HEDONISME?

Siapakah orang – orang hedonis itu? Mereka adalah orang – orang yang makan dan minum, tanpa pernah berbuat apa – apa. Mereka makan dari jerih payah orang lain, para konsumen yang tidak mau lelah, bekerja atau mempedulikan nasib pekerjaan dan produksi.

Para hedonis itu mau makan dan minum saja, tanpa pernah menyadari hakikat dan pahitnya garam kehidupan. Begitulah cara kenikmatan itu timbul dan lahir, kosong dari segala keluh-kesah dan kesumpekan yang dirasakan para buruh dan pekerja.

Sistem sosial yang berdiri di atas perbedaan kelas dan kasta memberi kesempatan bagi munculnya kesenjangan antara ‘hak makan’ dan ‘hak kerja’, sehingga mereka tidak mempertimbangkan ‘kelayakan’ dan ‘kebutuhan’. Kehidupan orang mewah itu memang nikmat sekali, karena segala hal dapat diperolehnya. Jika dia menginginkan sesuatu, segera didapatnya. Tidak ada tempat bagi kekurangan, pencarian, kekhawatiran, kebutuhan, kegusaran, atau kesusahan dalam hidupnya. Oleh sebab itu, dia menikmati hidupnya dengan tenang dan santai. Dia tidak bekerja, sehingga tidak perlu baginya untuk berpikir akan akibat dan hasil kerjanya. Tidak ada tugas di pundaknya yang harus dia laksanakan. Bahkan dia sama sekali tidak berupaya, maka tidak penting buatnya untuk merenungkan arti keuntungan dan kerugian. Tidak ada rasa sakit yang memicu mereka untuk mencari penawarnya. Mereka tidak perlu mencari pemecahan, karena mereka benar – benar telah terbebas dari segala kemustahilan. Tidak pernah merasa rugi sampai harus memiliki cita – cita yang ingin dicapai. Tidak pernah lapar, sehingga tidak perlu mencari sepotong roti. Dia tidak butuh sesuatu yang tidak tersedia hingga otaknya terperas mencari kiat untuk mendapatkannya. Semua kenyataan – kenyataan hidup ini tidak pernah terlintas di benaknya. Karena semua kemauan sudah di dapat.

Pada hakikatnya, orang seperti ini tersiksa karena tidak tahu apa keinginannya yang sesungguhnya. Hidupnya buta akan masalah, usaha, perjuangan, kekurangan, ketersiksaan, dan kebutuhan. Manusia seperti dia tidak punya cita – cita, tujuan, dan makna bagi hidup dan eksistensinya sendiri. Wujud dan kekekalannya tidak memiliki ‘pembenaran’. Baginya, alam ini nonsense. Betapa cepat dia akan dihantui bayang – bayang absurditas dan nihilism.

 

-Kutipan dari buku “Do’a, Tangisan, dan Perlawanan” Karya Ali Syariati-

Kehidupan kampus dari kacamata ‘Fakta Sosial’

Teman – teman di lembaga kemahasiswaan  pasti tidak asing lagi dengan sebutan pengkaderan dan pastinya lebih tidak asing lagi dengan sebutan pengkaderan non formal dan pengkaderan formal, yang dimana pasti agenda ini dilaksanakan tiap tahunnya. Pada bagian awal dari tulisan ini saya akan lebih membahas dari segi pengkaderan formal. Bagi sebagian teman mungkin menganggap hal ini (red:pengkaderan formal) sebagai kunci dari keberlanjutan lembaga kemahasiswaan dan mungkin juga bagi sebagian orang lagi menganggap hal ini tidak lebih sebagai acara seremonial belaka, dimana mereka bisa menunjukkan eksistensi mereka di depan mahasiswa baru entah bagaimana cara yang mereka inginkan sendiri. Mengapa saya menyebut menunjukkan eksistensi mereka di depan mahasiswa baru, karena memang agenda pengkaderan formal ini diadakan untuk menyambut mahasiswa baru dan juga sebagai metode perekrutan bagi mahasiswa baru untuk berproses dalam lembaga kemahasiswaan.

