menjauhinya. Perasaanku semakin kacau, bingung, bimbang. Ku kini layaknya Riya

Raynunnisa yang sedang terpasung oleh Cinta seorang Divo Anggara.

00.17 WITA, kuterbangun untuk ke 3 kalinya dalam serbuan hujan malam ini. Ku

coba untuk tertidur kembali, namun beban akan jalinan cintaku dengan Divo terus menghantui.

Karena tak kunjung mampu tidur, kuputuskan untuk browsing dilaptop yang sedari tadi terpaku

menatap kebimbanganku. Malam ini kuputuskan untuk membuka email, berharap ada seseorang

yang mampu menemaniku dan memberikan solusi atas kegalauan hatiku kini. Ribuan kotak

masuk yang sudah lama tak kubaca menyapa mataku, tak kuhiraukan itu, mataku terus berpencar

hingga terhenti pada sebuah email masuk dari rafieska_gr@ymail.com. Benakku sontak terhenti

membaca alamat email itu.

Garindra ,teman berbagi ku dimasa SMP, satu-satunya teman cowokku yang telah

kuanggap seperti kakak, karena dirinya yang mampu memahami dan mengerti keadaanku.

Bahkan dialah orang pertama yang membuatku merasakan cinta dalam hati.

Dari layar laptopku

Assalamu’alaikum…

Pa kabar Riy,,

Ganti nope y??

Kok susah banget di hubungi,,

Kirim no. barumu y……

Ada satu hal yang ingin kusampaikan lewat email ini. Ku harap kau dapat

memahaminya.

3 bulan kita berpisah, entah mengapa seluruh organku terasa ikut menghilang

pula seperti kau yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar apapun. Kau acuhkanku kini. Kau

menghilang, tanpa konfirmasiku, bahkan hanya untuk sekedar mengirimkanku pesan tentang

nomor barumu. apakah kau tak mau lagi bertemu denganku? Apakah Divo telah mengisi seluruh

waktumu, hingga tak ada waktu yang tersisa untukku.

Jika Divo mengisi seluruh hatimu, maka izinkalah aku untuk menjadi penyejuknya saja,

namun jika Divo hanya mampu mengisi sebagian hatimu, izinkanlah aku mengisi sisa hatimu itu.

Kutersiksa tanpamu. Ku galau tanpamu, kau nyawa dalam hidupku. Baru kurasakn setelah jauh

darimu, inilah cinta sejati yang tak mungkin terpungkiri lagi. Cintaku padamu.

Ku kangen Riy…..

Kuharap kau dapat memahami maksud dari kata-kataku tadi.

Jangan lupa bals ya Riy…..

Ku tunggu (setiap hari)

Dengan no.mu…

Wassalam…

Garindra Rafieska

Benakku kini terbujur pasrah didepan sebuh laptop, selama ini kucoba menjauh

darinya agar aku tak terpasung oleh rasa cinta dalam hatiku padanya, tak kusangka ternyata dia

memendam rasa yang sama untukku. Kucoba acuhkan email masuk dari Andra, walau hatikuku

ingin membalasnya, jiwaku terus mencoba untuk menahannya. Pergulatan hebat diantara

keduanyapun terjadi

hatiku : “kenapa tak membalasnya Riy, jujurlah, kau juga mencintainya”

Jiwaku : “konsistenlah terhadap keputusanmu dulu Riy, kau harus menjauhinya, toh dia

hanya akan menambah bebanmu kini. Masih ada Divo, Riy,,”

hatiku tak mau kalah : “Jika memang kau mencintainya, utarkanlah, dia menunggumu,

apakah kau tega membiarkanya menunggumu,,??”

Jiwaku: “jangan Riy. Jangan……mungkin hatimu sanggup membaginya, namun

ketahuilah aku kini lelah dengan setumpuk masalahmu, jangan ditambah lagi.”

