Kepergian tak dinanti

Tersudutku ditengah keramaian

Membendung kegelisahan tak berujung

Terpuruk membelenggu jiwa

Merasakan kehilanganmu ayah

 

Kain putih menyelimutimu

Hadirkan tangisan di suasana itu

Lantunan tahlil mengiringi

Langkah ke peristirahatanmu

 

Ketika ragamu tertimbun tanah

Hasrat terkubur kaku

Air mata menetes tak terbendung

Ratapi kehilangan ini

Keheningan percikan  serpihan perih

Menikam  Tanya di dada

Mengapa ayah pergi?

Dimana cahaya hidupku?

 

Fikirku melayang impian tertunda

Segenggam harapan tergantung membisu

Kurindukan tawa kasihmu ayah

Dan kuyakinkan diri menentang kepedihan ini

 

Terimalah beliau disisi-Mu

Berikan tempat terindah untuknya

disini selalu merindumu

Kan ku pupuk kenangan bersamamu

 

By : Citra Mawardani

Pilar – Pilar Hitam

Ketiadaan membuat kehidupan menjadi tersedak. Membuat ledakan yang hancurkan angan-angan. Pohon harapan yang kian tumbuh, daunnya terhambur bagai angin yang menyapu hebat. Pucuk pun tak melanjutkan perkembangannya. Ketiadaan merenggut harapan.

Keadaan itu terjalani dengan mendung yang menyelimuti. Begitu kelam dan hitam. Ini juga dapat tertutupi seketika dengan lekukan senyum kepalsuan, yang hanya memenuhi tuntutan orang lain. Yang memaksa diri untuk nampak kuat tapi tak mampu.

Berdiri di setapak jalan dengan seorang diri. Mencari setetes keceriaan, berharap dahaga ini dapat terpenuhi. Adakah yang masih ingin menoleh? Atau bahkan hanya mengabaikan saja. Kini hanya terasa sama. Akan kah larut seiring berjalannya waktu tanpa kicauan-kicauan merdu yang nyaring di telinga. Dapatkah ku rangkul bayangmu yang dulu, demi pulihkan serpihan kerinduan yang lama tertanam. Adakah disana engkau merasakan hal yang demikian? Bintang disana nampak menyampaikan pesan darimu, bulan itu menggambarkan lekukan senyummu. Tempatmu sungguh nan indah disana, ingin rasanya berada di lingkup sana. Sangat dinantikan kebersamaan dengan canda tawa yang menemani dan kehangatan bersamanya. Namun mimpi hanya sekedar mimpi.

Saat ini masih mempertanyakan kepergianmu. Kami masih ingat, ketika engkau melantunkan melodi indah terakhirmu itu. Engkau menyampaikan pesan terakhirmu lewat lagu, dengan selingan puisi yang engkau susun. Serta lambaian tanganmu di sebuah rekaman gambar oleh sang kerabat. Dan sapaan hangatmu kala pagi itu sebelumku beranjak ke sekolah. Saya rasa itu semua teka-teki kepergianmu. Engkau meninggalkan kenangan yang tak bisa terlupakan.

Baru tersadarkan tentang arti sebuah pepatah yang mengatakan “tak ada gula, tak ada semut”. Begitu pun yang terjadi saat ini. Tak sama ketika beliau masih disini. Tak ada teguran yang menyeru lagi, semua sibuk dengan panggung sandiwaranya. Dan ia datang menjelang tuntutan menghampiri. Ini kah pemahaman tentang sebuah rumpun yang mengikat? Yang hanya manis ketika kami ada dan bisa? Begini kah semestinya yang kami dapat? Tak ada tanya yang terjawab. Bisakah di dunia ini tak terbutakan oleh materi? Sadar kah bahwa itu hanya nikmat sesaat yang dititipkan oleh sang Ilahi. Inginkan engkau kembali. Mengubah semua yang terlanjur ada saat ini. Karena semua tak sama ketika engkau ada. Lagi-lagi harap hanya sekedar harapan. Semua tertampung di kalbu. Tak ingin timbulkan seteruan. Biarkan itu lenyap.

