FOLKLORE

Tak perlu berkutat dengan kemacetan, bunyikan sirene keras-keras sampai meraung-raung orang-orang akan menoleh kearah suara, pengguna jalan harus mengalah melihat mobil ber plat merah dengan dua angka, atau satu angka. Itu sudah cukup membuat mereka harus mengalah. Wakil rakyat kita lewat. Membuat semua orang harus meminggirkan kendaraan atau setidaknya mengurangi kecepatannya, sungguh sebuah kekompakan yang luar biasa. Begitulah salah satu fenomena di jalan raya ketika wakil rakyat berkonvoi, seolah-olah mereka punya hajatan, bukan hajatan tapi kepentingan yang luar biasa yang tak seorang pun bisa menghalangi waktu mereka. Seolah-olah hanya mereka yang punya kepentingan di dunia ini, tapi memang betul mereka itu kan wakil rakyat jadi semua yang dilakukannya mewakili rakyat atas nama rakyat tepatnya. Mulai dari urusan makan, urusan kekayaan, kesejahteraan, semua mereka yang mewakili. Mungkin hanya buang air saja yang tidak diwakilinya.

Tak sedikit yang mengumpati mereka, lantaran harus terlambat mengantar anak-anak mereka ke sekolah, pedagang sayur yang akan ke pasar pun sepakat dengan bapak yang mau mengantar anaknya. Banyak yang mengumpat tapi lebih banyak yang diam. “ya,, tidak usah marah-marah kalian teriak saja tidak akan di dengar mereka” betul juga suara sirene yang meraung-raung telah menelan semua suara disekitarnya. Bahkan tanpa ada suara sirene pun mereka tidak juga mendengar apa yang kalian lontarkan, suara rakyat yang katanya tak bisa ditirukan oleh suara apapun tertelan raung sirene dan hilang seiring dengan debu jalanan.

Ada juga sebuah daerah yang kepala daerahnya tidak pernah menyalakan sirene, tidak perlu dikawal di jalan raya sepadat apa pun kondisi jalan, sepadat sampah di selokan-selokan depan rumah pun dia tetap tidak bergeming dan tidak terpengaruh kemacetan. Bagaimana tidak ????? itu karena dia kemana-mana pakai helikopter. Dengan alasan mobilitas tinggi beliau memilih alternatif itu, mungkin sebuah penawaran solusi mengatasi kemacetan yang wajib diperhatikan masyarakat. “saya pakai heli supaya dapat terus mengamati rakyat saya” kilahnya. “ini semua demi rakyat” rakyat pun terharu dan menangis histeris mendengar penjelasannya, rakyat yang merupakan simpatisannya dengan bangga mengelu-elukan namanya, tetangga sebelahnya muntah-muntah karena kelaparan.

Atas nama rakyat dan untuk rakyat, itulah kata yang kerap kali menjadi jargon para wakil rakyat, dalih yang berbisa Satu hal yang masih hangat di ingatan adalah niat pemerintah untuk menaikkan harga BBM. Kenaikan BBM untuk rakyat, padahal nyatanya rakyat kian terbebani dengan hal itu. Kenaikan yang terjadi tidak dibarengi dengan perlindungan dan penguatan kepada rakyat untuk siap dengan semua itu.Bahkan untuk sekedar penjelasan pun dibuat terlalu berbelit-belit, bahasa-bahasa melangit yang tak lagi menyentuh bumi membuat masyarakat akar rumput tidak dapat menjangkaunya.

BBM telah ditunda kenaikannya. Ada selang waktu yang cukup bagi pemerintah untuk merealisasikan keinginannya menaikkan BBM. Padahal jelas-jelas bahwa kenaikan yang terjadi akan membuat rakyat makin terbebani. Ada beberapa alasan rasional mengapa BBM harus ditolak kenaikannya :

  1. Menekan daya beli masyarakat sehingga mereka akan semakin sengsara.Kenaikan BBM dipastikan akan meningkatkan inflasi sekitar 7 %, kenaikan harga bahan pokok antara 5-10%, kenaikan biaya transportasi dan distribusi produksi barang antara 30-35 %. Sebelum kenaikan BBM resmi ditetapkan harga pokok sudah mengalami lonjakan yang mengakibatkan goncangan perekonomian masyarakat menengah ke bawah.