Hatiku : “ Perasaan cinta hanya memanikan peranku sebagai hatimu, aku merasakan

itu, debaran jantung seorang Riya Raynunnisa,,,jangan kau bohongi dirimu”

Pergulatan itupun tak menemui titik ujung,, hingga pikiranpun harus ikut bermain

didalamnya

Pikiranku : “Selesaikanlah masalahmu dengan Divo terlebih dahulu, jangan egois,

hatimu menginginkannya, namun keputusanmu itu mungkin akan menyakiti seseorang,bahkan

jiwamu kan tersiksa oleh sikapmu sendiri. Perlahan kau pikirkan masalahmu, selesaikanlah yang

terdekat lebih dulu, lalu yang jauh, selesaikanlah yang datang terlebih dahulu, kemudian yang

baru, kau kan menjadi Riya Raynunnisa yang dewasa dengan penyelesaian masalahmu yang

beruntun”

Pikiranku mampu membuka cakrawala kedewasaanku, kuputuskan untuk menerima

nasehat dari pikiranku itu, kuacuhkan email dari Andra, dengan sebuah tangisan kecil dalam hati.

Keheningan malam terasa sendu di bawah guyuran hujan deras malam ini, titik air

hujan itu terasa menusuk batinku yang kini telah dingin dan membeku dengan perasaanku

sendiri. Browsing dalam dunia maya, tak mampu menghadirkan resolusi permaslahnku, malah

membuat permaslahanku semakin komplit dengan kisah cinta yang ditawarkan oleh Andra.

Dilema cintapun kini menguasaiku. Saat itu pula kuputuskan untuk shalat Tahajud. Sergapan

dinginnya air kini membasahi sebagian tubuku dikamar mandi. Terdengar nada pesan dari

handphone, ku putuskan untuk melihatnya sejenak.

Dari layar hapeku

New Message from heDR

Kau knpa??

Kucoba bertahan untukmu

Kucoba memahamimu

Kucoba tuk selalu berada di sampingmu

Tapi kau

Seakan tak inginkan itu

Kau acuhkanku

Kau menjauhiku

Kau berubah Riy,,,

Sikapmu padaku membuatku insomnia akhir-akhir ini.

Jika memang ku punya salah, maafkanlah aku

I will Always love u.

kekasihku.

Organ-organ ku kini membeku, bukan karena dinginnya air wudhu yang

membasahinya, akan tetapi pesan singkat dari Divo membekukannya. Sikapku kepadanya

beberapa hari ini mungkin menyakitinya. Aku selalu menjauhinya. Aku pun tak mengerti dengan

sikapku padanya. Entah mengapa berangsur-angsur perasaan yang dulu menggebu kepadanya

kini telah berkurang. Tak ada lagi rasa menggebu itu yang bisa membuat begitu mengaguminya.

Akupun tak mengerti dengan perasaanku kini padanya.

“apakah aku sejahat itu? hingga membuat seorang cowok yang kucintai terkatung-

katung oleh cintaku?” Batinku berucap.

Kuletakkan kembali handphone. mencoba untuk tak menghiraukan pesan darinya. Ku

implikasikan niatku, untuk shalat tahajud.

Shalat sedikit menenangkan hatiku yang terpasung oleh perasaanku sendiri. Pikiranku

mulai terbuka, mengingat tugas sekolah, tujuan hidupku, cita-citaku dan Divo. Ku rangkai

kembali perjalan cintaku denganya. Perlahan ku coba menutup mata. Mataku dapat terpejam,

namun otakku tah berhenti bekerja, hatikupun ikut didalamya. Perjalan cintaku dengan

Divo terus terbayang. Jalinan cinta 9 bulan itu kini tak mampu membuatku tersenyum saat

mengingatnya, tak mampu menggetarkan hatiku saat bertemu denganya, tak mampu membuatku

membeku ada didekatnya. Hatiku kini tak punya perasaan lagi padanya. Kisah perjalannanku

denganya kini tak punya arti lagi bagiku.

“Mengapa??”

“Arrrrrrrghhhhhhh kenapa aku harus tersiksa dengan persaanku sendiri. Aku bosan

dengannya. Aku bosan dengan perjalan cinta ini, aku jenuh dengan kisah cinta yang datar seperti

ini. Ya Allah apakah ini memang jawaban atas doaku padaMu?” batinku terus berucap.