Sorakan dari semua yang terpandangi tak mampu menyembuhkan. Hanya sorakan dari hati yang mampu terdengarkan. Kala seseorang mengalami hal demikian, tentu sangat terpuruk dengan keadaan itu. Bahkan dapat hancurkan mimpi seseorang. Namun sejenak tersadarkan oleh bisikan, “ada baiknya kita memberikan sedikit rongga untuk mendengar tutur lisan dari seseorang”. Namun, pemahaman salah pada subjek yang salah pula. Ada perhatian yang menghampiri namun itu semata-mata karena hanya rasa belas kasihan yang mereka beri. Kami tak butuh seperti itu. Kami bukan makhluk yang seakan sangat haus dengan responmu. Yang hanya sesaat di ucapan bibir.

Disini tempatku berpijak terpandangi kerikil-kerikil serta angin yang menghembuskan perhatiannya padaku. Ternyata masih ada yang memperhatikan meski itu kecil. Kini terasa asing, namun bayangmu selalu setia menemani. Perlahan memejamkan mata, berharap dapat redahkan keterasingan ini. Ku hirup udara, ku nikmati yang masuk hingga ke ubun-ubun, kesejukan menyelimuti batin ini, terbayang lagi sosok sederhana yang tersenyum padaku. Hasrat ingin bercengkrama tak dapat terpenuhi. Namun legah rasanya telah bertemu meski hanya sebatas membayangi.

Rasanya sudah tak mampu menapakkan langkah di kerikil-kerikil tajam ini. Ingin terbang menggapaimu disana. Namun itu tak bisa terlepas. Harus dan mesti terlewati. Wahai tuhanku, hidupkanlah aku seandainya kehidupan itu lebih baik bagiku, tapi matikanlah aku seandainya kematian itu lebih baik bagiku. Engkau yang Maha Kuasa, berikan petunjukMu. Agar teka-teki kehidupan ini terjawab. Dekatkan pada kami kebaikanMu, jauhkan kami dari keburukan sandiwara belaka. HambaMu ini tentu memiliki keterbatasan, karena Kesempurnaan ada padaMu. Dan hanya padaMulah ku meminta dan kuserahkan semuanya.

Ketika mentari teralihkan oleh sang bulan, saat itu pula rasa rindu semakin membebani. Teringat oleh cerita-ceritanya yang membuatku tertawa lepas. Dan dia sang motivatorku yang selalu mengalirkan kasih sayang yang sangat tulus kurasakan. Akan ku terjang kehidupan yang kelam ini dengan upayaku sendiri. Terimakasih ayah, takkan tersia-siakan pemberianmu selama ini, kan kuberi makna di setiap langkah bersama bayangmu.

Kini ku selami lautan kepedihan yang dalam, di dasarnya ku dapati segenggam mutiara harapan yang meyakinkan. Dan di puncak keterpurukan ini, terbayang senyummu yang membangkitkanku. Tersiratkan dukungan yang kau beri. Setetes keharuan mengubahku. Dengan itu ku sebrangi, hingga menepi di sandaran perahu menuju perubahan. Teralihkannya suatu suasana melalui perubahan sangat mendasar dari diri kita sendiri. Dan, dalam hal ini suasana pertahanan jiwa sangat berperan. Yang akan mematahkan pilar-pilar hitam.

By: Citra Mawardani

Diskusi ‘Kasus Agraria di Indonesia’

Sekitar 30an orang memenuhi pelataran Lembaga Kemahasiswaan Ekonomi sore itu (28 September 2012). Yang dimana pada hari itu akan dilaksanakan diskusi yang bertemakan ‘Persoalan Agraria di Indonesia’ dan diskusi ini difasilitatori oleh Kanda Reza (WALHI) dan Kanda Puput bertindak sebagai moderator.