Bagi teman –  teman yang merupakan bagian dari golongan pertama, tentu saja selalu mengharapkan bahwa output dari pengkaderan formal ini diharapkan dapat memahami nilai – nilai yang baik dan bersifat universal, seperti nilai kemanusiaan dan intelektual. Maka dengan harapan yang seperti itu tentu saja teman – teman selalu berusaha melakukan atau mengisi pengkaderan tersebut dengan nilai – nilai tesebut dan tentu saja nilai tersebut disampaikan dengan cara yang berbanding lurus dengan nilainya. Mungkin hal ini berbeda bagi kalangan orang yang masih menganggap bahwa tidak bisa menunjukkan betapa perihnya penindasan yang dirasakan oleh orang – orang diluar sana, kalau mahasiswa baru itu tidak mengalami penindasan terlebih dahulu dan kekerasanpun menjadi pilihan yang paling tepat.

Paragraph di atas mungkin sudah bisa membuat teman – teman sedikit mengerti tentang pengkaderan yang dilakukan di lembaga kemahasiswaan. Selanjutnya kita akan membahas mengenai fakta sosial itu sendiri.

Di kajian ilmu sosial sendiri ada satu nama yang cukup tenar, yaitu Thomas Kunt yang terkenal dengan teori paradigmanya. Thomas kunt menyatakan bahwa selalu terjadi revolusi paradigma. Thomas kunt menjelaskan bahwa dalam paradigm pertama terjadi yang namanya normal science yang dimana kehidupan berjalan dengan baik – baik saja. Setelah kehiduan berjalan dengan normal, muncullah keanehan – keanehan atau keganjilan – keganjilan yang terjadi di tengah masyarakat yang Thomas kunt sebut dengan anomaly dan terjadilah masa krisis lalu lahirlah sebuah revolusi yang akhirnya melahirkan paradigma baru.

Dan datanglah seseorang yang bernama George Ritzer yang membantah teori Thomas kunt di atas, ritzer menyebutkan bahwa sesungguhnya revolusi paradigma itu tidak ada, karena setelah terjadinya revolusi tidak bisa menyebabkan hilangnya paradigma pertama, tapi paradigma itu tetap ada meskipun paradigma barupun telah lahir. Selanjutnya ritzer mengatakan bahwa sebenarnya ada tiga paradigma yang selalu mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, yaitu paradigma fakta sosial, definisi sosial, dan perilaku sosial. Dimana secara umum paradigma fakta sosial merupakan sesuatu yang berada di luar individu dan bersifat memaksa. Fakta sosial sendiri terdiri dari dua jenis yang pertama dikenal dengan fakta sosial yang sifatnya material (institusi) dan yang kedua dikenal dengan sifatnya yang non material seperti norma – norma. Definisi sosial membahas kehidupan individu yang dimana individu itu sifatnya bebas dan kreatif, sedangkan perilaku sosial berbicara tentang perilaku masyarakat yang tak pernah lepas dari reward dan punishment.

Fakta sosial dikenalkan pertama kali oleh seseorang yang bernama Emile Durkheim yang mencoba menentang Aguste Comte yang mengalisis kehidupan sosial dengan menggunanakan filsafat dan juga menentang pemikiran Herbert Spencer dengan teori perilaku sosialnya dengan menggunakan psikologi untuk menganilisis kehidupan sosial. Durkheim mengatakan bahwa sebetulnya yang mempengaruhi perilaku seseorang dalam bermasyarakat sebenarnya fakta sosial yang sekali lagi mempunyai sifat memaksa dan berada di luar individu. Fakta sosial inilah yang membentuk sebuah solidaritas dalam masyarakat dan individu harus mengikuti fakta sosial tersebut agar bisa bergabung dengan solidaritas yang ada. Karena menurut Durkheim ketika seseorang tidak bisa menemukan ataupun masuk ke dalam solidaritas, maka yang terjadi adalah individu akan mengalami fenomena suicide atau bunuh diri.