 

  1. BBM selama ini sebagian besar dikonsumsi oleh masyarakat menengah ke bawah. Hal ini dapat ditunjukkan beberapa indikator antara lain: dari total jumlah kendaraan di Indonesia yang mencapai 53,4 juta (2010), sebanyak 82% merupakan kendaraan roda dua yang nota bene kebanyakan dimiliki oleh kelas menengah bawah.

 

  1.  Penyebab membengkaknya subsidi akibat kegagalan pemerintah dalam mengelola energi nasional. Anehnya kegagalan tersebut kemudian ditimpakan kepada rakyat dengan menaikkan harga BBM.Bentuk-bentuk kegagagalan pemerintah tersebut antara lain:

a)      Sejak 2006 sampai 2009 Indonesia kehilangan devisa negara hingga Rp 410,4 triliun akibat mengekspor gas bumi dengan harga yang terlampau murah, sementara hasil penjualan gas bumi itu untuk mengimpor minyak.

b)      Dalam laporan investigasinya, BPK menyebutkan adanya potensi kerugian negara akibat konsumsi BBM energi primer PLN yang disubsidi oleh negara. Potensi kerugian tersebut mencapai Rp 17,9 triliun pada tahun 2009, dan RP 19,7 triliun pada 2010.Kerugian ini muncul akibat PLN tidak bisa menggunakan Gas karena gasnya di Impor.

c)      meningkatnya anggaran subsidi terjadi akibat kelalaian pemerintah menyediakan transportasi publik yang aman dan nyaman sehingga penggunaan kendaran pribadi seperti motor dan mobil pribadi makin membludak.

d)     Pemerintah tidak serius mengelola energi alternatif selain BBM yang lebih murah. Gas misalnya meski murah dan produksinya di Indonesia melimpah, malah lebih banyak diekspor. Berdasarkan data Kementerian ESDM, dari total produksi 9,34  MMSCFD pada 2010,  52 % produksi gas Indonesia diekspor ke luar negeri yang terdiri dari gas alam (10%) dan LNG 42%. Sisanya dibagi-bagi untuk industri (14%), PLN (8%), dan lain-lain. Besarnya alokasi ekspor tersebut membuat permintaan domestik seperti industri dan listrik banyak yang tidak terpenuhi. Sejumlah PLTG milik PLN misalnya hingga kini terpaksa mengkonsumsi bahan bakar diesel yang harganya tiga kali lipat dari gas. Akibatnya subbsidi untuk PLN membengkak.

e)      masih banyak pos-pos belanja lain yang justru sangat membebani APBN seperti belanja pembayaran pokok utang dan bunganya, infesiensi penggunaan anggaran oleh pemerintah dan kebocoran anggaran akibat korupsi dan penyalahgunaan anggaran. Pada APBN-P 2011 misalnya, alokasi pembayaran pokok utang dan bunganya masing-masing sebesar Rp 143,5 triliun dan Rp 106.5 triliun atau Rp 250 triliun. Selain itu, menurut pejabat KPK, kebocoran ABPN dapat mencapai 30% dari total anggaran.

 