01.19 WITA. Mataku belum bisa terpejam pulas. Begitu pula otakkaku yang tak

henti untuk memikirkan hubunganku dengan Divo. 9 bulan perjalan cinta kami hanyalah diisi

dengan hal-hal yang datar, suatu kisah yang takkan punya titik akhir dan diselimuti nafsu

didalamnya. Kucoba untuk tak mengikutkan nafsuku kali ini, hati dan pikiranku harus ikut dalam

pergulatannya. Rekaman kisah perjalanan cinta itu terekam kembali dalam benakku. Perlahan

kucoba memainkan peran hati dan pikiranku, tanpa nafsuku. Hingga ku peroleh suatu keputusan.

Suatu perjalan cinta masa remaja yang tak memiliki keuntungan. Hanyalah kebodohan

didalamnya. Kisah cinta masa Remaja tak pantas untuk dilanjutkan. Harus dihentikan. Terlalu

banyak dosa, kenistaan, kemunafikan dan kebodohan didalamnya. Kerugian yang begitu basar

yang didapat. Suatu tindakan haram yang dilakukan. Menjalin kisah cinta masa Remaja adalah

Kebodohan.

“Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah. Ku telah disutradarai oleh rasa cinta itu,

tindakanku, pemikiranku telah terkurung dalam perasaan cinta itu, ku tenggelam, hanyut oleh

arusnya hingga mata batinpun tak mampu melihatnya. Bahkan nilai-nilai Islam yang kujunjung

tinggi telah dimusnahkanya, Oh Tuhan,…..Betapa bayanknya keharaman yang telah kulakukan”

Pemikiran itu membuatku sadar akan tindakanku selama ini, semuanya adalah sebuah

kebodohan, tak ada nilai-nilai islam seperti yang kujunjung tinggi selama ini, hidupku hanyut

dalam derasnya arus cinta yang mengubah segalanya.

Hatikupun kini bulat ingin mengakhiri kisah cinta ini.

***

Kuterohkan 900 leherku, nampak Divo yang terbujur kaku di sudut perpustakaan itu,

setelah beradu argumen denganku. Namun hatiku tetap bulat ingin mengakhirinya. Jujur ku

tak tega melihatnya, melukainya dengan sikapku namun tak dapat kubohongi diriku sendiri

bahwa ku kini tidak mempunyai perasaan lagi padanya. Mungkin dia punya sejuta perasaan

untukku, namun cintanya tak pantas aku terima, karena cintanya telah mampu membutakaknku

selama ini. Melupakan Tuhanku, agamaku, keluargaku, teman-temanku dan mimpiku yang terus

kuperjuangkan, hilang dan menjauh oleh hadirnya.

“maafkan aku, jika kau tersiksa dengan keputusanku, akupun tersiksa dengan perasaan

cinta yang telah membodohkanku selama ini” Batinku.

***

Sepenuhnya, perasaanku kini belum dapat bebas, ada satu hal yang sejak malam tadi

membebaniku, namun berusaha mengacuhkanya, Garindra Rafieska, nama itu tiba-tiba muncul

dalam otakku. Ungkapan kata-nya dalam sebuah email semalam mampu menjelaskan bahwa

sesungguhnya dia memiliki hasrat untuk terus bersamaku, kejujuran dalam hatiku pun berbicara

“sesungguhnya akupun memiliki persaan itu Andra,,bahkan persaan ku itu telah ada

sejak SMP, namun berusaha ku tahan, dan ku acuhkan”

Kumantapkan hatiku untuk mencerna, menilai dan mengambil keputusan yang takkan

merugikanku, kuputar otak ini, sesekali tertegun dalam kediaman, mengingat wajahnya, dirinya,

tingkah lakunya, hatiku sungguh ingin bersamanya. Sekeras hatipun jiwaku tak mau kalah, tak

ada satu maslah yang mampu membuatku menolaknya hadir dalam hidupku, rasa ini memang

mengaguminya. Tiba-tiba alunan nada pesan masuk hanphone mengagetkanku,

Dari layar handphoneku

New messge from heDR (nama Divo yang belum sempat kuganti)

Seberapa kuatnya,

Kerasnya hatimu ingin meninggalkanku,

Dalam sudut kediaman ini

Kukan menunggu

Menunggumu.