Mungkin teman – teman bertanya – Tanya, sebenarnya kaitan fakta sosial dengan kehidupan lembaga kemahasiswaan itu apa. Baiklah, saya akan mencoba menjelaskan kaitannya. Yang saya ketahui bahwa selalu ada upaya yang dilakukan oleh orang – orang yang berada dalam lembaga kemahasiswaan untuk membuat mahasiswa baru agar mengikuti prosesi dari awal sampai akhir dan akhirnya menyandang gelar Keluarga Mahasiswa (KEMA). Dan tentu saja hal ini tidak mudah dilaksanakan, karena tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar mahasiswa baru mungkin belum mengetahui arti dari kegiatan pengkaderan formal itu. Dan fenomena ini sangatlah tergambar jelas dalam setiap jenjang prosesi, yang dimana kuantitas peserta yang mengikutinya itu selalu saja berkurang. Maka anggapan saya di atas terbukti, bahwa sebagian mahasiswa baru belum mengetahui arti dari sebuah prosesi pengkaderan dan akhirnya menganggap bahwa pengkaderan ini hanya sebuah kegiatan yang menguras waktu dan tenaga. Dan salah satu langkah yang diambil oleh orang – orang yang menganggap pentingnya sebuah pengkaderan ialah merakayasa sebuah sistem yang bisa membuat mahasiswa baru mengikuti prosesi pengkaderan ini dan tentu saja dengan sistem yang sedikit memaksa tentunya, karena bisa saja fenomena kurangnya kuantitas peserta tetap terjadi ketika tidak ada sistem yang sedikit memaksa. Pertanyaannya kemudian bukankah sistem ini dalam sebutan Durkheim disebut dengan fakta sosial ? ya, memang sangat betul. Tapi tentu saja sistem yang sifatnya sedikit memaksa ini pastilah mempunyai tujuan yang baik bagi mahasiswa baru dan singkatnya inti dari tujuan ini adalah ‘ikuti semua prosesi dan kamu akan mendapatkan manfaatnya’. Setelah mengikuti semua prosesi dan menyandang gelar KEMA apakah sampai disitu sistem yang sifatnya memaksa dibentuk ? tentu saja tidak.

Di kehidupan mahasiswa jargon ‘membaca, menulis dan berdiskusi’ adalah hal yang tidak asing lagi. Memang jargon tersebut seharusnya dilakukan oleh mahasiswa untuk menunjang kehidupannya selama di kampus. Tapi apakah semua kepala mahasiswa di isi dengan jargon itu ? jawabannya tentu saja tidak. Hal ini terbukti dengan sendirinya di kampus, dimana mahasiswa masih sibuk dengan kehidupan gemerlapnya ataupun mengurusi urusan kecantikan dan ketampanannya. Maka orang – orang yang menganggap membaca, menulis dan berdiskusi itu penting sekali lagi merakayasa sebuah fakta sosial yang diharapkan memaksa mahasiswa untuk melakukannya. Ketika seorang KEMA dipaksa oleh KEMA lainnya untuk membaca buku dan membedahnya di depan orang banyak, ini merupakan bukti dari fakta sosial tersebut. Dan adakalanya pula dilakukan dengan cara membuat sebuah diskusi dan pembicaranya merupakan orang – orang yang dipilih dengan bersifat ‘kandang paksa’, bukankah ini sifatnya memaksa ?. Saya sendiri menjadi salah satu orang yang memberlakukan fakta sosial tersebut. Mungkin fakta sosial yang saya sebutkan di atas merupakan salah satunya dari fakta sosial yang berlaku di kampus.

Tapi apakah fakta sosial itu berhasil membuat kehidupan di kampus selalu diisi dengan membaca, menulis dan berdiskusi ? pastilah tidak, ternyata yang dikatan Herbert Spencer betul, bahwa ada aktor yang bersifat bebas. Tapi bagaimana dengan orang – orang yang tidak mengikuti fakta sosial itu, disinilah fenomena suicide yang disebutkan oleh Durkheim berlaku. Di kampus, tergambar jelas golongan orang yang tidak memilih untuk menghindari fakta sosial yang telah dibentuk. Hal tersebut dapat terlihat dari keterlibatan golongan tersebut dalam berbagai kegiatan lembaga kemahasiswaan yang sifatnya membaca, menulis dan berdiskusi. Ketika mereka memilih untuk tidak mengikuti fakta sosial yang terbentuk maka dengan sendirinya mereka tidak bisa masuk ke dalam solidaritas yang terbentuk dengan adanya fakta sosial tersebut. Maka jangan heran orang – orang di luar solidaritas tersebut menyebut dirinya sebagai golongan yang dikucilkan dan bahkan orang yang pernah berkata bahwa orang – orang yang tidak membaca, menulis, ataupun berdiskusi dianggap sebagai kasta terendah dalam lembaga kemahasiswaan. Dan terjadilah sebuah pengalienasian diri yang dilakukan oleh orang – orang tersebut. Sedikit baik mungkin ketika dia hanya mengalienasikan dirinya tapi tidak mencemooh solidaritas yang tidak bisa dimasukinya, bagaimana ketika dia justru berbalik dan membenci bahkan melawan solidaritas yang dimana dirinya tidak diterima ? tentu saja ini merupakan suatu hal yang sulit.