Diskusi yang bertemakan agrarian tersebut tentu saja dilakukan dalam rangka memperingati Hari Tani yang jatuh pada tanggal 24 September.

Agrarian sebagaimana yang tertian pada Pasal 33 ayat 3 UUD 1945 adalah bumi, air, dan udara, dan seharusnya dimanfaatkan sebesar – besarnya untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Menurut fasilitator, permasalahan agrarian di Indonesia termasuk perampasan tanah yang sangat dirasakan oleh kaum tani yang ada di Indonesia sebenarnya telah berlangsung sejak lama, sejak Portugis masuk di Indonesia. Pada masa kepemimpinan Soekarno, sebenarnya telah ada upaya untuk menyelesaikan permasalahan tanah yang ada di Indonesia, hal ini ditandai dengan lahirnya UU Pokok Agraria pada tahun 1960. Dalam undang-undang tersebut ditegaskan bahwa seharusnya kepemilikan atas tanah dibatasi maksimal 5 hektar dan bagi pihak yang memiliki tanah di atas 5 hektar, maka selebihnya haruslah menjadi milik pemerintah. Spirit yang dibangun dalam UU Pokok Agraria ini adalah setiap warga negara harusnya memiliki tanah, makanya tidak boleh ada pihak yang menguasai tanah yang berlebihan. Dalam UU ini juga diatur agar tanah – tanah yang dimiliki pihak asing, akan dikuasai oleh negara, dalam artian ada usaha untuk menasionalisasikan perusahaan asing yang memiliki tanah di Indonesia. Namun ternyata UU ini menjadi salah satu faktor yang memicu terjadinya konflik, dimana ada banyak pihak yang tidak ingin menyerahkan tanahnya kepada negara. Dan konon pada saat itu salah satu golongan yang memiliki banyak tanah adalah Uztad ataupun Kiai, dan ternyata UU ini juga disokong oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Makanya disebutkan bahwa UU ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terpicunya konflik di Indonesia.

Namun pasca orde lama (kepemimpinan Soekarno) UU Pokok Agraria ini hanyalah menjadi pajangan saja, dimana pada masa kepemimpinan Soeharto banyak sekali terjadi regulasi yang melegalkan terjadinya ‘perampasan’ tanah, misalnya UU Pengadaan Tanah untuk Pembangunan atau UU Penanaman Modal asing di Indonesia.

Di Indonesia dalam satu tahun terakhir, ada banyak gerakan yang terjadi untuk menuntut penyelesaian kasus – kasus agrarian, termasuk menuntut pengembalian tanah yang dirampas oleh pemerintah.

Saat ini, memang ada kebijakan pemerintah yang kelihatannya ingin menyelesaikan masalah ini, dimana dikatakan bahwa pemerintah akan membagikan tanah bagi petani yang tidak memiliki tanah. “Kebijakan ini merupakan kebijakan yang menipu” menurut Reza, kenapa? Karena tanah yang dibagikan adalah tanah bekas tambang ataupun tanah bekas tanaman industri, yang dimana tentu saja tanah ini sudah tidak produktif lagi untuk dimanfaatkan oleh petani untuk bercocok tanam.

Kesimpulan diskusi yang berlangsung saat itu adalah, bahwa ada banyak persoalan agrarian yang terjadi di Indonesia, termasuk perampasan tanah yang justru dilegalkan oleh pemerinta Indonesia sendiri. Dan bentuk pelegalannya adalah dengan mengeluarkan regulasi – regulasi yang telah kami sebutkan di atas tadi. Makanya haruslah ada sebuah gerakan perlawanan yang dilakukan untuk menyelesaikan kasus – kasus tersebut. Dan harusnya pula mahasiswa haruslah menjadi salah satu pihak yang bergabung dalam gerakan perlawanan tersebut.

Silahkan klik link ini untuk mengunduh rekaman diskusi (Diskusi ‘Persoalan Agraria di Indonesia’)