Sebagai seorang cowok

Yang takkan mampu lepas dari bayang-bayang dirimu,

Kau mampu melupakannku,

Ku takkan mampu melakukan itu,

Kau mampu mengacuhkannku,

Kutakkan mampu melakuaknnya,

Kukan bertahan,

Menahan dan mampu tuk ditahan

Ditengah derasnya ombak keegoisanmu terhadapku,

Kerasanya hatimu kini.

Kan kulunakkan dengan kesabaran yang ku punya,

Hingga kau kan menerimanya kembali,

Sebuah cinta sempurna untukmu.

Riya Raynunisa

Takkan hilang, musnah dalam benakku.

Senyuman tipis nampak jelas dari raut wajahku ketika membaca pesan singkat itu.

Jika ketika bersamanya, pesan-pesan romantis Divo mampu membuatku malayang-layang

dalam duniaku sendiri, sekarang pesan itu hanyalah noda dalam hidupku, yang tak mampu

membuatku mengalami perubahan tindakan, dan pemikiran. Niatku bulat ingin mengakhirinya,

diriku tak mau jika harus memulainya kembali. Mungkin aku adalah seorang cewek yang jahat,

namun semuannya adalah sebagaian pengorbanan kecilku untuk menjadi pribadi yang lebih

baik. Pesan dari Divo tak kuhiraukan, bahkan membalasnya pun tidak. Hatiku tak ingin lebih

lama mendengar keromantisan yang mampu membuatku luluh kembali padanya. Kumainkan

kembali peran hati dan pikiranku, perlahan ku cerna hasrat yang menggebu kini untuk Garindra

Rafieska. Hasrat itu adalah sebuah permainan nafsu dalam diriku sendiri yang terlalu mudah

jatuh cinta. Nafsu itu kini menguasaiku, memainkan sebagaian fungsi dari organ-organku,

pemikiran-pemikiran mampu menahanya tak menjelma menjadi suatu tindakan naif, namun tak

memiliki ujung resolusinya. Tak ingin tenggelam dalam kisah cinta dan ku terbawa oleh arus

keharamannya. Akhirnya kubulatkan tekad mengirim email balasan untuk Andra, walaupun aku

sendiri belum mengetahui apa yang kak kukatakan padanya.

Ketikan jari jemariku

Assalamu alaikum,

Kabarku baik, setidaknya lebih baik dari malam saat membaca email masuk darimu.

Maafkanku yang baru membalas email darimu

Maafkanku ku juga yang telah menghilang darimu, sejak perpisahan di SMP itu, aku

punya alasan logis yang tak mungkin ku utarakan padamu. Maafkan aku.

Rangkaian kata dalam emailmu, sungguh indah. Dampaknya bagaikan sihir,

membukakan pintu-pintu hatiku yang tertutup, menembus relung hati, meresap masuk kedaalm

potensi yang terpendam dalam diriku, hingga mampu membuatku terpaku lama menatapnya.

Tak kusangka kau pandai merangkai kata-kata itu, ataukah itu hanyalah kutipan dari salah satu

buku yang kau baca?

Kau salah jika menilai waktuku habis untuk Divo, kau salah jika menganggap

hatiku telah terisi penuh olehnya. Kau salah besar. Hubunganku dengannya telah berakhir.

Bersamanya kutelah banyak kehilangan, bersamanya pula kutelah jauh ditinggalkan, rasa

cintanya membuatku terkubur dalam duniaku sendiri.

Kau menginginkan mengisi hatiku yang kini kosong tanpa seorang cowok,

maafkanlahku, hatiku memang kosong oleh seorang cowok, namun kini telah terisi penuh oleh

rasa cintaku pada Tuhanku, Agamaku, Keluargaku, dan temanku, kau masuk salah satu dari

teman-temanku itu.