Saya sendiri beranggapan bahwa fakta sosial yang dibentuk oleh kawan – kawan di lembaga kemahasiswaan, seperti yang saya sebutkan diatas, pastilah bertujuan baik. Karena memang hal itu menunjang kehidupan saya di kampus sampai saat ini. Tapi entahlah bagaimana dengan teman – teman yang memilih untuk tidak mengikuti fakta sosial tersebut, mungkin saja solidaritas yang mereka temukan dan solidaritas dimana dirinya diterima, mereka anggap menunjang kehidupannya di kampus.

Mungkin ini sedikit penjelasan saya mengenai memandang kehidupan kampus dengan kacamata fakta sosial. Ketika tulisan ini dianggap sangat kurang, harap maklum karena inilah saya, yang masih mencoba melakukan kegiatan menulis ini dengan paksaan fakta sosial yang ada agar saya tidak terlempar dari solidaritas. Hhe, bagi saya ketika sebuah proses yang baik dilakukan, pastilah hasilnya akan berbanding lurus. Dan cara untuk melakukan proses yang baik, tentu saja harus dimulai dengan merubah pola pikir ke arah yang baik pula..

Incoming search terms:

  • teori kunt pada bunyi
  • fakta sosil di lingkungan kampus

OTOKRITIK untuk SEMUA, WAHAI MAHASISWA, BACALAH..!!

oleh: M Zarr Al-Ghiffari

 

Mahasiswa, siapa sebenarnya mahasiswa itu?, siapa mereka?, darimana asalnya?, untuk
apa adanya mahasiswa itu?, belajarkah?, tawurankah?, bukankah itu semua juga bisa dilakukan
siapapun?, YA, siapapun. Lantas selancang apakah dia hingga berani untuk berkoar – koar di
megaphone sambil membakar ban yang menutup jalan rejeki masyarakat luas?, bukankah
itu “sesuatu” yang seksi untuk dipertanggungjawabkan?. Lalu siapa pula mereka yang dengan
gagahnya ber-almamater ria berani memaki pejabat kita yang terhormat tentang bagaimana
seharusnya menyusui rakyat dari negara ini?. Sungguh muliakah tanggungjawabnya?, berapa
banyakkah nasib yang bergantung dipundaknya?. LANTAS SIAPA MAHASISWA ITU???.

Dari mahasiswa, dipergunakan sebaik-baiknya untuk mahasiswa. Sepenggal dasar dari
sebuah konstitusi yang menyangkut tentang kerangka tindakan yang diamanatkan negara demi
terwujudnya pembangunan karakter yang berkelanjutan, khususnya pada identitas yang padanya
disematkan predikat “maha” . Terbayanglah betapa besar amanat yang diemban oleh para
pemuda – pemudi ini. Dalam prosesnya dimasa yang akan datang, cara pikir merekalah yang akan
mempengaruhi kebijakan – kebijakan pemerintahan dimasanya. Hal biasa yang akan dianggap
biasa, sekalipun itu buruk, dan yang terpenting, suatu bencana besar apabila kegiatan – kegiatan
pembodohan itu masih tetap dibudayakan dan dianggap biasa.

Menanggapi hal itu, lembaga kemahasiswaan saat ini perlu bangkit dan bertindak untuk
setidaknya bersuara dan mengatakan tidak terhadap kebodohan. Kebodohan – kebodohan yang
justru menjauhkan manusia dari kemanusiaannya, ciptaan dari penciptanya, yang dengan sadar,
hal ini ditulis dengan “tangan” yang berlumuran dosa. Realitas yang terjadi saat ini semakin
menunjukkan bahwa kebodohan serta pembodohan masih tetap dipelihara bahkan “dikembang-
biakkan” dalam sebuah sistem yang akan semakin mengarah pada pengarahan manusia sebagai
komoditas industri, robot –robot kapitalis.