Bulan september yang menjadi bulan yang dipilih pemerintah untuk menaikkan harga BBM, bagaikan bom waktu yang akan segera meledak. Gerakan-gerakan penolakan akan bertemu dengan sikap kepala batu dari pemerintah. Pemerintah tentunya dari jauh hari sudah mengambil ancang-ancang guna merealisasikan kebijakannya. Argumen, tentunya argumen itu tidak harus benar, sebagaimana dalam perdebatan yang menjadi penentu bukannlah argumen yang bisa menjatuhkan lawan, tapi argumen yang bisa diterima audiens (penonton) yang disini adalah rakyat yang “buta”, rakyat yang hanya mengerti nominal uang sehingga yang benar dan baik dimata mereka adalah yang bisa memberi uang banyak. Bukan bermaksud merendahka tapi fenomena itu ada disekitar kita. Mereka terhimpit pilihan antara mengamankan diri dengan rupiah atau melawan dengan segala resiko di depan mata. Dan hanya resiko itu yang tampak dan jelas menjadi momok. Senjata yang akan sedia menghadang pihak-pihak yang berupaya menggoyang kekuasaannya. Senjata yang tidak akan malu-malu diledakkan pada mereka yang tidak setuju. Senjata yang menjadi bahasa dan satu-satunya bahasa adalh senjata. Bahasa yang digunakan untuk menjawab rakyat yang tidak mengerti dan tidak menyetujui mereka, rakyat yang tidak henti berteriak.

Masihkah kita berani menyebut apa yang pemerintah lakukan itu sebagai langkah demokratis, merakyat? Menurut saya kebijakan yang diambil bukanlah langkah yang independen, apa yang diputuskan merupakan pesanan dari Amerika. Bukan rahasia umum kalau bangsa ini berhutang perjanjian yang mengikat dalam GATS, atau apalah namanya. Bukankah kita tahu bahwa indonesia adalah “anak kesayangan” Amerika dan antek-anteknya. Yang selalu jadi “pa’ turut’ bagi mereka. Bukan rahasia lagi jika sedikit banyak atau mungkin banyak sekali kepentingan di negeri ini yang dipengaruhi oleh kepentingan asing. Sebuah resiko yang nyata ketika suatu negara bersekutu dengan setan, negara itu harus ikut pada aturan-aturan, dan sesekali menyediakan tumbal atau sesajen.

Bagaimana mungkin kita memakai kata “atas nama rakyat” sedangkan pemerintah tidak tahu keadaan rakyatnya. Bahkan mereka tidak bisa membedakan mana rakyat mana konstituen. Rakyat adalah orang-orang yang memilih mereka pada pilkada, mereka yang setia memakai kaos dengan gambar wajah dan partai yang mengusungnya. Mereka yang secara terang-terangan menempel poster di depan rumah mereka. Itulah yang menurut pemerintah sebagai rakyat.

Pemerintah semakin kuat dan pintar sedangkan kita semakin bodoh dan menjadi lemah, lemah yang terjadi karena adanya rasa takut.

kita terjebak dalam kepura-puraan. terjebak oleh diam.

kepura-puraan yang dibalut diam adalah penghianatan.

 kita terjebak dalam

 kelemahan, terjebak oleh ketakutan.

kelemahan yang dibalut ketakutan adalah pengecut

Kita terjebak dalam jebakan

terjebak oleh jebakan…..

Kita sejatinya harus perhatian terhadap pemerintah, karena pemerintahan yang mereka jalankan adalah pemerintahan yang lahir dari kuasa rakyat . Kita kalah melawan sistem rapi pemerintah untuk melanggengkan kekuasaannya. Mereka menang, kita kalah. Kemenangan sejati adalah kemampuan untuk menguasai tanpa perlawanan. Itulah yang terjadi Kemenangan sejati bisa diraih apabila mereka yang dikuasai tidak menyadari bahwa mereka sedang dikuasai atau dijajah. Ariel menyimpulkan dalam bahasa parodis “yang kini melumpuhkan aktivisme bukan semprotan gas air mata polisi anti huru-hara, tap semprotan parfum Paris pemeluk budaya huru-hara yang tanpa rasa haru. Kita yang terjebak dengan akal bulus mereka, melalui media mereka menguasai mindset kita, media yang menjadi tempat pencitraan, pencitraan yang lebih kuat dari realitas, yang telah mencabik-cabik nilai dan menggantinya dengan nilai yang baru. Saya bukan menihilkan apa yang selama ini kita sebut sebagai gerakan perlawanan. Tapi saya merasa ada hal yang sedikit mengusik, kita miskin akan analisis dan semua yang coba dilakukan adalah langkah-langkah instan. Kita berteriak akan REVOLUSI, tapi revolusi yang ditawarkan lahir dari perenungan satu dua hari. Gerakan yang terjadi menurut pandangan saya adalah gerakan yang bersifat momentuman. Banyaknya organ pun bisa jadi sebuah kendala dalam pergerakan karena tidak ada satu ideologi yang di bawa bersama. Proletar yang berlomba-lomba menjadi borjuis baru. Gerakan Oposisi yang saling menjatuhkan saling sikut untuk bersiap menggantikan kekuasaan. Perjuangan yang tidak didasari rasa cinta terhadap bangsa ini. Memperjuangkan cinta dan kebenaran dengan kebencian. Beberapa poros gerak pun adalah gerakan yang dipesan, yang sewaktu-waktu selalu siap untuk menjadi borjuis-borjuis baru. Bukan masalah bila organ-organ yang ada tidak saling mendominasi,tapi yang terjadi mereka berjuang untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Apa bedanya dengan mereka yang berada di atas sana. Kita melawan kapitalisme dan liberalisme tapi yang terlihat kita mempraktekkan sistem itu dalam gerakan. bukankah dominasi adalah bentuk persetujuan pada logika pasar.