Kupernah melakukan suatu kebodohan dalam hidupku dengan manjalin hubungan

pacaran, tak ingin ku mengulanginya, maka ku putuskan untuk menerimamu sebagai seorang

teman. Karena memilkimu lebih dari teman, adalah haram bagiku.

Jika kau bahagia dengan hidupmu kini,,,

Hidupmu yang penuh dengan fatamorgana cinta

Kebutaan,

Kemunafikan,

Kebodohan,,

Kau adalah orang yang merugi.

Tak kau sadari kau telah melakukan dosa besar,

Dosa yang dapat menyeretmu sendiri ke neraka

Dosa yang kau nikmati,

Dan dosa yang terus kau biarkan

Ku akui ku tak sesempurna itu,

Ku pun pernah melakukan dosa itu,

Perlahan ku tinggalkan, dan tak ingin mengulanginya

Hingga kudewasa kelak,

Hingga Tuhan kan menentukan orang dan waktu yang tepat untukku

Tanpa kebimbangan halal haramnya..

Kau belum menyadari itu,

kaupun belum bisa menghindari itu,

Karena kata cinta yang selalu membutakan hatimu

Karena rasa ingin yang memenuhi hasratmu.

Kini haram dan halalpun sama bagimu

Astagfirullah……

Sesungguhnya keharaman itu selalu ada,

Sesungguhnya ke halalpun itu ada

Jika kau bersabar,

Maka yang harampun kini,

Kelak kan menjadi halal untukmu.

Bersabrlah hingga waktu yang ditentukan Tuhan untukmu tepat.

Ketahuilah, iman itu setengahnya adalah kesabaran dan setengahnya lagi adalah rasa

Ku ingin menyempurnakan keimananku itu,

Jika ku telah mampu bersyukur dengan nikmat Tuhan kepadaku, kan kusempurnakan

imanku dengan kesabaran menunggu, hingga seseorang yang kucintai menjadi halal untukku.

Ku yakin kau mampu mencernanya dengan sempurna,

Maksudku takingin menyakitimu

Takingin pula mehancurkan rasa cintamu itu,

Kuhanya ingin menyelamatkanmu dari sebuah kenistaan cinta, dari sebuah dimensi

cinta yang tak jelas saat ini, halal dan haramnya.

Wassalam

Riya Raynunnisa.

Send.

Gerakkan itu terlintas cepat tak terekam jelas, tak sempat kubaca ulang email

itu, untaian kata-kata itu keluar spontan olehku. Jika Ku katakan Ku tak mencintai Andra,

maka kebohongan besarlah yang telah kulakukan, Jauh dalam lubuk hatiku, aku sungguh

mengaguminya, ingin memilikinya, ingin bersamanya, dan ingin ada dalam hidupnya. Namun

akal pikiranku mampu mencerna nafsu sesat itu dengan baik, dan mengarahkan tindakakanku

agar tak jatuh kedalam sumur keharaman.

Dalam benakku berucap

“Mengagumimu adalah suatu kehalalan, namun memilikimu kini adalah suatu

keharaman, Jika melihatmu sejenak adalah kehalalan, maka berdua denganmu adalah suatu

keharaman. Dimensi halal dan haram cintaku akan terus menjaga hatiku, mecerahkan pikiranku

hingga mampu mangarahkan tindakakku menanggapi cinta yang datang”

SELESAI

Entahlah

Oleh: Basra

 

Hai, mengapa bersedih?

Seharusnya memilih jauh dariku tidak membuatmu seperti ini, kan?

Bukannya Kau selalu bilang kalau dia lebih baik dariku?

Tapi meskipun dia lebih baik dariku,

setidaknya aku tidak pernah membuatmu menjatuhkan air mata, kan?

Terkadang Aku mencoba membunuh waktu dengan menulis.

Mengusir sepi dengan bepergian.

Tapi, ternyata bayangmu tak jua mau pergi.

Setiap malam Aku berdoa andai saja rinduku seringan kapas.

Sehingga sewaktu-waktu angin dapat menerbangkannya dengan mudah.