Kegiatan akademik yang sangat kental dengan persaingan yang tidak manusiawi, serta
cenderung menggerus nilai- nilai gortong –royong yang telah dirumuskan para pendiri bangsa, dan
yang terpenting, upaya untuk membungkam daya kritis dari pemuda – pemudi ini. Akan jadi apakah
kita tanpa proses transformasi ilmu dalam setiap baca, tulis dan diskusi?. Dalam hal inipun baca,
tulis, dan diskusi ini akan menjadi sangat penting untuk diperhatikan bahwa kesemua dari hal itu
adalah landasan awal untuk melakukan pergerakan, ya, diskusi dan pergerakan, romeo dan juliet.

Lantas apakah kita perlu diam untuk hal – hal demikian?, TIDAK. Pembodohan tidak boleh
terus terjadi, dan yang terpenting, kemerdekaan dalam menentukan pilihan kelembagaan yang
terlebih dahulu telah berdasar pada analisa butuh – tidaknya sebuah lembaga atau tidak itu, ternyata
telah berusaha dicampuri secara berlebihan dengan berbagai pengaturan yang cenderung akan
menghilangkan karakter dari setiap lembaga itu sendiri. Pengkaderan yang dalam hal ini termasuk
didalamnya, telah menjadi sebuah keharusan dalam proses regenerasi sebuah lembaga, serta
bagaimana menanamkan daya kritis para generasi penerus tentang realitas yang mesti diperbaiki
melalui berbagai metode pengawalan isu untuk perubahan. Perubahan haruslah dilakukan dengan
terlebih dahulu menentukan substansi yang benar – benar harus dipertahankan. Perubahan macam
apakah itu?, masihkah orang – orang meyakini lembaga sebagai wadah, “rumah” bagi segala keluh-

kesahnya?, berapa banyak isu yang telah dikawalnya?, seberapa tidak menindaskah ilmu-ilmu
mereka untuk masyarakatnya?, seberapa hebatkah mereka semua, pemuda – pemudi bingung itu?,
bukankah yang terpenting mereka cukup “belajar dan tenang saja”?. Sekali –kali bukanlah sebuah
paksaan, kesadaran akan tanggung jawablah yang nantinya akan membawa kita pada pengetahuan
tentang sesuatu untuk dijadikan bahan bakar dalam sadar dan bertindak. Sistem pengkaderanlah
yang menentukannya.

Hotel singgasana telah bersaksi, lantai 4 gedung rektorat tamalanrea telah menjadi saksi,
ruang – ruang kami berprosespun telah bersaksi, bagaimana sistem pengkaderan itu telah coba
dihampakan dengan rekayasa pelaksanaan untuk mengarahkan pola pikir akademik tanpa dilengkapi
dengan “indah” satu-sama lain dengan kesadaran berorganisasi serta aktivisme untuk mengolah
setiap realitas yang perlu benar untuk dibenarkan. Buku tanpa pensil dan penghapus, kecerdasan
akademik, wadah dalam kesatuan organisasi dan tindakan dalam aktivisme. Indah bukan?

Apakah kita harus membiarkan keindahan itu tidak indah lagi?, selamat berjuang…!!!

Zona Nyaman Kembali Tergoyahkan

Ada yang berbeda dari acara penyambutan mahasiswa baru (maba) yang dilakukan oleh pihak birokrasi kampus tahun ini. sebuah acara penyambutan maba yang setiap tahunnya dilakukan oleh pihak birokrasi kampus, baik dari tingkatan universita sampai tingkatan terendah yaitu jurusan yang biasa kita kenal dengan sebutan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) kini telah berganti nama beserta konsep dan dinamakan dengan Penerimaan dan Pembinaan Mahasisa Baru (P2MB).

Apa yang berbeda dari kegiatan P2MB tahun ini? dan kenapa berubah nama menjadi P2MB?. Kegiatan P2MB tahun ini merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh mahasiswa baru Universitas Hasanuddin (unhas) tahun. Selain penerimaan juga akan dilakukan pembinaan secara intensif selama 7 hari. Dan masing – masing tingkatan dalam kampus (universitas, fakultas, dan jurusan) akan memiliki agenda tersendiri dalam proses pembinaan ini.