 

Generasi sinetron, ya, itulah yang sedang berlangsung di negeri ini. Dimana sinetron yang selalu menyajikan cerita-cerita yang sifatnya sangat sempit, perebutan harta, cinta si kaya dan si miskin, hingga konflik-konflik dalam keluarga, telah membuat kita menjadi orang-orang yang terkungkung pemikirannya, hanya memikirkan diri sendiri, keluarga sendiri. Terserah di benua lain terjadi perang, terserah ada bencana di pulau lain, terserah tetangga kita kelaparan, yang penting kita tidak apa-apa. Kita bisa tetap hidup bahagia. Kita menjadi manusia-manusia yang egois,individualis, silence society. Kata yang menggambarkan kebungkaman kita pada setiap penidasan, pada semua tidakan semena-mena, yang penting itu tidak berefek negatif pada kita peduli amat sama semua itu. Ada yang menangis dengan penindasan, tapi apakah hanya berakhir dengan tangisan??? Apa yang bisa dirubahnya??? Kita betul-betul lemah.

Tidak banyak yang berani untuk melakukan gerakan perlawanan, ataukah kita salah faham dengan yang namanya gerakan. Gerakan yang hanya diartikan sebagai aksi di jalanan, yang bagi masyarakat awam hanya memacetkan jalan, biar bagaimanapun kalian tidak akan didengar pemerintah, katanya. Bukankah betul yang saya katakan bahwa masyarakat kita telah dibungkam???. Ataukah kita juga mahasiswa yang sudah kehilangan “seni” melawan ??? apakah kita yang termasuk dalam orang-orang yang berpemahaman sempit???

Besar harapan saya ada Cinta yang mendasari gerakan yang kita lakukan. Bukan gerakan-gerakan sektarian. Bukan bermaksud untuk homogenisasi, kita harus akui dan yakini bahwa dibalik seragam warna-warni yang kita kenakan di balik bendera yang sering kita kibarkan di jalanan. Ada warna dasar MERAH-PUTIH yang melandasi langkah kita.

TERIMAH KASIH UNTUK SEMUA MANUSIA INDONESIA YANG RELA BERPELUH KERINGAT BERSAMA RAKYAT,, YANG MELAWAN PENINDASAN BERSAMA RAKYAT BAGAIMANAPUN CARA KALIAN…..

“TUHAN SELALU BERSAMA ORANG-ORANG YANG BENAR”

“KITA BISA MEMILIKI APA YANG KITA INGINKAN, TETAPI KITA MESTI MEMPERJUANGKANNYA AGAR BISA MENIKMATINYA DENGAN LAYAK” (GARCIA MARQUES PERAIH NOBEL SASTRA 1982)

oleh Anwar Nua pada 4 Juni 2012 pukul 8:25 ·