Menurut Wakil Rektor III Bidang Kemahsiswaan Ir. Nasaruddin Slam, MT seperti yang dilansir pada identitas online tanggal 20 juli 2012, kegiatan ini dimaksudkan untuk menjalin kerjasama yang baik antara pihak kampus dan lembaga kemahasiswaan yang seringkali berbeda pandangan dalam konsep pembinaan maba.

Berdasarkan penjelasan diatas, kita dapat menarik sebuah satu lagi kesimpulan tentang perbedaan antara PMB dan P2MB, yaitu dalam kegiatan P2MB ini akan ada satu pihak lagi yang dilibatkan yaitu Lembaga Kemahasiswaan (Lema). Dan secara harfiah kita akan melihat hal ini sebagai sesuatu yang baik, karena ada usaha dari pihak birokrasi kampus untuk membangun kerjasama yang jelas dengan pihak lema yang ada di unhas, yang dalam hal ini adalah SENAT/BEM dan juga Himpunan (organisasi tingkatan jurusan) dan tentu saja ada peran lebih yang diberikan kepada lema tahun ini, tidak lagi sekedar ‘menggotong’ makanan maba ketika kegiatan penerimaan ini berlangsung.

Nah, selanjutnya kita akan menjawab mengapa berubah nama menjadi P2MB. Sekali lagi saya katakan bahwa ada pelibatan pihak lema tahun ini dan selanjutnya hal ini akan kita jadikan dasar pemikiran pertama untuk mengkaji tentang P2MB ini. Untuk menjawab pertanyaan tentang perubahan nama dari PMB menjadi P2MB, hal pertama yang harus kita lakukan adalah melihat aspek dari peristiwa – peristiwa yang terjadi selama kurun waktu setahun ke belakang. Kata pembinaan ini awalnya muncul untuk meng counter opini publik tentang pengkaderan yang menjadi kegitan wajib lema dan dilaksanakan pada setiap tahun. Mengapa kemudian hal ini dibutuhkan? Hal ini disebabkan karena adanya beberapa kejadian, yang mungkin menyebabkan beberapa orang mengambil kesimpulan yang negatif terhadap pengkaderan yang dilakukan oleh pihak lema. Dan kemungkinan besar untuk memperbaiki citra universitas yang katanya “terbaik” di Indonesia Timur ini, makanya kata “pembinaan” ini mulai gencar disosialisasikan oleh pihak birokrasi kampus yang berada di tingkatan universitas kepada pihak yang secara struktural lebih rendah (fakultas dan jurusan) dengan maksud menggantikan nama pengkaderan menjadi pembinaan.

“Apalah arti sebuah nama”. Ungkapan yang cukup sederhana ini dapat kita jadikan sebagai alat bedah untuk melihat kejadian perubahan nama ini. Yah, apalah arti sebuah perubahan nama kegiatan tanpa diikuti dengan perubahan konsep kegiatan pula. Dengan hal tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa konsep pengkaderan, yang diganti dengan nama pembinaan akan berubah pula dan tentu saja perubahan tersebut adalah keinginan dari pihak birokrasi, yang sekali lagi saya katakan dengan alasan memperbaiki citra di publik.

Nah, dengan kegiatan P2MB ini kita dapat melihat perubahan konsep pengkaderan tersebut. Dalam P2MB sangat jelas terlihat kata ‘Pembinaan’ dan sangat jelas pula bahwa ada pelibatan pihak Lema dalam kegiatan tersebut dan inilah langkah yang dilakukan oleh pihak birokrasi kampus untuk mengubah bahkan mengintervensi pengkaderan yang merupakan kegiatan inti dari semua lembaga kemahasiswaan yang ada di Universitas Hasanuddin dan tentu saja dalam hal konsep dan teknis seharusnya ditentukan sendiri oleh lema.

Maka dengan penjelasan diatas, kita dapat menarik satu lagi kesimpulan, yaitu kegiatan P2MB ini merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh pihak birokrasi untuk membatasi dan mengintervensi pengkaderan dari lembaga kemahasiswaan. Untuk mendukung kesimpulan tersebut, kita tentunya membutuhkan informasi – informasi tambahan. Mari kita lihat.

Pada buku pedoman P2MB yang dikeluarkan oleh pihak rektorat yang dalam hal ini WR III yang membawahi bidang kemahasiswaan, tertera bahwa kegiatan P2MB ini akan dilaksanakan selama 7 hari. Hari pertama yang jatuh pada tanggal 27 Agustus 2012 kegiatan ini dilakukan atau di bawah kendali pihak birokrasi tingkatan universitas. Hari selanjutnya yaitu tanggal 28 Agustus 2012, diambil alih oleh pihak fakultas dan sehari berikutnya kendali berada di bawah tangan pihak jurusan yang ada di tiap – tiap fakultas. Tiga hari sudah kegiatan P2MB dilaksanakan. Dan empat hari selanjutnya, berdasarkan buku pedoman P2MB kegiatan diambil alih oleh Lembaga Kemahasiswaan tingkatan Fakultas (BEM/SENAT) dan 2 hari sisanya diambil alih oleh Lembaga Kemahasiswaan di tingkatan Jurusan (Himpunan) yang masing – masing memiliki jadwa 30 – 31 Agustus dan 6 – 7 September 2012. Nah ini adalah informasi awal yang kita butuhkan. Selanjutnya akan kita komparasikan dengan kesimpulan awal kita, yaitu pembatasan pengkaderan yang dilakukan oleh pihak birokrasi kampus. Seperti yang saya jelaskan, bahwa salah satu hal yang berbeda dari konsep P2MB ini adalah adanya pelibatan lembaga kemasiswaan. Selanjutnya adalah bahwa kata pengkaderan diganti dengan kata pembinaan dan hal inilah yang merupakan kunci dari permasalahan P2MB yang menuai kritik dari pihak lembaga kemahasiswaan yang ada di unhas.

Dengan komparasi diatas, kita dapat menyimpulkan satu hal lagi, yaitu kegiatan pengkaderan yang sering dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan dan biasanya ada beberapa tahap termasuk OSPEK yang dilaksanakan oleh Lema tingkat fakultas dan Bina Akrab yang dilaksanakan oleh tingkat Fakultas, kini akan menjadi rangkaian dari kegiatan P2MB dan tentu saja sebagai sebuah keniscayaan, dalam hal waktu kegiatan pengkaderan tersebut telah terbatasi dan terintervensi, karena seperti yang ada di tahun – tahun sebelumnya, dalam hal waktu kegiatan pengkaderan dari tiap Lembaga Kemahasiswaan yang ada, ditentukan sendiri oleh pihak lembaga kemahasiswaan yang bersangkutan dan hal ini biasanya disepakati pada kongres atau mubes yang juga dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan yang ada. Hal inilah yang kita jadikan informasi tambahan untuk menguatkan alasan bahwa P2MB ini hadir untuk membatasi pengkaderan dari lema dan hal itu juga berarti bahwa ada usaha dari pihak birokrasi kampus untuk membatasi ruang gerak dari lembaga kemahasiswaan.

Selain dari masalah waktu yang tertera pada buku pedoman P2MB, ada salah satu informasi tambahan lagi yang dapat membuat kesimpulan diatas semakin kuat. Pada beberapa pertemuan yang dilakukan oleh Pihak Birokrasi kampus dengan Lembaga Kemahasiswaan, terlihat bahwa penyusunan konsep ataupun P2MB ini tidak pernah melibatkan pihak lema, hal ini terbukti pada pertemuan – pertemuan tersebut tidak pernah terjadi sebuah penerimaan pendapat oleh pihak birokrasi, karena dari semua pertemuan, yang terjadi hanyalah sosialisasi konsep yang telah disusun oleh pihak birokrasi kepada lembaga kemahasiswaan. Pada beberapa pertemuan juga terlihat pihak lembaga kemahasiswaan dengan jelas menolak konsep dari P2MB ini, namun tak pernah dihiraukan oleh pihak birokrasi kampus dan P2MB ini akan tetap dijalankan sebagaimana konsep yang telah disusun oleh pihak birokrasi. Penjelasan ini semakin memperkuat kesimpulan kita bahwa P2MB ini merupakan langkah birokrasi kampus untuk membatasi ruang gerak lembaga kemahasiswaan dalam hal ini adalah prosesi pengkaderan yang merupakan ‘jiwa’ dari lembaga kemahasiswaan itu sendiri.

Selanjutnya, kita akan menambah informasi lagi yang akan kita gunakan untuk memperkuat kesimpulan diatas. Pada salah satu pertemuan yang mempertemukan Pihak birokrasi yang dalam hal ini WR III unhas dengan pihak Lembaga Kemahasiswaan, Pak Nas (sapaan akrab WR III Unhas) menjelaskan bahwa kegiatan P2MB ini merupakan pemberian ruang kepada lembaga kemahasiswaan untuk terlibat dalam prosesi penerimaan mahasiswa baru. Dua hari yang diberikan kepada Lembaga Kemahasiswaan tingkat fakultas ditujukan untuk OSPEK yang biasa dilakukan oleh pihak BEM/SENAT dan dua hari lainnya diberikan kepada Lembaga Kemahasiswaan tingkat fakultas ditujukan untuk Bina Akrab yang biasa dilakukan oleh pihak Himpunan. Dan karena pemberian waktu itu, maka kegiatan OSPEK dan Bina Akrab tidak boleh lagi dilakukan diluar dari jadwal yang telah ditentukan oleh pihak birokrasi itu, yaitu tanggal 30 – 31 agustus dan 6 -7 November 2012. Dan sekali lagi, hal ini tentu saja menjadi sesuatu yang sifatnya membatasi kegiatan pengkaderan yang biasa dilakukan oleh lembaga kemahasiswaan.

Pertanyaannya kemudian, mengapa kegiatan P2MB ini menjadi sebuah masalah bagi lembaga kemahasiswaan hanya karena waktu? Tentu saja ini menjadi sebuah masalah, karena yang pertama adalah kegiatan pengkaderan yang selalu dilaksanakan oleh pihak lembaga kemahasiswaan disusun berdasarkan kebutuhan dari lembaga kemahasiswaan itu sendiri, baik dalam hal konsep maupun hal teknis termasuk waktu dan tentu saja teknis dapat ditentukan setelah konsep telah terpikirkan, karena teknis merupakan sebuah turunan dari konsep.

Seperti yang telah saya tuliskan di atas, bahwa kegiatan pengkaderan disusun berdasarkan kebutuhan lembaga kemahasiswaan, selain kebutuhan akan internal lembaga kemahasiswaan itu sendiri, tentu saja pengkaderan merupakan kegiatan penanaman dan pembentukan pola pikir mahasiswa baru agar dapat menjadi mahasiswa yang kritis dan tentu saja militan, yang menjadi senjata untuk menyuarakan kebenaran. Dan hal inilah yang menjadi alasan mengapa kegiatan P2MB ini mendapat kecaman dari lembaga kemahasiswaan yang ada di Universitas Ayam Jantan dari timur ini. Dengan penentuan waktu yang dilakukan oleh Pihak Birokrasi kampus dan tidak pernah melibatkan pihak Lembaga Kemahasiswaan dalam penentuan waktunya akan mengganggu stabilitas Lembaga Kemahasiswaan. Karena sekali lagi, dalam hal waktu kegiatan biasanya ditentukan oleh pihak lema itu sendiri, dengan pertimbangan masing – masing internal lema sendiri tentunya.

Kesimpulan yang sampai saat ini saya capai adalah P2MB ini merupakan usaha pembatasan ruang gerak lembaga kemahasiswaan, karena yang dibatasi adalah pengkaderan yang merupakan ‘jiwa’ dari lembaga kemahasiswaan. Tapi tentu saja hal ini merupakan salah satu hambatan bagi semua lembaga kehasiswaan tahun ini, tapi pandangan terhadap hambatan ini tentu saja bisa dikembalikan dan ditentukan sendiri oleh masing – masing pihak. Bisa saja hambatan ini dilihat sebagai sebuah langkah oleh pihak birokrasi untuk mematikan gerak lembaga kemahasiswaan atau bisa saja hal ini dijadikan sebagai sebuah alasan untuk sedikit mengguncang zona nyaman dari pihak lembaga kemahasiswaan, karena kemungkinan besar lembaga kemahasiswaan saat ini telah nyaman pada posisinya dan yang saya pahami untuk sebuah alasan pembelajaran dan pengembangan, sebuah hal yang wajar jika ketika kita harus beranjak dari sebuah zona nyaman yang kita tempati saat ini. Semoga P2MB ini bisa dijadikan sebuah pembelajaran bagi lembaga kemahasiswaan untuk proses pengembangan lemabaga kemahasiswaan itu sendiri.